MOST RECENT

Pembuktian Bang Yan Dalam Berkarya


CACAT bukan alasan untuk berhenti berusaha. Semangat menjadi modal utama. Tekad itu menjadi modal awal bagi Alfian M Basyir (60 Tahun). Warga Desa Blang, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara itu, mulai merintis bisnis furnitur. Meski kecil-kecilan, Bang Yan, panggilan akrab Alfian M Basyir, tetap semangat. Dia yakin, selagi matahari terbit, semua orang bisa berusaha. Tergantung tekad dan kemauan.
Dia juga yakin, manusia diciptakan memiliki ide dan gagasan untuk berkembang. Tatapan mata pria ini tajam. Dia tak malu memiliki kekurangan. Kakinya kecil, tidak seperti masyarakat lainnya. Namun, itu pula yang memicu semangatnya.
”Saya yakin, selagi matahari bersinar, saya masih bisa berusaha. Saya percaya, semua orang diberikan rezeki. Tinggal, cara mencarinya saja yang berbeda,” ujarnya di lokasi usaha miliknya di Desa Blang, Selasa (2/12) lalu.
Lelaki ini sebelumnya membuka usaha di Lamnyong, Banda Aceh. Kemampuan mengolah kayu, mengukir, dan menjadikannya perabot rumah tangga, didapat dari Balai Latihan Kerja (BLK) Banda Aceh, 1997 silam.
Usai pelatihan, dengan modal seadanya, dia memantapkan diri untuk membuka usaha. Dia terampil membuat lemari, meja makan, meja rias, dan seluruh perabotan rumah tangga. Usaha itu terus berkembang.
Dia bahkan optimis mampu mengalahkan pelaku bisnis yang sama di Banda Aceh. Jajaran kepolisian dari Polda NAD juga memesan perabotan hasil buatan Bang Yan. Maklum, dia sangat menjaga kualitas produknya.
Saat itu, dia menetap di Pasar Lamnyong. Istrinya menetap di Desa Blang, Tanah Pasir, Aceh Utara. Seminggu sekali, dia pulang menjenguk istri tercinta. Kebahagiaan dan puncak bisnisnya sirna, tepat 26 Desember 2004 silam.
Musibah ie beuna (tsunami) menghancurkan seluruh lokasi usahanya. Tak ada yang tersisa. Barang kesayangannya pun, gambar-gambar ukiran dari berbagai sumber, hilang disapu air bah mahadahsyat itu.
”Tak ada yang tersisa,” kenangnya melambung ke tragedi empat tahun silam. Matanya nanar menatap sebuah lemari yang sedang dikerjakannya. Usai tsunami, Bang Yan, masih bertahan di Banda Aceh. Sepeda motor butut miliknya yang tertimpa pohon ketika tsunami, kembali dia gunakan. Namun, Banda Aceh telah berubah.
Seluruhnya rata dengan tanah. Dia berpikir, tak mungkin bisa memulai bisnis kembali di ibukota Provinsi Aceh itu. Selain itu, Rubiah, istrinya selalu memesannya. Agar pulang ke kampung.
Dia juga rindu pada pelukan tiga orang anaknya. ”Saya putuskan pulang. Tapi, saya tetap membuka usaha, dengan uang seadanya, sisa bisnis di Banda Aceh,” kisahnya. Pria yang bercita-cita menjadi Sarjana Elektro itu, sesekali mengelap peluh yang membasahi keningnya. Meski kini hidup pas-pasan, dia tak pernah menyerah. Dia tak ingin mengais rezeki di jalanan. Dia tak ingin menjadi pengemis. ”Saya akan terus berusaha. Meski kaki saya, tidak normal, seperi kaki orang lain,” sebutnya.
Bang Yan mengatakan, peristiwa yang tak bisa dilupakan sepanjang hidupnya itu terjadi ketika dia kecil. Saat itu, dia demam. Panas badannya sangat tinggi. Saat itu, tidak ada bidan di kampungnya. Ibu Bang Yan, memutuskan membawanya berobat ke mantri kesehatan terdekat dengan desa tersebut. Malang tak bisa dihindarkan, mantri itu menyuntiknya dengan obat. Obat ini pula yang membuatnya kehilangan kaki yang kokoh. Kakinya hanya dibalut tulang. Sangat kecil. Kondisi panas tinggi, seharusnya tidak disuntik.
Namun, cukup diberikan obat saja. ”Saya baru sadar itu ketika remaja. Dulu, mana tahu. Suntik, ya suntik. Kaki saya jadi begini setelah disuntik. Sebelumnya normal,” ungkap Bang Yan. Meski begitu, Bang Yan tetap tabah. Menerima takdir yang terjadi. Kini, masa kejayaan bisnisnya telah sirna. Dia tak mempunyai fondasi modal usaha yang kuat untuk mengembangkan bisnis furnitur itu. ”Saya butuh sekitar Rp 20 juta untuk pengembangan bisnis ini,” katanya. Jangan khawatir memesan furnitur dari Bang Yan.
Meski terbatas kemampuan fisiknya, dia sangat teliti. Hasil buatannya halus dan padat. Pengecatannya pun mengkilap. Sangat rapi. ”Kalau ada orang yang mau memberi modal, saya pasti sangat senang,” harap Bang Yan. Siang itu dia terus bekerja. Mesin bor, martil, dan lain sebagainya berserakan di lokasi kerjanya. Harapannya menyala, menyongsong matahari terbit. Untuk kehidupan lebih layak. [masriadi sambo]

23.03 | Posted in | Read More »

Liputan Kutacane [2]

Berharap Rezeki di Kumbang Indah

TANGAN kecil itu terlihat gesit mengangkat cangkul, mematok parit di Komplek Perusahan Kumbang Indah, di Desa Kumbang Indah, Kecamatan Badar, Aceh Tenggara. Badan cekingnya dibalut peluh. Mengkilap diterpa sinar matahari. Itulah, Agusni (16 tahun).

Sudah empat minggu dia di kota itu. Bekerja sebagai buruh pembuatan parit di kompleks perumahan itu. Pria ini warga Desa Tanjong Dalam, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Bersama enam warga desanya, dia merantau ke Kutacane. Tujuannya tak lain, mencari rezeki. ”Ya, berharap bisa mencukupi kebutuhan uang Idul Adha nanti,” kata Agusni, Ahad (30/11) lalu. Pria ini tak pernah bermimpi menjadi kuli bangunan.

Namun, kesulitan ekonomi membuatnya berhenti sekolah. Dia hanya menamatkan pendidikan SMP Negeri 1 Langkahan. Orang tuanya, tak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sewaktu kecil, dia pernah bercita-cita menjadi Tentara Negara Indonesia (TNI) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, nasib berkata lain. Di kampungnya, dia tak memiliki pekerjaan tetap. Sesekali dia bekerja sebagai kuli bangunan.

Dilain waktu dia bekerja sebagai pembajak sawah milik masyarakat desanya. ”Beginilah. Saya hanya berpikir, bagaimana mengumpulkan uang sekarang. Biar bisa buka usaha nanti, entah kapan!” keluhnya. Di Kutacane, dia bersama enam temannya mengontrak rumah ukuran 4 x 8 meter dengan biaya patungan. Biaya sewa rumah Rp 200.000 per bulan.

Gaji Agusni per hari hanya sebesar Rp 60.000. Gaji itu diambil per minggu. Dia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 18.000 per hari untuk biaya makan. Ditambah biaya rokok, dan kebutuhan sehari-hari. ”Paling bisa disimpan Rp 20.000,” terang Agusni. ”Sekarang saya boleh begini. Tapi, saya berharap, bisa lebih baik nanti. Ya, ka lon lage nyo, aneuk lon teuman bek le (sudah saya begini, anak saya nanti jangan lagi),” katanya.

Cita-cita Agus melambung. Dia tak lagi berharap menjadi TNI, memegang senapan, dan berseragam loreng. Dia juga tak ingin menjadi orang kantoran. Maklum, ijazah tak ada.

Menurutnya, Indonesia, negara yang mengandalkan ijazah. ”Bagi kami yang tak sekolah ini. Ya, hanya bisa diam saja,” keluhnya. Kini, dia bercita-cita menjadi pengusaha. Memulai bisnis di kampungnya. Namun, untuk mencapai impian itu, dia harus kerja keras. Mengumpulkan uang. Filosofi hidupnya, kumpul sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit.

”Saya bekerja kemari juga karena ingin lebih baik. Di kampung saja tak punya kerjaan. Bangun tidur saja entah jam berapa. Saya tak mau seperti itu. Makanya, ketika ada tawaran bekerja, ya saya terima. Meski pun menjadi buruh ha ha ha...,” katanya terbahak.

Jam telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Terik matahari begitu menyengat. Memanggang bumi. Agus tak perduli. Dia mengambil cangkul, berjalan santai sambil bersiul. Menuju galian parit tak jauh dari rumah kontrak mereka. Satu waktu, dia menginginkan nasib berubah. Agus potrem buram pendidikan Aceh Utara.

Masih banyak anak di kabupaten itu yang mengalami putus sekolah. Data dari Dinas Pendidikan Aceh Utara, sebanyak 16.705 orang mengalami nasib yang sama seperti Agus, di bangku SMP. [masriadi sambo]

20.42 | Posted in | Read More »

UKM Sulit Susun Laporan Keuangan

Independen Lhoksukon

Usaha kecil dan menengah (UKM) di Aceh Utara kesulitan menyusun laporan keuangan, karena umumnya tidak dibekali dengan pengetahuan menyusun laporan pemasukan, pengeluaran dan tak paham membuat laporan rugi-laba. Hal itu terungkap dalam survey terhadap 30 UKM di Aceh Utara, Rabu (3/12). “Banyak UK M yang tak paham membuat laporan keuangan,” ungkap Manajer Pusat Informasi dan Pengembangan Bisnis (Pinbis) Kota Lhokseumawe, Sutan Febriansyah.

Dia menyebutkan, seharusnya pemerintah memberikan pengetahuan yang cukup tentang penyusunan keuangan pada para UK M di kabupaten itu. “Penyusunan keuangan itu penting. Untuk mengetahui sejauh mana kemajuan usaha itu,” kata Sutan. Arus cash flow (jalur kas masuk dan keluar) juga tak mampu disusun dengan baik. Umumnya, pelaku UKM masih menghitung pemasukan, pengeluaran dan biaya bahan baku dengan cara manual. Tanpa pencatatan jelas.

Hal itu diakui Fauzi, pemilik UKM Peci Aceh, di Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Dia mengatakan sejauh ini, dia tidak pernah mencatat dengan rapi jalur kas masuk dan keluar usahanya. Padahal, usaha itu telah berkembang dan mengirimkan peci Aceh ke berbagai daerah di Indonesia. ”Belum. Kami masih menghitung dengan ingatan saja.

Tak membuat laporan keuangan,” kata Fauzi. Untuk meningkatkan kemampuan UKM dalam membuat laporan keuangan sesuai format akuntansi, Pinbis Lhokseumawe, dalam waktu dekat ini akan mengadakan pelatihan terhadap 30 UKM yang telah disurvei. ”Kita akan bantu agar mereka bisa menyusun laporan keuangan dengan baik. Kita bantu berikan pelatihan book keeping (pelatihan keuangan) dalam waktu dekat ini,” sebut Sutan. [masriadi sambo]

22.54 | Posted in | Read More »

Liputan Kutacane [1]

Harap-Harap Cemas di Kali Alas

TIGA orang pria sibuk membentengi kali Alas di Desa Kutarih, Kecamatan Babussalam, Aceh Tenggara. Peluh terlihat membasahi tubuh pria itu. Sesekali mereka diam. Lalu melanjutkan pekerjaan. Ada yang mengangkat bongkahan batu. Memotong kawat. Mereka sedang mengikat bronjong. Untuk membentengi desa itu dari abrasi sungai terpanjang di Aceh tersebut.


Itu bukan kali pertama dilakukan. Sebelumnya, mereka juga telah mengerjakan hal yang sama di beberapa desa di pinggiran kali Alas. Sungai itu, saban tahun meluap. Menghancurkan seluruh perkampungan yang terletak di pinggiran sungai tersebut.


“Beginilah, kami ini hanya pekerja saja. Mencoba mengikat batu, untuk menahan deras arus sungai,” kata Satuman, salah seorang pekerja, beberapa waktu lalu. Arus sungai ini sangat deras. Bahkan, sungai ini dijadikan pusat kegiatan olahraga arung jeram. Sering kali, para pencinta arung jeram datang dari berbagai kota di Pulau Sumatera untuk menguji ketajaman arus sungai. Ini hikmah sungai Alas. Namun, di sisi lain, sungai ini kerap mengundang maut.


Seperti yang diucapkan, Rabumin, warga Desa Kutarih. Dia membangun rumah tepat di pinggiran sungai itu, empat tahun silam. Dia pula membuka warung kopi. Niat hati meraup untung. Namun, takdir tak bisa dihindarkan. Tahun 2006 lalu, rumah dan warungnya amblas dihantam abrasi sungai tersebut.


”Mau bagaimana lagi. Udah begini, ya, untung kami semua selamat,” terang Rabumin. Rabumin, satu di antara lima orang warga yang menerima luapan air kali Alas. Abrasi diduga karena penebangan liar yang marak di kawasan kaki Gunung Leuser, Aceh Tenggara. Efeknya dirasakan oleh semua desa yang berada di pinggiran kali tersebut. Amatan Independen tampak jelas kekhawatiran dari benak masyarakat di desa itu. Mereka umumnya tidak menyimpan surat-surat berharga di rumah.


”Kami menyimpan di rumah saudara. Takut ketika banjir datang, kami lupa menyelamatkannya,” terang Rabumin. Pria gaek ini bekerja sebagai petani. Kebun seluas dua hektare juga ludes dihantam abrasi. Tak ada tanaman cokelat, pinang dan pohon pisang yang ditanaminya empat tahun lalu. ”Saya biasanya ke kebun.


Kalau ke kebun tinggal menyeberang sungai. Tak dalam kalau tidak banjir. Kalau banjir, luar biasa, dalam sekali dan deras,” jelasnya. Bukan hanya rumah dan perkebunan milik warga yang terancam akibat abrasi. Fasilitas umum pun tak luput dari amukan air bah. Biasanya banjir bandang rentan terjadi memasuki November dan Desember saban tahun.


Salah satu fasilitas umum yang terancam, yaitu terminal terpadu Kutacane. Terminal untuk angkutan antarkota dan provinsi itu, kini hanya dua meter dari bibir sungai. Diperkirakan, jika banjir bandang terjadi tahun ini, maka terminal ini alamat tak bisa diselamatkan. Namun, anehnya, belum terlihat upaya serius dari pemerintah setempat untuk mengatasi abrasi itu. Selama ini, setiap tahun, pemerintah hanya membangun bronjongan. Memasang batu di pinggiran sungai. Tidak ada upaya untuk mengalihkan arus sungai atau pengerukan kembali sungai di beberapa daerah yang rawan.


”Saya pikir, pemerintah seharusnya mengalihkan arus sungai. Misalnya, dialihkan jauh dari pemukiman. Lalu dilakukan pengerukan kembali, agar sungai tak dangkal. Ini tampaknya lebih bagus, kalau dibanding dengan pembuatan bronjongan,” terang Rabumin. Di Desa Kutarih, sepanjang 100 meter jalan umum juga amblas ke sungai tersebut. Dulunya, jalan di daerah itu dibangun dua jalur. Pasalnya, jalan ini menuju terminal terpadu.


Namun, kini hanya satu jalur yang tersisa. Kini, masyarakat saban hari berdoa. Agar banjir tak melanda desa mereka. Berharap dibalut kecemasan yang luar biasa. Ya, semoga banjir tak menyapa daerah itu. ”Semoga saja, banjir tak datang,” harap Rabumin. [masriadi sambo]

22.46 | Posted in | Read More »

Hasan Tiro dan Nasionalisme Suku



Masriadi Sambo
Ketua Komunitas Markas Biru di Lhokseumawe

PERTEMUAN deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tengku Muhammad Hasan Di Tiro dengan Wakil Presiden Republik Indonesia Yusuf Kalla sebuah langkah baru untuk proses kehidupan politik di Aceh. Kalla dikenal sebagai orang pertama yang diutus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengakhiri konflik di Aceh secara damai dan bermartabat. Ya, lewat diplomasi dan perundingan. Bukan senjata dan perang.
Selama kunjungannya ke Aceh, Hasan Tiro, tak henti-hentinya, mengatakan komitmennya mendukung damai. Ini pernyataan luar biasa, dan tentu menyulut semangat menjaga perdamaian yang sedang berlangsung di Aceh. Lalu, muncul pernyataan juru bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) bahwa mantan kombatan juga nasionalisme. Artinya memiliki kecintaan nasional dalam tubuh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Tampaknya, nasionalisme di negeri ini memang menjadi perdebatan hangat. Di forum-forum ilmiah, warung debat mahasiswa nasional dan forum akademisi di Indonesia, nasionalisme juga menjadi isu sentral. Maklum, banyak faktor yang menyebabkan lunturnya rasa nasionalisme masyarakat terhadap bangsanya sendiri. Kemiskinan masuk dalam ranah utama penyebab lunturnya nasionalisme itu sendiri. Tak adil, jika memvonis, masyarakat miskin lalu membuat rasa nasionalisme mereka luntur. Indikator kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia juga patut dipertanyakan.
Pasalnya, kategori miskin menurut BPS adalah orang-orang yang memiliki penghasilan dibawah Rp 189.000 per orang per bulan. Sehingga, hingga saat ini tercatat lebih dari 40 juta penduduk Indonesia tergolong miskin. Untuk Aceh tercatat 23 persen dari 4, 032 juta jiwa total jumlah penduduk Aceh masih tergolong miskin. Kriteria kemiskinan jenis ini terbilang sulit dipercaya. Perkembangan global dan meningkatnya harga jual di negeri ini tentu tidak memungkinkan masyarakat Indonesia bisa bertahan hidup bila hanya mengantongi penghasilan sebesar Rp 189.000 per bulan. Angka ini patut ditinjau ulang oleh BPS untuk melihat angka rill kemiskinan itu sendiri. Sehingga, bisa disebutkan bukan kemiskinan menjadi faktor utama rendahnya rasa nasionalisme masyarakat terhadap Indonesia. Namun, faktor lain seperti ketidakadilan menjadi pemantik rendahnya nasionalisme masyarakat di negara ini.
Menurut kebelakang, munculnya pergolakan politik di Indonesia tak lebih dari salah urus elit politik negeri ini dalam menjalankan roda pemerintahan. Kita tahu, bahwa sebelum Indonesia merdeka, seluruh pulau memiliki konsep masyarakat adat. Dalam antropologi sosial dapat juga disebut masyarakat suku (tibal society). Pemberontakan di Ambon, Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Aceh sebelumnya juga dikarenakan, pemerintah pusat terlalu memaksakan kehendak untuk meleburkan masyarakat suku kedalam rasa nasionalisme yang heroik. Rasa bersatu dan tidak boleh berkata lain, selain Indonesia. Padahal, jauh sebelum Indonesia merdeka, tatanan sosial, sistem pemerintahan, adat, budaya dan agama telah berkembangan di kalangan masyarakat suku di sejumlah daerah. Bahkan, ketika awal Indonesia merdeka, mereka (suku-suku di Indonesia) telah berikrar menyatakan dukungan untuk Indonesia. Bersatu dalam kata merdeka dan semangat keadilan dan kemajuan seluruh Indonesia.
Aceh bisa diambil sebagai contoh kekuatan suku di Indonesia tempo dulu. Jalur diplomasi yang dibangunan Sultan Iskandar Muda, dengan negara Turki dan negara lainnya merupakan bentuk sistem pemerintahan yang mapan.
Lalu, ketika bergabung kedalam tubuh Indonesia, elit politik negeri ini tampaknya tidak memikirkan masyarakat suku tadi. Bahkan, masyarakat suku merasa dizalimi dan ditipu oleh pemerintah pusat kala itu.
Kini, zaman sudah berbeda. Tampaknya, elit politik Indonesia lebih baik mempertimbangkan masyarakat suku secara arif dan bijaksana. Sehingga tak muncul ketidakadilan, ketertinggalan dan kesenjangan sosial di berbagai daerah termasuk Aceh.
Soal nasionalisme masyarakat negeri ini, Indra Jaya Piliang, menamsilkan dengan istilah shadow tribal state (negara suku yang dibayangkan atau negara suku yang terbayang). 16 Oktober lalu saya bertemu dengan Indra, pengamat sosial dan poltik nasional di Surabaya. Saat itu, Indra menjadi pemateri dalam acara dialog kebangsaan yang diselenggarakan Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Konsep shadow tribal state berarti komunitas suku bangsa yang terbayangkan hidup sejajar dalam wadah keindonesiaan, tetapi tidak dianggap sebagai sesuatu yang layak dimusuhi oleh paham nasionalisme. Artinya, selama ini pemerintah dan elit politik nasional memang membayangkan komunitas suku di Indonesia termasuk Aceh itu benar-benar nyata. Namun, mereka tidak mempertimbangkan komunitas suku itu ketika mengambil kebijakan yang bersingunggan dengan suku tersebut (Aceh).
Konsep yang dipikirkan Indra klop dengan merunut sejarah Aceh tempo dulu. Kita ingat, bahwa Aceh pernah menyumbangkan dua pesawat yang menjadi cikal bakal Garuda Indonesia untuk Presiden Soekarno. Ini wujud nasionalisme suku Aceh, terhadap nasionalisme Indonesia yang kala itu masih digembar-gemborkan sebagai nasionalisme heroik.
Dalam konteks kekinian, rasa nasionalisme suku Aceh dapat dilihat dari ucapan-ucapan sang deklarator GAM. Dimana, Hasan Tiro, dalam kunjungan saweu gampong ke berbagai kabupaten/kota di Aceh selalu berpesan agar merawat dan mempertahankan perdamaian yang telah ditandatangani dengan Republik Indonesia medio Agustus 2005 silam. Ini saya pikir wujud nasionalisme suku yang dilemparkan Hasan Tiro pada Pemerintah Republik Indonesia. Keinginan berdamai antara pimpinan GAM dan RI, medio Agustus 2005 silam di Helsinki, merupakan langkah tepat setelah ribuan masyarakat meninggal dunia akibat bencara tsunami. Prihatin akan nasib Aceh, maka Hasan Tiro berpikir untuk mengakhir konflik berkepanjangan itu.
Semangat menjaga perdamaian itu tentu perlu didukung semua elemen negeri ini. Dari masyarakat awam hinga elit politik di Jakarta. Dukungan itu paling tidak diwujudkan dalam bentuk realisasi butir-butir MoU Helsinki. Jika butir ini tidak direalisasikan secara mapan dan bermartabat, maka Aceh dan suku lainnya di Indonesia akan menjadi shadow tribal state dalam arti sebenarnya. Tentu dalam ranah demokratis dan semangat menjaga perdamaian rasa ini perlu dibuang jauh-jauh. Perlu bukti nyata, dan merangkum Aceh dan daerah lainnya di Indonesia bukan sebagai masyarakat suku bayangan. Namun, menjadi masyarakat suku nyata dan dipertimbangkan keberadaannya ketika mengambil kebijakan. Jangan ada penzaliman terhadap suku-suku bangsa yang ada di negeri ini. Sehingga, konflik tak terjadi dan perang tak menyalak saban hari. Ini untuk mewujudkan nasionalisme suku yang berbaur kedalam nasionalisme Indonesia baru. Nasionalisme Indonesia baru, seperti saya singgung diatas, adalah nasionalisme yang merangkum kesukuan, menganggap mereka nyata. Bukan nasionalisme yang kaku, dan mengeyampingkan suku yang ada.
Diakhir tulisan ini, saya ingin menyebutkan, nasionalisme suku Aceh telah terbukti. Bukan hanya imajinasi dari para ahli sejarah. Bukti nyata telah dirasakan Indonesia atas nasionalisme suku ini. Nah, saatnya, menyatukan persepsi antara Aceh dan pemerintah pusat untuk mewujudkan Aceh damai, bermatabat hingga akhir usia bumi. Semoga.

01.58 | Posted in | Read More »

ROSE


Cerpen. Masriadi Sambo
Ketua Komunitas Markas Biru di Lhokseumawe

”Aneh, mengapa dia seperti itu. Seakan tak mengenal aku sama sekali. Apa karena aku ini kere?” aku berujar. Aku tak habis pikir mengapa wanita selembut dia bisa berbuat seperti itu. Siang itu, awal masuk kuliah.

Hari pertama aku mengenal kampus Universitas Malikussaleh ini, aku ingin semua hal serba baru. Ya, mengenal teman-teman yang baru. Terpenting, mengenal orang yang selama ini, aku cintai. Selama ini, selalu kubanggakan. Selama ini pula, aku selalu membayangkan wajahnya. Aku ingat benar senyumnya. Ya, dengan rambut terburai. Dengan latar biru muda. Dengan senyum merekah dan tatapan mata yang mempesona. Aku pikir, semua pria juga setuju dengan rangkumanku tentang dia.

Masih jelas, betapa wajahnya kusam saat melihat wajahku. Ya, aku yang kurus. Aku yang tak memiliki apa-apa. Aku yang mengenakan pakaian super besar, celana bekas peninggalan orang tuaku. Ya, semua itu, mungkin membuatnya gengsi bertemu dan berkenalan dengan pria yang miskin.

”Ya, nasib Mas. Terima sajalah,” ujar Albert, teman kosku. Aku baru kenal dia, dua hari lalu. Dia berkulit putih. Mirip bulek jika dari jarak jauh. Jika dekat, ya dia mengidap penyakit albino. Namanya Okti, kami lebih akrab memanggilnya Albert, karena putihnya itu.

Jam berdentang tiga kali. Dini hari. Aku belum bisa memejamkan mata. Aku tak habis pikir mengapa dia sekejam itu. Dulu, ketika aku masih menetap di Kutacane, Aceh Tenggara, dia selalu menghubungiku. Bercerita tentang kotanya yang kaya minyak bumi dan gas. Bercerita tentang laut dan air terjun. Bercerita tentang keindahan dan kemegahan kotanya.

Masih jelas diingatanku, ketika aku menelponnya dari wartel terdekat dari Kutacane. ”Kapan kemari? Aku kangen kamu. Segeralah pindah dan melanjutkan kuliah di sini. Aku juga mungkin kuliah di sini,” ujar Rose. Tawanya renyah. Aku dengar kalimat lamat-lamat, merdu dan indah itu.

Kalimat itu membuatku memacu studiku. Harapanku cuman satu, menyelesaikan SMA dan segera pindah ke kotanya. Melanjutkan kuliah di sana.

”Sayang, di sini aku baik. Kamu bagaimana di sana? Aku harap, kamu baik saja. Aku ingin katakan, aku sayang kamu. Aku tunggu kamu di kota ini,” kalimat dalam surat itu semakin membuatku memacu semangat. Membuyarkan rasa sakit di lengan kananku.

Rasanya pusing dan ngilu di sekujur tubuhku hilang seketika. Dua hari lalu, aku mengalami kecelakaan. Motorku ditabrak mobil yang pengendaranya ternyata seorang polisi dalam keadaan mabuk.

Kupaksakan diri mengambil kertas. Tapi tak bisa. Kakakku kusuruh menuliskan kalimatku. Tanganku masih diperban. Wajah, kaki dan leherku juga masih diperban. Aku tak bisa bergerak. Jika terlalu banyak bergerak, efeknya aku harus mengerang kesakitan. Urat leherku tegang. Seakan ditarik ke atas, seperti orang yang mahu meninggal dunia. Lalu, dokter pasti lari tergopoh-gopoh memberikan obat penenang. Sudah tiga kali aku mengalami itu. Sakitnya luar biasa. Benturan keras dikepalaku membuatku tak bisa banyak bicara. Dokter mengatakan, tulang kepalaku retak. Itu yang membuat aku tak bisa berpikir.

Dalam suratku, kukaakan bahwa aku baik saja. Aku sehat, tak kurang apa pun. Masih seperti dulu, kurus dan hitam. Lalu, aku sebutkan juga, aku sangat kangen. Ingin bertemu secepat mungkin. Tak satu pun, kata yang menceritakan aku sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Kutacane. Aku tak mau dia khawatir.

***
Waktu bergulir begitu cepat. Aku melanjutkan studi di Kota Lhokseumawe. Kota yang selama ini kuimpikan. Ya, mimpi bertemu gadis tercantik itu. Menjalin hubungan, memasang target hidup, dengan tawa kecil si mungil.

Kulalui begitu saja. Aku kehilangan kontak dengan gadisku. Aku mencoba mencari dimana alamatnya. Ah, aku tak bertemu. Waktu terus melaju. Didepan kampus biru, aku bertemu dengannya. Apakah aku tidak salah? Benarkah dia Iros? Mengapa terlalu dingin?.
”Rose. Kamu benar Iros kan?”
”Iya.”
”Kamu masih ingat aku?”
”Ingat.”

Dingin sekali. Kalimat itu menggodam jantungku. Kuhentikan langkah dan membiarkannya berlalu. Beralalu dari hidupku. Berlalu dari semua ingatan. Hanya sepenggal kenangan yang menyayat luka. Menoreh dunia ini dengan tinta tiada makna. Hilang semua hayalan tentang masa depan, dan tawa simungil. Aku menguburkanmu dalam sudut hati. Untuk sebuah kenangan. Ini yang membuatku terluka. Alpa pada wanita disekelilingku. Hingga kini.
***
Anehnya, empat tahun telah berlalu. Kamu datang untuk mengusikku. Mengusik tentang cinta dan kesetiaan. Mengubah kata maaf melalui ponselmu.

”Dim, maafkan semua kesalahanku ya. Masih ingat sama aku?” itu kalimat pesan singkat yang masuk ke handphoneku. Aku pikir, ini wanita gila mana, yang tiba-tiba minta maaf, di siang hari. Ditengah kesibukan menyergapku.
”Ah, biasa saja. Kamu siapa. Maaf aku lupa. Perasaan tak ada yang perlu dimaafkan. Itu semua permainan bumi,” kujawab sekenanya.

”Aku Iros. Wajarlah, kalau Dim lupakan aku. Aku sudah banyak berbuat salah?” Wah semakin menggila wanita ini. Aku memiliki banyak teman wanita bernama Iros.
Namun, pesanku tak dibalas. Aku menghubunginya. Ah, ternyata dia Iros. Wanita yang pernah menoreh luka. Jujur, aku belum bisa melupakan duka itu. Namun, hatiku berontak tuk tidak mengatakan aku masih ingat dia. Aku masih sayang padanya.

Kini dia tak sendiri, dia memiliki tambatan hati. Aku merasa, ini sebuah kenangan buruk. Dulu, dia pergi tanpa pesan. Kini kembali, membawa sebuah kabar duka. Dia memiliki tambatan hati. Apakah aku harus menyalahkan waktu, mempertemukanmu diwaktu yang tidak pernah tepat? Haruskan aku menyalahkan takdir? Tidak. Aku harus mengubur diri, dalam relung duka, dalam relung harapan untuk sebuah kehidupan. Ada atau tidak adanya kamu. Selamat jalan Iros.

01.20 | Posted in | Read More »

Sayap Patah

[Buat Saudara Tuaku, Cang Sarinah]

Secepat itu, waktu bergulir
Kemarin, aku masih mendengar jeritmu
Nada nafas yang melemah

Secepat itu, waktu berputar
Menghabiskan semua ingatan
Membekapmu dalam gelap malam
Menenggelamkan tawamu yang terbahak

Secepat itu, cahaya melintas
Kemarin, aku masih dengar kata maaf
Kata maafmu untuk ibu
Kemarin, aku masih tergiang, semua wejangan
Kemarin, semua masih biasa saja

Tapi, pagi ini
Kabar itu, bagai godam panas didada
Kamu telah tiada
Pergi untuk-Nya

Maafkan aku tak bisa berkata
Berbuat banyak
Sayapku telah patah
Aku tak bisa terbang
Aku tak bisa mengelilingi dunia
Membawa tulisan untuk bacaanmu

Maafkan aku belum bisa lakukan itu
Moga engkau tentram di dunia yang baru
Kemarin, aku masih merindukan tawamu ...

Lhokseumawe, 26 November 2008

01.04 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added