MOST RECENT

44 Catatan Tentang Sang Wali




Catatan > Saya menulis “Saya, Hasan Tiro dan Face Book” dalam buku ini. Kiranya, bisa tercerahkan. Mengenai resensi singkat tentang buku ini, berikut disajikan tulisan Safriadi Syahbuddin | wartawan Serambi Indonesia.

KAMIS 3 Juni 2010, Tgk Hasan Muhammad Ditiro (Hasan Tiro), meninggal dunia di usia 86 tahun. Seluruh masyarakat Aceh berkabung. Seorang tokoh besar yang juga kunci lahirnya perdamaian di Aceh, pergi untuk selama-lamanya. Banyak pesan dan sejarah yang ditinggalkan Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini, meski pesan-pesan dan sejarah itu tak sempat tertulis dengan rapi


Menyadari akan banyaknya pesan dan sejarah yang ditinggalkan Hasan Tiro, yang patut untuk diceritakan kembali kepada generasi penerus bangsa, sejumlah penulis mencoba “melahirkan” kembali perjalanan hidup dan sosok Tgk Hasan Tiro, dalam tulisan. Tulisan-tulisan itu kemudian dibingkai dan disajikan dalam buku berjudul “Hasan Tiro; the Unfinished Story of Aceh”.


Minggu tanggal 1 Agustus 2010, tepat pada 60 hari meninggalnya Tgk Hasan Tiro, BANDAR Publishing (BP) Banda Aceh meluncurkan buku yang ditulis oleh 44 penulis dengan latar belakang suku, agama, dan bangsa yang berbeda. Buku itu diluncurkan untuk mengenang Hasan Tiro, sekaligus merekam jejak peradaban Aceh.


Banyak sisi menarik dan mengandung nilai-nilai sosial yang tersurat dalam buku setebal 308 halaman itu. Para penulis melepaskan semua atribut yang melekat pada dirinya, lalu melihat dan menulis sosok Tgk Hasan Tiro sebagai seorang yang berpengaruh dan telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Aceh.


“Coretan-coretan” dalam buku ini memang mayoritas ditulis oleh mereka yang berdarah Aceh, dari berbagai kalangan. Namun, tak sedikit penulis yang berasal dari luar Aceh seperti Sumatera Utara, Jakarta, Bandung, Jawa. Bahkan, juga ditulis oleh warga negara asing seperti Lilianne Fan dan Prof James P Siegel.


Ada yang melihat Hasan Tiro sebagai seorang pemikir yang kritis dan pejuang yang tangguh, ada pula yang menceritakan pengalaman saat bertemu Sang Wali. Ada yang menyematkan Hasan Tiro sebagai figur jati diri Aceh, pembangkit sejarah yang disembunyikan, juga ada yang menggambarkan kembali masa-masa yang dilalui Hasan Tiro, dalam buku yang disunting oleh Husaini Nurdin.


“Kami sadar bahwa sedikit sekali yang kita ketahui tentang sosok Wali (Tgk Hasan Tiro-red). Karena itu, kami mencoba mengajak teman-teman yang punya referensi tentang Wali, untuk menulisnya menjadi sebuah buku. Kami berharap, buku ini dapat bermanfaat bagi masyarakat,” kata Direktur BANDAR Publishing, Mukhlisuddin Ilyas, usia seremoni peluncuran buku tersebut.


Mukhlis didampingi Manajer BP, Lukman Emha, mengatakan peluncuran buku “Hasan Tiro” sama sekali tidak mengandung unsur politis. Buku itu hanya untuk melukiskan peradaban Aceh, baik ataupun buruk. Mukhlis dan Lukman menganggap, sejarah Hasan Tiro perlu dicatat dan direkam dengan baik.


“Selama ini, orang tua kita sering mewariskan sejarah dengan hanya bercerita dan jarang sekali ditulis dalam bentuk buku atau catatan. Ini pula yang menyebabkan sering kali sejarah Aceh hanya dianggap sebagai mitos belaka. Kami tidak ingin sejarah dan peradaban Aceh hilang begitu saja,” papar Lukman Emha.


Mukhlis dan Lukman berharap, dengan peluncuran buku tersebut tidak ada kriminalisasi terhadap BANDAR Publishing yang didirikan pada 2007 lalu. Pasalnya, Mukhlis dan Lukman serta semua yang terlibat dalam pelncuran buku itu mengaku “mencium” riak-riak ke arah itu.


“Kami sama sekali tidak berniat mencari keuntungan melalui peluncuran buku ini. Kami hanya bertekad untuk merekam sejarah dan peradaban Aceh, seperti Hasan Tiro pula yang telah menulis sejarah-sejarah Aceh dalam puluhan bukunya,” pungkas Lukman Emha.(safriadi syahbuddin/serambi indonesia)

03.38 | Posted in , | Read More »

Menabur Damai Di Tanoh Aceh




BUKU Menabur Damai di Tanoh Aceh ini merupakan kumpulan dan output dari sebuah pelatihan jurnalisme damai di Banda Aceh akhir tahun lalu. Awalnya, aku bukanlah salah satu peserta dalam pelatihan itu. Meskipun panitia mengundang, namun, karena berbarengan dengan pelatihan indept reporting yang dilaksanakan AJI Banda Aceh di Medan, aku putuskan untuk tidak mengikuti pelatihan jurnalisme damai tersebut.

Suatu malam, aku dihubungi seorang teman yang bekerja di Latifa foundation, lembaga yang menerbitkan buku ini. Lalu, aku menyetujui permintaannya untuk menuliskan kisah dengan isu khusus mengusung jurnalisme damai di Aceh.

Nah, disinilah tulisanku tentang seorang kakek, yang baru saja meninggalkan dunia untuk selama-lamanya kutuliskan. Aku salut padanya. Diusia yang senja dia masih semangat dan tetap komit untuk menjaga perdamaian di Aceh. Tulisanku hanya melengkapi tulisan teman-teman jurnalis lainnya. [Masriadi Sambo]

02.39 | Posted in | Read More »

Meretas Jurnalisme Damai di Aceh




BUKU ini diterbitkan oleh Yayasan KIPPAS Medan dan Obor Jakarta. Isinya, tentang meredam konflik Aceh yang berlangsung selama 30 tahun lebih melalui peran media. Ya, tak dapat disangkal, terkadang media tercebur dalam konflik yang berkepanjangan. Media yang seharusnya memiliki tangungjawab moral untuk mendamaikan orang-orang yang bertikai bahkan ikut-ikutan untuk meraup keuntungan dari konflik itu.

Ini yang kerap terjadi di negeri ini. Konflik seringkali dipicu oleh rasa ketertinggalan, keterbelakangan dan ketidakadilan Pemerintah Pusat untuk pemerintah dibawahnya. Setidaknya, itu yang terjadi di Aceh. Aceh dikenal memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Migas yang banyak, belum lagi kekayaan laut dan pertanian yang subur. Namun, itu tidak serta merta dapat dinikmati oleh 4 juta penduduk daerah itu.

Buktinya, sampai tahun 2008 ini angka kemiskinan dan pengangguran kian meningkat. Ditambah lagi dengan tsunami yang menghancurkan sebagian besar Aceh. Kembali ke konflik. Buku ini berpesan jurnalis harus peka akan konflik. Memahami gaya-gaya yang dapat mendamaikan orang-orang yang bertikai. Atau membangkitkan semangat membangun keluarga yang hancur, paskakonflik. Ini yang terekam dalam buku ini.

Ketika menulis salah satu bagian buku ini, aku masih bekerja di Aceh Magazine. Ya, saat itu aku masih belajar dan memahami dunia Jurnalistik. Dalam hidup, aku punya prinsip, teori saja tak cukup. Harus blance antara teori dan praktek. Aku kuliah di Ilmu Komunikasi, Imbang rasanya jika praktek di dunia Jurnalistik. Buku ini diterbitkan tahun 2007. Salah satu liputan mendalamku, ada dalam buku ini.Bagiku untuk jurnalisme damai paskaperang di Aceh tak perlu menggagas ide liputan yang besar dan sulit menemukan sumbernya. Aku hanya menulis soal janda-janda korban konflik yang mengais rezeki di salah satu sentra industri kecil di Lhokseumawe. Inilah yang ada dalam nukilan buku itu.

Saat itu, aku dan 80 orang jurnalis Aceh mengikuti pelatihan jurnalisme damai di Sibayak Internasional Hotel. 80 kuli pena itu, dibagi kedalam empat angkatan pelatihan. Aku di angkatan keempat. Angkatan terakhir dan kupikir menjadi peserta termuda. Waktu itu, usiaku belum genap 23 tahun.

Nah, inilah buku ketiga yang namaku menjadi salah satu penyumbang tulisan didalamnya. Sekarang, aku masih menulis dan terus menulis. Belajar. Agar satu waktu, aku menulis lagu kelu negeriku. Lagu kelu yang tak pernah didengarkan dunia. Negeriku Aceh Tenggara yang kelu dan bisu. Terperangkap di bawah kaki gunung leuser. Tak berkutik. Penasaran dengan buku itu. Silahkan saja, lihat isi didalamnya. [Masriadi Sambo]

03.32 | Posted in | Read More »

Mutiara Terpendam Di Pantai Selatan




Buku ini adalah buku keempat. Aku salah satu penulis didalamnya. Isinya tak banyak. Menceritakan kekayaan alam di Aceh Selatan. Kota Naga itu masih menyimpan obyek wisata yang perawan. Jika penasaran silahkan berkunjung. Aku sudah membuktikannya. Ditulis dengan gaya feature.
Buku ini sepenuhnya fakta. Ketika aku berdiskusi dengan HT. Machsalmina Ali, ketika itu masih menjabat Bupati Aceh Selatan, dia tidak menutupi kekurangan kabupaten itu. Dia mempersilahkan menulis dengan fakta. Tak ada yang ditutup-tutupi. Tak ada yang disembunyikan. Bacalah. Paling tidak untuk melihat kondisi Aceh Selatan terakhir. Buku ini diterbitkan PinbisMedia tahun 2007 lalu. [Masriadi Sambo]

04.36 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added