MOST RECENT

Pembunuh Bayi

Cerpen > Masriadi Sambo

BUMI menangis. Langit mendung. Halilintar menggodam bumi. Kilatannya seakan mencambut setan yang menggoda manusia. Angin bertiup tak tentu arah. Suaranya mendesau ribut. Seakan menjadi pertanda, peristiwa mahadahsyat akan terjadi.

Hari itu, 24 Februari. Mendung menyilumit seluruh kota. Hujan akan turun. Kupacu sepeda motor menuju rumah. Diperjalanan, telepon bernada pilu kuterima. Istriku menangis sesenggukan. Aku tak tau apa yang terjadi.

“Bi, segera pulang ya,” kata Istriku di telepon.

Kutinggalkan seluruh pekerjaan di kantor. Kuabaikan telepon dari para petinggi kantor, menanyakan tugasku yang belum selesai. Lebih penting Istri, ketimbang kerjaan. Pikiranku kalap. Aku tak bisa berpikir normal.

Kutemukan Istriku menangis sejadinya di kamar. Air matanya membuncah. Tak terbendung. Tak jelas, kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Anak kita Bi,” katanya sambil memegang perut. Air matanya terus mengalir deras.

“Kenapa dengan anakku.” Istriku mengandung anak pertama kali. Kuyakini, anakku akan mengikuti jejak ibunya. Menjadi wanita yang solehah. Wanita yang baik, dan mengikuti ajaran agama. Usia kandungannya baru enam bulan. Namun, ada apa dengan anakku.

Sambil menangis, istriku menjelaskan, bahwa dokter kandungan ternama di kota ini memvonis bahwa bayi kami telah meninggal dalam kandungan. Dia tak percaya. Aku juga. 7 Februari lalu, kami baru memeriksa kandungan istri. Diagnosa dokter saat itu kandungan istri dalam kondisi sehat. Aman. Tidak ada masalah apa pun.

“Maafin Umi ya. Umi belum bisa ngasi Abi anak,” katanya sambil menangis.
Aku tak sanggup menerima cobaan ini. Terlalu berat. Sejak sebelum menikah, aku ingin segera punya anak. Bahkan, dalam setiap sujudpun, hanya tiga hal yang kuminta pada Tuhan. Aku minta diberikan keturunan yang sehat, normal, cerdas, soleh dan solehah. Lalu, aku minta diberikan kemudahan rezki agar bisa berhaji bersama keluarga besarku dan keluarga istri. Terakhir, aku selalu minta pada Tuhan,agar diberikan kesehatan dan disembuhkan segala penyakit yang ada pada tubuhku.

Namun, doaku belum dikabulkan. Rasanya ingin protes pada sang pencipta. Namun, aku ingat perkataan Nabi, bahwa Tuhan memberikan cobaan pada hambanya yang mampu menerima cobaan itu. Tuhan sudah mengukur kemampuan hambanya. Cobaan adalah bagian dari ujian, untuk naik tingkat ke kelas selanjutnya. Naik ke tingkat yang lebih tinggi. Pepatah bijak mengatakan, ada hikmah dibalik cobaan.

Kupejamkan mata menahan air mengalir. Aku tak pernah sesedih ini. Ketika kehilangan kakek, nenek, dan pamanku, bahkan aku tak bisa menangis sama sekali. Kupaksa air mata agar keluar, namun tetap saja aku tak bisa mengis. Kata ibuku, aku orang yang agak keras. Sukar untuk sedih. Namun, kali ini. Air mata keluar sendiri. Tak bisa kubendung.

***
DOKTER menyarankan agar bayi yang ada dalam kandungan istriku segera dikeluarkan. Jika tidak, maka akan terjadi inpeksi pada Istri. Malam itu, dengan sisa kekuatan yang ada, kubawa Istri ke rumah sakit.

Dokter sudah memasang cairan infus. Untuk dilakukan operasi besok pagi. Dalam hati aku berdoa agar istriku selamat. Kurenungi semua yang telah kulakukan di dunia ini. Ibadah, sedekah, dan amal lainnya. Kurasa, soal ajaran agama, aku terbilang taat. Dibanding teman-temanku dikantor, menurutku, aku lebih baik dalam ibadah.

Lalu, apa yang membuat Tuhan mengirimkan cobaan mahadahsyat ini?. Keesokan paginya, dokter datang begitu awal. Istriku sudah masuk ke ruang operasi. Akan dioperasi pagi ini. Namun, istriku ragu. Dia merasa, bayinya masih bergerak.

“Masih ada gerakannya Bi.”
“Ya. Nanti, kita tanya dokter.”

Dokter pun muncul. Dokter langsung menyiapkan alat operasi. Kujelaskan apa yang dirasakan istriku, tentang bayi yang seakan masih bergerak.

“Saya tidak mau melakukan operasi, kalau ibunya tidak siap. Kalau ibunya masih merasa bayinya hidup, silahkan periksa lagi ke dokter lainnya. Saya sudah capek menjelaskan kemarin,” kata dokter itu sambil pergi meninggalkan kami. Istriku terpukul dengan ucapan dokter itu. Kami memutuskan memeriksa kembali kandungan Istri ke seluruh dokter kandungan di daerah ini. Kesimpulannya sama. Bayi sudah meninggal. Dokter yang satu mengatakan sudah meninggal dunia sejak dua minggu lalu, dokter kedua mengatan sudah sepuluh hari lalu.

Kembali kubawa istri ke rumah sakit. Solusinya hanya satu, bayi kami harus dikeluarkan. Istilah medis menyebutkan harus disinto. Hari pertama, satu botol cairan sinto merasuk ke tubuh istriku. Namun, belum ada reaksi apa pun. Tidak ada tanda-tanda pintu rahim akan terbuka. Aku khawatir. Dokter menjelaskan, bahwa butuh waktu dua atau tiga hari untuk membuka pintu rahim.

“Terkadang bahkan ada yang butuh waktu seminggu Pak. Jadi, Bapak sabar saja,” kata dokter itu. Aku termangu. Keuanganku tak begitu kuat untuk merawat istri berminggu-minggu di rumah sakit. Meski begitu, aku tak perduli. Terpenting, istri selamat. Bayi kami yang telah meninggal dunia, berhasil dikeluarkan. Agar ibunya tidak terinpeksi. Jika air ketuban pecah didalam, solusi terakhir adalah operasi.

“Tuhan, berikan kesehatan buat Istriku,” ujarku.

***
Hari ketiga, empat botol cairan sinto telah masuk di dalam tubuh Istriku. Pagi itu, azan subuh baru terdengar. Usai melaksanakan shalat, kujenguk kembali istri di ruang persalinan. Dia mengatakan, perutnya mules. Mulai ada tanda-tanda akan melahirkan. Kemarin, darah istri sudah kuperiksa. Hasilnya, istri positif memiliki virus kucing (toxoplasma) dalam darang. Virus ini yang membunuh bayi kami. Pembunuh bayi terkejam di negeri ini. Data dari tim medis, di kota ini saja, sejak tiga bulan terakhir tercatat 661 wanita yang positif mengidap virus ini. Tuhan, bisakah kami memiliki bayi. Pembunuh bayi ini sangat kejam. Bagaimana menyembuhkannya.

Jam dinding terus berputar. Hari ketiga di rumah sakit. Istriku terbaring lemas pagi itu. Dokter belum juga datang. Para bidan sibuk mempersiapkan kelahiran. Sesekali mereka memeriksa kondisi istri. Kutelepon dokter dan jawabannya dia sedang sibuk.

“Saya sedang sibuk Pak. Nanti saya ke rumah sakit,” dia pun menutup telepon. Aku tertegun. Daerah ini kekurangan dokter kandungan. Dokter yang ada bisa seenaknya mengatakan dirinya sibuk. Dia tidak tahu, nyawa istriku sudah diujung rambut. Dia meringis kesakitan. Sumpah kedokteran hilang. Nyawa manusia tak ada arti apa pun. Butuh dokter lebih banyak di daerah ini.
Menjelang siang, dokter baru datang. Tiga menit dia di dalam ruangan bersalin, anakku berhasil dikeluarkan. Dia perempuan. Cantik. Putih, ikut ibunya. Namun sayang, dia sudah meninggal dunia.

Istriku menangis sejadinya. Dia masih belum bisa menerima anak kami telah meninggal dunia. Telah pergi untuk selamanya. Menunggu kami di surga. Kubungkus anakku dengan kain panjang, kubawa pulang untuk dimakamkan. Air mata seakan sudah kering. Tak mampu keluar lagi. Aku kehilangan orang yang paling berharga. Membuatku bangga. Membuatku rajin berkarya. Kuberi dia nama Felomena. Felo, gadis cantikku yang telah pergi untuk selamanya. Bumi pun menangis. Hujan mengantar pemakanan Felo. Anakku, tunggu Abi di surga.

***

04.38 | Posted in , | Read More »

Rumah Korban Tanah Amblas belum Dibangun


LHOKSUKON - Rumah untuk 33 Kepala Keluarga (KK) korban tanah amblas di Desa Bidari, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara hingga kini belum dibangun oleh Pemerintah Aceh. Padahal, tahun 2008, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf saat berkunjung ke kawasan tersebut berjanji akan mengalokasikan dana untuk pembangunan rumah korban tanah amblas itu.

Keuchik Bidari, Zainun S kepada Serambi, di Lhoksukon, kemarin, menyebutkan mereka bersama Camat Langkahan, Amir Hamzah, besok (hari ini-red) akan menemui Gubernur ke Banda Aceh. “Karena sesuai surat Gubernur ke Bupati Aceh Utara tanggal 2 Maret 2011, anggaran untuk pembangunan rumah korban tanah amblas di Desa Bidari sudah diplot dalam APBA 2011. Kami akan bertemu Gubernur untuk memastikan hal itu. Kasihan masyarakat sampai saat ini masih tinggal di barak pengungsian,” jelas Zainun.

Dikatakan, tanah tempat barak itu kini telah diminta pemiliknya, H Husen. “Dulu janjinya tanah itu dipinjam enam bulan untuk dibangun barak sementara. Setelah itu, tanah tersebut akan dikembalikan. Namun, sampai sekarang belum dikembalikan, H Husen telah meminta agar tanahnya dikembalikan dan pengungsi segera dipindahkan,” timpal Zainun.

Ia berharap, pihaknya bisa bertemu Gubernur dan Pemerintah Aceh bisa segera membangun rumah untuk korban tanah amblas itu. Seperti diberitakan sebelumnya, tahun 2008 sebanyak rumah milik 33 KK di Desa Bidari, Langkahan, Aceh Utara rusak berat akibat tanahnya amblas sedalam dua meter. Mereka terpaksa mengungsi di barak di desa yang sama.(c46)

01.24 | Posted in | Read More »

16 Tim Ramaikan Wasit Cup


LHOKSUKON - Sebanyak 16 tim di pantai timur Aceh dipastikan akan tampil dalam turnamen sepakbola Wasit PSAU Cup XIV di Lapangan Bumi Gas, Desa Blang Jruen, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara. Turnamen yang berhadiah total Rp 20 Juta akan digelar mulai 12-28 April mendatang.

Ketua Panitia Wasit PSAU Cup XIV, Ilyas MA kepada Serambi kemarin menyebutkan pihaknya secara rutin menggelar turnamen itu setiap tahun. Diharapkan, melalui turnamen tersebut akan muncul pesepakbola tangguh guna bisa direkrut untuk memperkuat skuad PSAU yang kini berlaga di Divisi III PSSI.

“Dalam turnamen ini, manajemen PSAU akan memantau seluruh pemain dari semua klub yang tampil. Nanti, yang terbaik akan diundang untuk mengikuti seleksi pemain PSAU akhir bulan April mendatang. Jadi, pertandingan ini sekaligus melihat pemain bertalenta untuk mengisi skuad PSAU,” sebut Ilyas.

Dia menyebutkan, pihaknya menyediakan hadiah total sebesar Rp 20 Juta plus tropi dalam turnamen tersebut. “Kami harap, semua berjalan lancar. Saat ini sebagian klub yang ikut turnamen ini sudah menyerahkan bendera ke panitia. Sebagiannya lagi dalam Minggu ini,” pungkas Ilyas.(c46)

01.23 | Posted in , | Read More »

Truk Angkot Padi Meujungkat


LHOKSUKON - Truk tronton pengangkut padi yang dikemudikan Zulkarnaini Maiyusri (27), meujungkat (terjungkal-red) di Desa Nga, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Peristiwa tersebut terjadi sekira pukul 05.00 WIB, kemarin.

Ketika musibah itu terjadi, mobil tersebut tengah mengangkut 30 ton padi yang diambil dari Kecamatan Peudada, Bireuen. Rencananya, padi dimaksud dibawa ke Medan, Sumatera Utara.

Zulkarnaini menyebutkan, saat kejadian dia dalam kondisi prima. “Namun di depan saya ada tiga bus Pelangi yang kebut-kebutan. Jadi, saya mengelak agar tidak tertabrak. Sehingga, ban depan saya terperosok ke biram jalan,” ujar pria asal Geudong Alue, Kecamatan Kota Juang, Bireuen itu.

Saat terperosok, Zulkarnaini tidak mampu mengendalikan truk dimaksud. Akibatnya, mobil itu terjungkal. Beruntung, dia dan dua temannya selamat. Tidak ada yang mengalami luka serius akibat kejadian itu.

Kemarin sore, padi di dalam truk tersebut diangkut dengan mobil lainnya. Sedangkan truk tersebut dibawa ke Pos Lalu Lintas Terminal Lhoksukon. Kasus itu telah ditangani Sat Lantas Polres Aceh Utara.(c46)

01.09 | Posted in | Read More »

Dewan Minta Blokir Jalan Paya Bakong Dibuka


LHOKSUKON - Kalangan anggota DPRK Aceh Utara meminta masyarakat membuka blokir jalan di Desa Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Pasalnya, dana untuk pembangunan jalan itu Rp 4 miliar telah dianggarkan dalam APBA.

“Kita harap masyarakat bisa membuka blokir jalan itu. Karena, itu untuk kepentingan masyarakat juga. Pengumuman tender pembangunan jalan itu juga telah diumumkan di Harian Serambi Indonesia beberapa waktu lalu,” pinta Ketua Komisi C DPRK Aceh Utara Khaidir Abdurahman, kepada Serambi, kemarin.

Dikatakan, pihaknya dalam waktu dekat juga akan turun ke lokasi pemblokiran jalan itu untuk menampung aspirasi masyarakat. “Sekali lagi kita berharap jalan itu segera dibuka,” ujarnya.

Dibuka OTK
Sementara itu, sekitar sekitar pukul 03.00 WIB Selasa (29/3) blokir jalan tersebut dibuka orang tak dikenal (OTK). Blokir yang terdiri dari pohon kelapa, dan drum dilempar OTK ke pinggiran sungai desa tersebut. “Kesepakatan warga di 12 desa di Kecamatan Paya Bakong jalan itu takkan kita buka, kalau jalan belum mulai dibangun,” ujar Khairul (27) warga Matang Payang, Paya Bakong.

Ia meminta pihak Pemkab dan DPRK Aceh Utara turun ke lokasi untuk menjelaskan apakah anggaran dari APBA untuk pembangunan jalan itu benar-benar ada atau tidak.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE melalui Kapolsek Paya Bakong, Idris, menyebutkan pihaknya sudah turun ke lokasi pemblokiran jalan itu. “Kami harap masyarakat jangan anarkis dan masalah ini bisa diselesaikan secara arif. Muspika Paya Bakong dan Muspida Aceh Utara terus mencari solusi agar masalah jalan itu segera selesai,” jelas Kapolsek.

Seperti diberitakan sebelumnya, masyarakat memblokir jalan dari Desa Keude Paya Bakong sampai ke Desa Pante Bahagia, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara sejak Februari 2011. Mereka baru membuka jalan itu, bila sudah jelas kapan jalan itu dibangun.(c46)

01.07 | Posted in | Read More »

Atap Kantor PNPM Diterbangkan Angin


LHOKSUKON - Hujan dan angin kencang melanda Kabupaten Aceh Utara sejak pukul 16.20 WIB, Senin (28/3/2011). Cuaca buruk itu terjadi sejak dua hari terakhir. Hujan deras dan angin kencang kerap terjadi.

Informasi yang dihimpun Serambinews.com menyebutkan, angin kencang yang terjadi di Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, mengakibatkan atap kantor Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Kecamatan Geureudong Pase, di Desa Dayah Seupeng, diterbangkan oleh angin. Selain itu, pohon beringin tumbang dan menghancurkan teras serta garasi rumah dinas Kepala SMPN 1 Geureudong Pase, M Ali.

”Angin kencang dan hujan deras di daerah kami dimulai sejak pukul 16.00 – 16.20 WIB. Angin kencang sekali. Makanya, pohon tumbang dan atap kantor PNPM diterbangkan angin,” sebut masyarakat Desa Dayah Supeng, Kecamatan Geureudong Pase, M Nasir (45).(masriadi sambo)
--
Editor: ibrahim ajie

21.22 | Posted in | Read More »

Asrama SMA Unggul belum difungsikan


LHOKSUKON - Asmara SMAN Unggul Lhoksukon, Aceh Utara hingga kini belum difungsikan. Pasalnya, anggaran untuk mengaktifkan asrama itu sampai saat sekarang belum ada. Hal itu terungkap saat Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid mengunjungi sekolah itu, kemarin.

“Tahun ini, asrama itu harus diaktifkan. Sayang sekali gedung yang bisa menampung 300 siswa, belum diaktifkan juga. Kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan harus mengusulkan anggaran untuk hal ini dalam APBK-P Aceh Utara 2011,” ujar Bupati.

Ilyas juga meminta DPRK Aceh Utara agar nanti menyetujui anggaran untuk biaya asrama sekolah tersebut. “Pokoknya, saya akan upayakan agar ada anggaran untuk mengelola asrama itu. Sayang, sudah tiga tahun tidak difungsikan,” timpal.

Sementara Kadis Pendidikan Aceh Utara, M Jamil dan Kepala SMAN Unggul Lhoksukon, Zulkifli menyatakan pihaknya akan mengusulkan anggaran untuk asrama itu agar dimasukkan dalam APBK-P Aceh Utara 2011.

Tanpa mobiler
Sementara itu, kantor Imum Mukim Jambo Aye Tengah, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara sejak dibangun sampai kini belum difungsikan karena tak ada mobiler. “Kantor imum mukim itu dibangun sekitar delapan tahun lalu dengan dana Rp 100 juta seharusnya lengkap dengan mobiler. Namun, kontraktornya tak ditegur oleh mukim lama, sehingga setelah dibangun sampai kini belum disediakan mobilernya,” kata Muhammad Amin, Keuchik Bukit Jrat Manyang.

Karena itu, ia dan sejumlah keuchik lainnya mengharapkan kantor imum mukim itu segera difungsikan, apalagi dalam sepekan belakangan telah ada penjabat mukim yang baru. “Pemkab hendaknya dapat menyisihkan dana APBK untuk penyediaan mobiler di kantor mukim kami,” harapnya.(c46/ib)

21.20 | Posted in , | Read More »

Pemilih Pemula Ikut Sosialisasi Pilkada


LHOKSUKON - Puluhan siswa SMA Negeri Unggul Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, mengikuti sosialisasi tentang pemilihan kepada daerah (pilkada) yang dilaksanakan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara, di komplek sekolah dimaksud, Senin (28/3). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid.

Ketua KIP Aceh Utara, Muhammad A Manan, didampingi anggota KIP, Ayi Jufridar, Lailan F Saidina, Hidayatuddin, dan Jufri menyebutkan kegiatan itu dilakukan agar pemilih pemula mengerti tentang tahapan pilkada di Aceh. “Sosialisasi untuk pemilih pemula kita lakukan secara menyeluruh di kalangan siswa dan santri di Aceh Utara. Hari ini di SMA Unggul Lhoksukon, beberapa hari kemudian akan kita adakan di kalangan dayah,” sebut Muhammad.

Sementara itu, Sekretaris KIP Aceh Utara, Abdullah Hasbullah menyebutkan untuk Pilkada 2011, jumlah pemilih di Aceh Utara mencapai 400.000 pemilih dari 537.000 penduduk di Aceh Utara. “Meski belum qanun pilkada belum disahkan, sosialisasi terus kita lakukan. Jadi, begitu sudah ada qanun dan tahapan sudah bisa dimulai, maka sosialisasi sudah selesai, dan masyarakat sudah mengerti soal Pilkada Aceh Utara 2011,” pungkas Abdullah.(c46)

21.18 | Posted in | Read More »

KUBUTUH PENGERTIAN




Kubutuh sebuah kata pengertian
Ditengah kegiatan yang membuncah
Ditengah masalah yang menumpuk
Ditengah rasa galau dan hampa

Kubutuh sebuah kata pengertian
Untuk membuang penat
Untuk menghilangkan stres
Untuk sebuah perjalanan panjang

Kubutuh sebuah pengertian
Untuk masa panjang

Rumah Biru, 27032011

09.53 | Posted in , | Read More »

Putro Neng dalam Novel Ayi Jufridar



PUTROE Neng berkisah tentang putri cantik dari China yang memiliki 100 suami. Bagi sebagian bangsawan Aceh, menikahi Putroe Neng merupakan suatu kebanggaan yang sering mereka lampiaskan dalam kalimat, “Nanti malam aku akan tidur dengan Putroe Neng.” Namun, hampir tidak ada lelaki yang berhasil mengatakan, “Tadi malam aku tidur dengan Putroe Neng.” Malam pertama selalu menjadi malam terakhir bagi 99 lelaki yang menjadi suami Putroe Neng. Bagaimana Putroe Neng bisa memberikan kematian dalam setiap kenikmatan yang direguk lelaki? Jawabannya ada dalam novel yang berlatar sejarah pendirian Kerajaan Aceh Darussalam ini.

DETAIL
Judul Putroe Neng
ISBN / EAN 9789790814066 / 9789790814066
Author Ayi Jufridar

Publisher Grasindo

Publish 29 Maret 2011
Pages 400
Weight 300 gram
Dimension (mm) 140 x 200
Tag Fiksi,

http://www.gramediashop.com/book/detail/9789790814066/Putroe-Neng

23.54 | Posted in , | Read More »

Keuchik Ditahan, Administrasi Desa Terganggu


LHOKSUKON - Pascapenahanan Keuchik Desa Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, Ismail A Gani oleh Polres Aceh Utara, aktivitas administrasi di desa tersebut sejak tiga hari terakhir terganggu. Pasalnya, masyarakat kesulitan untuk mengurus surat-surat keterangan yang perlu diteken keuchik tersebut.

Seperti diberitakan kemarin, Keuchik Blang Gunci Ismail A Gani dan Mukim Paya Bakong Zakaria Is, Rabu (23/3) resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan dan penganiayaan terhadap M Nur Abdullah (27) warga Desa Matang Baroeh, Polisi memproses kasus itu setelah menerima laporan dari M Nur tentang dugaan penganiayaan dan pemerasan tersebut. Sementara menurut versi warga Blang Gunci, mereka mereka tidak memeras, namun membuat perjanjian dengan M Nur terkait sanksi adat dimana M Nur harus membayar uang sebesar Rp 1,5 juta untuk desa itu sebagai penebus kesalahan yang telah melakukan khalwat di desa tersebut.

“Untuk urus surat keterangan kehilangan, surat tanah, surat keterangan miskin dan lain-lain sekarang tak bisa kami lakukan, karena tidak ada keuchik. Karena itu, kami berharap kasus itu segera berakhir dan keuchik bisa kembali bertugas seperti biasa,” ujar seorang warga Paya Bakong yang minta namanya tak ditulis kepada Serambi, kemarin.

Camat Paya Bakong, Nurdin, yang dihubungi terpisah mengaku ia bersama jajaran muspika setempat telah mengunjungi Keuchik Desa Blang Gunci, Ismail A Gani, kemarin. “Untuk sementara waktu, administrasi desa itu ditangani sekretaris desa setempat. Jadi, saya imbau masyarakat yang butuh berbagai surat bias diurus melalui sekdes,” ujar Nurdin.

Sementara Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE melalui Kasubbag Humasnya, Ipda Zam Zami A, menyebutkan kasus itu terus diselidiki Sat Reskrim Polres Aceh Utara. Terkait adanya kabar bahwa kasus itu sudah didamaikan, Zam Zami mengaku sampai saat ini pihaknya belum mengetahui hal tersebut. “Kabar yang saya terima, pihak Ismail A Gani dan Zakarian Is meminta damai dengan M Nur, namun M Nur belum memberikan jawaban sampai saat ini,” pungkasnya.(c46)

20.47 | Posted in | Read More »

Tunggakan Listrik di Delapan Kecamatan Rp 1,6 M


LHOKSUKON - Masyarakat di delapan kecamatan di Kabupaten Aceh Utara menunggak iuran listrik sebesar Rp 1,6 miliar. Kedelapan kecamaan itu meliputi Kecamatan Lapang, Lhoksukon, Matangkuli, Pirak Timu, Paya Bakong, Syamtalira Aron, Tanah Luas, dan Kecamatan Tanah Pasir.

Kepala PLN Ranting Lhoksukon, Zulfitri, kepada Serambi, kemarin, menyatakan tunggakan itu kini sedang ditagih oleh petugas lapangan PLN Ranting Lhoksukon. “Biasanya, tunggakan listrik terbesar itu milik Pemkab Aceh Utara dan PDAM Tirta Mon Pase. Namun, saat ini mereka membayar tepat waktu. Hanya listrik masyarakat yang banyak menunggak sekarang ini. Tunggakan itu sejak tiga bulan terakhir,” sebut Zulfitri.

Ditambahkan, kesadaran masyarakat membayar listrik tepat waktu hingga kini masih sangat rendah. “Kita terus sosialisasikan agar membayar listrik tepat waktu. Kalau tak tepat waktu, kena denda. Jadi, kita imbau masyarakat membayar rekening listrik tepat waktu,” pungkas Zulfitri.(c46)

20.32 | Posted in , | Read More »

DBD Kembali Makan Korban


JEURAM - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) dilaporkan kembali menjangkiti warga di sejumlah daerah, di Aceh. Di Nagan Raya, dari 10 warga yang terjangkit dan harus dirawat, satu di antaranya dilaporkan meninggal. Sedangkan di Lhoksukon, Aceh Utara, dua pelajar terpaksa harus menjalani perawatan akibat penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegyptie itu.

Seorang wanita berinisial S (50), warga Desa Panton Bayu, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya meninggal, Senin (21/3), saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit umum (RSU) setempat. Pasien ini “berpulang” akibat diserang demam berdarah dengue (DBD) yang kini makin mewabah di wilayah Nagan Raya.

Sebelumnya, sembilan warga Nagan lainnya sempat dirawat intensif di rumah sakit setempat sejak beberapa hari lalu, juga karena terjangkit DBD. Namun, delapan orang dinyatakan sembuh. Hanya tersisa satu orang yang hingga kemarin masih dirawat.

Kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nagan Raya, dr Hasbi Quraisy kepada Serambi, Rabu (23/3) kemarin mengatakan, Nyonya S meninggal setelah kondisinya sangat kritis, karena terlambat mendapatkan perawatan medis. “Ia dirujuk ke rumah sakit, tapi setelah kondisinya sangat gawat,” terang dr Hasbi.

Dalam kondisi seperti itu, kata dr Hasbi, tim medis tidak berhasil menyelamatkan nyawa Nyonya S. “Kami sudah berupaya maksimal menangani pasien ini, namun takdir berkata lain,” ujar dr Hasbi.

Menurutnya, selain menewaskan seorang warga setempat, DBD juga menyerang sejumlah warga lainnya di Nagan. RSUD setempat sempat merawat sepuluh pasien DBD yang berasal dari sejumlah kecamatan di Nagan Raya.

Namun, dr Hasbi tidak berkenan menyebutkan nama kesepuluh pasien yang sempat dirawat itu. “Soalnya, sesuai aturan, pasien yang mengalami penyakit seperti itu memang harus dirahasiakan identitasnya,” kata dr Hasbi tanpa merinci aturan mana yang dia maksudkan.

Dari hasil lacakan Serambi kemarin diperoleh data bahwa para pasien itu masing-masing berasal dari Desa Simpang Peuet (Kecamatan Kuala), Mon Bateung, Cot Kumbang, Blang Ara, dan Suak Peurabong (Kecamatan Seunagan Timur), Tripa, Suak Palembang, Panton Bayu, dan Alue Itam (Kecamatan Darul Makmur), serta Ujong Blang (Kecamatan Beutong).

Dalam penjelasan terbarunya tadi malam, dr Hasbi menjelaskan dari sepuluh pasien DBD itu, yang masih dirawat hingga kemarin di RSUD yang dipimpinnya hanya tinggal satu orang. “Sedangkan yang delapan orang sudah sembuh, tapi satu orang dari Desa Panton Bayu, Kecamatan Darul Makmur meninggal,” jelasnya.

Ia terangkan, seseorang menderita DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegyptie yang hidup dan berkembang biak di dalam genangan air. Menurut dr Hasbi, ia telah menyampaikan laporan tingginya kasus DBD di wilayah itu ke Dinas Kesehatan Nagan Raya. “Kita harapkan ada penanganan lanjutan yang cepat dan tepat, sehingga tidak sampai jatuh korban lagi,” ujarnya.

Harus dirawat
Sementara itu, dua warga Desa Keude Lhoksukon, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Nurul Sulfiati (15) siswa kelas III SMP Negeri 1 Lhoksukon, dan Dinda (6), murid kelas I SD Negeri 2 Lhoksukon, dilaporkan juga terserang DBD dan harus dirawat. Nurul sejak sepekan lalu dirawat di RS TNI-AD di Lhokseumawe dan Dinda dirawat dirumahnya di Desa Keude Lhoksukon.

Ismail Hasan, ayah dari Nurul Sulfiati, menyebutkan anaknya mengalami demam tinggi. “Anak saya demam tinggi, terus saya saya bawa ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan terkena DBD,” sebut Ismail, Rabu (23/3). Hal senada juga disebutkan Daud Mukhlis, ayah kandung Dinda. Dia berharap agar Dinas Kesehatan Aceh Utara segera mem-fogging desa mereka. “Saya harap Dinas Kesehatan Aceh Utara bisa memfogging desa kami,” sebut Daud.

Sementara itu, Kadis Kesehatan, Aceh Utara, Nurdin, pihaknya akan menurunkan tim untuk memeriksa jentik nyamuk di Desa Keude Lhoksukon. “Kita periksa jentik nyamuknya dulu. Kemudian, kalau positif, kita akan lakukan fogging (pengasapan),” katanya.(edi/c46)

05.28 | Posted in , | Read More »

Dua Warga Paya Bakong Jadi Tersangka


LHOKSUKON - Polres Aceh Utara, Rabu (23/3) menetapkan dua warga Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan terhadap M Nur Abdullah (27) warga Desa Matang Baroeh, Kecamatan Lapang, Aceh Utara. Kedua warga itu adalah Ismail A Gani (Keuchik Desa Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong) dan Zakaria Is (Mukim Paya Bakong).

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE melalui Kasubbag Humasnya, Ipda Zam Zami A, kepada Serambi, kemarin, mengatakan kedua tersangka itu saat ini telah dijebloskan ke sel Mapolres Aceh Utara. “Keduanya memaksa M Nur membuat surat perjanjian dan menahan sepeda motor milik M Nur. Jika M Nur tak membayar uang Rp 1,5 juta, sepmor itu tetap ditahan. Itu namanya pemerasan, karena itu mereka dijadikan tersangka,” jelas Ipda Zam Zami A.

Sedangkan untuk kasus penganiayaan terhadap M Nur, menurutnya, sampai saat ini polisi belum menemukan pelakunya. “Tapi, kita akan terus buru mereka,” timpal Ipda Zam Zami.

Disinggung tentang adanya perjanjian antara aparat Desa Blang Gunci dengan M Nur Abdullah, Ipda Zam Zami menyebutkan, menurut pengakuan M Nur Abdullah dirinya merasa dipaksa ketika meneken perjanjian itu. “Makanya, dia (M Nur-red) melaporkan kasus itu ke polisi,” pungkas Ipda Zam Zami.

Seperti diberitakan sebelumnya, M Nur Abdullah melaporkan warga Desa Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara dengan tuduhan pemerasan dan penganiayaan terhadap dirinya. Menurut versi warga Blang Gunci, mereka tidak memeras, namun membuat perjanjian dengan M Nur terkait sanksi adat yaitu M Nur harus membayar uang Rp 1,5 juta untuk desa itu sebagai penebus kesalahan yang telah melakukan khalwat di desa tersebut.(c46)

05.24 | Posted in | Read More »

Murid SD Langkahan Belajar di Lantai


LHOKSUKON - Sebanyak 55 murid kelas enam SD Negeri 2 Langkahan di Desa Geudumbang, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, sejak tiga bulan terakhir terpaksa belajar dengan meja berukuran kecil dan duduk di lantai. Pasalnya, ruang kelas enam di sekolah itu tak memiliki meja dan kursi yang layak seperti sekolah lain.

Amatan Serambi, kemarin, mereka hanya menggunakan meja kecil dan duduk di lantai. “Kami sudah melaporkan masalah tersebut ke Dinas Pendidikan Aceh Utara. Bahkan, tim dari dinas juga sudah melihat langsung kondisinya. Mereka berjanji akan mengupayakan bantuan untuk meja dan kursi,” jelas Kepala SD 2 Langkahan, Yusmadi SPd, kepada Serambi, Rabu (23/3).

Dikatakan, ruangan kelas enam itu selesai dibangun akhir tahun 2010. Lalu, sebutnya, guru, wali murid, dan komite sekolah sepakat memindahkan proses belajar-mengajar murid kelas enam ke ruangan tersebut. “Karena ruangan lama sudah tidak layak pakai dan sangat sempit, kita sepakat memindahkan proses belajar ke ruangan baru. Meski tanpa meja dan kursi yang bagus,” timpalnya.

Kepala UPTD Dinas Pendidikan Aceh Utara Jambo Aye yang membawahi sekolah di wilayah Langkahan, Muhammad Isya, menyebutkan dirinya sudah mengetahui persoalan itu. “Kita sudah usulkan anggaran untuk mobiler dalam APBK 2011. Mungkin, April mendatang uangnya sudah cair dan segera dipasok barang ke sekolah itu,” pungkas Muhammad Isya.(c46)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

05.21 | Posted in , | Read More »

Ansari Mukim Jambo Aye Tengah

LHOKSUKON - Ansari, mantan Keuchik Matang Bugak, Kecamatan Tanah Jambo Aye terpilih sebagai Mukim Jambo Aye Tengah, kecamatan setempat. Ia menggantikan pejabat sebelumnya, Murizal. Pergantian mukim itu dilakukan dalam rapat tertutup di Kantor Camat Tanah Jambo Aye, Selasa (22/3).

Camat Tanah Jambo Aye, TM Yacob, kepada Serambi, kemarin menyatakan pergantian mukim itu dilakukan karena masa jabatan Mukim Murizal telah berakhir. Ia menampik kabar yang beredar di masyarakat bahwa mukim itu diganti karena pejabat lama tersangkut dugaan kasus khalwat yang berbarengan dengan kasus Kepsek Cabul di Kecamatan Lhoksukon. “Kita pilih Ansari untuk menjadi penjabat sementara. Tugasnya, menyiapkan pemilihan mukim definitif dalam waktu dekat,” ujar Camat.

Sebelumnya, sejumlah masyarakat di Keude Panton Labu, Aceh Utara menduga pergantian mukim itu dilakukan camat karena beredar kabar bahwa mukim itu ikut dalam aksi kepala sekolah cabul di Kecamatan Lhoksukon, Muk (40). Kasus Kepsek cabul itu sendiri sudah berakhir damai.(c46)

09.47 | Posted in | Read More »

Perburuan Landak Marak di Aceh Utara


LHOKSUKON - Perburuan landak di pedalaman Aceh Utara semakin marak dilakukan masyarakat setempat dengan tujuannya dagingnya dijual ke Medan, Sumatera Utara. Informasi yang dihimpun Serambi, di Keude Paya Bakong, Aceh Utara, Selasa (22/3) pemburu landak itu datang dari berbagai daerah di Aceh Utara. “Tiap hari ada saja masyarakat yang memburu landak. Umumnya, masyarakat yang berburu itu dari luar Kecamatan Paya Bakong,” sebut seorang warga yang tidak mau namanya ditulis.

Dikatakan, daging dan kulit landak itu dijual ke Medan yang akan digunakan sebagai bahan obat-obatan. “Kata orang yang berburu, daging landak sekilo bisa laku Rp 150.000,” katanya.

Sementara Direktur Selamatan Isi Alam, Flaura dan Fauna (Silfa) Irsadi Aristora, menyebutkan landak merupakan satwa yang dilindungi pemerintah. “PP No 7/1999 tentang Perlindungan Satwa Liar jelas menyebutkan landak sebagai hewan yang dilindungi. Jadi, tidak bisa diburu dan dibunuh,” ujarnya.

Dikatakan, perburuan landak juga terjadi di Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Aceh Utara. “Kita sudah berulangkali menyampaikan agar Pemerintah Aceh dan pemerintah di kabupaten/kota melakukan sosialisasi terhadap satwa dilindungi. Orang masih mengira landak bukan satwa dilindungi. Jika hal itu dibiarkan, maka lambat laun landak di Aceh akan habis,” timpal Irsadi.

Ia berharap, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota menghentikan perburuan landak. “Polhut harus aktif mencari pemburu satwa dilindungi itu. Kita harap, pemerintah lebih aktif menangkap pemburu hewan yang dilindungi pemerintah itu,” pungkasnya.(c46)

09.43 | Posted in , | Read More »

Polisi Periksa Enam Warga Paya Bakong


LHOKSUKON - Pihak Polres Aceh Utara, Senin (21/2) sampai Selasa (22/3) memeriksa enam orang aparat Desa Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Mereka adalah Keuchik Blang Gunci Ismail A Gani, Sekdes Tgk Bukhari, Kaur Umum Tgk Muhammad Diah, Kepala Dusun Abdullah Ali, Tuha Peut Tgk Nurdin, dan Imum Mukim Paya Bakong Zakaria Is.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE melalui Kasubbag Humasnya, Ipda Zam Zami A, kepada Serambi, kemarin, mengatakan pemeriksaan itu dilakukan pihaknya merespons laporan M Nur Abdullah (27) warga Matang Baroeh, Kecamatan Lapang, Aceh Utara yang mengaku dirinya dianiaya dan diperas warga Desa Blang Guncim pada 2 Maret 2011. “Laporan itu kita terima dari M Nur tiga hari lalu,” ujar Ipda Zam Zami.

Dikatakan, hingga kini pihaknya masih mendalami kasus itu. “Saat ini proses penyidikan terus berjalan. Belum ada keterangan yang mengarah pada tersangka. Jika tidak terbukti, masyarakat pasti akan dibebaskan. Semuanya masyarakat yang dipanggil itu baru sebatas saksi, bukan tersangka,” jelas Zam Zami.

Sementara itu, Imum Mukim Paya Bakong, Zakaria Is kepada Serambi, kemarin, menyebutkan, pada 2 Maret 2011 M Nur Abdullah mendatangi rumah pacarnya Rina Sari (18), warga Desa Blang Gunci. “Sekitar jam 22.00 WIB, warga menangkap M Nur. Menurut keterangan dari pemuda yang menangkap mereka, saat itu M Nur dan Rina sedang berkhalwat,” jelas Zakaria.

Setelah ditangkap, lanjutnya, M Nur dibawa ke meunasah setempat. Kemudian dipanggil Keuchik Matang Baroh, Lapang, M Isa Aji sebagai saksi. Lalu dibuat kesepakatan sebagai sanksi adat, dimana M Nur harus membayar denda sebesar Rp 1,5 juta untuk Desa Blang Gunci dan bersedia menikahi Rina.

“Karena saat itu sudah tengah malam, perjanjian itu dibuat dengan tulisan tangan yang ditandatangani di atas materai Rp 6.000 dan para keuchik menjadi saksi. Karena tak ada uang, Sepmor Vixion BL 4096 QP milik M Nur jadi jaminan. Pada 9 Maret 2011, baru dia ambil sepmor itu setelah membayar uang denda. Rupanya, setelah itu M Nur melapor ke polisi dan menyatakan warga memeras dan menganiayanya,” timpal Zakaria.

Karena itu, ia berharap polisi menghentikan penyelidikan kasus itu. Pasalnya, proses perdamaian antara M Nur dan warga Desa Blang Gunci telah dilakukan sesuai hukum adat dan banyak saksi yang melihat penandatanganan perjanjian tersebut.(c46)

09.36 | Posted in | Read More »

Mobil Intat Linto Mejungkat Satu Kritis


LHOKSUKON - Mobil penumpang Toyota Rus, BK 1809 KC, membawa rombongan intat linto (pengantar pengantin-red) meujungkat (terjungkal) di Desa Alue Kejruen, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (22/3) sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam insiden itu, satu penumpang kritis, dan enam lainnya luka-lukan.

Korban kritis yaitu Safrina, (44), asal Desa Teupok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Sementara enam lainnya yang mengalami luka-luka yaitu, M Darbir, (50), supir, Anisa, (60), Nazariah, (50 ) Dimas,(9), asal Teupok Teungoh, Kota Lhokseumawe, Nurhayati (22), asal Kuta Blang, Lhokseumawe, serta Yosi, (22), asal Desa Cibrek, Kecamatan Lhoksukon.

Informasi yang dihimpun Prohaba, di Puskesmas Lhoksukon, mobil itu datang dari arah Medan menuju Banda Aceh. Setiba dilokasi tikungan tajam di Desa Alue Kejruen, Kecamatan Tanah Luas, ban depan mobil terperosok ke biram jalan. Akibatnya mobil pun terjungkal. “Sopir terkejut, lalu banting stir. Mungkin, sopirnya kurang konsentrasi. Sehingga, mobil itu terjungkal dan masuk parit,” sebut Abdullah (34) saksi mata kejadian itu.

Salah seorang korban, Nurhayati, menyebutkan mereka hendak pulang ke Desa Tumpok Tengeuh, Kota Lhokseumawe. “Sopir kehilangan kendali, makanya kejadian. Sudah naas, apa boleh buat,” sebut Nurhayati.

Nurhayati dirujuk ke Rumah Sakit TNI AD di Lhokseumawe. Sedangkan korban lainnya, dirawat di Puskesmas Lhoksukon. Kasus tabrakan itu kini ditangani oleh Sat Lantas Polres Aceh Utara. Mobil Toyota Rush telah diamankan di Pos Lantas Terminal Lhoksukon.(c46)

09.31 | Posted in | Read More »

Pelajar Baktiya Gelar Pertunjukan Se


LHOKSUKON - Sebanyak 68 group dari 68 sekolah TK sampai SMA di Kecamatan Baktiya, dan Kecamatan Baktiya Barat menggelar pertunjukan seni di SD Negeri 1 Baktiya. Pagelaran itu dilakukan untuk mempertunjukan kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di masing-masing sekolah selama ini. Berbagai macam pertunjukan seni ditampilkan seperti tarian, zikir, lawak Aceh, serta tarian kontemporer dan tarian tradisional Aceh.

Ketua UPTD Dinas Pendidikan Baktiya, Muhammad SPd, didampingi Ketua Panitia Pelaksana, Baharuddin SPd, kepada Serambi Sabtu (19/3) menyebutkan kegiatan itu dilakukan untuk membudayakan seni tradisional Aceh dan kontemporer. “Seluruh sekolah memiliki kelompok tari. Mereka ada yang menari traidisional dan kontemporer, disini mereka mempertunjukkan kemampauannya. Kami sangat senang, ternyata kemampuan mereka dalam dunia seni luar biasa,” sebut Muhammad.

Lebih jauh dia menyebutkan, sumber dana kegiatan itu merupakan patungan dari para kepala sekolah di Kecamatan Baktiya dan Baktiya Barat. “Kami ingin pesta seni pelajar ini bisa berlanjut. Kepala sekolah dan kami menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk terselenggaranya kegiatan ini. Bahkan, panitia pun dari kami masing-masing, tanpa ada gaji panitia sama sekali,” sebut Muhammad.

Dia berharap, ke depan, kelompok yang bagus pertunjukkannya bisa mewakili Dinas Pendidikan Aceh Utara dalam mengikuti berbagai even di tingkat nasional.

Sementara itu, Kadis Pendidikan Aceh Utara M Jamil berharap kecamatan lain meniru kegiatan seperti ini. “Kegiatan ini positif, guru dan murid begitu kompak. Ini harus diikuti oleh kecamatan lainny

01.50 | Posted in , | Read More »

TT Agro Bangun Pabrik Tepung di Simpang Keuramat


LHOKSUKON - Perusahaan asal Thailand TT Agro Group bekerja sama dengan PT Rush A Asia Company, Banda Aceh, telah menetapkan dua lokasi pembangunan pabrik tapioka (tepung kanji), di Aceh Utara dan Aceh Jaya. Untuk Aceh Utara, pabrik tepung kanji ini akan dibangun di Kecamatan Simpang Keuramat.

Direktur PT Rush A Asia Company, DR Ramli Hasan, kepada Serambi Sabtu (19/3) mengatakan, setelah melakukan survei selama dua pekan di beberapa daerah di Aceh, pihaknya sepakat untuk membangun dua pabrik tapioka dengan kapasitas produksi 300 ton per hari, di Aceh Jaya dan Aceh Utara.

“Kita sudah tandatangani kontrak kerja sama dan kontrak pembangunan pabrik itu dengan Preecha Penpron, Presiden Thai Tapioka Sparkh Asociatoin dua hari lalu. Pembangunan dimulai bulan Juni 2011 dan selesai Desember 2011. Khusus Aceh Utara, lokasi pembangunan di Kecamatan Simpang Keuramat,” sebut Ramli, di Lhokseumawe, kemarin.

Lebih jauh dia menyebutkan, TT Agro bersama asosiasi pabrik tapioka Thailand mengeluarkan investasi sebesar Rp 10 juta USS untuk satu pabrik. “Mereka ingin lihat dulu perkembangan dua pabrik yang dibangun di Aceh Utara dan Aceh Jaya. Kalau dua pabrik ini sudah jalan dan operasionalnya berjalan mulus seperti hasil analisis kita, mereka bersedia membangun empat pabrik lagi. Ini juga sudah diketahui oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf,” sebut Ramli.

Selain itu, tambah Ramli, pihaknya juga sudah menyiapkan lahan untuk penanaman ubi tapioka sebanyak 2.000 hektare di Aceh Utara, 20.000 hektare di Aceh Jaya, 2.000 hektare di Bener Meriah, dan 6.000 hektare di Aceh Tamiang. “Semua lahan itu nantinya kita sewa. Sudah ada komitmen dengan masyarakat dan pemerintah daerah di masing-masing daerah. Kita harap, pembangunan berjalan lancar,” pungkas DR Ramli.(c46)

01.48 | Posted in , | Read More »

Polisi Tangkap Empat Sepmor Curian


LHOKSUKON - Polres Aceh Utara menangkap empat sepeda motor bodong di Kecamatan Cot Girek, dan Kecamatan Tanah Pasir. Empat sepeda motor itu semuanya berjenis Supra 125 R, tanpa nomor polisi.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kasat Reskrim, AKP Erlin Tang Jaya, didampingi Kasubbag Humasnya, Ipda Zam Zami A, kepada Serambi Sabtu (19/3) menyebutkan pihaknya telah mengamankan empat sepeda motor itu di Mapolres Aceh Utara. “Tiga sepeda motor kita tangkap di Kecamatan Cot Girek. Saat penangkapan, si pemilik sepeda motor itu kabur. Kami duga, di Cot Girek itu banyak beredar sepeda motor bodong. Hasil curian dijual ke sana,” sebut Ipda Zam Zami.

Selain itu, dua hari lalu, pihaknya juga menangkap satu sepmor jenis Supra 125 R, di Kecamatan Tanah Pasir. “Saat kita tangkap di Keude Tanah Pasir, kita temukan satu tersangka bernama Jamal alias Bodong (35) warga Keude Tanah Pasir. Dia mengaku, sepeda motor itu dicuri di Keude Sampoiniet, Baktiya,” sebut Ipda Zam Zami.

Lebih jauh dijelaskan, Jamal ini merupakan pencuri spesialis sepeda motor. “Cara dia mencuri itu, sepeda motor yang terparkir di warung-warung, kemudian dibuka kuncinya dengan menggunakan obeng. Dia mengaku, sudah dua yang dia curi. Kita sedang buru satu lagi sepeda motor hasil curiannya si Jamal itu,” sebut Ipda Zam Zami A.

Dia juga menghimbau masyarakat untuk datang ke Mapolres Aceh Utara untuk melihat sepeda motor yang telah ditangkap tersebut. “Silahkan masyarakat datang ke Mapolres untuk melihat skendaraan, dan temui Sat Reskrim untuk mengambil sepmor itu,” pungkas AKP Zam Zami A.(c46)

01.46 | Posted in | Read More »

Pencuri HP Babak Belur Dihajar Warga


LHOKSUKON – Polsek Tanah Jambo Aye, Aceh
Utara menangkap seorang pencuri handphone (HP), Faisal (35) asal Langkat,
Sumatera Utara di Desa Rawang Itek, kecamatan setempat, Kamis (17/3) sekitar
pukul 10.00 WIB tadi pagi.

KapolresAceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye, Iptu Mardan P,
kepada Serambinews.com, tadi pagi,
menyebutkan Faisal mencuri dua unit HP milik M Yusuf, warga Tringgadeng, Pidie
Jaya.

“Faisal
ini mencuri HP Yusuf ketika mereka tidur di Masjid Raya Pase, Panton Labu.
Ketahuan, Faisal dikejar oleh Yusuf dan warga. Sempat dihajar juga. Sekarang, Faisal
kita tahan di Mapolsek Tanah Jambo Aye,” pungkas Iptu Mardan. (masriadi sambo)

Editor: Ampuh Devayan

22.41 | Posted in | Read More »

Diduga Hasil Curian, Polisi Amankan Mobil Colt


LHOKSUKON – Satu unit mobil jenis colt diamankan petugas Polsek Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (17/3). Angkutan bernomor polisi BB 8040 YB ditinggalkan pemiliknya dan terparkir di sebuah rumah warga Desa Buket Jrat Mayang, Kecamatan Tanah Jambo Aye.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye, Iptu Mardan P, kepada Serambinews.com, menduga angkutan tersebut sebagai hasil curian. Sebab ketika, petugas akan memeriksa, warga yang berada di lokasi langsung kabur. "Kita tidak bisa menemukan siapa pemilik," ujar Kapolres.

Sebelumnya, pihak aparat mendapatkan informasi kalau mobil produk tahu 2011 dilansir dari Jakarta, dan akan dijual. Saat diperiksa, pintu mobil dibiarkan terbuka dan kunci kontak ditaruh dekat stir.

"Sekarang kita sedang periksa saksi-saksi,” pungkas Kapolsek Tanah Jabo Aye yang menghimbau supaya pemilik mobil segera menghubungi Polsek Tanah Jambo Aye . (masriadi sambo)

Editor: Ampuh Devayan

22.40 | Posted in | Read More »

TNI Salurkan Bantuan untuk Masyarakat


LHOKSUKON - Dandim 0103 Aceh Utara, Letkol CZI Wakhyono, Kamis (17/3) menyerahkan bibit ikan, bebek dan kayu seangon bantuan untuk tiga kelompok pertanian di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

Bebek bantuan itu sebanyak 300 ekor, bibit ikan lele 4.000 ekor dan pohon seangon 3.000 batang. “Bantuan itu kita serahkan untuk Desa Alue Itam Reudeup, Kampung Baru, dan Desa Nga Matang Ubi, Kecamatan Lhoksukon. Kita harap bantuan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat. Sehingga, ke depan masyarakat lebih sejahtera,” harap Dandim.

Dikatakan, program pemberian bantuan itu untuk mendukung program ketahanan pangan di Aceh Utara. “Saya imbau masyarakat agar dapat menciptakan usaha produktif. Sehingga, tak hanya tergantung pada bantuan pemerintah semata. Misalnya, menanam seangon. Lima tahun ke depan, kayu seangon bisa dipanen dan hasilnya bisa digunakan untuk sekolah anak-anaknya dan kebutuhan keluarga lainnya,” pungkas Dandim.(c46)

22.37 | Posted in , | Read More »

Permohonan Praperadilan Keluarga Alm Komar Ditolak


LHOKSUKON - Pengadilan Negeri Lhokseumawe menolak permohonan praperadilan yang diajukan keluarga Kamaruzzaman alias Komar, tersangka kasus perampokan yang tewas ditembak polisi di Aceh Utara, beberapa waktu lalu. Keputusan itu dibacakan oleh hakim tunggal, Jamaluddin SH dalam sidang yang berlangsung, Senin (14/3).

Sidang yang dimulai pukul 11.00 WIB dan selesai 13.30 WIB itu dihadiri kuasa hukum keluarga Komar, dari LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe, yaitu Rahmat Hidayat SH, Safwani SH, Alhamda SHI, dan Mustiqal Syahputra SH. Hadir pula kuasa hukum Polres Aceh Utara, AKP Agung Samodro SH.

Dalam keputusannya hakim menyebutkan proses penangkapan yang dilakukan oleh personel Polres Aceh Utara terhadap almarhum Komar telah sesuai prosedur. Hakim juga menyebutkan tidak ada satu hal pun yang bisa dijadikan sebagai landasan hukum untuk menerima praperadilan yang diajukan oleh pemohon.

Terkait tidak adanya surat tembusan ke pihak keluarga paskapenangkapan Komar, hakim menyebutkan langkah itu tidak perlu dilakukan, karena tersangka meninggal dunia sesuai dengan Pasal 77 KUHAP. Tindakan memberikan surat tembusan penangkapan kepada keluarga korban baru bisa diberikan jika tersangka masih hidup. Selain itu, istri almarhum Komar, Resiyani, juga mengetahui suaminya dijemput oleh polisi, sehingga tidak diperlukan lagi surat tembuasan ke keluarga almarhum Komar.

Menanggapi putusan hakim tersebut, kuasa hukum pemohon dari LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe, Rahmat Hidayat SH dan Alhamda SHI, menyebutkan pihaknya akan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) dalam waktu dekat ini. “Kami menilai putusan hakim aneh. Dalam proses pemeriksaan saksi dan pembuktian persidangan ini menggunakan kitab undang-undang hukum acara perdata (KUHAPerdata). Namun, saat memutuskan perkara, hakim menggunakan dasar hukum KUHAPidana. Ini yang kami ajukan kasasi ke MA,” sebut Alhamda.

Sidang putusan praperadilan ini dihadiri sejumlah personel polisi dari Polres Aceh Utara, keluarga almarhum Komar dan masyarakat umum. Ruang sidang pun terlihat penuh, tidak seperti sidang pada umumnya di PN tersebut.

Komar merupakan tersangka dalam kasus perampokan dan ditembak mati oleh polisi, 15 Februari lalu. Polisi mengklaim Komar ikut terlibat dalam aksi percobaan perampokan Toko Mas Subur Baru Lhoksukon, 24 Januari silam. Permohonan praperadilan itu sendiri diajukan keluarga almarhum Komar ke PN Lhoksukon pad, Senin (28/2) lalu.(c46)

00.50 | Posted in | Read More »

Penarik Ojek Berbisnis Ganja


LHOKSUKON – Mwd (32) warga Desa Meunasah Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Senin (14/3/2011) pagi, ditangkap personel polisi dari Polsek Tanah Jambo Aye. Mwd yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek ternyata juga berbisnis bakong ijo alias ganja.
Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye, Iptu Mardan P, kepada Serambinews.com, tadi siang, menyebutkan penangkapan itu berawal dari informasi masyarakat yang menyebutkan Mwd berbisnis ganja.
“Tersangka kita tangkap di rumahnya. Di dalam rumah kita temukan ganja seberat dua ons, dan alat isap sabu-sabu (bong),” ujar Iptu Mardan P.(masriadi sambo)
--
Editor: ibrahim ajie

00.49 | Posted in | Read More »

Polisi Panggil Teman Tersangka


LHOKSUKON - Penyidik Polres Aceh Utara hingga kemarin terus mendalami kasus pencabulan dua siswa SMP oleh kepala sekolahnya, Muk (40), di salah satu hotel melati di Medan, Sumatera Utara, 11 Februari 2011 lalu. Bahkan pada, Jumat (11/3), polisi mengirim surat panggilan terhadap teman tersangka, Ay (40), kepala sekolah pada salah satu SD di Kecamatan Langkahan, karena diduga mengetahui kasus tersebut.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kasubbag Humasnya, Ipda Zam Zami A, didampingi Kasat Reskrim AKP Erlin Tang Jaya, kepada Serambi Senin (14/3) menyebutkan, Ay dipanggil dalam status sebagai saksi. “Karena menurut hasil pemeriksaan dari tersangka dan korban, si Ay ini juga turut serta ke Medan, Sumatera Utara. Ay dan Muk ini bersama-sama membawa dua murid SMP itu ke Medan. Ay ini sudah kita panggil, namun belum hadir ke Mapolres Aceh Utara,” sebut Ipda Zam Zami.

Ditambahkan, pihaknya juga akan memeriksa saksi lainnya yaitu pemilik mobil asal Tanah Jambo Aye yang digunakan tersangka membawa dua gadis tersebut ke Medan, Sumatera Utara.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga, Drs M Jamil MKes, membenarkan dua oknum Kepala sekolah di jajarannya terlibat dalam kasus amoral. Keduanya diusul copot dari jabatannya sebagai kepala sekolah dan dipandang tidak layak menjadi guru lagi, karena telah merusak profesi pendidik. Kadispora juga menyatakan, kedua kepsek ini indisipliner karena ke luar daerah tanpa izin dari atasan.

Tuntut balik
Di sisi lain, tersangka Muk yang kini berada dalam tahanan Polres juga telah melayangkan melaporkan keluarga korban NN kepada Sat Reskrim Aceh Utara, Kamis (10/3) lalu. Dalam laporannya, Muk menuding keluarga NN telah menggunakan kasus itu untuk memeras dirinya. Namun polisi tidak menemukan bukti adanya pemerasan dalam kasus tersebut.

“Muk bilang kalau dia diperas oleh keluarga korban, yakni Din (35) warga Kecamatan Cot Girek. Namun, setelah kita periksa, tuduhan itu tak cukup bukti. Karena dinilai alasannya saja, sebab tak ada sepeser pun uang yang dikuras keluarga korban dari tersangka,” sebut Ipda Zam Zami.

Dia menambahkan pihaknya terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi lainnya yang mengetahui kasus tersebut. Saat ditanya tentang kabar damai antara tersangka dan korban, Ipda Zam Zami menyebutkan hingga saat ini belum ada perdamaian apa pun.

“Sampai saat ini, kami belum mendapatkan kabar tentang damai atau tidak. Kasus ini delik aduan, jadi kalau memang tersangka dan korban sepakat berdamai, kasus ini tidak bisa kita proses secara hukum. Sampai saat ini, belum ada perdamaian itu,” pungkas Ipda Zamzami.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepsek salah satu SMP di Lhoksukon, Muk, mencabuli dua muridnya yakni NN (15) dan Fau (15) di salah satu hotel melati di Medan, Sumatera Utara, 11 Februari 2011 lalu. Tidak terima perlakuan Kepsek tersebut, keluarga korban melaporkannya ke Polres Aceh Utara. Sementara Dinas Pendidikan Aceh Utara, telah mencopot Muk dari jabatannya sebagai kepala sekolah.(c46)

00.46 | Posted in | Read More »

Warga Norwegia asal Aceh Tewas Didor


LHOKSUKON - Hanafiah Ahmad (51), warga Norwegia berdarah Aceh, tewas ditembak orang tak dikenal (OTK) dengan senjata api (senpi) jenis AK, Senin (14/3) sekitar pukul 00.30 WIB di desa asalnya, Keude Aron, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, saat menonton tayangan sepakbola melalui televisi di sebuah warung kopi.

Korban ditembak dari jarak sekitar tiga meter pada bagian belakang kepalanya hingga tembus ke mata. Juga didor pada bagian punggung hingga tembus ke dadanya. Korban langsung terjungkal ke tanah bersimbah darah.

Eksekusi pada tengah malam itu menyebabkan warga yang sedang menonton tayangan sepakbola tersentak dan langsung lari kucar-kacir, karena khawatir terkena muntahan peluru berikutnya.

Segera setelah kejadian itu, Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE dan sejumlah personel polisi langsung datang ke lokasi kejadian. Selain itu, pasukan pengamanan ExxonMobil yang dipimpin Kalahar Pengamanan ExxonMobil, AKP Mugiyanto juga tiba di lokasi.

Amatan Serambi, lokasi kejadian hanya berjarak 150 meter dari rumah ibu kandung korban. Kini lokasi tersebut sudah dipagar dengan police line, sedangkan darah yang berceceran di lokasi sudah dibakar warga. Sejak pukul 07.00 WIB kemarin, sejumlah warga mulai berdatangan melayat ke rumah duka.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, pelaku yang diyakini menggunakan mobil jenis Avanza warna hitam itu, sudah berkali-kali melintas di lokasi tempat korban akhirnya didor. Saat itu ada warga yang sempat melihat mobil itu melaju dari arah Nibong dan berhenti tak jauh dari lokasi kejadian, namun warga tak menaruh curiga. Apalagi mereka sedang asyik menonton tayangan bola.

Salah seorang dari kelompok pelaku malah sempat turun dari mobil untuk membeli minuman. Hal itu dia lakukan, diduga untuk memastikan posisi target. Tak lama berselang, ketika pemuda itu pun masuk kembali ke mobil.

Warga tersentak kaget dan langsung tiarap setelah mendengar dua kali suara letusan senpi dari arah mobil tersebut. Lalu pelaku tancap gas ke arah Simpang Cibrek, lintasan jalan nasional.

Pascatembakan yang mematikan itu, warga yang berada di lokasi kejadian langsung lari kucar-kacir, karena khawatir terkena rentetan tembakan. Hanya dalam hitungan menit, korban pun langsung diboyong ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia Lhokseumawe untuk divisum. Kemudian jasad korban baru dijemput pihak keluarga untuk dibawa pulang ke rumah ibu kandungnya.

Informasi lain yang dihimpun Serambi, korban pulang ke Aceh, selain untuk menjenguk orang tuanya yang sudah lama terbaring sakit, juga untuk mengurus pekerjaan di bagian konstruksi. Apalagi selama ini korban juga bekerja sebagai konsultan pada sebuah perusahaan di Jakarta.

“Abang saya sudah sepuluh tahun tinggal di Norwegia dan kini menjadi warga Norwegia. Sejak pulang ke Indonesia tahun 2010, ia tinggal di Medan. Karena ibu sakit, tiga hari lalu ia pulang sendiri ke Aceh untuk menjenguk ibu,” ungkap Syarifuddin, adik kandung korban.

Menurutnya, selama ini abang kandungnya itu bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta sebagai konsultan. “Saya mengetahui kejadian itu setelah ditelepon kakak saya. Kemudian saya langsung ke rumah sakit untuk melihat jenazahnya. Saya kaget melihat bekas peluru di kepala dan dadanya,” ungkap Syarifuddin.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, didampingi Kasubbag Humas, Ipda Zam Zami A, dalam konferensi pers di Mapolres Aceh Utara kemarin, menyebutkan penembakan itu dilakukan dengan menggunakan senpi jenis AK.

Pelaku naik Avanza
Kapolres menjelaskan, kejadian itu berawal ketika Hanafiah menonton tayangan sepakbola di sebuah warung kopi di desa tersebut. “Pelaku yang naik Avanza warna hitam turun dan mampir ke warung kopi itu. Pelaku sempat membeli air mineral, kemudian dari jarak dekat pelaku menembak korban dua kali,” sebut Kapolres.

Akibat tembakan itu, korban tewas di lokasi kejadian. Dari hasil visum et repertum, peluru ternyata menembus mata kanan dan perut korban. “Pelaku ditembak dari belakang. Dia datang ke desa itu, karena rumah orang tuanya memang di situ,” ungkap Kapolres.

Dia tambahkan, polisi meyakini pelaku lebih dari satu orang. Dari tempat kejadian ditemukan proyektil peluru jenis AK. “Namun, belum bisa dipastikan apakah AK-45 atau AK-56,” sebut Kapolres.

Lebih jauh disebutkan, pihaknya telah memeriksa dua orang saksi dari keluarga korban dan masyarakat yang melihat kejadian itu. “Korban masih berstatus warga Norwegia. Selama 12 tahun dia menetap di Norwey. Baru enam bulan lalu ia kembali ke Indonesia bersama keluarganya dan menetap di Kompleks Setia Budi, Medan, Sumatera Utara,” ungkap Kapolres.

Kapolres menambahkan, sejumlah saksi mata sempat mengenali ciri-ciri pelaku, yakni pria dengan tinggi sekitar 165 cm, berkulit putih, dan menggunakan bahasa Aceh ketika berbicara dengan warga yang malam itu menonton televisi di warung kopi.

AKBP Farid menambahkan, kini pihaknya terus memburu pelaku penembakan tersebut. “Saat ini tim intel, reskrim, dibantu Polsek Syamtalira Aron masih berada di lapangan untuk memburu pelaku. Mudah-mudahan cepat tertangkap dan kami mohon kerja sama masyarakat untuk menginformasikan keberadaan pelaku,” harap Kapolres. (c37/c46)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

00.45 | Posted in , | Read More »

Tiga Pelajar Ditangkap Warga


LHOKSUKON – Warga di Desa Paya Tukai, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara membeureukah (menangkap-red) tiga pelajar asal Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (13/3) sekitar pukul 03.00 WIB dinihari. Ketiga pelajar di salah satu SMAN Panton Labu itu, masing-masing Nur (19), Is (15) dan Dan (18).

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Langkahan Ipda M Jafaruddin SE kepada Prohaba, kemarin, menyebutkan, penangkapan itu diawali rasa curiga warga akan gerak-gerik ketiga pelajar itu. Warga menduga, ketiganya akan melakukan pencurian di desa mereka. Karena beberapa hari lalu, di desa tersebut hilang sepeda motor milik warga. “Ketika melakukan pengintaian, warga sudah mengabari kami di Polsek Langkahan. Lalu, saya perintahkan anggota ke lokasi, untuk memantau perkembangan. Sesampainya di Desa Paya Tukai, warga telah mengamankan tiga pelajar itu,” sebut Kapolsek.

Ketiga remaja itu diamankan di meunasah desa setempat. Warga pun mulai berdatangan ke meunasah. Khawatir akan terjadi pengeroyokan dan aksi main hakim sendiri, personel polisi pun membawa tiga remaja itu ke Mapolsek Langkahan. “Warga sekampung sudah bagun dari tidurnya. Kita khawatir akan terjadinya penggeroyokan terhadap tiga remaja itu. Makanya, kita bawa dia ke Mapolsek untuk pemeriksaan lebih lanjut,” sebut Ipda M Jafaruddin.

Dia menambahkan, wajar saja masyarakat curiga akan hadirnya tiga remaja tersebut, apalagi waktunya sudah dinihari. “Wajar saja warga curiga. Ketiga remaja itu tidak pernah kelihatan di desa tersebut. Beruntung tidak dihakimi oleh massa, itu karena kita sudah ingatkan agar jangan main hakim sendiri. Makanya, warga hanya menangkap dan mengabari kita,” sebut Ipda M Jaruddin.

Dia menambahkan, tidak ada barang bukti apa pun yang ditemukan pada ketiga pelajar tersebut. “Hari ini, rencana kita periksa ketiga pelajar itu. Apa tujuan mereka pagi-pagi buta di desa orang dan lain sebagainya. Jika tidak terbukti bersalah, ya kita akan lepaskan,” pungkas Ipda M Jafaruddin.(c46)

02.36 | Posted in | Read More »

Alumni Oisca Aceh Siapkan Relawan ke Jepang


LHOKSUKON - Pengurus Oisca Aceh menyiapkan lima relawan untuk diberangkatkan ke Jepang, guna membantu masyarakat Jepang yang terkena musibah gempa dan tsunami, 11 Maret 2011 lalu. Kelima relawan itu memiliki keahlian di bidang rekontruksi, sanitasi, dan air bersih.

Oisca Aceh didirikan oleh sejumlah warga Aceh yang pernah bergabung dengan lembaga kemanusiaan yang berpusat di Jepang yakni, Organization for Industrial and Cultural Advancement (Oisca). Lembaga yang didirikan dengan tujuan meningkatkan semangat dan budaya berkarya, khususnya pada masyarakat negara-negara berkembang ini, telah banyak membantu masyarakat Aceh pascagempa dan tsunami, 26 Desember 2004 lalu.

“Sebagian besar pengurus Oisca Aceh pernah belajar, dan menimba ilmu di Jepang. Ketika tsunami terjadi di Aceh, Oisca Internasional Jepang juga sangat banyak membantu masyarakat Aceh. Jadi, kita sudah siap diberangkatkan ke Jepang,” sebut Khaidir Abdurrahman, Ketua Umum Oisca Aceh, kepada Serambi, Minggu (13/3).

Hanya saja, kata Khaidir, pihaknya terkendala untuk jalur keberangkatan ke Jepang. “Jika Pemerintah Aceh, Pemerintah Indonesia, atau PMI dan lembaga lainnya mengirimkan relawan ke Jepang, kami harap kami diikutsertakan. Karena, lima relawan kami sudah siap untuk diberangkatkan,” sebut Khaidir yang juga Ketua Komisi C DPRK Aceh Utara.

Dia menambahkan, informasi yang diterima dari Jepang, tiga provinsi paling parah yang membutuhkan pertolongan segera yaitu Provinsi Miyagi, Iwata, dan Provinsi Fukushima di Jepang. “Di tiga provinsi itu semua lumpuh total. Itu data yang kami peroleh dari teman-teman Oisca di Jepang. Kami harap, jika pemerintah berangkat, relawan kami diikutsertakan,” pungkas Khaidir.(c46)

02.33 | Posted in | Read More »

Pirak Timu Dilanda Kemara


LHOKSUKON - Di saat beberapa daerah lain di Aceh mengalami banjir, masyarakat Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, malah sedang berjuang menghadapi kemarau yang sudah berlangsung sejak sebulan terakhir. Bahkan pada, Minggu (13/3), warga yang berdiam di 23 desa dalam kecamatan itu datang berbondong-bondong ke sungai untuk mengambil air.

“Air sumur sudah kering. Sedangkan sumur bor hanya ada satu di Desa Alue Drien, airnya tidak cukup untuk warga, sehingga kami terpaksa mengambil air sungai untuk dikonsumsi,” ungkap Kepala Mukim Matangkuli Timu, Muhammad Yusuf.

Sebenarnya, kata dia, warga khawatir untuk mengonsumsi air sungai karena bisa menyebabkan penyakit. Apalagi, air sungai di kawasan itu tidak jernih seperti di tempat lain. Karenanya, warga sangat berharap pihak PDAM Tirta Mon Pase menyuplai air minum selama kemarau melanda daerah tersebut.

Kabag Humas PDAM Tirta Mon Pase, Tarmizi AR yang dimintai tanggapannya menyatakan pihaknya siap memberikan air minum pada masyarakat di kawasan tersebut. “Besok (hari ini-red) akan disalurkan 10.000 ribu liter air (dua mobil tanki) untuk tahap pertama. Nanti, kita harap desa menyiapkan tempat penampungan air. Sehingga, bisa dikonsumsi untuk air minum,” sebut Tarmizi.

Dia menyebutkan, bantuan air bersih itu gratis dan tidak dipungut biaya apa pun dari masyarakat. “Ini bagian tanggung jawab sosial kita pada masyarakat. Jadi semuanya gratis,” pungkas Tarmizi.(c46)

02.30 | Posted in , | Read More »

Ditembak OTK, Kontraktor Aron Tewas


LHOKSUKON - Hanafiah Ahmad (45), warga Desa Dayah Keude Aron, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, bersimbah darah Senin (14/3) sekitar pukul 00.10 wib dinihari. Korban tewas setelah peluru menerjang kepala dan bagian dananya ketika sedang menonton bola di salah satu warung kopi.

Para pelaku yang mengendarai mobil jenis Avanza menembak korban dengan senjata api (senpi) jenis laras panjang.
Menurut saksi mata, malam itu ia bersama warga sedang menonton bola di sebuah warung kopi pinggir jalan ExxonMobil, Cluster I. Sebelum kejadian warga melihat sebuah mobil Avanza melintas, dan seseorang turun dari mobil untuk membeli minuman."Diduga untuk memastikan target, karena tak lama kemudian setelah mobil
melaju ke arah Simpang Cubrek, dan balik lagi ke lokasi itu," ungkap saksi

Warga kaget mendengar suara letusan senjata sebanyak dua kali, dan telihat korban roboh bersimbah darah. Warga pun lari kocar kacir. Malam itu korban dibawa ke rumah sakit RSUD Cut Mutia untuk divisum.

Amatan Serambinews.com. lokasi kejadian kini sudah dipolice line , dan darah yang bersimbah di lokasi itu sudah dibakar. Ratusan warga sejak pukul 07.00 wib, berdatangan ke rumah duka. .(Jafaruddin/masriadi).

Editor: Ampuh Devayan

02.27 | Posted in , | Read More »

Kelapa Banyak Diekspor ke Thailand


LHOKSUKON - Buah kelapa asal Aceh ternyata sudah mulai diekspor. Negara tujuan utama adalah Thailand. Itu pulah sebabnya mengapa stok di pasar lokal menipis dan mengakibatkan harga jualnya menjadi naik.

Ketua Tim Percepatan Ekspor Melalui Pelabuhan Krueng Geukuh Aceh Utara (TP3KG), Asril Ibrahim, mengatakan, aktivitas ekspor kelapa itu sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu. Ekspor dilakukan oleh sejumlah pengusaha asal Kabupaten Pidie, Bireuen, dan Aceh Timur. “Ini langkah awal untuk menjual komuditas pertanian Aceh ke luar negeri,” kata Asril kepada Serambi, Sabtu (12/3).

Volume ekspor per sekali pengiriman dia sebutkan mencapai 100 ton atau sekitar 100.000 butir kelapa. Thailand dia katakan, memang sedang membuka diri sebesar-besarnya untuk menerima kelapa dari Aceh. “Saat ini baru tiga daerah yang mengirim kelapa ke Thailand, yaitu Aceh Timur, Pidie, dan Bireuen. Kabupaten lainnya belum,” sebut Asril.

Kelapa yang diekspor juga harus memenuhi beberapa ketentuan, salah satunya adalah berat yang harus mencapai 1 kilogram per butir. Harga pembelian berkisar antara Rp 2.500 sampai Rp 2.800 sebutirnya. “Di Thailand, kelapa ini umumnya dibeli oleh perusahaan farmasi,” terangnya.

Asril menambahkan, saat ini ekspor masih dilakukan dengan menggunakan kapal kayu melalui Pelabuhan Langsa, Pelabuhan Idi, Aceh Timur, dan Pelabuhan Krueng Geukuh, Aceh Utara. Dia berharap volume ekspor kelapa ke depannya samakin bertambah sehingga dengan sendirinya meningkatkan harga jual kelapa dari petani.

Harga naik
Sementara itu di pasar lokal, baik Aceh Utara, Lhokseumawe serta di kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh, harga kelapa dilaporkan mengalami kenaikan. Di Aceh Utara harganya mencapai Rp 4.000 dari sebelumnya Rp 2.000 per butir.

“Sudah seminggu ini harga kelapa sangat mahal,” ucap pedagang kelapa di Keude Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Abdullah.

Demikian juga di Banda Aceh dan Aceh Besar. Harga jualnya naik dari Rp 3.000 menjadi Rp 4.000 per butir. “Kelapa Aceh banyak yang dijual ke Medan, juga diekspor ke Thailand, sehingga jumlahnya menjadi berkurang dan menyebabkan harganya menjadi naik,” kata pedagang kelapa di Pasar Peunayong, Banda Aceh, Adam.

Kelapa-kelapa tersebut sebagian besar di pasok dari Bireuen. Menurut pedagang lainnya, Man, harga kelapa naik karena pedagang pengumpul atau pemilik kebun kelapa di Bireuen lebih banyak menjual kelapa ke Medan atau untuk diekspor.

“Saya sendiri membeli kelapa yang didatangkan dari Bireuen dengan harga beli Rp 2.400 per butir. Meski harga kelapa naik, tapi permintaan konsumen stabil, tidak terjadi penurunan,” ujar Man.(c46/ami)

Akses m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

20.57 | Posted in , | Read More »

Tiga Pelajar Nyaris Dihajar Massa


LHOKSUKON – Tiga siswa sebuah SMA di Panton Labu, ditangkap warga Desa Paya Tukai, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Minggu (13/3) sekitar pukul 03.00 wib dinihari. Ketiga siswa masing-masing berinisial Din (19), Is (15) dan membeureukah (menangkap-red) tiga pelajar asal Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (13/3) sekitar pukul 03.00 WIB dinihari. Ketiganya nyaris dihajar oleh massa. Ketiga pelajar di salah satu SMAN Panton Labu itu, masing-masing berinisial Dan (18), Din (19), dan Is (15) nyaris dihajar massa.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Langkahan Ipda M Jafaruddin SE kepada Serambinews.com, pagi tadi, menjelaskan, warga curiga akan gerak-gerik ketiga pelajar itu. Warga menduga, ketiganya akan melakukan pencurian di desa mereka. Pasalnya, beberapa hari lalu, di desa tersebut hilang sepeda motor milik warga.

“Ketika melakukan pengintaian, warga sudah mengabari kami di Polsek Langkahan. Lalu, saya perintahkan anggota ke lokasi, untuk memantau perkembangan. Sampai di Desa Paya Tukai, warga telah mengamankan tiga pelajar itu. Agar tidak dihakimi massa, kini pelajar itu kita amankan di Mapolsek Langkahan,” ujar Kapolsek. (masriadi sambo)

Editor: Ampuh Devayan

20.52 | Posted in | Read More »

Polisi Minta Hewan tak Dilepas di Musim Tanam


LHOKSUKON-Polisi di Kecamatan Lapang, Aceh Utara, mengeluarkan peringatan keras pada para pemilik ternak di kecamatan tersebut agar tak melepaskan hewan ternaknya di musim tanam. Imbauan itu disampaikan pada seluruh kepala desa, dan mukim di kecamatan tersebut. Hal iini dimaksudkan untuk menghindari terjadi konflik antarwarga di daerah tersebut. “Kami melarang hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, domba berkeliaran di musim tanam dan panen. Karena, selama ini, hewan ternak kerap memakan tanaman warga, sehingga menimbulkan konflik,” sebut Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapospol Lapang, Bripka Junaidi, kepada Serambi,Jumat (11/3).

Dia menyebutkan, hewan ternak wajib dikurung selama musim tanam sampai musim panen di daerah itu. “Kita sudah keluarkan larangan. Jadi, kita harap, seluruh masyarakat mengerti. Ini, untuk kebaikan sesama warga juga,” terang Junaidi. Dia menambahkan, jika ada warga yang membandel, maka akan diberikan sanksi sesuai dengan kesepakatan antar warga. “Baru-baru ini ada kasus begitu, kemudian sanksinya kita sepakati, pemilik hewan ternak harus memberikan ganti rugi pada warga yang tanamannya dirusak. Nanti, besaran ganti rugi itu diperkirakan oleh tokoh adat, keuchik, dan alim ulama,” pungkas Junaidi.(c46)

20.50 | Posted in , | Read More »

Industri Warga Terganggu


LHOKSUKON - Aktivitas industri kecil milik warga di 13 kecamatan dalam wilayah Aceh Utara terganggu menyusul padamnya arus listrik dari PLN pada, Sabtu (12/3), mulai pukul 09.00 Wib. Suplai arus listrik baru normal kembali pada pukul 17.30 Wib.

Informasi dihimpun Serambi kemarin, ke-13 kecamatan yang mengalami pemadaman total adalah, Samudera, Syamtalira Aron, Nibong, Matang Kuli, Paya Bakong, Pirak Timu, Lhoksukon, Baktiya, Baktiya Barat, Tanah Jambo Aye, Tanah Pasir, Tanah Luas, Seunuddon, dan Langkahan.

“Kami terpaksa menghentikan produksi sejak listrik padam pukul 09.00 WIB. Belum tahu kapan akan nyala kembali, karena kami tidak pernah dengar ada pengumuman dari PLN tentang pemadaman listrik ini,” sebut M Hasan, pengrajin pande besi yang memproduksi parang, pisau, dan alat pertanian lainnya, di Desa Keude Tanoh Pasir, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara.

Kondisi serupa juga dialami puluhan warga yang usahanya sangat bergantung pada suplai energi listrik, seperti penjahit, tukang pangkas, rental komputer, warung internet, foto studio, dan lainnya. Beberapa warga yang memiliki generator set (genset) masih bisa menjalankan usahanya, meski keuntungan yang diraihnya berkurang.

“Kalau suplai listrik normal, biasanya saya bisa mendapatkan pendapatan sebesar Rp 1 juta dalam satu hari, mulai pukul 9.00 pagi sampai pukul 5 sore. Tapi kalau menggunakan genset seperti hari ini otomatis pendapatkan kami jadi turun karena harus mengisi bbm. Selain itu juga menimbulkan suara bising,” ungkap Muslim (34), warga Keude Panton Labu, Tanah Jambo Aye.

Beberapa warga mengatakan mereka sempat kelabakan karena listrik padam tiba-tiba, tanpa disertai pemberitahuan lebih dulu. “Saya tidak pernah membaca ada pengumuman tentang pemadaman listrik ini. Tadi pagi, saya telepon salah seorang karyawan PLN, baru saya tau bahwa listrik akan dipadamkan sampai pukul 17.00 WIB,” sebut Dahari (26), pemilik warung nasi di Keude Parang Sikureung, Kecamatan Matang Kuli, Dahari (26).

Warga Keude Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Muhksin Saleh (30) berharap pihak PLN harus lebih menghargai pelanggannya, termasuk dengan membuat pengumuman di surat kabar atau radio sebelum memadamkan aliran listrik ke rumah warga.

Perawatan jaringan
Kepala Ranting PLN Panton Labu, Aceh Utara, Bukhari, dihubungi Serambi kemarin mengatakan, pemadaman listrik di wilayah timur Aceh Utara itu terjadi karena adanya kegiatan perawatan jaringan listrik dari Kecamatan Samudera sampai Kecamatan Langkahan.

“Benar listrik padam. Ada perawatan dan perbaikan jaringan. Sudah kita sampaikan ke sejumlah camat yang terkena pemadaman untuk diteruskan ke warga. Kita juga sudah kabari pengguna listrik terbesar seperti PT Telkom, bank swasta, dan lainnya. Nanti sekitar pukul 17.00 WIB (sore kemarin-red), diperkirakan listrik akan hidup kembali,” sebut Bukhari.

Tak lupa Bukhari berharap pengertian masyarakat terhadap pemadaman listrik akibat adanya perbaikan jaringan. “Kami harap masyarakat mengerti. Perawatan dan perbaikan jaringan listrik juga untuk keperluan kita bersama,” pungkas Bukhari.(c46)

20.46 | Posted in , | Read More »

Jarah Emas Keuchik, Siswa SMA Dibeureukah


LHOKSUKON - Lelaki KM (15) remaja tanggung yang masih berstatus siswa SMA di Pantonlabu Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, dibeureukah (ditangkap-red) polisi pekan lalu, setelah diadukan menjarah emas serta uang milik M Jamil Usman, Keuchik Desa Matang Teungoh, Tanah Jambo Aye. Pencurian itu menurut korban dilakukan 16 Januari 2011 lalu, namun polisi baru menangkap tersangka, 3 Maret 2011 lalu. Sedangkan kabar penangkapan itu sendiri baru heboh di Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, dua hari terakhir.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Tanah Jambo Aye, Iptu Mardan P, kepada Prohaba, Jumat (11/3) menyebutkan untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan, pelaku ditahan. “Ketika kejadian, korban dan seluruh keluarga sedang berada di sawah. Ketika pulang ke rumah, kondisi baju dan barang acak-acakan. Emas dua mayam dan uang Rp 1,5 juta raib,” sebut Iptu Mardan didampingi Kanit Reskrimnya, Briptu Junaidi.

Setelah didatangi ke tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi, polisi menjadikan KM sebagai tersangka pelaku. “Ada saksi yang melihat, KM ini menjual cincin emas ke salah satu toko emas di Panton Labu. Sehingga, langsung ditangkap dan dibawa ke Mapolsek setempat,” ungkap Iptu Mardan.

Kini, tambah Iptu Mardan, penyidik terus melakukan pengembangan kasus itu. Polisi mencurigai bahwa aksi tersebut dilakukan bersama orang lain. “Kita sedang kembangkan, apakah dia beraksi sendiri atau ada temannya. Untuk KM kita jerat dia dengan Pasal 362 KUHPidana tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara,” pungkas Iptu Mardan.(c46)

20.42 | Posted in | Read More »

JAMU TRADISIONAL



JAMU
1. Lampuyang (Mirip Jahe) 1 Kg
2. Jahe Putih 1,5 Kg
3. Kayu Manis 1 Potong
4. Buah Pala 5 Biji
5. Kencur 2 Ons
6. Gula Merah 1,5 Kg
7. Asam Jawa 3 Bungkus
8. Kunyit 1 Kg

PILIS & BEDAK
1. Beras Pulut 1 Muk
2. Gambir 3 Biji
3. Kemiri 2 Ons
4. Ketumbar Rp 1.000
5. Jintan Rp 1.000
6. Beras Makan 3 Muk
7. Merica ½ Ons
8. Anak Halba Rp 1.000

MAJUN
1. Beras Pulut Putih 3 Mok
2. Jahe 2 Ons
3. Kencur 1 Ons
4. Lada ½ Ons
5. Kunyit Biasa 2 ons
6. Kayu Manis 1 Batang
7. Bunga Lawang Rp 1.000
8. Gula Merah 1 Kg
9. Buah Pala 5 Biji

TAPEL PERUT
1. Ragi 3 Biji
2. Buah Pala 10 Biji

20.39 | Posted in , | Read More »

Pingsan Dibegal Komplotan Rampok


LHOKSUKON - Hendra (27) warga Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Senin (7/3) sekitar pukul 20.30 WIB, ditemukan pingsan dalam kondisi berlumuran darah, di Desa Ujong Pacu, Muara Satu. Belakangan Hendra mengaku ia dibegal komplotan rampok dengan mengeroyoknya secara brutal.

Para pengeroyok yang bersenjatakan parang dan kayu itu hanya mengambil HP Nokia N-70 serta uang Rp 200.000 milik korban. Sedangkan sepmor Satria F milik Hendra tak ikut dilarikan komplotan yang belum terdeteksi identitasnya itu.

Infomasi yang dihimpun Prohaba, Selasa (8/3) menyebutkan, saat kejadian Hendra berangkat ke rumah mertuanya di Desa Ujong Pacu, karena hari itu adalah genap tujuh hari (seuneujoh) mertuanya meninggal dunia.

Usai mengikuti acara samadiyah, Hendra lalu beranjak pulang ke rumahnya di Desa Padang Sakti. Namun, sesampainya di pinggiran Desa Ujong Pacu, empat pria yang mengendarai dua unit sepmor bebek menjegat laju sepeda motor Satria F milik korban. “Tiba-tiba mereka mengeroyok saya. Ada yang memegang kayu, parang dan ada seperti pistol,” ujar Hendra ketika ditemui di Rumah Sakit PMI Lhokseumawe.

Dia menyebutkan setelah dikeroyok empat pria itu, dia berteriak minta tolong, dan terakhir ditemukan oleh warga, Hendra tergeletak di aspal dalam keadaan pingsan.

Warga yang menemukan Hendra, Muhammad Saleh (48) menyebutkan dirinya bersama warga lainnya menemukan Hendara dalam kondisi pingsan. Kemudian langsung dilarikan ke Rumah Sakit PMI Lhokseumawe. Akibat pengroyokan itu, Hendra mengalami luka robek pada bagian kepala, dan luka pada bagian leher kanan. Luka bagian leher kanan ini mirip bekas sabetan senjata tajam.

Sekitar pukul 15.00 WIB Prohaba kembali mendatangi ruang VIP X, Rumah Sakit PMI Lhokseumawe untuk menanyakan lebih lanjut kronologis kejadian pembacokan itu, namun tidak berhasil, karena korban dalam kawalan petugas.

Sementara itu, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Kukuh Santoso melalui Kapolsek Muara Satu, Ipda Ikhsan, menyebutkan, pihaknya telah menerima laporan terkait kejadian itu. “Kita sudah terima laporannya. Ini sedang kita selidiki penyebab kejadiannya,” pungkas Kapolsek.

Gadis linglung
Sementara itu, seorang gadis linglung, berusia sekitar 15 tahun ditemukan warga di Desa Beunot, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Selasa (8/3) sekitar pukul 08.00 WIB.

Warga membawa gadis itu ke Rumah Sakit PMI Lhokseumawe dan dirawat di ruang Marhamah II. Namun, anehnya gadis yang mengenakan pakaian seragam sekolah SMP Negeri 2 Lhokseumawe itu tidak mau berbicara. Bahkan, sampai berita ini diturunkan tidak diketahui nama dan alamat gadis tersebut.

Kepala Tata Usaha Rumah Sakit PMI Lhokseumawe, Nasrullah kepada Prohaba, menyebutkan pihaknya telah menghubungi guru SMP Negeri 2 Lhokseumawe. “Namun, ketika dikonfirmasi para guru, kepala sekolah dan para murid SMP 2 Lhokseumawe, tidak satu pun mengenal gadis itu. Sekarang ini, kita sudah serahkan penanganannya pada Polsek Banda Sakti, Lhokseumawe,” sebut Nasrullah.

Sekitar pukul 15.30 WIB, petugas Polsek Banda Sakti, mendatangi gadis linglung itu. Kapolres Lhokseumawe, AKBP Kukuh Santoso melalui Kapolsek Banda Sakti, Iptu Ibrahim Prades, menyebutkan pihaknya akan mencari asal-usul gadis tersebut. “Gadis itu sulit kita ajak bicara. Dia tak mau ngomong. Kita sedang cari darimana asal-usulnya gadis ini,” pungkas Kapolsek. (c46/c37)

08.33 | Posted in | Read More »

Tunjangan Beras Guru Aceh Utara Dibayar


LHOKSUKON - Setelah sempat tertunda, Dinas Pendidikan Aceh Utara mulai akhir Februari 2011 telah membayar tunjangan beras untuk 20.447 guru di kabupaten itu.

“Kami sudah kirim uang tunjangan beras untuk guru ke UPTD. Nanti, UPTD yang akan menyerahkan uang itu pada bendahara sekolah untuk dibagikan ke guru. Laporan yang saya terima semua tunjangan beras itu telah sampai pada guru,” jelas Kadis Pendidikan Aceh Utara melalui Bendaranya, Zainab kepada Serambi, kemarin.

Disebutkan, tunjangan beras itu diberikan Rp 7.000 per bulan per jiwa. “Total anggaran untuk membayar kekurangan tunjangan beras guru tahun 2009 itu Rp 1.968.328.000. Sedangkan untuk tahun 2010 dan 2011 sedang kita tanyakan kembali ke Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Aceh Utara apakah tertampung dalam APBK 2011 atau tidak. Saya belum tahu,” ujar Zainab. Seperti diberitakan sebelumnya, guru di Aceh Utara mengeluh karena belum menerima tunjangan beras untuk jatah tahun 2009.(c46)

08.31 | Posted in , | Read More »

Polisi Tangkap Ratu Ganja dan Pengedar SS



LHOKSUKON - Sepandai-pandai tupai melompat, sesekali jatuh ke tanah. Itulah pribahasa yang cocok ditabalkan buat seorang wanita yang disebut-sebut sebagai ratu pengedar ganja, janda Siti (31) warga Desa Tanah Merah, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Selama beberapa bulan belakangan ini, Siti melakoni bisnis ganja dengan pembelinya para pemuda di kawasan Langkahan. Bahkan, Siti sudah dikenal sebagai pencandu daun kayu terlarang itu.

Petualangan Siti akhirnya dipatahkan oleh hamba hukum ketika dia ditangkap (dibeureukah) Satuan Narkoba Polres Aceh Utara, Selasa (8/3) sekitar pukul 16.00 WIB. Sementara itu, pada lokasi lainnya tiga pengedar dan pemakai sabu masing-masing, R (25), Mis (25) dan, Ap (26) ditangkap polisi di Desa Puuk, Kecamatan Samudera, Aceh Utara di hari sama.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE melalui Kasat Narkoba, AKP Syafran kepada Prohaba, kemarin menyebutkan, penangkapan SK berawal dari penangkapan dua tersangka lainnya yakni AH (28) dan LKM (31) warga Desa Bidari, Kecamatan Langkahan di sebuah warung kopi di Desa Tanah Merah, Langkahan. “Saat kita tangkap, dua orang ini sedang mengisap ganja di warung kopi itu. Kemudian, kita lakukan pengembangan dan mereka menunjukkan lokasi tempat membeli ganja yaitu di rumah SK,” sebut AKP Syafran.

Dia menyebutkan, pihaknya kemudian menggrebek rumah SK. Ketika ditangkap SK yang merupakan janda korban konflik itu mengakui perbutannya. Dia juga mengaku berbisnis ganja. “Di dapur rumah, kita temukan 34 paket kecil ganja siap edar. Per paket dijual bervariasi Rp 5.000 dan Rp 10.000,” sebut AKP Syafran.

Penangkapan sabu
Sementara itu di hari yang sama, polisi menangkap pengedar dan pemakai sabu yaitu R (25) asal Desa Sawang, Kecamatan Samudera, Mis (25) asal Desa Seumirah, Kecamatan Nisam Antara, dan Ap (26) asal Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara di sebuah gubuk yang digunakan menjaga tambak di Desa Puuk, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

R merupakan DPO Polres Aceh Utara dalam kasus kepemilikan sabu dan ganja tahun 2008 lalu. “Ketika kita tangkap, Mis dan Ap itu sedang mengisap sabu. Mereka hanya pembeli. Bandarnya adalah R, yang telah kita tetapkan sebagai DPO satu tahun lebih lalu,” sebut AKP Syafran.

Bukan hanya itu di dompet R ditemukan 29 paket kecil sabu siap edar. “29 paket itu dengan berat 5,65 gram, atau kalau dijual sekitar Rp 5 juta. Kita imbau agar masyarakat membantu polisi untuk menangkap seluruh pengedar sabu dan ganja di wilayah Aceh Utara,” pungkas AKP Syafran. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tiga tersangka sabu, dan tiga tersangka pengedar ganja itu mendekam di tahanan Sat Narkoba Polres Aceh Utara.(c46)

08.26 | Posted in | Read More »

DPRK dan Warga Buka Blokir Jalan


LHOKSUKON - Ketua Komisi C, DPRK Aceh Utara bersama warga, Rabu (9/3) kemarin, membuka blokir jalan di Desa Meunasah Panton, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, yang telah berlangsung sejak 20 Februari lalu. Arus transportasi darat yang menghubungkan 15 desa, mulai dari Meunasah Panton sampai ke Geulumpang Umpung Unoe, kini telah normal kembali.

Amatan Serambi kemarin, hadir juga perwakilan PT Tamitana, selaku rekanan yang mengerjakan proyek pembangunan jalan tersebut. Ketua Komisi C, DPRK Aceh Utara, Khaidir Abdurahman, menyebutkan pembukaan blokir jalan itu dilakukan karena telah dicapai kata sepakat antara warga, DPRK dan rekanan yang mengerjakan pembangunan jalan itu.

“Rapat antara DPRK, Muspika, warga, dan rekanan di gedung DPRK Aceh Utara, Selasa (8/3) disepakati jalan akan dibuka. Setelah itu, rekanan wajib melanjutkan pembangunan paling lambat 15 Maret 2011,” sebut Khaidir.

Rekanan juga diwajibkan menyiram badan jalan agar tidak menimbulkan debu. “Kalau kesepakatan ini dilanggar rekanan, sanksinya juga sudah kita sepakati, yaitu kontraknya akan kita putus,” tegas Khaidir.

Sementara itu, tokoh pemuda Desa Meunasah Panton, Musa Adam, meminta agar rekanan menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. “Harap kontraktor menjalankan kesepakatan itu. Jangan nanti, warga gerah dan memblokir jalan ini lagi,” pungkas Musa Adam.

Seperti diberitakan sebelumnya, jalan Desa Meunasah Panton sampai Desa Geulumpang Umpung Unoe diblokir warga, karena tidak tahan menghirup debu setiap hari. Jalan itu merupakan jalan multi years, dan tahun ini Pemerintah Aceh Utara mengalokasikan anggaran sebesar Rp 9 miliar lebih untuk pembangunan jalan sepanjang 23 kilometer di daerah tersebut.(c46)

08.20 | Posted in | Read More »

Perdagangan Ganja Marak di Langkahan

LHOKSUKON - Perdagangan ganja di Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, kian marak. Ganja yang beredar di daerah itu umumnya dalam bentuk paket kecil. Ganja tersebut dipasarkan Rp 5.000-Rp 10 ribu per paket. Diduga, barang terlarang itu berasal dari Bener Meriah.

Kasat Narkoba Polres Aceh Utara, AKP Syafran, menyebutkan setelah menangkap ratu ganja, Siti (31) di Tanah Merah, Kecamatan Langkahan, pihaknya menyakini peredaran ganja paket kecil marak di kecamatan tersebut. Apalagi, menurut keterangan Siti, ganja yang ia edarkan berasal dari Bener Meriah.

“Kami curiga, seluruh ganja beredar di Kecamatan Langkahan dipasok dari Bener Meriah karena Langkahan berbatasan langsung dengan daerah itu. Mungkin, ganja dipasok melalui jalur hutan,” sebut Syafran kepada Prohaba, kemarin.

Dia menyebutkan, pihaknya bersama kini serius mengontrol peredaran ganja di kawasan tersebut. “Kami intip terus. Jika dapat, langsung kami jebloskan ke sel,” sebut Syafran. Dia berharap, masyarakat proaktif melaporkan aktivitas perdagangan ganja kepada polisi.

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi menangkap ratu ganja, Siti (31), dengan barang bukti 34 paket kecil ganja siap jual. Umumnya, pelanggan ganja dagangan Siti adalah kaum remaja di daerah tersebut.(c46)

08.16 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added