MOST RECENT

Penagih Kredit Sepmor Menghilang



LHOKSUKON – Hendri (30), petugas penagih kredit sepeda motor dari PT FIF Panton Labu, sejak Rabu (26/1) dinyatakan hilang. Orangtuanya yang melaporkan ke Polisi, mengaku pagi itu Hendi berangkat dari Panton Labu, Aceh Utara menuju Alue Mirah, Kecamatan Kuta Binjai, Kabupaten Aceh Timur. Namun sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye, Iptu Mardan P, kepada Serambinews.com menjelaskan pria asal Sunda, Jawa Barat itu kini menetap di Desa Keude Seunuddon, Kecamatan Senuddon, Aceh Utara. Ia salah seorang karyawan PT FIF yang tugasnya menagih kredit sepeda motor kepada pelanggan.(masriadi sambo)

Editor: Ampuh Devayan

22.27 | Posted in | Read More »

Mahasiswa Demo Kejari Lhoksukon



LHOKSUKON – Puluhan mahasiswa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh Utara, Jumat (28/1) berdemo ke kantor kejaksaan negeri (Kejari) Lhoksukon. Mereka menuntut agar kasus korupsi dana olahraga di Aceh Utara, yang dikorup dua anggota DPRK Aceh Utara yaitu Ahmad Junaidi dan M Saleh (anggota Komisi C) dibongkar secara tuntas.

Kedua oknum anggota dewan (saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka) dan merugikan negara Rp 1 miliar dari Rp 4,2 miliar dana yang dikucurkan untuk pekan olahraga (Perprov) di Bireuen, supaya dibeberkan kepada publik. “Kita minta agar Kejari jangan takut membongkar kasus korupsi itu," kata Koordinator aksi, Saifuddin Qutuz kepada Serambinews.com. (masriadi sambo)

Editor: Ampuh Devayan

22.16 | Posted in | Read More »

Tim Ekspor Gencarkan Sosialisasi


LHOKSUKON - Tim Pengembangan, Perdagangan melalui Pelabuhan Krueng Geukueh sebagai salah satu pelabuhan ekspor dan impor (TP3KG) Aceh, kini menggencarkan sosialiasi. Pasalnya, sampai kini barang yang ada di pelabuhan itu belum mencapai target sesuai muatan kapal.

Ketua TP3KG Aceh, Asril Ibrahim, kemarin, menyebutkan saat ini barang yang ada di pelabuhan sekitar 200 ton cokelat dan 200 ton kelapa. “Sedangkan muatan Kapal Power DWT yang kita gunakan itu mencapai 1.400 ton. Sayang kapal tidak penuh. Untuk itu, kita terus lakukan sosialisasi keberbagai daerah terkait keberangkatan dan kapasitas kapal kepada pengusaha,” ujarnya.

Dikatakan, kapal itu dipastikan berangkat 6 Februari 2011 dari Pelabuhan Krueng Geukueh menuju Penang, Malaysia. Selain itu, lanjut Asril, aktivitas pelabuhan itu masih sepi karena tak masuk dalam pelabuhan yang boleh menerima lima barang impor yaitu tekstil, makanan, mainan anak-anak, alas kaki, dan barang-barang elektronik.

“Ekspor kita baru mulai. Jadi, harus didorong ada impornya juga. Permendag 57/2011 yang baru tidak memasukkan satu pun pelabuhan di Aceh yang bisa menerima lima jenis barang impor itu. Sekarang kita sedang meminta Permendag tersebut direvisi dan memasukkan Pelabuhan Krueng Geukueh sebagai penerima lima jenis barang impor tersebut,” timpa Asril.(c46)

22.12 | Posted in , | Read More »

TNI Kembangkan Program Ketahanan Pangan


LHOKSUKON - TNI di jajaran Korem 011/Lilawangsa mengembangkan program ketahanan pangan. Pencanangan program itu dilakukan di Desa Alue Tingkem, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Rabu (26/1) dengan cara melakukan kegiatan penanaman padi perdana di desa tersebut.

Dandrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Deni K Irawan didampingi Dandim 0103 Aceh Utara, Letkol CZI Wakhyono, kemarin, menyebutkan program ketahanan pangan itu untuk mendukung program pemerintah untuk menjadikan berbagai daerah sebagai lumbung pangan nasional.

“Semua Kodim di jajaran Korem 011/Lilawangsa akan lakukan program ketahanan pangan seperti menanam padi. Hasilnya untuk masyarakat juga, kita hanya membantu,” sebut Kolonel Deni.

Bagi daerah yang tak memiliki sawah, lanjutnya, akan dikembangkan peternakan seperti bebek dan ayam petelur. “Tujuannya ekonomi masyarakat sehat. Karena jika ekonomi sehat, kemanan juga stabil dan angka kriminalitas menurun. Sebaliknya, jika ekonomi rakyat tak sehat, angka kriminal akan naik dengan sendirinya,” jelas Danrem.

Ia berharap pemerintah kabupaten/kota bisa membantu mengembangkan program itu. “Kami harap program ini berlanjut tiap tahun yang tentunya harus didukung pemerintah. Sehingga Aceh nanti bisa jadi lumbung padi dan petani akan sejahtera,” ujarnya. Penanaman padi itu turut dihadiri Kejari Lhoksukon Zairida SH, Kapolres Aceh Utara AKBP Farid BE, Ketua PN Lhoksukon Taufan Mandala SH, dan anggota DPRK Aceh Utara Khaidir dan Satari.

Ditanya sikapnya terhadap oknum TNI yang melakukan pelanggaran hukum, Danrem menyatakan ia akan menindak oknum TNI itu. “Kalau ada oknum TNI nakal dan melanggar hukum, saya sikat dia. Saya tidak main-main. Ini janji saya,” pungkas Danrem.(c46)

22.10 | Posted in | Read More »

Duh, Miskinnya Alue Tingkem



PAGI itu, Kamis (27/1), masyarakat di Desa Alue Tingkem, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, mulai beraktifitas. Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB. Kaum perempuan terlihat menyusuri desa menuju payau. Mereka hendak menyuci pakaian. Sebagian kaum lelaki memanggul cangkul menuju sawah.

Begitulah ‘tradisi’ yang sudah berpuluh tahun dilakoni warga desa ini. Dari Kota Lhoksukon, jarak ke Tingkem tidak terlalu jauh, sekitar 10 kilometer. Namun, desa ini sangat tertinggal. Jalan menuju desa itu penuh lumpur. Sepanjang 2,5 kilometer jalan sangat sulit dilalui. Selain itu, sangat sulit mendapatkan air bersih. Tidak ada jaringan pipa PDAM. Air tanah pun berkualitas buruk. “Air di sini berwarna merah, bau dan asin. Makanya, masyarakat kalau mau menyuci pakaian harus ke payau. Ini sudah puluhan tahun begini, belum ada perhatian pemerintah,” sebut Tgk Nurdin, tokoh masyarakat setempat didampingi Muhammad Amin, Kepala Desa Alue Tingkem.

Amatan Serambi di lapangan, terlihat warga di daerah itu mandi, menyuci pakaian, dan menyuci alat rumah tangga dengan menggunakan air payau. Sepanjang payau tersebut dibuat tenda-tenda kecil, sehingga ketika mandi tidak terlihat oleh warga lainnya.

Untuk air minum warga membelinya dengan harga Rp 5.000 per jeriken. Bagi yang tidak mampu, harus mengambil air ke Sungai Krueng Ineung, sekitar satu kilometer jaraknya dari desa itu. “Karena itu, kami selalu berharap dan berdoa agar bisa mendapatkan air bersih dari pemerintah. Namun, sampai sekarang belum ada. Bahkan pipa PDAM pun belum ada ke desa kami, padahal jaraknya tak terlalu jauh dengan kantor PDAM,” sebut Tgk Nurdin.

Keterbelakangan lainnya, desa itu belum memiliki sarana irigasi. Hanya mengandalkan air hujan untuk memulai musim tanam. “Sawah kami tadah hujan. Kalau hujannya bagus, maka hasil panen lumayan. Jika tidak hujan, maka gagal panen sudah di depan mata,” ujar Muhammad Amin.

Saat ini rata-rata hasil panen hanya enam ton per hektare. Jika ada irigasi, diperkirakan hasil panen bisa mencapai delapan ton per hektare. Dari sisi pendidikan, desa ini juga tertinggal. Pelajar sekolah dasar Desa Alue Tingkem terpaksa menempuh pendidikan ke Kota Lhoksukon. “Lihatlah sepanjang jalan ke desa ini, masih banyak penduduk kami yang miskin. Rumahnya gubuk, atapnya bocor. Ini juga belum mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh Utara,” sebut Tgk Nurdin. (masriadi sambo)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

22.08 | Posted in , | Read More »

Warga Minta Puskesmas Pirak Timu Difungsikan


LHOKSUKON - Masyarakat Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara meminta puskesmas yang baru selesai dibangun di Desa Alue Bungkoh, kecamatan setempat segera difungsikan. Pasalnya, selama ini jika ada warga setempat yang sakit terpaksa dilarikan ke Puskesmas Matang Kuli di Desa Keude Matang Kuli.

“Selama ini, yang ada hanya puskesmas pembantu (Pustu). Terkadang ada pasien yang tidak sanggup ditangani, sehingga harus dirujuk ke Puskesmas Matang Kuli. Kami kesulitan kalau ada warga yang sakit pada malam hari. Jadi, kami harap puskesmas di Alue Bungkoh segera difungsikan,” harap Mukim Matang Kuli Timu, Muhammad Yusuf kepada Serambi, Selasa (25/1).

Jika puskesmas itu difungsikan, ia juga berharap ada dokter yang menetap di puskesmas tersebut. “Karena puskesmas itu dilengkapi rumah dinas dokter. Jika ada dokter yang menetap, masyarakat akan mudah berobat kapan saja,” ujar Yusuf.

Kadis Kesehatan Aceh Utara, Nurdin, mengatakan puskesmas itu belum bisa difungsikan karena kini sedang dibangun jembatan kecil yang menghubungkan jalan utama dengan puskesmas. “Di depan puskesmas itu ada parit yang luasnya sekitar dua meter. Kini sedang dibangun jembatan kecil. Kalau jembatan itu sudah siap, puskesmas itu segera kita fungsikan,” ujar Nurdin seraya berjanji dalam waktu dekat puskesmas itu akan segera difungsikan dan akan ada dokter yang menetap di puskesmas tersebut.(c46)

22.13 | Posted in | Read More »

Polisi Kesulitan Lacak Perampok Toko Emas


LHOKSUKON - Polres Aceh Utara mengaku kesulitan melacak identitas empat pria bersenjata api yang gagal merampok Toko Emas Subur Baru di Jalan Cut Meutia, Desa Keude Lhoksukon, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Senin (25/1). Pasalnya, empat pria itu menggunakan sebo (penutup wajah) dan helm saat beraksi.

“Kita agak kesulitan. Karena, tidak ada warga yang melihat empat pria bersenjata api itu. Mereka menutup muka pakai sebo dan helm. Jadi, belum ada warga dan saksi lain yang melihat ciri-ciri wajah mereka,” kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kasat Reskrim, AKP Erlin Tang Jaya, kepada Serambi, kemarin.

Menurut Erlin, sampai Senin (25/1) malam pihaknya terus melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan menggelar razia di jalan raya untuk mempersempit ruang pelarian pelaku. Bahkan, lanjut AKP Erlin, pihaknya juga menyisir kawasan tambak di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Dari penyisiran itu, ditemukan tiga sepeda motor tanpa nomor polisi.

Namun, tambah AKP Erlin, penemuan sepeda motor itu sampai saat ini belum menunjukkan titik persembunyian pelaku. “Kita terus berusaha mengungkap pelaku perampokan itu. Kita harap dukungan masyarakat agar pelaku bisa segera tertangkap,” pungkasnya.

Seperti diberitakan kemarin, sebelumnya, empat pria bersenjata api Senin (24/1) sekitar pukul 17.00 WIB gagal merampok Toko Emas Subur Baru, milik Zulkarnaini (45) di Lhoksukon. Pasalnya, saat akan melakukan aksinya, pelaku melihat seorang polisi berbaju dinas sedang duduk di toko itu. Sambil kabur dengan menenteng senjata api (senpi) laras panjang, pelaku melepaskan tembakan ke udara sebanyak dua kali. Lalu, pelaku langsung kabur ke arah Kecamatan Langkahan. Tidak ada korban jiwa dan harta dalam kejadian itu.(c46)

22.10 | Posted in | Read More »

Saling Ejek, Pedagang Ikan Adu Silat


LHOKSUKON - Hanya karena ejek, dua pedagang ikan di Pasar Ikan, Keude Kota Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Senin (24/1), saling adu bogem ala pesilat di ring pertandingan. Lakon itu melibatkan Dedi Jafaruddin (26) asal Dusun Mancang, Desa Trieng Teupin Kebeu, Kecamatan Matang Kuli, dan Rusli (33) asal Desa Buloh, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

Informasi dihimpun Prohaba, kemarin, kejadian itu terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Awalnya, Rusli sebagai pedagang ikan keliling desa hendak membeli ikan sotong di lapak milik Dedi Jafaruddin. Lalu, dia bercerita, kalau di Medan, Sumatera Utara, harga ikan cumi-cumi hanya Rp 4.000 per kilogram. “Kalau di Medan, hanya Rp 4.000. Saya sering di Medan, di sini harganya mahal betul,” kata Rusli.

Mendengar ucapan Rusli, Dedi Jafaruddin menjawab asal-asalan saja. Dedi menyebutkan, jika harga cumi-cumi hanya Rp 4.000 per kilogram, dia mau membeli delapan tong cumi-cumi. “Menyo lage nyan yumjih, kublo lapan boh tong engkot nyan. Kaba laju keuno. (Kalau harganya segitu, saya beli delapan tong ikan itu. Kau bawa terus kemari,” sebut Dedi. Mendengar ucapan itu, Rusli naik darah. Dia marah, karena omongannya dilecehkan oleh Dedi.

Akibatnya, adu silek pun tak bisa dihindari. Rusli menerjang wajah Dedi dengan kakinya. Sementara Dedi meninju wajah Rusli dengan kepalan tangannya.

Kabar tentang saling pukul antar pedagang ini pun beredar cepat dari mulut ke mulut di kawasan Lhoksukon. Ring tinju ilegal di pasar ikan itu berlangsung sekitar lima menit. Pedagang ikan lainnya melerai aksi saling bogem itu dan tak lama kemudian, personel Polsek Lhoksukon membawa keduanya ke Mapolsek setempat.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Lhoksukon, Iptu M Ridwan, kepada Prohaba, kemarin menyebutkan pihaknya telah memanggil keluarga dari para “petinju” itu. Selain itu, pihaknya juga memanggil sejumlah pedagang lainnya yang menyaksikan adegan bak film laga tersebut.

Hasil kesepakatan kedua belah pihak, akhirnya Dedi dan Rusli sepakat untuk berdamai. “Atas dasar kesepakatan kedua pihak, disaksikan keluarga mereka sepakat berdamai. Kita hanya buat surat perjanjian damai saja, dan mengingatkan keduanya jangan sampai kejadian itu terulang kembali,” pungkas Kapolsek.(c46)

01.03 | Posted in | Read More »

Puluhan Sapi Diserang Diare



LHOKSUKON - Puluhan sapi milik warga Desa Cot Petisah, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara sejak sebulan terakhir dilaporkan terkena penyakit diare. Akibatnya, pertumbuhan sapi di kawasan tersebut lambat. “Kami hanya beri obat seadanya yang kami beli di apotik. Tapi, sapinya belum sembuh-sembuh juga,” ujar Khairuddin (35), peternak setempat, kemarin.

Hal senada juga disampaikan M Yasin (32). Dia menduga, sapi itu terkena diare akibat banjir yang merendam kawasan itu beberapa waktu lalu. “Sekitar tiga minggu lalu desa kami dilanda banjir. Banyak rumput yang terendam banjir. Setelah kering, rumput ini dimakan oleh sapi. Mungkin, penyebab diare karena sapi memakan rumput bekas banjir,” jelas Yasin sembari menambahkan pihaknya khawatir jika dibiarkan sapi itu akan mati. Untuk itu, mereka berharap dinas terkait mencari solusi untuk penyembuhan sapi-sapi tersebut.

Kabid Peternakan,Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Utara, drh Saifuddin, meminta peternak melaporkan penyakit sapi itu kepada petugas kesehatan hewan di Kecamatan Seunuddon. “Jika mereka tak sanggup menanganinya, baru nanti dilaporkan kepada kami di Lhokseumawe. Nanti, kita carikan solusi terbaik,” pungkas Saifuddin.(c46)

00.59 | Posted in | Read More »

Empat Pria Bersenpi Gagal Rampok Toko Emas


LHOKSUKON - Empat pria bersenjata api (senpi), Senin (24/1) kemarin sekitar pukul 17.00 WIB, gagal merampok sebuah toko emas di Lhoksukon, Aceh Utara. Kegagalan itu disebabkan para pelaku telanjur melihat ada seorang polisi berbaju dinas di dalam toko emas yang sedang mereka incar.

Toko Emas Subur Baru, demikian nama toko emas itu, milik Zulkarnaini (45). Letaknya di Jalan Cut Meutia, Desa Keude Lhoksukon, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Saat kawanan perampok itu datang, situasi di toko itu dan sekitanya masih ramai. Warga serta tukang becak parkir di daerah itu, sehingga kelihatan ramai.

Dalam keadaan ramai seperti itu, menurut saksi mata kepada Serambi kemarin, empat pria yang masing-masing menenteng sepucuk senpi laras panjang, datang dari arah Jalan Cut Meutia.

Saat berada di depan Toko Emas Subur Baru, kawanan perampok itu berhenti. Lalu mereka turun, hendak menghampiri toko emas yang saat itu dijaga pemiliknya, Zulkarnaini.

Namun, di dalam toko, selain Zulkarnaini juga ada seorang polisi dari Polres Aceh Utara yang sedang duduk. Melihat ada polisi berpakaian dinas, si perampok ini pun langsung kabur. Mereka lari sambil menenteng empat senpi laras panjang. Namun, belum diketahui apa jenisnya, meski pelaku sempat melepaskan tembakan ke udara.

“Setelah itu pelaku kabur ke arah Kecamatan Lapang, Aceh Utara,” sebut saksi mata. Masyarakat terkejut dan trauma mendengar suara tembakan itu. Usai kejadian, puluhan polisi dari Polsek Lhoksukon dan Polres Aceh Utara, langsung turun ke lokasi kejadian. Ditemukan dua proyektil peluru.

Sementara itu, pemilik toko, Zulkarnaini dan keluarganya terlihat trauma atas kejadian itu. Emas yang awalnya disusun rapi di rak toko langsung dia amankan ke dalam tokonya.

Zulkarnaini gelisah dan ketakutan. Ketika dimintai keterangan oleh polisi, Zulkarnaini terlihat gugup dan gemetar. “Saya masih takut. Ini kejadian kedua kali yang menimpa keluarga saya. Januari 2009 lalu, toko saya juga dirampok,” sebut Zulkarnaini. Benar, toko itu juga dirampok kawanan yang menggunakan senpi tahun 2009. Saat itu, Tirahmah, istri Zulkarnaini, meninggal di lokasi kejadian.

Tiga sepmor disita
Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, yang dihubungi terpisah menyebutkan dirinya sedang berada di lapangan untuk memimpin perburuan para pelaku perampokan. “Saya sedang di lapangan, memimpin langsung perburuan pelaku. Ini kriminal murni. Kita terus buru dan persempit ruang gerak para pelaku,” sebut Kapolres. Dia juga telah memerintahkan seluruh jajaran polsek di kecamatan untuk siaga dan berjaga-jaga di setiap persimpangan.

Amatan Serambi di lapangan, sejumlah polisi menggunakan senjata laras panjang berada di setiap persimpangan di Kecamatan Lapang, Lhoksukon, dan Kecamatan Tanah Pasir. Mereka siaga dan sangat awas melihat orang yang melintas. “Semoga saja dalam waktu dekat pelakunya bisa kami tangkap. Mohon dukungan informasi dari masyarakat,” ujar Kapolres.

Kapolres bersama Dandim Aceh Utara, Letkol CZI Wakhyono berikut sejumlah personelnya, bersama-sama mengejar perampok bersenpi itu hingga pukul 20.30 WIB tadi malam. Dalam pengejaran yang tak kenal lelah itu polisi berhasil menemukan tiga unit sepeda motor (sepmor) yang diduga dipakai kawanan perampok itu saat beraksi hendak menjarah toko emas.

Menurut Farid, personel polisi yang dibantu TNI terus menguber pelaku dan menyisir daerah-daerah yang dicurigai. Namun, hanya tiga unit sepmor perampok yang berhasil disita. Ketiganya ditinggal pergi pengendaranya di kawasan tambak, sekitar empat kilometer ke arah utara Kota Sampoiniet, Baktiya.

“Polisi dan TNI sedang mengejar pelaku dengan memblokir daerah tertentu. Namun, kendalanya gelap pada malam hari, sehingga membatasi jarak pandang,” kata Farid. Dia tambahkan, polisi melakukan pengejaran ke areal tambak dan kebun kelapa masyarakat, karena ada warga yang menginformasikan bahwa kelompok bersenpi itu sempat terlihat di dua lokasi itu, setelah melarikan diri dari Lhoksukon. (ib/c46)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

00.55 | Posted in | Read More »

Insentif Guru belum Cukup Dibayar


LHOKSUKON - Insentif guru nonsertifikasi di Aceh Utara yang bersumber dari APBN belum cukup dibayar. Insentif sebesar Rp 250.000 per bulan hanya dibayar untuk jatah lima bulan, padahal guru telah meneken amprahan insentif itu untuk enam bulan jatah Juli sampai Desember 2010.

“Sisanya, sebulan lagi tidak kami ketahui kapan akan dibayar lagi. Ketika kami tanya ke UPTD dan kepala sekolah, tidak ada jawaban pasti. Karena itu, kami berharap ada kejelasan kapan sisa insentif itu akan dibayar kembali,” kata seorang guru yang tak mau namanya ditulis kepada Serambi, kemarin.

Kadis Pendidikan Aceh Utara, M Jamil, yang dikonfirmasi terkait hal itu mengatakan, tidak ada pemotongan apa pun terkait insentif guru nonsertifikasi itu. “Uang yang kita terima dari pusat memang tidak cukup untuk insentif guru nonsertifikasi jatah enam bulan. Sehingga terpaksa kita bayar lima bulan dulu dan sisanya kita usulkan lagi. Dalam aturan pemberian insentif, jika tidak cukup, boleh diajukan lagi dan akan ditampung dalam APBN tahun ini,” jelasnya.

Menurutnya, uang itu tak cukup karena data yang dikirim ke pusat berdasarkan data tahun 2009. Sedangkan jumlah PNS terus bertambah. “Namun, dalam waktu dekat, kabarnya sisa insentif itu sudah bisa dicairkan kembali. Uang dari APBN itu masuk ke kas daerah dulu, dibuat surat perintah pembayaran, baru ditransfer ke rekening penerima,” pungkas M Jamil.(c46)

20.43 | Posted in , | Read More »

Polisi Periksa Tiga Saksi


LHOKSUKON - Polres Aceh Utara dan Polsek Tanah Luas, dalam dua hari terakhir memeriksa tiga saksi terkait kasus perampokan yang menimpa tauke karet Marzuki (30) dan Murdani (28) warga Desa Madi, Nibong, Aceh Utara. Ketiga saksi adalah warga Desa Leubok Klit, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara.

“Seorang saksi adalah pedagang mi di daerah itu. Pelaku sempat beli mi pada saksi ini sebelum melakukan aksinya. Kita mintai ciri-ciri pelaku yang sempat dilihatnya,” kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE melalui Kasat Reskrim AKP Erlin Tang Jaya, didampingi Kapolsek Tanah Luas, Iptu Teguh Yano Budi, kepada Serambi, Selasa (18/1).

Saksi lainnya, sebut Erlin adalah orang yang pertama kali membuka ikatan tangan dan mata dan kaki korban. Satu orang lainnya adalah teman korban yang biasa didatangani untuk membeli karet. “Saksi lainnya sedang kita panggil juga. Mereka adalah dua orang dari Desa Buket Makarti (Tanah Luas), dan satu lagi dari Desa Leubok Klit. Surat pemanggilannya telah dikirim,” jelasnya.

Dalam kasus itu, lanjut Erlin, korban mengaku lupa nomor rangka dan nomor mesin mobilnya. Untuk itu, menurutnya, polisi akan meminta nomor rangka dan nomor mesin mobil itu ke Razali, sub leasing mobil tersebut. “Seluruh keterangan saksi akan dicocokkan dengan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP),” ujarnya seraya menambahkan timnya terus memburu perampok tersebut. “Semoga mereka secepatnya tertangkap,” pungkas AKP Erlin.

Seperti diberitakan sebelumnya, lima pria dan satu di antaranya menggunakan senjata api jenis SS1 merampok tauke karet yaitu Marzuki (30) dan Murdani (28) warga Desa Madi, Kecamatan Nibong, Aceh Utara, Kamis (13/1) sekitar pukul 13.30 WIB. Perampokan itu terjadi di perbatasan Desa Leubok Klit (Geureudong Pase) dengan Desa Bukit Makarti (Tanah Luas), Aceh Utara. Harta yang berhasil dirampok yaitu uang tunai Rp 40 juta dan satu mobil pikap.(c46)

20.41 | Posted in | Read More »

Stempel Panitia Turnamen Catur Dipalsukan



LHOKSUKON - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon, Rabu (19/1) kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan korupsi di organisasi olahraga Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Aceh Utara di PN setempat. Dalam sidang itu, Rizal Mahdi, ketua pelaksana Turnamen Catur Keng Sport Club pada 10-15 Agustus 2008 di Kantor Camat Syamtalira Aron yang diperiksa sebagai saksi mengaku pihak Percasi Aceh Utara memalsukan tandatangan dirinya dan stempel panitia turnamen catur tersebut.

Dalam sidang yang dipimpin Tauhari Tafsirin SH didampingi dua hakim anggota Jamaluddin SH dan Riswandi SH, saksi Rizal mengatakan untuk melaksanakan turnamen itu pihaknya meminta bantuan Percasi Aceh Utara Rp 7.285.000. Namun, yang dibantu hanya Rp 2 juta.

“Kemudian, pada Desember 2009, diberi lagi bantuan oleh Bendahara KONI Aceh Utara, Hafnalisa Rp 10 juta. Lisa bilang kalau itu bantuan untuk catur tahun 2008. Terdakwa meminta Rp 1 juta, dari uang Rp 10 juta itu,” sebut Rizal dalam sidang yang turut dihadiri JPU Hendra Busrian SH dan Sakdan SH, serta terdakwa Baharuddin Hasan yang tak lagi adalah ketua Percasi Aceh Utara.

Ditanya JPU apakah ia pernah membuat laporan pertanggungjawaban (LJP) turnamen Keng Sport Club, Rizal menyatakan dirinya tak pernah membuat LPJ, karena menurutnya dibuat oleh Percasi Aceh Utara.

Ketika diperlihatkan LPJ yang dibuat Percasi Aceh Utara, Rizal membantah bahwa tanda tangan dan stempel dalam LPJ itu miliknya. “Itu bukan tanda tangan saya dan bukan juga stempel kegiatan yang saya buat,” ungkap Rizal.

Dalam LPJ yang dibuat Percasi itu disebutkan wasit sebanyak dua orang, namun menurut Rizal wasit yang digunakan hanya satu orang. Setelah mendengar keterangan saksi, sidang akan dilanjutkan Rabu (26/1) dengan agenda pemeriksaan saksi lainnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Percasi Aceh Utara, Baharuddin Hasan ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejari Lhoksukon dalam kasus dugaan korupsi di organisasi itu. Dana yang dicurigai bermasalah sebesar Rp 200 juta.(c46)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

20.36 | Posted in | Read More »

Gubernur Diminta Teken Izin Pemeriksaan Anggota Dewan


LHOKSUKON - LSM Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) meminta Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, mengeluarkan izin pemeriksaan terhadap dua anggota DPRK Aceh Utara yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana Pekan olahraga provinsi (Porprov) Aceh di Bireuen tahun lalu. Sehingga Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhoksukon bisa segera melakukan penyidikan terhadap kedua anggota dewan tersebut yaitu Ahmad Junaidi dan M Saleh.

“Kalau gubernur lambat menandatangani izin itu, maka ini sebagai bukti bahwa gubernur tidak komit untuk pemberantasan korupsi di Aceh,” tegas Koordinator MaTA, Alfian kepada Serambi, Kamis (20/1).

Pihaknya mengapresiasi kinerja Kejari Lhoksukon yang berhasil mengungkap kasus korupsi dana olahraga itu. Ia juga meminta Kejari Lhoksukon segera menahan kedua tersangka tersebut. Karena, menurut Alfian, tersangka berpotensi melarikan diri. Apalagi, lanjutnya, Ahmad Junaidi selama ini tak pernah lagi masuk kantor di DPRK Aceh Utara. “Hal ini sesuai dengan Pasal 1 KUHAP yang menyatakan tersangka bisa ditahan apabila berpotensi melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulang perbuatan yang sama,” jelas Alfian.

Ditambahkan, elemen sipil di Aceh Utara juga sangat mendukung upaya Kejari Lhoksukon untuk membongkar tuntas kasus korupsi itu. “Kita harap kasus ini dibuka seterang-teranganya. Siapa pun yang terlibat harus dijerat sesuai ketentuan yang berlaku. Kami siap mendukung Kejari Lhoksukon dan terus mengontrol kasus ini,” katanya.

Sementara Ahmad Junaidi dan M Saleh, Kamis (20/1) tidak berhasil dikonfirmasi. Karena saat Serambi mendatangi Gedung DPRK Aceh Utara, kemarin, sejumlah staf dan anggota DPRK Aceh Utara lainnya menyebutkan Ahmad Junaidi dan M Saleh tidak masuk kantor. Sementara saat dihubungi ke telepon genggamnya juga tak aktif. Bahkan, pesan singkat yang dikirimkan Serambi juga tidak dibalas sampai berita ini dikirimkan sore kemarin.

Seperti diberitakan kemarin, dua anggota DPRK Aceh Utara yaitu Ahmad Junaidi dan M Saleh ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana olahraga. Dana yang dicurigai bermasalah sebesar Rp 1 miliar dari Rp 4,2 miliar yang dialokasikan dari APBK Aceh Utara 2010.(c46)

SUMBER > SERAMBINEWS.COM

20.33 | Posted in | Read More »

Disdik Janji Bangun SMK di Pirak Timu



LHOKSUKON - Dinas Pendidikan Aceh Utara berjanji akan membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kecamatan Pirak Timu. “Saya komit untuk pembangunan SMK di kawasan itu agar masyarakat tidak kecewa, karena dulu pembangunan sekolah di daerah tersebut sempat gagal,” kata Kadis Pendidikan Aceh Utara, M Jamil kepada Serambi, Kamis (20/1).

Hal itu disampaikan menanggapi permintaan masyarakat Pirak Timu agar dinas itu membangun SMK di daerah meraka. Dikatakan, pihaknya siap mengajukan pembangunan SMK di Pirak Timu dengan menggunakan dana Otsus atau APBN. “Namun, syaratnya masyarakat harus mau menyediakan tanah untuk lokasi sekolah itu. Sehingga sekolah itu bisa dibangun sesegera mungkin,” katanya.

Ia berharap masyarakat Pirak Timu bisa mendiskusikan masalah tanah tersebut. “Bagaimana sistem pembebasan tanahnya, apakah dibeli oleh pemerintah dengan harga yang tidak terlalu mahal atau tanah hibah. Saya harap, ini bisa dibahas di tingkat kecamatan agar pembangunan itu bisa segera kita lakukan,” pungkas M Jamil.(c46)

sumber> serambinews.com

20.30 | Posted in , | Read More »

Lima Warga Diserang DBD, 2 Masih Dirawat


LHOKSUKON - Desa Kampung Baru dan Desa Meunasah Pante, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara rawan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Informasi yang dihimpun Serambi, Jumat (14/1) warga yang positif DBD yaitu Bayyani (10), Riski (6), Khalidin (25) asal Desa Kampung Baru, dan Syifa (3,5), serta Zulfikar (28) warga Pante. Bahkan, dua di antaranya yaitu Bayyani dan Rizki hingga kemarin masih dirawat intensif di Rumah Sakit Bunga Melati Lhokseumawe. “Anak saya yang positif diserang DBD sampai kini masih dirawat. Kita berharap masalah DBD bisa segera ditangani Dinas Kesehatan Aceh Utara. Jangan sampai ada korban lagi,” sebut Boihaqi, ayah Bayyani, kemarin. Hal senada juga disampaikan Suwardi (35) warga Desa Pante. “Hasil lab anaknya juga positif DBD. Kalau tidak segera ditangani, akan banyak korban terkena DBD,” ujar Suwardi, ayah Syifa. Kadis Kesehatan Aceh Utara, Nurdin yang dihubungi per telepon menyatakan pihaknya akan menurunkan timnya untuk memeriksa jentik nyamuk di dua desa tersebut. “Saya sedang di luar daerah. Sekarang saya perintahkan tim saya untuk memeriksa jentik nyamuk di daerah itu. Kemudian, secepatnya kita fogging agar tak ada lagi korban,” ujar Nurdin.(c46)

20.21 | Posted in | Read More »

Trafo PLN di Pantonlabu Rusak


LHOKSUKON - Transformator (trafo) milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara dilaporkan rusak. Akibatnya, sejak Minggu (16/1) malam sampai Senin (17/1) sore, listrik di kawasan Desa Rawang Itek dan Keude Panton Labu, kecamatan setempat padam total.

Sebanyak 150 rumah di dua desa itu ikut terkena dampak rusaknya trafo tersebut. “Sebagai pedagang, kami sangat memerlukan aliran listrik. Kami harap, PLN segera menghidupkan kembali arus listrik,” kata Abdul Manan Saleh (26), warga setempat kepada Serambi, kemarin.

Kepala PLN Ranting Panton Labu, Bukhari, mengatakan pihaknya kini sedang menunggu trafo pengganti dari kantor PLN Cabang Lhokseumawe. “Kita upayakan nanti malam (tadi malam-red) listrik sudah hidup kembali,” ujarnya. Ia menduga trafo itu rusak karena diguyur hujan. Pasalnya, ketika trafo itu rusak pada Minggu (16/1) malam, kawasan Tanah Jambo Aye diguyur hujan deras. “Mungkin karena lembab terkena hujan atau disambar petir, makanya trafo itu rusak. Mudah-mudahan bisa cepat teratasi,” harap Bukhari.(c46)

sumber serambinews.com

20.19 | Posted in , | Read More »

Pencuri Sawit Dibekuk


LHOKSUKON - Kardi Seno (39), warga Desa Buket Hagu, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara yang selama ini melakoni pekerjaan sebagai maling buah sawit di KUD Diponegoro, desa yang sama, Minggu (16/1) berhasil ditangkap polisi. Meski berusaha kabur, namun ia tak bisa berkutik ketika tim dari Reskrim Polres Aceh Utara menangkapnya.

Pencurian sawit di perkebunan milik koperasi kawasan Lhoksukon dan Cot Girek, sebenarnya cerita lama. Karena walau seringkali maling sawit beraksi, namun jarang bisa ditangkap. Pasalnya, kelompok pencuri sawit yang ditaksir sebanyak 20 orang itu selalu berkomunikasi lewat handphone untuk mengabari teman-temannya bila polisi datang menyisir daerah itu.

“Awalnya, pengurus KUD melihat Kardi Seno mencuri brondolan sawit (buah sawit yang tidak lagi ditandannya). Lalu, mereka lapor ke kita dan kita langsung memburunya ke lokasi. Ternyata benar, Kardi dan teman-temannya sedang membawa brondolan sawit itu,” kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kasat Reskrim AKP Erlin Tang Jaya, kepada Serambi, kemarin.

Ketika ditangkap polisi, menurutnya, Kardi berupaya kabur. Namun, polisi cepat memborgol tersangka. Sayangnya, gerombolan Kardi yang lainnya berhasil melarikan diri. Barang bukti yang berhasil disita yaitu satu karung brondolan sawit seberat 50 kilogram dan satu sepeda motor revo. “Tersangka mengakui perbuatannya dan juga mengaku menyesal. Penghasilan mereka dari mencuri itu rata-rata bersih per bulan mencapai Rp 5 juta per bulan per orang,” sebut AKP Erlin.

Ditambahkan, pihaknya saat ini sedang memburu 19 orang lainnya anggota komplotan pencurian sawit yang berhasil melarikan diri tersebut. Untuk itu, AKP Erlin meminta masyarakat memberikan informasi jika mengetahui dimana lokasi persembunyian komplotan itu. “Sehingga petani di Cot Girek dan Lhoksukon juga aman. Kita akan terus buru komplotan ini,” tegas AKP Erlin.(c46)

SUMBER > SERAMBINEWS.COM

20.17 | Posted in | Read More »

Lagi Shalat, Sepmor Digondol Maling



LHOKSUKON - Apes benar nasib Zainal (20). Warga Lueng Baro, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, itu kehilangan sepeda motor (sepmor)-nya saat tengah melaksanakan shalat berjamaan di musala di desanya. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (14/1) sekitar pukul 18.50 WIB.

Sepmor Honda Supra Nomor Polisi BL 4422 QE miliknya itu kini raib. Tak ada jejak apapun ditinggalkan oleh maling. Diduga, pencuri sepmornya telah mengintai sejak dari awal Zainal masuk ke musala.

Mengetahui sepmor Zainal raib disambar maling, banyak jamaah geram. Bermacam komentar keluar dari bibir jemaah. Ada yang berdoa disambar petir dan ada pula yang berdoa agar sepmor dimaksud ketabrak saat dibawa lari.

Kapospol Lapang, Bripka Junaidi, mengatakan hingga tadi malam, pemilik sepmor belum melaporkan secara resmi ke Pospol Lapang. “Kami imbau agar pemilik sepmor bisa segera melaporkan kejadian itu secara resmi,” pinta Junaidi.

Lebih jauh dia mengimbau pemilik sepmor di kawasan itu memasang kunci ganda, agar tidak mudah dicuri oleh maling. “Kami akan kejar pencuri di Lapang ini. Meski begitu, kami harap, agar pemilik sepmor juga berhati-hati dengan memasang kunci ganda,” tandas Junaidi.

Menindaklanjuti permintaan Kapospol, Tgk Ibrahim (45), ayah Zainal, telah melaporkan kehilangan sepmor anaknya ke Pos Polisi (Pospol) Lapang. Pada laporan tersebut, Ibrahim mencantumkan nomor rangka sepmor itu MHIJBB1197KO27923 sedangkan nomor mesin JBB81E1031260.(c46)

sumber > serambinews.com

20.15 | Posted in | Read More »

Warga Pirak Timu Desak Pemerintah Bangun SMA


LHOKSUKON - Warga di Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara mendesak pemerintah setempat untuk membangun sekolah menengah atas (SMA) di kecamatan itu. Selama ini, anak-anak usia SMA dari kecamatan pedalaman itu, harus menempuh perjalanan hingga 20 kilometer untuk mencapai sekolanya di Kecamatan Paya Bakong atau Kecamatan Matang Kuli.

“Sejak negara ini merdeka, kami tidak pernah punya SMA atau SMK. Kami harap, tahun ini bisa dibangun SMA. Bahkan, sejak kecamatan ini dimekarkan dari Kecamatan Matang Kuli empat tahun lalu, belum juga ada SMA di sini,” sebut Ketua Asosiasi Geuchik Aceh Utara (Asgara) Kecamatan Pirak Timu, Abu Bakar, kepada Serambi, Sabtu (15/1) kemarin.

Dia menyebutkan, sebelumnya, sudah ada rencana pembangunan SMK di Desa Alue Bungkoh. Namun, belakangan batal, karena Pemerintah Aceh Utara urung membeli tanah masyarakat di daerah tersebut. “Janganlah kami ini dianaktirikan. Kecamatan pemekaran lainnya sudah ada SMA, masak kami dilupakan,” ujar Abu Bakar yang juga Kepala Desa Pucok Alue, Kecamatan Pirak Timu.

Hal senada disebutkan tokoh pemuda, Kecamatan Pirak Timu, Samsul Amar. Dia berharap, agar secepatnya sekolah tersebut bisa dibangun. “Kasihan anak-anak kami harus mendayung sepeda puluhan kilometer untuk melanjutkan pendidikan ke SMA,” keluh Samsul.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Aceh Utara, Kasma, dihubungi terpisah mengatakan belum bisa memberi keterangan tentang apakah sekolah itu sudah diusulkan pembangunannya, atau belum. “Saya ada acara keluarga, tidak bisa saya jawab sembarangan terkait pembangunan sekolah. Nanti, Kamis (20/1) baru bisa saya jawab, saya lihat data dulu di kantor,” pungkas Kasma singkat.(c46)

SUMBER> SERAMBINEWS.COM

20.13 | Posted in , | Read More »

Mencoba Bertahan di Tengah Kemajuan Industri


Ketang...keting.....ketang...kethik! suara yang lahir dari pertemuan palu dengan lempengan besi telah sangat akrab bagi warga Kampung Mee Matang Payang, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara. Meski tak pernah mendapatkan bantuan modal, mereka tetap mencoba bertahan di tengah pesatnya kemajuan industri.


UDARA siang Sabtu (15/1) yang menyengat seakan tidak mengusik mereka untuk terus menekuni pekerjaannya. Samsul Bahri (35) adalah satu di antara warga Kampung Mee yang masih setia melakoni aktivitas itu sejak dua puluh tahun lalu. Ia meneruskan usaha itu dari orangtuanya. Saat itu, Samsul bekerja bersama dengan dua orang lainnya.

Sesekali matanya memperhatikan besi yang merah membara dibakar ke dalam api. Lalu mengangkat besi itu, memukulnya dengan martil, lalu mencelupkan ke air (Seupoh), kemudian di bakar lagi. Dipipih lagi, sampai besi itu rata. Dibentuk menjadi parang. Sesekali dia berhenti. Mengusap peluh yang menetes di dahi. “Ini sudah menjadi usaha keluarga sejak zaman dulu. Saya meneruskan usaha keluarga,” sebut Samsul Bahri.

Kawasan itu memang sentral pengrajin pande besi. Lima desa tercatat sebagai sentral produksi parang dan alat pertanian yaitu Desa Paloh, Blang, Aleu, Mee Matang Payang dan Desa Pade, Kecamatan Tanah Pasir.

Untuk menjaga persaiangan usaha, masing-masing pengrajin membuat produksi khusus. “Misalnya, ada yang khusus membuat skop, pisau dapur, parang, cangkul, rencong, pedang. Itu berbeda-beda produksinya. Jadi, tidak ada saingan usaha,” sebut Samsul Bahri.

Bahan baku diambil dari besi per mobil. Besi menentukan kuwalitas produk yang dihasilkan. Jika besi yang digunakan tidak bagus, maka hasilnya akan buruk, mudah patah, atau mudah tumpul.

Samsul Bahri sendiri mampu memproduksi parang sebanyak 50 buah per hari. “Itu dengan tiga pekerja. Kalau pekerja banyak, mungkin bisa lebih banyak lagi. Kami tak sanggup menggaji pekerja, labanya sangat sedikit,” ujar Samsul. Dia membandrol parang buatannya Rp 30.000 per buah. Tergantung ukurannya, jika parang panjang bisa dijual Rp 45.000 per buah.

Umumnya, pengrajin di daerah itu masih menggunakan alat tradisional untuk memproduksi parang. Misalnya, dengan menggunakan palu memipih parang, memotong besi dengan gergaji besi, dan mempertajam dengan batu asah, bukan dengan grenda.

“Hanya satu dua orang saja yang sudah menggunakan grenda untuk mempertajam parang. Selebihnya, dipipih setipis mungkin, kemudian diasah dengan batu asah. Kalau ada alat modern, pasti kerjaan kami bisa lebih cepat dan mudah,” ujar Samsul Bahri.

Namun, apa hendak dikata. Samsul sudah bosan membuat proposal, meminta bantuan peralatan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh Utara. “Kita dianggap kucing lapar merengek-rengek dan program pemerintah hanya di buku laporan saja, tak ada realisasi lapangan,” kata dia.

“Sudah delapan kali saya buat proposal. Sampai sekarang belum ada satu pun bantuan yang datang. Alasan mereka macam-macam, kalau dulu bilang diupayakan dalam APBK. Kalau sekarang bilang sudah tak ada uang, karena kasus Rp 220 miliar itu. Tahun depan, entah apa lagi alasan mereka,” sambung ayah tiga anak ini.

Hal senada disebutkan pengrajin lainnya, Ismail Hasan. Dia menyebutkan sudah enam kali mengajukan permohonan bantuan permesinan ke Disperindag Aceh Utara. Namun, sampai kini, bantuan tak kunjung datang.

Pelatihan manajemen
Kadis Perindag Aceh Utara, Mehrabsyah, yang ditemui terpisah menyebutkan, pihaknya hanya bertugas melakukan pembinaan industri kecil di Aceh Utara. Pembinaan yang dimaksud Mehrabsyah, dengan cara memberikan pelatihan manajemen usaha.

“Kita bertugas sebatas pembinaan saja. Kalau memberikan bantuan atau kredit lunak, kita tidak mampu. Silahkan ke bank, kalau butuh kredit. Kami hanya membina saja,” pungkas Mehrabsyah singkat.

Siang terus merangkak naik. Samsul terus bekerja, memipih besi menjadi parang. Menunggu entah kapan mendapatkan mesin yang canggih. Laba dari penjualan parang, hanya cukup untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Meski tidak mendapatkan bantuan apa pun dari pemerintah, Samsul terus berkarya. Menghidupi dapur rumah tangga dari usaha tersebut. Entah sampai kapan nasib mereka mendapat perhatian.(masriadi sambo)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

20.06 | Posted in , | Read More »

PDAM Akan Umumkan Pelanggan Menunggak


LHOKSUKON - PDAM Tirta Mon Pase Aceh Utara dalam waktu dekat akan mengumumkan daftar pelanggan yang menunggak rekening air ke media massa. “Sekarang, daftar itu sedang didesain formatnya oleh bagian administrasi,” kata Dirut PDAM Tirta Mon Pase, Zulfikar Rasyid, kepada Serambi di Lhoksukon, Kamis (13/1).

Menurutnya, PDAM Tirta Mon Pase juga memutuskan ratusan sambungan rumah (SR) yang telah menunggak empat bulan di Lhokseumawe dan Aceh Utara. “Kita sudah imbau pelanggan membayar tepat waktu. Sekarang, tim pemutusan sedang bekerja. Jika telah membayar, baru disambung kembali dan tentunya dikenakan biaya penyambungan Rp 50.000,” ujar Zulfikar.

Dikatakan, tim juga bekerja untuk menertibkan sambungan air ilegal di kawasan tersebut. “Sambungan ilegal juga kita putuskan. Kita sekaligus juga melakukan sosialisasi kenaikan tarif baru kepada pelanggan,” katanya.

Ditanya berapa jumlah subsidi yang diterima PDAM dari APBK Aceh Utara 2001, Zulfikar menyebutkan pihaknya menerima subsidi Rp 7,7 miliar. Dirincikan, uang itu digunakan untuk pemasangan sambungan baru khusus wilayah bekas tsunami Rp 2 miliar, Rp 1,7 miliar digunakan membayar utang listrik pada PLN (September-Desember 2010), dan sisanya Rp 4 miliar, digunakan untuk membayar listrik tahun 2011. “Rata-rata listrik itu setahun menghabiskan dana Rp 4,7 miliar. Untuk tawas dan lain-lain tak disubsidi oleh pemerintah tahun ini,” ungkap Zulfikar.(c46)

SUMBER SERAMBINEWS.COM

22.24 | Posted in , | Read More »

Ekspor via Krueng Geukueh Dimulai Lagi 20 Januari


LHOKSUKON - Ekspor hasil komoditas pertanian via Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara rencanya akan kembali dilakukan pada 20 Januari mendatang dengan tujuan Malaysia.

“Tanggal 15-16 Januari 2010 digelar pertemuan dengan pemilik kapal asal Malaysia di Banda Aceh membahas jadwal rutin keberangkatan kapal. Kapal sudah ada kapasitasnya sekitar 80-100 kontainer atau 4.000 ton. Ini kerja sama, tak ada subsidi untuk kapal itu. Mereka hanya minta agar pasokan barang tersedia dari Aceh,” ungkap Plt Ketua Umum Tim Pengembangan Perdagangan melalui Pelabuhan Krueng Geukueh (TP3KG) Aceh, Asril Ibrahim kepada Serambi, di Lhokseumawe, Kamis (13/1).

Dikatakan, kini sudah ada 200 ton kakao milik PT Almajaro di gudang Pelabuhan Krueng Geukueh dan sekitar 200-300 ton pinang per bulan yang disediakan oleh PT Tayse Indonesia dijual ke Malaysia. Ditanya jumlah pengusaha yang bersedia mengekspor melalui Pelabuhan Krueng Geukuh, Asril menyebutkan kini tercatat 34 perusahaan yang sudah siap bergabung dan menyediakan barang untuk diekspor via pelabuhan itu.

Terkait kendala permodalan yang dihadapi pengusaha ekspor selama ini, Asril menyebutkan, Pemerintah Aceh menyediakan dana Rp 200 miliar dalam APBA 2011 untuk diberikan kepada pengusaha ekspor. “Dana dalam bentuk pinjaman lunak dan nonagunan ini dikelola oleh Pemerintah Aceh. Namun, verifikasi perusahaan yang layak mendapat pinjaman itu, kita yang lakukan,” ungkapnya.

Untuk operasional TP3KG, tambah Asril, Pemerintah Aceh menyediakan dana Rp 1,5 miliar per tahun. “Dana itu kita gunakan untuk kantor, mobiler, biaya kerja tim serta hal-hal lain yang dibutuhkan. Semua dana itu dialokasikan dalam APBA 2011 yang sedang dibahas saat ini,” rincinya.

Terkait pelayaran dari Aceh ke daerah lainnya di Indonesia, Asril menyebutkan, akhir bulan ini pihaknya akan membicarakan kemungkinan kapal milik Djakarta Lloyd masuk kembali ke Aceh. “Kapal ini khusus untuk perdagangan dari Aceh ke daerah laindi Indonesia,” pungkasnya sembari menyatakan dalam waktu dekat TP3KG akan membuka kantor di Lhokseumawe.(c46)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

22.06 | Posted in , | Read More »

Mata Ditutup, Tangan Diikat


MARZUKI mengaku masih trauma. Sorot matanya suram dan sesekali menerawang jauh. Tauke karet yang bermukim di Desa Madi Kecamatan Nibong, Aceh Utara, ini sulit melupakan peristiwa yang baru saja dialaminya: distop, dipaksa turun dari mobil, ditodong pakai senjata api, lalu uang dan mobil pikapnya dilarikan lima perampok.

“Kejadian itu sangat tiba-tiba. Saya sama sekali tidak menyangka bakal dihadang oleh sekelompok pria, lalu dipaksa turun dari mobil di bawah todongan senjata,” ujar Marzuki (30), saat diwawancarai Serambi di ruang tunggu Mapolsek Tanah Luas, Aceh Utara, Kamis (13/1).

Malah, menurutnya, tidak ada firasat apa pun yang memberi tanda kepadanya bahwa akan terjadi peristiwa sedahsyat itu.Apalagi, Marzuki sudah lama menekuni pekerjaan membeli karet/getah dari masyarakat di kawasan Geureudong Pase dan sekitarnya. Sudah lebih dari 2,5 tahun hal ini dia lakoni. Tapi tak pernah ada masalah atau pergesekan dengan warga atau petani kebun di sana. Juga jauh sebelum menekuni kegiatannya sehari-hari sebagai pedagang pengumpul karet milik petani, ia tak pernah punya masalah dengan siapa pun.

***

Alkisah, Kamis (13/1) pagi Marzuki bersama rekannya Murdani (28) mengendarai mobil pikap berdua saja. Mereka berangkat mencari getah yang dijual warga di kawasan Bukit Makarti, daerah pedalaman Krueng Pase.

Dalam perjalanan ke tujuan, keduanya banyak bercerita tentang bisnis getah dan hal-hal lainnya. Kondisi jalan yang dilalui kurang mulus. Maklum, ruas jalan di desa pedalaman itu masih diwarnai banyak lubang. Batunya pun banyak yang runcing.

Kondisi yang demikian menyebabkan Marzuki tak berani tancap gas. Saatnya memasuki daerah yang sepi dan rumah penduduk mulai jarang-jarang. Di kanan-kiri jalan terhampar semak belukar dan sesekali terlihat kebun karet warga. Sedang asyik mengendara dengan kehati-hatian ekstra, sorot mata Marzuki tertumbuk pada pria yang tiba-tiba menyetop mobilnya. Penghadang itu serta-merta ke luar dari semak belukar, mengarah ke depan mobil Marzuki.

“Saya terkejut bukan main, ketika distop oleh pria bersebo. Mereka berada di kiri-kanan jalan. Saat mobil kami naik tanjakan, langsung distop. Jalan sedang sepi,” ujar Marzuki saat ditanyai di Mapolsek Tanah Luas.

Menurutnya, setelah mobil dia berhentikan pelaku langsung memaksanya ke luar dari mobil dan minta ia menyerahkan uang. Ketika itu korban coba berkilah dengan mengaku tidak membawa uang. Namun, penodong itu tak mau percaya, malah mengasarinya. “Saya dipukul dan ditodong dengan senjata,” ujar Marzuki.

Bukan hanya itu, tambah Marzuki, pelaku juga mengikat tangannya dengan lakban putih. Lalu, menutup mulut dan matanya dengan lakban hitam. Sebelum matanya diikat, tambah Marzuki, dalam kondisi takut berat sempat juga dia lihat masih ada pria lain yang berada di kiri-kanan jalan. Tapi dia tak kenal siapa mereka.

Di akhir wawancara Marzuki mengaku, sepanjang hidupnya baru kali ini dia rasakan peristiwa semencekam itu. “Saya masih takut, Pak. Ini pengalaman terburuk saya. Saya harap, pelakunya bisa segera ditangkap,” pinta Marzuki. (ib/c46)


SUMBER SERAMBINEWS.COM

22.00 | Posted in , | Read More »

Komplotan Bersenpi Rampok Tauke Karet


LHOKSUKON - Perampokan bersenjata api (senpi) kembali terjadi di Aceh Utara. Sebelumnya, hal serupa terjadi di Aceh Tamiang dan Pidie. Kali ini, lima pelaku--satu di antaranya bersenpi laras panjang-- merampok dua tauke karet, Marzuki (30) dan Murdani (28), warga Desa Madi, Kecamatan Nibong, Aceh Utara, Kamis (13/1) pukul 13.30 WIB.

Perampokan di perbatasan Desa Leubok Klit, Kecamatan Geureudong Pase dengan Desa Bukit Makarti, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara itu dengan cepat tersiar ke seantero Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Lebih-lebih karena pelakunya ramai, bersenpi, dan korbannya dua saudagar karet yang dikenal luas di dua daerah bertetangga itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi di Tanah Luas, pelaku perampokan berjumlah lima orang. Satu di antaranya mengenakan sebo (kain penutup wajah) dan membawa senpi laras panjang.

Akibat kejadian itu, Rp 40 juta uang tunai dan sebuah mobil pikap milik korban dilarikan pelaku. Belum teridentifikasi jenis senjata apa yang mereka gunakan dan warga mana saja pelakunya. Yang jelas, sehabis beraksi di kawasan pedalaman itu, para pelaku terlihat lari ke arah Kecamatan Geureudong Pase.

Korban, sebagaimana dikutip seorang warga Geureudong Pase mengaku, komplotan perampok itu lebih dulu mengikat kaki dan tangan korban (Marzuki dan Murdani), sebelum menguras uangnya dari dalam mobil pikap yang mereka tumpangi berdua.

Marzuki dan Murdani awalnya berniat membeli getah (lateks) dari petani di Geureudong Pase. Namun, sesampainya di perbatasan Desa Bukit Makarti dan Desa Leubok Klit, mobil pikapnya dicegat kawanan pelaku yang mengendarai tiga sepeda motor (sepmor).

Keduanya dipaksa ke luar dari mobil dan ditodong dengan senpi laras panjang. Kawanan perampok itu meminta korban menyerahkan pikap dan uang tunai yang dibawa, di bawah todongan senjata.

Karena takut ditembak, akhirnya kedua saudagar getah itu merelakan uang yang totalnya Rp 40 juta beralih tangan. Belum jelas, berapa uang Marzuki, berapa pula uang Murdani di antara jumlah tersebut.

Meski sudah menguasai uang korban, kelompok penjahat itu masih meminta pula kunci mobil korban. Sebelum tancap gas, kedua korban diikat pelaku di bawah sebatang pohon pada lokasi kejadian.

Setelah semua uang bawaan tauke karet itu dirampas paksa di bawah todongan senpi, para pelaku melarikan diri dengan mobil hasil rampasan dan tiga sepmor milik mereka ke kawasan hutan di pedalaman Geureudong Pase.

Sekira pukul 14.20 WIB, beberapa petani yang melintas di daerah itu mendengar suara teriakan orang minta tolong. Rombongan petani itu pun menemukan kedua korban dan melepaskan ikatannya. Karena korban mengaku dirampok, warga setempat langsung melaporkan kejadian itu ke Polsek Tanah Luas, Aceh Utara.

Sekitar pukul 13.30 WIB, personel dari Polsek Tanah Luas mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian. Tak lama kemudian, pasukan dari Polres Aceh Utara yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Erlin Tang Jaya juga turun ke lokasi.

Anggota Koramil Tanah Luas ikut mengendus jejak pelaku di kawasan hutan Bukit Makarti, 45 kilometer arah timur Kota Lhokseumawe. Komandan Kodim Aceh Utara Letkol CZI Wakhyono juga memberi perhatian serius atas pengustan kasus perampok bersenpi ini.

Hingga pukul 19.30 WIB tadi malam, kedua korban masih diperiksa petugas Mapolres Aceh Utara yang menangani kasus itu bersama beberapa personel dari polsek setempat. Polisi juga memburu pelaku yang diduga lari ke arah Geureudong Pase.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, menyatakan, begitu mendapat laporan adanya aksi perampokan yang pertama terjadi dalam tahun ini di kabupaten itu, pihaknya langsung bereaksi. Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Aceh Utara dengan senjata lengkap diturunkan ke lokasi untuk mengejar pelaku sekaligus memblokir daerah yang diperkirakan menjadi celah bagi mereka untuk lari menjauh.

“Kasus ini dalam proses penyelidikan. Bahkan sampai tadi malam tim kita masih bekerja di lapangan. Kita sudah koordinasi dengan Polres Lhokseumawe maupun Dandim 0103 Aceh Utara agar pelakunya segera bisa kita tangkap,” ujar Kapolres AKBP Farid BE.

Dalam perburuan itu, polisi menemukan bekas makanan pelaku ketika menunggu korban melintas. Pelaku sempat makan mi, minum soft drink, dan air mineral di situ. “Kita terus memburu pelakunya, ke mana pun mereka lari,” ujar Kapolres Aceh Utara. (c46/ib)

SUMBER> SERAMBINEWS.COM

21.59 | Posted in , | Read More »

Industri Aceh Utara Butuh Pembiayaan


LHOKSUKON - Industri kecil di Kabupaten Aceh Utara sangat mengharapkan bantuan kredit lunak dari Pemerintah Aceh Utara. Pasalnya, pengrajin industri selama ini sangat kesulitan dalam penambahan modal kerja.

Pengrajin industri sepatu di Desa Keude Nibong, Kecamatan Nibong, Aceh Utara, Isnaini Yusuf, sangat berharap agar Pemerintah Aceh Utara bisa membantu memfasilitasi perbankan dengan industri kecil itu.

“Kami harap bisa dibantu oleh pemerintah dalam mendapatkan kredit lunak. Misalnya, pemerintah memfasilitasi pertemuan dengan bank, kemudian bunganya lebih ringan,” kata Isnaini.

Dia mengaku belum pernah sekalipun memperoleh bantuan apapun dari pemerintah setempat maupun pembiayaan perbankan. “Meski semua syarat sudah kami lengkapi, tetapi ada saja alasan bank untuk tidak memberikan kredit,” pungkas Isnaini.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Aceh Utara, Mehrabsyah, mengatakan kalau pihaknya tidak memiliki kapasitas untuk memberikan bantuan kepada industri kecil. “Tugas kami hanya membina saja, seperti memberikan pelatihan pada mereka. Sebatas itu saja,” sebut Mehrabsyah.

Dia menyebutkan, selama ini kelompok industri tidak memiliki agunan sehingga bank tidak mau memberikan kredit. “Kalau tak ada anggunan, bank mana pun tak mau memberikan kredit,” pungkas Mehrabsyah.(c46)

SUMBER > SERAMBINEWS.COM

22.52 | Posted in , | Read More »

Bulog Gelar Operasi Pasar di Lhoksukon


LHOKSUKON – Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Lhokseumawe menggelar operasi pasar di Keude Lhoksukon, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, sekitar pukul 14.300 WIB, Selasa (11/1). Bulog menyediakan stok 10 ton beras untuk dijual dengan harga murah di Keude Lhoksukon. Kepala Bulog Divre Lhokseumawe Iskandar kepada Serambinews.com, menyebutkan, harga jual beras itu hanya Rp 6.150 per kilogram, atau Rp 9.800 per kilogram,” ujar Iskandar.

Lebih jauh dia menyebutkan, pihaknya juga menggelar operasi pasar di Bireuen dan Kota Lhokseumawe. "Kalau harga beras di pasar Rp 7.300-Rp 7.500 per kilogram atau Rp 11.000 per bambu. Operasi pasar untuk menurunkan harga. Kalau permintaan masyarakat banyak, besok kita gelar lagi operasi pasar. Kita lihat hasil hari ini dulu,” pungkas Iskandar. (masriadi sambo)


Editor: Said Kamaruzzaman

22.30 | Posted in | Read More »

Empat Pria Dibeureukah Usai Nyabu


LHOKSUKON – Dalam keadaan mumang, empat pemuda ditangkap polisi di Paya Bakong. Mereka di-beureukah usai melakukan pesta sabu di Keude Paya Bakong, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, pada Selasa (11/1), sekira pukul 04.00 WIB.

Keempat pemuda dimaksud yakni Abdullah Ibrahim (32), asal Desa Rayeuk Jawa dan Rudianda (32), asal Peudari, Kecamatan Geureudong Pase. Dua lainnya yakni Aiyub (49), warga Kaye Payang dan Misdi (50), warga Beunot, Kecamatan Syamtalira Bayu. Keempatnya tertangkap tangan saat baru saja menikmati barang haram itu di sebuah rumah kosong di desa tersebut.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, keempat pemuda itu ditangkap setelah polisi mendapatkan laporan dari warga. Dari laporan tersebut, polisi langsung bergerak ke lokasi guna mengintai pesta yang tengah mereka lakukan.

“Sekira pukul 02.00 WIB, anggota kita turun ke lokasi. Mereka memastikan di dalam rumah kosong sedang terjadi pesta sabu-sabu. Lalu mereka menggrebek rumah itu,” sebut Farid.

Saat polisi menangkap keempatnya, mereka tengah mabuk. Di lokasi kejadian, polisi diamankan barang bukti dua bong sabu, tiga handphone berbagai merk, dua dompet, sabu-sabu senilai Rp 400 ribu, dua korek api, dan satu pisau silet.

Akhirnya polisi menggelandang keempat pria tersebut ke Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Aceh Utara. Hingga tadi malam, keempat pria itu mendekam di sel Mapolres Aceh Utara, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Farid mengatakan, kasus ini masih didalami penyidik. “Mana tahu, mereka memiliki bandar besar, kita akan buru terus itu pelaku peredaran narkoba di sini. Semua pengedar dan pemakai narkoba akan saya sikat,” pungkas Farid.(c46)

--
Harian PROHABA , The Real City Paper.

22.26 | Posted in | Read More »

PN Lhoksukon Kekurangan Hakim


LHOKSUKON - Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon hingga kini masih kekurangan hakim. Saat ini, PN itu hanya memiliki tujuh hakim. Padahal, idealnya tiap PN harus memiliki sepuluh hakim. Selain itu, panitera pembantu (PP) juga kurang. Saat ini, hanya ada satu PP saja di PN tersebut.

“Kami sudah memberitahukan hal ini ke Pengadilan Tinggi. Kita juga sudah meminta Mahkamah Agung RI menambah jumlah PP dan hakim di PN Lhoksukon,” ujar Ketua PN Lhoksukon, Taufan Mandala SH, kepada Serambi, Selasa (11/1).

Jika jumlah hakim mencukupi, menurutnya, bisa diselenggarakan sidang dengan tiga majelis hakim dalam waktu bersamaan. “Ruangan sidang kita ada tiga. Kalau hakimnya cukup, bisa dalam waktu yang sama, sidang berjalan dengan tiga majelis hakim. Selama ini, hanya dua majelis hakim yang bersidang dalam waktu bersamaan,” ujar Taufan.

Dia berharap, kekurangan hakim itu bisa segera teratasi agar proses sidang bisa lebih cepat dilangsungkan. “Sekarang sidang sampai jam 17.00 WIB, kadang-kadang 18.00 WIB baru selesai. Di PN lain karena hakimnya cukup, jam 16.00 WIB sidang sudah selesai,” pungkas Taufan.(c46)

SUMBER > SERAMBINEWS.COM

22.23 | Posted in | Read More »

Darwis, Ahlinya Mengawinkan Padi


DARWIS Dek Johan (32) terlihat sibuk mengelola padi miliknya di Desa Baroh Kuta Bate, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Kamis (6/1) siang itu. Sesekali tangannya menyeka keringat yang mengalir di dahi. Matanya nanar menatap bulir padi yang telah menguning. Padi itu terlihat subur dengan bulir yang padat.

Pria yang baru mengakhiri masa lajangnya itu memang unik. Tidak seperti petani kebanyakan di Aceh yang hanya puas dengan menggunakan bibit padi yang telah disediakan di pasar. Dia coba mengawinkan bibit padi IR 64 dengan Ciherang.

Hasilnya, bibit padi yang dia gunakan kini bisa dipanen lebih cepat dibanding padi kebayakan. Varietas baru yang ditemukan Darwis bisa dipanen hanya 88 hari sejak bibit disemai. Lazimnya mencapai 105 hari. Artinya, 17 hari lebih cepat.

Darwis mengawinkan dengan cara mengambil serbuk sari IR 64, lalu dimasukkan ke dalam bulir Ciherang. Kedua serbuk sari pun menyatu. Bibit yang menyatu inilah yang disebut varietas bibit padi baru.

Dia menyebutkan, varietas bibit padi itu dihasilkan sejak lima tahun lalu dan setelah mengalami kegagalan hingga 15 kali. “Saya coba berulang-ulang,” kenang Darwis.

Seluas 200 meter persegi lahan sawah peninggalan almarhum ayahnya dijadikan lahan ujicoba. Darwis tak patah arang. Dia terus memacu penelitian dengan biaya sendiri.

“Niatnya hanya untuk bisa cepat panen. Kemudian, saya pernah belajar soal pertanian di luar negeri selama dua tahun, Jadi, saya coba praktikkan dan ternyata berhasil,” sebut alumnus Universitas Abulyatama, Banda Aceh ini.

Varietas bibit padi baru yang ditemukan Darwis pun belum diberi nama hingga kini. “Nantilah soal nama, mungkin saya pakai nama saya atau nama kampung saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Darwis yakin, dengan bibit padinya bisa menghasilkan sebanyak 12 ton padi per hektare. Secara nasional hanya sekitar 8-9 ton per hektare. Bahkan di Aceh hanya pada kisaran 5-7 ton.

“Saya terus kembangkan. Saya ingin, agar padi bisa dipanen hanya dengan waktu 80-84 hari sejak bibit disemai. Jika ini berhasil, saya baru cari uang untuk mematenkan karya saya ini,” terang Darwis.

Pola tanam yang diterapkan Darwis yaitu satu batang padi per satu tajukan dengan jarak tanam 30 x 30 centimeter. Umumnya, petani di Aceh menanam padi dengan jarak tanam 20x 20 centimeter. “Dari satu batang itu akan lahir anak padi sebanyak 50-80 batang. Kalau padi sekarang itu anaknya hanya 30 batang. Itu dengan bibit sekitar lima batang satu tajukan,” beber Darwis.

Darwis memang pria unik. Sehari-hari dia terus bergelut di sektor pertanian dengan caranya sendiri. Beberapa waktu lalu dia juga mengawinkan bibit cabai. Hasilnya, cabai bisa setinggi dua meter dengan produksi buah yang luar biasa banyak. Dia juga meramu daun-daun hasil alam menjadi obat pemberantas hama kakao. Sampai kini semua karyanya belum dijual secara komersial.(masriadi sambo)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

01.16 | Posted in , | Read More »

Dinas PP & WH Menanti Petunjuk Bupati



LHOKSUKON - Dinas Satuan Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh Utara belum memberikan sanksi apapun kepada Jufri (30), anggota pengawas syariah. Pasalnya, instansi dimaksud masih menunggu petunjuk Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, yang akan diusulkan Dinas Satpol PP dan dan WH.

Sekretaris Satpol PP dan WH Aceh Utara, Hasanuddin, menyebutkan selain menanti petunjuk pimpinan dawerah itu, pihaknya juga menunggu keputusan hukum tetap terkait kasus markus beasiswa anak yatim tersebut. “Jufri pegawai kontrak dengan SK bupati. Jadi, sanksinya, misalnya pemecatan, itu hanya bisa dilakukan oleh bupati,” sebut Hasanuddin kepada Prohaba, kemarin.

Dia menyebutkan, jika kesalahan dalam bentuk pelanggaran kode etik seperti melakukan perbuatan tidak sesuai norma Islam, sanksinya berupa teguran dan paling keras berupa skorsing. “Kalau Jufri, kan, kasusnya berbeda. Saya baca di koran dia memotong dana anak yatim. Jadi, kami menunggu keputusan hukum tetap dan petunjuk Pak Bupati,” ulang Hasanuddin.

Seperti diberitakan, setelah sempat dinyatakan buron, dua lelaki yang menjadi tersangka ‘markus’ bantuan anak yatim, akhirnya menyerahkan diri ke polisi. Keduanya terbukti menilep dana beasiswa anak yatim hingga puluhan juta. Kedua markus dimaksud yakni Jufri (30), asal Keude Bayu, Kecamatan Syamtalira Bayu, dan M Isa (40) asal Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Belakangan diketahui, Jufri juga tercatat sebagai salah satu personel WH.(c46)

SUMBER SERAMBINEWS.COM

00.58 | Posted in | Read More »

Markus Bantuan Yatim Menyerahkan Diri


LHOKSUKON – Dua Tersangka penilep uang anak yatim Juf (30) asal Desa Keude Bayu, Kecamatan Syamtalira Bayu, dan Mis (40) asal Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara menyerahkan diri ke polisi. Keduanya diduga menilep uang anak yatim asal Kecamatan Baktiya Barat, Tanah Jambo Aye, dan Kecamatan Langkahan. Belakangan diketahui, Juf ini juga bekerja sebagai anggota wilayatul hisbah (WH) Aceh Utara.



Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kasat Reskrim AKP Erlin Tangjaya Sik, kepada Prohaba, Rabu (5/1) menjelaskan, Mis menyerahkan diri Selasa (4/1) dan Juf menyerahkan diri bersama istrinya, Rabu (5/1) di Polres Aceh Utara.



“Juf dan Mis ini sedang kita periksa. Hasil pemeriksaan sementara, keduanya mengaku memotong uang anak yatim tersebut. Hasil pemotongan itu mereka memperoleh uang Rp 32 juta. Sisanya, hanya Rp 900.000. Selebihnya telah digunakan untuk membayar utang pribadinya,” sebut AKP Erlin.



Juf juga menjelaskan dirinya bukan wartawan salah satu koran mingguan asal Medan, Sumetara Utara, seperti kabar yang beredar dalam dua hari terakhir ini. Dia juga menjelaskan total bantuan itu sebesar Rp 52 juta, untuk tiga kecamatan yaitu Kecamatan Langkahan, Tanah Jambo Aye, dan Kecamatan Baktiya Barat.



“Kita terus dalami pemeriksaan. Mana tau ada perkembangan, dan ada orang lain yang terlibat,” pungkas AKP Erlin.



Seperti diberitakan sebelumnya, Juf dan Mis, menilep uang bantuan untuk anak yatim yang bersumber dari Provinsi Aceh tahun 2010. Seharusnya 32 anak yatim itu menerima uang Rp 1,8 juta. Namun, yang diberikan hanya Rp 300.000. (masriadi sambo)

sumber>serambinews.com

22.11 | Posted in | Read More »

Pupuk Urea Krisis di Aceh Utara


LHOKSUKON – Pupuk urea makin langka di Aceh Utara. Ini efek dari terhentinya produksi pupuk di PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) Aceh Utara sejak dua pekan lalu setelah Exxon Mobil tidak lagi memasok Gas ke perusahaan pupuk itu. "Pupuk jenis urea sudah empat hari ini kosong karena PT PIM tidak menyalurkannya," ungkap sejumlah petani dan pedagang pupuk eceran di Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye kepada Serambinews.com, Kamis (6/1).

Karena PIM berhenti berproduksi akibat tidak ada gas, para pedagang sementara tidak menjual pupuk urea. "Kami menunggu sampai PIM kembali memasok barang,” sebut M Isa (45) salah seorang pedagang pupuk di Keude Panton Labu.Kabar terakhir yang diterimanya, pupuk akan dipasok kembali oleh PT PIM tiga hari mendatang.(masriadi sambo)

Editor: Ampuh Devayan
SUMBER > SERAMBINEWS.COM

22.09 | Posted in , | Read More »

Saksi Mengaku Uang Atlet Dibayar Setelah Kasus Diusut


LHOKSUKON - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon, Rabu (5/1) kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan korupsi di organisasi olahraga Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Aceh Utara. Sidang yang menyeret ketua organisasi itu, Baharuddin Hasan, sebagai terdakwa beragendakan pemeriksaan saksi. A Wahab, atlet catur Aceh Utara yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang kemarin dalam keterangannya menjelaskan uang untuk atlet 14.175.000 per orang untuk mengikuti Kejurda Catur Se-Aceh di Gedung KNPI Aceh Utara, Agustus 2008 baru dibayar Ketua KONI Aceh Utara, Junaidi SH, Rp 2.600.000 belum lama ini.

“Ketua KONI Aceh Utara baru membayar uang untuk atlet enam bulan setelah kasus ini diperiksa Kejari Lhoksukon tahun 2009. Itu pun belum semuanya dibayar,” ujar A Wahab dalam sidang yang dipimpin Tauhari Tafsirin SH, didampingi hakim anggota Jamaluddin SH dan Riswandi SH. Turut hadir Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hendra Busrian SH dan Sakdan SH. Sedangkan Terdakwa Baharuddin turut didampingi kuasa hukumnya dari kantor hukum, Yusuf Ismail Pase. Sementara terdakwa Baharuddin Hasan membantah bahwa uang atlet Rp 14.175.000. “Uang Rp 14 juta lebih itu untuk tujuh atlet, bukan untuk seorang atlet. Ini perlu saya luruskan,” ujar Baharuddin di depan majelis hakim. Setelah itu majelis hakim menutup sidang dan akan dilanjutkan pada Rabu (12/5) dengan agenda pemeriksaan saksi lainnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Lhoksukon, menetapkan Ketua Percasi Aceh Utara, Baharuddin Hasan sebagai tersangka tunggal dalam kasus dugaan korupsi di Percasi Aceh Utara. Uang yang dicurigai bermasalah yaitu uang pembinaan atlet tahun 2008, sebesar Rp 200 juta.(c46)

sumber > serambinews.com

22.04 | Posted in | Read More »

DPO Polisi Jambi Ditangkap di Aceh Utara


LHOKSUKON - Rah (40), tersangka kasus ganja yang sudah masuk daftar pencarian orang (DPO) Polres Tanjab Barat, Jambi, ditangkap di rumahnya Desa Keude Lhoksukon, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, kemarin. Rah diduga terlibat peredaran ganja jenis ganja di Polres Tanjab Barat. Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kasat Reskrim, AKP Erlin Tangjaya Sik, kepada Serambinews.com Rabu (5/1) m enyebutkan, awalnya Rah merental mobil Avanza warna hitam, BK 1153 KU di Lhoksukon. “Mobil itu diambil oleh Iy (35) dan A(40) warga Desa Keude Lhoksukon. Namun, yang menandatangani perjanjian rental itu Iy, sekitar bulan September 2010 lalu,” sebut Kasat Reskrim.

Pada hari Rabu, 1 September 2010 lalu, mobil rental ini mengalami kecelakaan lalu lintas (Laka lantas) tunggal Jalan Lintas Timur, KM 72, Dusun Mudo, Kecamatan Muara Papalik, Kabupaten Tanjab Barat, Provinsi Jambi. “Ketika diperiksa oleh anggota Polsek Merlung, di bawah tempat duduk mobil itu didapat 48 kilogram ganja kering siap jual. Sedangkan tersangkanya tidak ada. Mobil itu dibiarkan begitu saja, sedangkan di Lhoksukon kita terima laporan tentang mobil rental yang hilang,” sebut AKP Erlin.Kemudian, setelah diperiksa dan dilakukan penyelidikan ternyata mobil itu berada di Polsek Merlung, Jambi lengkap dengan ganja 48 kilogram. “Kita selidiki, dan terakhir kita tangkap satu orang Iy ini. Dia membantah terlibat dalam kasus ganja itu. Sedangkan dalam perkara rental mobil, dia ikut serta,” ungkap AKP Erlin.

Dia menambahkan, Iy, dijemput Polres Tanjab Barat, Rabu (5/1) untuk di bawa ke Mapolres Tanjung Barat guna pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan, dua tersangka lainnya hingga kini masih menjadi buronan Polres Tanjab Barat dan berkoordinasi dengan Polres Aceh Utara. (masriadi sambo)

sumber.serambinews.com

22.01 | Posted in | Read More »

Uang Palsu Beredar di Aceh Utara


LHOKSUKON- Uang palsu pecahan 20.000 dan 50.000 rupiah beredar di Kabupaten Aceh Utara. Sejumlah pedagang mengaku jadi korban. "Uang itu sangat mirip dengan yang asli. Tapi jika diperhatikan secara teliti, ketahuan warnanya pudar," kata Iwan (35), pedagang di Keude Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Iwan mengaku baru menyadari kalau uangnya palsu saat petugas BPD Ranting Panton Labu memberitahu.“Saya mau transfer uang. Ternyata ada selembar di antara lembaran senilai Rp 50.000 dikatakan palsu oleh teller bank. Saya kaget juga. Kok bisa uang palsu itu ada sama saya. Mungkin sama orang lain juga ada yang beredar,” ungkap pedagang kelontong itu kepada Serambinews.com, Rabu (5/1).

Pengakuan serupa diungkap Abdur Rafar (32). Pedagang obat di Keude Panton Labu, mengaku kaget ketika ia mau mentransfer uang ke adiknya. Petugas bank memberitahu satu lembaran uang Rp 20.000 miliknya itu palsu. Saya terkejut. Pasti ini ada konsumen yang membeli dengan uang palsu.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye, Iptu Mardan P, mengaku sudah mendengar kabar tentang adanya peredaran uang palsu itu. "Tapi belum ada korban yang melaporkan ke kami. Begitu pun akan kita telusuri dan lacak. Semoga pelakunya segera tertangkap,” janjinya.(Masriadi Sambo)

Editor: Ampuh Devayan
SERAMBINEWS.COM

22.00 | Posted in , | Read More »

Wow, Tunggakan Listrik Pemkab Aceh Utara Rp 1 M Lebih



LHOKSUKON - Tunggakan rekening listrik Pemkab Aceh Utara mencapai Rp 1.050.000.000. Tunggakan itu termasuk biaya listrik lampu jalan, rumah sekolah, dan perkantoran di kawasan Lhoksukon. Sedangkan, tunggakan listrik dari masyarakat hanya Rp 650 juta. “Kita sudah surati Pemkab Aceh Utara agar membayar tunggakan listrik itu. Kita tunggu sampai akhir Januari ini. Kita masih persuasif, tidak langsung mengambil tindakan pemutusan saluran listrik,” kata Kepala PLN Ranting Lhoksukon, Zulfitri, kepada Serambi, Senin (3/1).

Jika Pemkab Aceh Utara tak mau membayar tunggakan rekening listrik itu, lanjut Zulfitri, pihaknya akan meminta pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhoksukon untuk menangih tunggakan itu. “Jika nanti tidak dibayar juga, kita akan putuskan sambungan listriknya,” ujar Zulfitri. Khusus untuk masyarakat, tambahnya, saat ini petugas PLN Ranting Lhoksukon sedang menagih ke rumah-rumah warga. “Jika sampai akhir Januari 2011 tak bayar juga, ya kita putuskan listrik sementara,” pungkas Zulfitri. (c46)

SUMBER SERAMBINEWS.COM

02.42 | Posted in | Read More »

Saksi Mengaku Melihat Bachtiar Berjudi


LHOKSUKON - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa (4/1) kembali menggelar sidang lanjutan kasus perusakan mobil Bachtiar, adik Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid dengan agenda pemeriksaan saksi mahkota (saksi yang juga terdakwa-red). Saksi mahkota yaitu Mulyadi, M Yusuf Amin, dan Yusuf Abdullah. Dalam keterangannya di depan majelis hakim, M Yusuf Amin menyatakan dirinya sudah pernah memperingatkan Bachtiar agar tidak bermain judi. Bahkan, dia juga pernah melihat langsung Bachtiar bermain judi jenis kartu joker. Sedangkan, Yusuf Abdullah dan Mulyadi menyebutkan mereka baru melihat mobil milik Bachtiar rusak ketika berada di Polres Aceh Utara.

Sidang dipimpin majelis hakim yang diketuai Tauhari Tafsirin SH, dengan hakim anggota Riswandi SH dan Jamaluddin SH. Hadir kuasa hukum terdakwa Rahmat Hidayat SH, dan jaksa penuntut umum (JPU) Indra Nuatan SH. Hakim sempat menanyakan apakah benar saksi menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saat pemeriksaan di Polres Lhokseumawe, M Yusuf Amin membenarkannya. Namun, ketika hakim memperlihatkan tanda tangan di BAP itu, M Yusuf Amin menyangkal bahwa itu adalah tanda tangan miliknya. “Itu bukan tanda tangan saya,” ujar M Yusuf Amin sembari memperlihatkan contoh tanda tangannya kepada majelis hakim.

Setelah mendengar keterangan saksi, majelis hakim menutup sidang itu dan dilanjutkan kembali pada Kamis (6/1) lusa dengan agenda mendengarkan keterangan saksi adichat (saksi yang meringankan terdakwa). Seperti diberitakan sebelumnya, warga Panton Rayeuk Sa, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara dituding merusakan mobil Bachtiar, adik Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid. Sedangkan versi warga, mereka mengusir adik bupati itu karena berjudi di desa mereka.

Ditunda
Sementara itu, majelis hakim PN Lhokseumawe, kemarin, terpaksa menunda sidang kasus mobil bupati/Wabup Aceh Utara yang menyeret delapan PNS dari jajaran Setdakab Aceh Utara sebagai terdakwa. Pasalnya, dua terdakwa yaitu Usman bin Adnan dan Muhammad Nasir tak bisa hadir ke sidang karena sakit. Setelah sidang dibuka Ketua Majelis Hakim Sadri SH didampingi dua anggotanya, Toni Irfan SH dan M Jamil SH, kuasa hukum terdakwa Muzakkir SH langsung meminta majelis hakim menunda sidang itu karena kedua kliennya tak bisa hadir karena sakit. Mendengar hal itu, majelis hakim memutuskan menunda sidang itu hingga Selasa (11/1) mendatang dengan pemeriksaan saksi. Sidang itu berlangsung pukul 11.30-11.45 WIB juga dihadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fakhrillah SH.(c46/c37)

02.36 | Posted in | Read More »

12 Desa tak Dapat Honor Penyuluh Agama


LHOKSUKON - Sebanyak 12 desa dari 47 desa di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara tidak memperoleh honor untuk penyuluh agama untuk jatah tahun 2010. Bahkan, nama imum masjid dari 12 desa itu juga tidak terdata di Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan setempat. Keuchik Samakurok, T Hamdani kepada Serambi, kemarin, mengatakan desanya juga tak memperoleh dana itu. Awalnya, kata Keuchik, ia menduga honor itu akan diberikan pada akhir tahun. Ternyata, nama imam desa dan penyuluh agama di Desa Samakurok bahkan tak terdata sama sekali. “Desa lain ada yang terdata satu sampai tiga orang, tapi desa kami kok ngak ada yang terdata satu orang pun. Padahal seluruh desa ada imam desa dan penyuluh agama,” ujar Hamdani kesal.

Informasi yang dihimpun kemarin, desa yang tidak mendapat honor penyuluh agama itu yakni Desa Tanjong Ceungai, Buket Alue Ie Puteh, Biram Rayeuk, Biara Barat, Samakurok, Pucok Alue, dan Desa Meunasah Geudong. “Seharusnya merata. Misalnya satu desa seorang penyuluh agama yang diberi honor. Jangan kami dianaktirikan, tapi harus adil dan fair. Ini harus segera ada tindakan dari pihak Kantor Kementerian Agama Aceh Utara,” harap Hamdani. Kepala KUA Kecamatan Tanah Jambo Aye, Drs Hasmuni, mengaku tidak bisa memberi penjelasan rinci terkait masalah itu. “Itu kejadian sudah lama yaitu masa kepala KUA sebelumnya. Saya tak tahu persis kejadian itu karena saya baru tiga bulan menjabat Kepala KUA di sini,” ujar Hasmuni. Disebutkan, honor itu sebesar Rp 100.000 per bulan per satu orang penyuluh agama. “Honor itu dibayar enam bulan sekali. Ke depan, kita coba merata untuk semua desa di Jambo Aye,” pungkasnya.(c46)

SUMBER > SERAMBINEWS.COM

22.45 | Posted in | Read More »

Sampah Menumpuk di Panton Labu


LHOKSUKON-Sampah masyarakat menumpuk di sejumlah tong sampah di Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Kondisi itu disebabkan mobil petugas kebersihan tidak bekerja dalam beberapa hari. Salah seorang masyarakat di Desa Keude Panton Labu, M Saleh Ibrahim (40) kepada Serambi, Jumat (31/12) menyebutkan, petugas kebersihan yang mengumpulkan sampah bekerja seperti biasanya. “Namun, hanya ditumpuk di dalam tong sampah. Karena, mobil pengangkut sampah tak datang, karena sampah penuh di TPA. Jadi, tak tau mau dibawa ke mana dulu sampah itu, makanya dibiarkan menumpuk di tong sampah,” sebut M Saleh.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Aceh Utara, Bustanuddin, dikonfirmasi terpisah menyebutkan, petugas pengangkut sampah bekerja seperti biasanya. “Kalau petugas pengangkut sampah bekerja seperti biasa. Namun, karena TPA sudah penuh. Ya, terpaksa kita bawa semua mobil yang mengangkut sampah itu ke kantor di Landeng, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara,” sebut Bustanuddin yang mengaku sedang di Banda Aceh. Dia menambahkan, saat ini sampah di TPA Desa Buket Hagu sedang dikeruk dan dipadatkan dengan menggunakan alat berat. “Insya Allah, besok sudah siap. Sampah sudah bisa kita bawa lagi ke TPA itu,” pungkas Bustanuddin. (c46)

SUMBER > SERAMBINEWS.COM

20.55 | Posted in | Read More »

DIPA Aceh Utara Meningkat


LHOKSUKON-Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Lhokseumawe, Edy Prayitno, menyerahkan Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) Aceh Utara tahun 2011 sebesar Rp 193.728.659.000 kepada Bupati Aceh Utara Ilyas A Hamid, di Aula Sekdakab seteampat, Jumat (31/12). Daftar tersebut meningkat dibanding tahun 2010 hanya Rp 193.687.114.000. Edy Prayitno menyebutkan, penyerahan langsung DIPA kepada kepala daerah baru kali ini dilakukan. Sebelumnya, penyarahan DIPA dilakukan oleh Kepala Kanwil KPPN Banda Aceh.

“Kita harap, penyerahan DIPA sengaja dilakukan akhir tahun 2010, agar diawal tahun 2011 satuan kerja bisa bekerja lebih cepat dan menyerap anggaran lebih baik lagi. Selama ini, realisasi anggaran sering dilakukan akhir tahun, sehingga serapan anggaran tidak maksimal dan kualitas bangunan proyek sangat buruk,” sebut Edy. Ia menambahkan, dalam tahun 2010, KPPN Lhokseumawe mengelola anggaran sebesar Rp 876.889.653.000. Sampai 27 Desember 2010, realisasi anggaran mencapai 117,74 persen untuk belanja pegawai, belanja barang 81,11 persen, belanja modal 93,73 persen, belanja bantuan sosial 97,18 persen, dan belanja lain-lain sebesar 83,92 persen.

“Dari data yang kita miliki, belanja modal, barang, dan belanja lain-lain tidak terserap dengan baik. Ini seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan berakhir pada kemajuan daerah,” terang Edy. Bupati Aceh Utara Ilyas A Hamid menyebutkan, tahun 2011 sebanyak 88 DIPA yang diserahkan terdiri dari 9 DIPA untuk satuan kerja di bawah Pemkab Aceh Utara, dan 79 lainnya instansi vertikal, seperti Kementerian Agama, Polres Aceh Utara, Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Negeri Lhoksukon, KIP, KP2KP, BPS, BPN, Rutan Lhoksukon dan puluhan sekolah MIN, MAN, dan MTS di bawah Kankemenang Aceh Utara. “Kita harap, seluruh satuan kerja bekerja maksimal. Bisa menyerap anggaran dengan baik dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” pungkas Ilyas A Hamid.(c46)

sumber > serambinews.com

20.51 | Posted in | Read More »

Pengusaha Kelapa Dilatih Manajemen


LHOKSUKON-Sebanyak 24 pengusaha kelapa di Aceh Utara dilatih manajemen usaha di Gedung KKB Finansial, Lhokseumawe, Sabtu (1/1). Kegiatan itu dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh Utara dan KKB Finansial, Lhokseumawe. Direktur KKB Finansial Halidi MM menyebutkan, selama ini banyak pengusaha sabut kepala maupun pengusaha kelapa hanya mengelola bisnis mereka secara tradisional. Misalnya, mereka beli hari ini Rp 400 per butir, kemudian dijual Rp 600 per butir. Sudah selesai.

“Mereka tidak memahami bagaimana mengatur manajemen usaha, membidik peluang pasar, dan membuka jaringan ke provinsi lain. Ini yang kita ajarkan selama lima hari ini,” sebut Halidi. Dia menambahkan, pengusaha juga diajarkan mencari sumber permodalan. “Kita juga mengajarkan bagaimana cara menghitung bunga bank, apakah dengan mendapatkan kredit, dia mampu menutupnya dan tetap menghasilkan laba dari usaha itu. Ternyata, banyak pengusaha kelapa yang tidak memahami menghitung berapa persen bunga bank yang diambilnya, dan terakhir tidak berhasil menutup kredit dan bangkrut,” ungkap Halidi. Kadis Perindagkop Aceh Utara, Mehrabsyah, berharap setelah mendapatkan pelatihan tersebut, pengusaha kelapa bisa lebih maju dan usahanya semakin berkembang. “Ke depan, pengusaha kelapa saya harap bisa lebih matang dalam mengelola usahanya. Sehingga, bisa menghasilkan laba dan bisa memperluas jaringan usaha. Sehingga, bisa menekan angka pengangguran,” pungkas Mehrabsyah.(c46)

SUMBER > SERAMBINEWS.COM

20.49 | Posted in , | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added