MOST RECENT

Anak Seribu Ayah

FOTO : ILUSTRA
AKU terkejut, ketika menerima buku warna abu-abu. Ya, rapor sekolah menengah atas (SMA) yang pertama kuterima. Dalam buku itu disebutkan ibuku bernama Yuna, sedangkan di kolom nama ayah tidak tertulis nama siapa pun. Kolom itu kosong.

Mungkinkah aku ini anak yang lahir dari pecahan batu di rimba Tuhan? Atau aku ini anak yang lahir dari rahim bongkahan kayu di pegunungan nusantara? Ah, aku tak tahu. Perlahan, bulingan jernih menetes di pipiku.

Aku bingung siapa aku sebenarnya.  Langkahku gontai menuju gubuk tua Mak Saleha, orang yang selama ini kukira ibuku

Saat itu, Mak-begitu aku memanggil Mak Saleha-sedang di kebun.Wanita ringkih ini sudah tujuh tahun menemaniku. Sejak aku lahir entah dimana.

Senyumnya menyambutku. Mak memagang parang kecil, dia baru saja menyiapkan kayu bakar untuk masak sore nanti. Keringatnya memasahi baju kaos lusuh itu. Nafasnya terlihat ngos-ngosan. Mak letih. Ah, tak mungkin kutanyakan masalah Ayahku saat ini.

“Sudah pulang anak Mak?. Bagaimana rapornya, biru semua atau ada merahnya?”
“Aku rangking satu Mak. Tadi, Bu Ratih kirim salam pada Mak,” jawabku sambil duduk disamping Mak. Mak memperhatikan isian raporku. Dia tersenyum bangga.
“Harus pertahankan prestasi. Nanti, Mak buatkan kue bingkhang kesukaanmu,” kata Mak sambil merapikan kayu bakar.

***
Malam merangkak naik menuju puncak. Sinar bulan menerabas masuk lewat atap rumbia rumah kami. Aku tak bisa memejamkan mata. Kulihat Mak tertidur pulas. Dia terlalu letih hari ini. Selama ini Mak Saleha kupikir benar-benar orang tuaku. Setiap kali mengambil rapor SD sampai SMP dia selalu menyimpan rapor di lemari. Mak hanya mengatakan, bahwa nilaiku baik dan harus dipertahankan.

Hari ini aku baru sadar, bahwa aku bukanlah anak Mak Saleha. Ibuku Yuna. Entah dimana wanita itu dan mengapa aku bisa telantar disini. Mak terbangun dari tidurnya. Lalu, mengambil segelas air di meja samping tempat tidur.

“Kenapa belum tidur? Hayo, cerita sama Mak,”
“Mak...gini...aduh...gimana ya mulainya.”
“Mulai saja cerita. Mak siap membantu kamu Dara”
“Tapi jangan marah?”
Sejurus kami terdiam. Mak menatapku dalam-dalam. Aku mulai bertanya siapa aku sebenarnya. Lalu, siapa Yuna? Mengapa nama ayahku tidak ada di kolom rapor? Mak terdiam. Wajahnya terlihat gelisah. Bingung.

“Mengapa Mak bohong selama ini?”
“Aku tak mau kamu tahu sebenarnya Dara. Sudah puluhan tahun kusimpan rahasia ini. Cukup Mak saja yang tahu? Mata tua itu mulai mengeluarkan air. Menetes perlahan membasahi pipi keriput. Mak mengatur nafasnya.
***
DULU, aku dan Mak mu adalah tenaga kerja wanita (TKW) di Timur Tengah. Ibumu bernama Yuna. Ayahmu, aku sendiri tidak tahu siapa namanya. Yuna bekerja sebagai pencuci pakaian di salah satu asrama milik perusahaan swasta di sana. Gajinya lumayan, Rp 5 juta per bulan, ditambah bonus dan tunjangan lembur. Ibumu wanita yang baik. Rajin ibadah, dan sangat mencintai kakek dan nenekmu. Semua uang yang dihasilkannya dikirim ke kampung. Tujuannya, agar kakek dan nenekmu tidak perlu menggarab sawah dan beternak seperti petani kebayakan. Waktu itu kami satu tempat kos di sana.

Satu pagi, Ibumu datang mencuci pakaian di tempat kerjanya. Saat itulah peristiwa itu terjadi. Ibumu diperkosa oleh puluhan pria yang menginap di situ. Ibumu pingsan. Tidak sadarkan diri tiga hari dan tiga malam. Sembilan bulan kemudian, ibumu melahirkan di salah satu rumah sakit di sana. Dia tidak mahu pulang kampung. Malu.

Lalu, ketika usiamu setahun, aku dan ibumu sepakat pulang ke Indonesia. Kami pulang menggunakan boat ala kadar. Kami pendatang haram di Timur Tengah. Dalam perjalanan, kapal kami karam. 20 penumpang tenggelam. Ibumu salah satunya. Tidak ditemukan jenazahnya hingga kini. Sedangkan aku berhasil menyelamatkan mu. Sejak saat itu, kuputuskan untuk menganggapmu anakku.

Aku bahkan tak tahu dimana alamat keluarga Ibumu di Pulau Jawa sana. Kuputuskan membawamu kemari. Ke desa ini. Seluruh warga kampung mencaciku. Menghujat dengan kata tak senonoh. Mereka mengira aku melacurkan diri dan pulang bawa anak jaddah. Kuacuhkan semua tuduhan itu. Bahkan, sampai kini, aku tak menikah, tak ada yang mahu denganku. Mereka menganggap aku hina, tanpa tahu cerita sebenarnya.

Sakit memang. Meski begitu, aku tetap tabah. Bagiku, kamu amanah terindah yang dititipkan Tuhan. Aku harus merawatmu hingga dewasa. Tidak ada maksud untuk menipumu Dara. Aku terdiam. Mak juga diam. Kami lalu menangis.

Aku terpukul mengetahui takdirku. Ibuku entah dimana, ayahku entah siapa?. Hidup memang penuh dinamika. Tak bisa diprediksi takdir Illahi. Penuh teka-teki. Kurenungi takdir ini. Kucoba fahami hikmah dibalik elegi.

Aku ini anak jaddah, dari lelaki bedebah. Namun, tak guna mengumpat amarah, karena hidup penuh hikmah. Kini, aku bertahan, di lorong sunyi hati. Membenahi mental sejati, menyiapkan hidup yang terus berlanjut nanti. Aku anak seribu ayah.

Masriadi Sambo
Penikmat sastra. Menetap di Lhokseumawe.







05.16 | Posted in , | Read More »

Pembunuh Bayi

Cerpen > Masriadi Sambo

BUMI menangis. Langit mendung. Halilintar menggodam bumi. Kilatannya seakan mencambut setan yang menggoda manusia. Angin bertiup tak tentu arah. Suaranya mendesau ribut. Seakan menjadi pertanda, peristiwa mahadahsyat akan terjadi.

Hari itu, 24 Februari. Mendung menyilumit seluruh kota. Hujan akan turun. Kupacu sepeda motor menuju rumah. Diperjalanan, telepon bernada pilu kuterima. Istriku menangis sesenggukan. Aku tak tau apa yang terjadi.

“Bi, segera pulang ya,” kata Istriku di telepon.

Kutinggalkan seluruh pekerjaan di kantor. Kuabaikan telepon dari para petinggi kantor, menanyakan tugasku yang belum selesai. Lebih penting Istri, ketimbang kerjaan. Pikiranku kalap. Aku tak bisa berpikir normal.

Kutemukan Istriku menangis sejadinya di kamar. Air matanya membuncah. Tak terbendung. Tak jelas, kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Anak kita Bi,” katanya sambil memegang perut. Air matanya terus mengalir deras.

“Kenapa dengan anakku.” Istriku mengandung anak pertama kali. Kuyakini, anakku akan mengikuti jejak ibunya. Menjadi wanita yang solehah. Wanita yang baik, dan mengikuti ajaran agama. Usia kandungannya baru enam bulan. Namun, ada apa dengan anakku.

Sambil menangis, istriku menjelaskan, bahwa dokter kandungan ternama di kota ini memvonis bahwa bayi kami telah meninggal dalam kandungan. Dia tak percaya. Aku juga. 7 Februari lalu, kami baru memeriksa kandungan istri. Diagnosa dokter saat itu kandungan istri dalam kondisi sehat. Aman. Tidak ada masalah apa pun.

“Maafin Umi ya. Umi belum bisa ngasi Abi anak,” katanya sambil menangis.
Aku tak sanggup menerima cobaan ini. Terlalu berat. Sejak sebelum menikah, aku ingin segera punya anak. Bahkan, dalam setiap sujudpun, hanya tiga hal yang kuminta pada Tuhan. Aku minta diberikan keturunan yang sehat, normal, cerdas, soleh dan solehah. Lalu, aku minta diberikan kemudahan rezki agar bisa berhaji bersama keluarga besarku dan keluarga istri. Terakhir, aku selalu minta pada Tuhan,agar diberikan kesehatan dan disembuhkan segala penyakit yang ada pada tubuhku.

Namun, doaku belum dikabulkan. Rasanya ingin protes pada sang pencipta. Namun, aku ingat perkataan Nabi, bahwa Tuhan memberikan cobaan pada hambanya yang mampu menerima cobaan itu. Tuhan sudah mengukur kemampuan hambanya. Cobaan adalah bagian dari ujian, untuk naik tingkat ke kelas selanjutnya. Naik ke tingkat yang lebih tinggi. Pepatah bijak mengatakan, ada hikmah dibalik cobaan.

Kupejamkan mata menahan air mengalir. Aku tak pernah sesedih ini. Ketika kehilangan kakek, nenek, dan pamanku, bahkan aku tak bisa menangis sama sekali. Kupaksa air mata agar keluar, namun tetap saja aku tak bisa mengis. Kata ibuku, aku orang yang agak keras. Sukar untuk sedih. Namun, kali ini. Air mata keluar sendiri. Tak bisa kubendung.

***
DOKTER menyarankan agar bayi yang ada dalam kandungan istriku segera dikeluarkan. Jika tidak, maka akan terjadi inpeksi pada Istri. Malam itu, dengan sisa kekuatan yang ada, kubawa Istri ke rumah sakit.

Dokter sudah memasang cairan infus. Untuk dilakukan operasi besok pagi. Dalam hati aku berdoa agar istriku selamat. Kurenungi semua yang telah kulakukan di dunia ini. Ibadah, sedekah, dan amal lainnya. Kurasa, soal ajaran agama, aku terbilang taat. Dibanding teman-temanku dikantor, menurutku, aku lebih baik dalam ibadah.

Lalu, apa yang membuat Tuhan mengirimkan cobaan mahadahsyat ini?. Keesokan paginya, dokter datang begitu awal. Istriku sudah masuk ke ruang operasi. Akan dioperasi pagi ini. Namun, istriku ragu. Dia merasa, bayinya masih bergerak.

“Masih ada gerakannya Bi.”
“Ya. Nanti, kita tanya dokter.”

Dokter pun muncul. Dokter langsung menyiapkan alat operasi. Kujelaskan apa yang dirasakan istriku, tentang bayi yang seakan masih bergerak.

“Saya tidak mau melakukan operasi, kalau ibunya tidak siap. Kalau ibunya masih merasa bayinya hidup, silahkan periksa lagi ke dokter lainnya. Saya sudah capek menjelaskan kemarin,” kata dokter itu sambil pergi meninggalkan kami. Istriku terpukul dengan ucapan dokter itu. Kami memutuskan memeriksa kembali kandungan Istri ke seluruh dokter kandungan di daerah ini. Kesimpulannya sama. Bayi sudah meninggal. Dokter yang satu mengatakan sudah meninggal dunia sejak dua minggu lalu, dokter kedua mengatan sudah sepuluh hari lalu.

Kembali kubawa istri ke rumah sakit. Solusinya hanya satu, bayi kami harus dikeluarkan. Istilah medis menyebutkan harus disinto. Hari pertama, satu botol cairan sinto merasuk ke tubuh istriku. Namun, belum ada reaksi apa pun. Tidak ada tanda-tanda pintu rahim akan terbuka. Aku khawatir. Dokter menjelaskan, bahwa butuh waktu dua atau tiga hari untuk membuka pintu rahim.

“Terkadang bahkan ada yang butuh waktu seminggu Pak. Jadi, Bapak sabar saja,” kata dokter itu. Aku termangu. Keuanganku tak begitu kuat untuk merawat istri berminggu-minggu di rumah sakit. Meski begitu, aku tak perduli. Terpenting, istri selamat. Bayi kami yang telah meninggal dunia, berhasil dikeluarkan. Agar ibunya tidak terinpeksi. Jika air ketuban pecah didalam, solusi terakhir adalah operasi.

“Tuhan, berikan kesehatan buat Istriku,” ujarku.

***
Hari ketiga, empat botol cairan sinto telah masuk di dalam tubuh Istriku. Pagi itu, azan subuh baru terdengar. Usai melaksanakan shalat, kujenguk kembali istri di ruang persalinan. Dia mengatakan, perutnya mules. Mulai ada tanda-tanda akan melahirkan. Kemarin, darah istri sudah kuperiksa. Hasilnya, istri positif memiliki virus kucing (toxoplasma) dalam darang. Virus ini yang membunuh bayi kami. Pembunuh bayi terkejam di negeri ini. Data dari tim medis, di kota ini saja, sejak tiga bulan terakhir tercatat 661 wanita yang positif mengidap virus ini. Tuhan, bisakah kami memiliki bayi. Pembunuh bayi ini sangat kejam. Bagaimana menyembuhkannya.

Jam dinding terus berputar. Hari ketiga di rumah sakit. Istriku terbaring lemas pagi itu. Dokter belum juga datang. Para bidan sibuk mempersiapkan kelahiran. Sesekali mereka memeriksa kondisi istri. Kutelepon dokter dan jawabannya dia sedang sibuk.

“Saya sedang sibuk Pak. Nanti saya ke rumah sakit,” dia pun menutup telepon. Aku tertegun. Daerah ini kekurangan dokter kandungan. Dokter yang ada bisa seenaknya mengatakan dirinya sibuk. Dia tidak tahu, nyawa istriku sudah diujung rambut. Dia meringis kesakitan. Sumpah kedokteran hilang. Nyawa manusia tak ada arti apa pun. Butuh dokter lebih banyak di daerah ini.
Menjelang siang, dokter baru datang. Tiga menit dia di dalam ruangan bersalin, anakku berhasil dikeluarkan. Dia perempuan. Cantik. Putih, ikut ibunya. Namun sayang, dia sudah meninggal dunia.

Istriku menangis sejadinya. Dia masih belum bisa menerima anak kami telah meninggal dunia. Telah pergi untuk selamanya. Menunggu kami di surga. Kubungkus anakku dengan kain panjang, kubawa pulang untuk dimakamkan. Air mata seakan sudah kering. Tak mampu keluar lagi. Aku kehilangan orang yang paling berharga. Membuatku bangga. Membuatku rajin berkarya. Kuberi dia nama Felomena. Felo, gadis cantikku yang telah pergi untuk selamanya. Bumi pun menangis. Hujan mengantar pemakanan Felo. Anakku, tunggu Abi di surga.

***

04.38 | Posted in , | Read More »

Usai Perang





HARI ini, genap lima tahun, perang berhenti menyalak. Dentuman meriam, dan desingan mesiu tak terdengar lagi. Lima tahun, sudah kehidupan berjalan normal. Tak perlu takut jika keluar rumah malam hari.

Dulu, lima tahun lalu, setiap malam, derap kaki serdadu melewati depan rumah. Sesekali sandal usang gerilyawan menyapa kami. Meminta sesuap nasi, atau sejumlah uang. Bahkan, ada pula yang meminta ayam, untuk di bawa ke hutan. Ya, persediaan makanan, jika serdadu mengepung rimba Tuhan.

Sesekali perang tak bisa dielakkan. Kerap kali, serdadu menyapu gerilyawan. Darah berceceran. Gerilyawan tunggang-langgang ke seluruh penjuru mata angin. Memasang perangkap, agar serdadu tewas dalam jebakan. Trik perang memang unik. Semuanya sah, demi sebuah kata menang.

Seluruh fasilitas umum di bumihanguskan. Sekolah dibakar, jembatan dipotong, Puskesmas dibom. Semua menjadi debu. Anak-anak tak bisa sekolah dengan baik. Guru-guru ketakutan saban waktu. Nyawa diujung tanduk. Semua orang bisa mati dalam hitungan detik. Gelombang pengungsi pun tak bisa dihindarkan. Penduduk angkat koper untuk menuju kota. Merantau. Tak sanggup hidup diantara bau mesiu.

Namun, sejak kedua belah pihak sepakat berdamai, tak ada lagi ketakutan. Semuanya berjalan normal. Petani bisa ke ladang, menanam padi, tomat, kangkung, cabai dan lainnya. Nelayan tiap malam bisa ke laut, menangkap berbagai jenis ikan. Pedagang tak perlu risau berjualan hingga larut malam.

Semua itu sungguh nikmat. Bagi rakyat, itu sebuah anugerah dari Allah. Perang berakhir, senyum mengembang. Namun, kini muncul elit-elit baru. Masyarakat menyebutnya, orang kaya mendadak (OKM).

OKM ini hidup berlimpah. Bahkan, mulai menunjukkan arogansi pada orang kampung. Memonopoli harga karet dan coklat. Mereka membeli dengan harga rendah. Jika ingin selamat, ya silahkan menjual ke OKM ini. Jika tidak, maka urusan jadi panjang. Nyawa menjadi taruhannya.

Lakon itu terjadi menyeluruh. Mereka mengklaim kekayaan alam ini milik negara, dan mereka adalah mantan pejuang negara. Dulu, mereka berusasah-susah di hutan, kini, saatnya menikmati. Prinsip itu yang melekat di kepala mereka.

Tidak ada ruang diskusi dengan kalangan OKM ini. Pendapatan mereka seperti fatwa dari ulama, yang jika dibantah akan “berdosa”. Jika dijalankan akan mendapatkan pahala. Ini yang aneh.

Kesombongan kalangan OKM semakin “menggila” ketika mereka memenangkan pemilihan umum di negeri ini. Mereka menang di sejumlah kabupaten, dan kota. Menang mutlak.

Sejak saat itu, mulai lah mereka menguasai negeri ini. Menjalankan pemerintahan. Tahun pertama tak ada masalah. Tahun kedua, satu persatu masalah muncul. Ada yang terjerat konflik internal antara bupati dengan wakil bupati. Konflik antar wali kota dengan wakil wali kota.

Ada pula yang meminta, agar uang operasionalnya tidak diaudit oleh aparat hukum negara. Permintaannya aneh-aneh. Mereka ingin hidup ekslusif, menghabiskan uang negara.

Salah satu bupati, bahkan terjerat kasus dugaan korupsi. Mulai diperiksa oleh aparat hukum negeri ini. Tidak ada yang berjalan mulus. Mereka terkesan orang yang tak faham pada pemerintahannya.

Tak faham keinginan rakyatnya. Merancang pembangunan, seperti merancang istana di atas pasir. Pasti akan rubuh. Tidak memiliki fondasi yang kuat. Konsep pembangunan hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Saban Sabtu dan Minggu, kelompok OKM ini keluar negeri. Menghabiskan uang di negeri tetangga. Sehingga, uang yang beredar di negeri ini hanya sekali. Tidak pernah berputar tiga kali. Selebihnya beredar di negeri tetangga.

Ini pula membuat masyarakat miskin, termasuk di kampungku. Nyak Cut salah seorang kelompok pejuang bahkan tidak mendapatkan bantuan apa pun. Ayahnya, Mertuanya, Suaminya dan Nyak Cut sendiri adalah kaum pejuang. Mereka tidak diperdulikan oleh OKM.

Sehari-hari Nyak Cut hanya bisa mengurut dada. Teman seangkatan telah memiliki rumah bertingkat, mobil keluaran terbaru dan uang melimpah. Sedangkan Nyak Cut masih bertahan di bawah pohon waru. Gubuk reot dan tanpa lampu listrik.

Cut Nyak tak sendiri. Ratusan orang mengalami nasib yang sama. Pilu, sedih, dan tak ada yang perduli. Sehari-hari mereka hanya bekerja sebagai petani biasa. Tak ada pemberian modal usaha.

Padahal, ketika perang, mereka adalah pasukan terdepan. Maju menggempur musuh. Memasang perangkap dan menghadang gempuran lawan. Mereka umpan senapan.

Kini mereka terlupakan dalam kemiskinan. Sesekali mereka berkumpul. Berkeluh kesah. Apa yang akan dilakukan. Dulu, perjuangan dimaknai untuk melepaskan diri dari negeri induk. Kini, perjuangan dimaknai untuk melanjutkan hidup. Mencari sesuap nasi saban hari. Untuk bertahan hidup. Tak lebih dari itu.

Namun, Cut Nyak sadar benar, bahwa itu bukan pilihan. Satu hari di bulan Juli, dia pun mengumpulkan temannya. Lalu, bersepakat kembali bergerak dengan cara mereka sendiri. Mengembangkan usaha untuk saling berbagi. Tujuan mulia, mensejahterakan sesama.

Lain lagi cerita Apa Don. Dulu, ketika perang menyalak, dia salah satu korban. Kakinya terpaksa diamputasi. Saat itu dia memasang bom mobil di simpang tiga salah satu desa pedalaman. Celaka, bom itu terlalu cepat meledak. Dia menjadi korban, sedangkan serdadu belum lewat. Serdadu mengalihkan perjalanan. Namun, bom terlanjur meledak. Ya, dia korban perang.

Kini, dia tak bisa berjalan normal. Hanya menggunakan satu tongkat tua, yang dibuat dari pohon jati oleh mertuanya. Sesekali mertuanya mencibir, bahwa dia pejuang yang tak pernah diopen. Dilupakan oleh sesama pejuang, terlebih oleh pemimpin yang kini hidup sejahtera, harta melimpah plus mobil mewah.

Apa Don tak sendiri. Ratusan rakyat negeri ini mengalami nasib yang sama. Dia pun berpikir, hidup terus berlanjut. Doktrin perjuangan masih melekat. Namun, apalah gunanya doktrin usang sebuah perjuangan. Sedangkan, hasil dari perjuangan itu sendiri tak bisa dinikmati.

Apa Don pun mulai mengumpulkan bekas pasukannya. Sesekali mereka duduk minum secangkir kopi. Tidak bisa bayar tunai, terpaksa mengutang dan melunasi uang kopi itu sebulan kemudian.

Apa Don pun mulai mengumpulkan kekuatan. Tujuannya melawan penindasan dan keangkuan teman-temannya. Siapa pun itu, baik mantan pimpinannya sendiri. Apa Don dan kelompoknya kembali mengumpulkan baja, membubut dan merakit senjata.

“Ini tujuan mulia. Kita harus tindak tegas siapa pun yang menyakiti hati rakyat, termasuk mantan pemimpin kita,” kata Apa Don pada sejumlah pasukannya. Mereka pun mendeklarasikan diri. Kelompok kecil yang lahir usai perang. [Cerpen >Masriadi Sambo]


Lhokseumawe, 15 Agustus 2010

22.14 | Posted in , | Read More »

Tuan M




Tuan M, sore itu terlihat begitu segar. Dengan Puan C disamping. Bocah kecil di depan. Ya, senyum sumringah yang kau berikan pada semua orang-orang yang melintas di depanmu. Peci mengkilap di atas kepala. Sekilas, kehidupan Tuan M, tak ada yang salah. Semua berjalan normal. Mengalir seperti air mengikuti dataran yang lebih rendah. Rezeki pun mengalir. Istri memiliki pekerjaan yang mapan. Sedangkan Tuan M, memiliki gaji yang melimpah. Saban akhir pekan menikmati liburan ke berbagai daerah di negeri ini. Ya, tak ada yang kurang sama sekali. Semua mengalir begitu saja.

Tuan M, sering bercerita pada orang-orang, dulu ketika dia menimba ilmu di perguruan tinggi. Dia pernah bekerja sebagai bilal di meunasah (surau) dekat kampusnya. Orang tuanya, tak memiliki pondasi dana yang memadai untuk membiayai anak ke enamnya itu. Tuan M pun tak meminta banyak. Dia hanya pasrah pada takdir hidupnya. Niatnya bulat. Berangkat meninggalkan kampung untuk belajar dan bisa menikmati hidup yang lebih baik di jantung Kota Lhokseumawe.

Dia juga sering bercerita, ketika dia kuliah dulu, saban Senin – Kamis selalu menunaikan puasa sunat. Bukan karena ikhlas ingin beribadah. Namun, karena beras memang tidak ada. Untuk menghemat, harus puasa dua hari dalam sepekan. Kisah hidup Tuan M, ini pun diceritakan setiap hari, setiap kali ketemu dengan orang-orang.

Selain menjadi bilal dan puasa, dia juga terpaksa harus menjadi kernet angkot. Semuanya dilakukan untuk menyelesaikan sarjana hukumnya. Dia pun mulai aktif berorganisasi. Dari sini, namanya mulai popular di pusat kota. Dia pun mulai dikenal.

Usai menamatkan pendidikan, dia pun menjadi pengajar di salah satu kampus ternama di pusat kota. Dia mulai jarang pulang kampung. Dalihnya, konflik yang berkepanjangan dan kontak senjata saban hari, antara pemberontak dan aparat keamanan, membuatnya mengurungkan niat pulang kampung. Sampai pada akhirnya, dia meninggalkan Indonesia, menempuh pendidikan paskasarjana di negeri tetangga. Ya, Malaysia, menjadi impian Tuan M.

Dua tahun dia hanya bisa berkomunikasi per telepon dengan ibunya. Wanita ringkih yang selama ini selalu berusaha untuk memberikan biaya pendidikan pada putranya itu. Ya, ibu tua itu selalu bekerja, menjadi buruh pada perkebunan, menjadi tukang kusung, menjadi dukun beranak, dan segudang pekerjaan lainnya.

Rupiah demi rupiah dia kirimkan untuk Tuan M. Jumlah itu tak seberapa, bila dibandingkan dengan biaya kuliah di perguruan tinggi. Meski begitu, ibu tua itu tetap semangat. Niatnya hanya satu, dia ingin, satu dari delapan anaknya bisa menjadi sarjana. Harapan lebih jauh adalah, Tuan M, bisa membantu adiknya. Bisa menanggung biaya pendidikan anaknya di perguruan tinggi. Bisa pula membantu merekomendasikan adiknya untuk bekerja. Itulah harapan wanita ringkih, dengan mata yang sudah rabun, dan kulit keriput. Ibu Tuan M, janda. Sudah lima tahun bercerai dengan ayahnya. Sehingga, dia harus bekerja sendiri. Bertahan dirumah gubuknya yang hampir roboh. Sedangkan Tuan M, kini sudah berada di luar negeri.

Usai menempuh pendidikan paskasarjana, Tuan M, pulang ke Lhokseumawe. Dia resmi menyandang gelar, LLM (law legal master). Namanya pun diagung-agungkan di kampung. Masyarakat kampung mulai termotivasi untuk menyuruh anaknya menimba ilmu ke perguruan tinggi. Tuan M, selalu dijadikan referensi keberhasilan.

Dia pun pulang ke kampung. Sekitar 45 kilometer arah timur Lhokseumawe. Jauh sekali dari pusat kota. Dia mengaku tidak memiliki uang. Lalu, dia bicara ingin membangun rumah gubuk ibunya. Secara kebetulan, adik Tuan M, sudah remaja. Dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Seluruh tabungannya dikuras untuk membangun rumah ibunya. Sedangkan, uang dari Tuan M, hanya sebagian saja.

Ibunya pun miris. Dalam hatinya, sang ibu menangis. Dia tau, adik Tuan M ini tidak memiliki pekerjaan tetap. Tapi, seluruh tabungannya dia kuras untuk membangun rumah. Sedangkan Tuan M, hanya memberikan sedikit uang. Padahal, ibunya tau, bahwa dia memiliki uang yang lumanyan besar. Karena, selain gaji, dia masih memiliki sisa beasiswanya untuk sekolah di paskasarjana.

Sang ibu hanya diam. Mengurut dada. Itu realitas hidup. Putra yang dia harapkan bisa membantu. Malah tak membantu. Malah putra yang dia pikir tak bisa membantu, ternyata membantu secara maksimal. Wanita tua ini pun memanjatkan do’a pada kedua putranya itu. Untuk Tuan M, dia berdo’a agar karakternya tidak kaku, memperhatikan orang tua, dan selalu mendapatkan rezeki yang mengalir. Sedangkan untuk putranya yang satu lagi, namanya Tuan Z, do’anya agar rezeki mengalir dan mendapatkan pekerjaan yang layak, kemudian, mendapatkan jodoh yang baik.

Lalu,enam bulan kemudian, Tuan M menikah dengan Puan C. Kejadian bukan lebih baik. Tuan M, semakin jarang menjenguk ibunya. Jika dulu, dia bisa menjenguk sebulan sekali. Kini, setahun sekali pun dia jarang menjenguk. Ketika lebaran, dia hanya pulang sekitar satu jam ke rumah ibunya. Jangankan memberikan uang, memberikan perhatian, menjenguk pun jarang. Ibunya hanya berharap diberi perhatian. Tidak lebih dari itu. Ibunya bercerita, hati orangtua pada anaknya, selalu rindu dan kangen.

Namun, laku Tuan M tak berubah. Kini, hidupnya jauh lebih baik. Dia sudah memiliki mobil sedang keluaran terbaru. Menempati rumah yang terbilang mewah di pusat kota. Ibunya semakin renta. Sering sakit. Mengidap komplikasi jantung, gula, reumatik, dan lain sebagainya.

Ibunya selalu berobat ke pusat kota. Menaiki angkot. Padahal, Tuan M memiliki mobil. Namun, tidak sempat menjemput ibunya. Alasannya selalu sibuk dengan pekerjaan. Hari terakhir, tepat Kamis sore, ibunya ingin berobat. Dia meminta Tuan M mengantarkannya ke rumah sakit. Namun, sang putra ini mengaku sibuk. Dengan mata berlinang, sang ibu memilih pulang ke kampung. Tanpa berobat sama sekali.

Dia tidak ingin membebani putranya Tuan Z. Dia tau, Tuan Z, tidak memiliki mobil. Sedangkan jika menaiki kendaraan roda dua, punggung ngilu seperti disayat sembilu. Dia pun pulang kampung. Meratapi sikap Tuan M. Meminta pada Tuhan agar Tuan M berubah.

“Anakku seperti bukan anakku. Anakku telah hilang. Tuan M, telah tiada,” ujarnya dalam lelap panjang saat adzan magrib berkumandang. [Cerpen > Masriadi Sambo]

22.07 | Posted in , | Read More »

Wartawan Serambi Indonesia Raih Anugerah Seni



15 Februari 2010, 08:52 | Lhokseumawe
LHOKSEUMAWE - Wartawan Serambi Indonesia Biro Lhokseumawe, Masriadi Sambo, meraih anugerah seni dan budaya untuk kategori penulis muda kreatif yang diselenggarakan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Lhokseumawe, Sabtu (13/2) malam di Hotel Lido Graha, Lhokseumawe. DKA Lhokseumawe menilai, sejauh ini Masriadi sudah banyak menulis karya sastra seperti cerita pendek, cerita bersambung, dan puisi di sejumlah media. Dia juga dinilai berjasa untuk mengkritisi perkembangan seni dan budaya di Aceh melalui tulisan-tulisannya. Selain itu, selama ini Masriadi telah memenangkan sejumlah lomba penulisan cerpen dan essay budaya tingkat lokal dan nasional.

Ketua DKA Lhokseumawe, TM Zuhri menyebutkan penilaian dilakukan secara independen oleh panitia seleksi. “Kita menilai dari karya, atau penghargaan yang diterima sebelumnya. Ini penilaian sangat fair. Pemberian anugerah seni dan budaya ini baru pertama kali diberikan untuk seniman dan kritikus seni di Lhokseumawe. Ke depan, agenda akbar ini akan dibenahi lagi. Dijadwal per empat tahun, sehingga para seniman bisa mendapat perhatian khusus,” kata TM Zuhri.

Pemberian penganugerahan untuk semua kategori diberikan oleh Walikota Lhokseumawe, Munir Usman. Dalam sambutannya, Munir menyebutkan, perkembangan seni di Lhokseumawe harus dibenahi dari waktu ke waktu. Sehingga, Lhokseumawe menjadi salah satu tujuan wisatwan dunia. “Saya berharap, kehidupan berkesenian di Lhokseumawe bisa menjadi lebih baik. Orang dunia harus kenal Lhokseumawe, karena seni dan budaya yang sangat luar biasa. Ini yang akan kita lakukan ke depan,” kata Munir. Selain Masriadi, turut diberikan pula anugerah fotografer seni untuk Rahmat, sesepuh seniman Usmani Kandang, Ali Akbar, Ali Asyimi, dan sejumlah seniman lainnya.

Selain itu, diberikan pula anugerah untuk pembina seni yaitu Dandim 0103 Taufan Akridal, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Zulkifli, dan pemecah rekor Muri 2009, Muda Balia. Acara penganugerahan ini berlangsung hingga tengah malam dan diisi oleh berbagai tarian, musik etnik dan musik kontemporer.

SUMBER > http://www.serambinews.com/news/view/24170/wartawan-serambi-indonesia-raih-anugerah-seni

01.48 | Posted in , | Read More »

Wali



PAGI baru saja turun. Matahari masih tersenyum malu-malu, ketika handphoneku berdering. Mengabarkan bahwa panglima besar akan berangkat segera. Menuju kampung halaman yang puluhan tahun silam ditinggalkan. Meninggalkan kampung atas nama perjuangan. Meninggalkan keluarga, ibu dan ayah yang sangat dibanggakan.

Saat itu, masih jelas diingatanku panglima besar mengatakan bahwa bangsa ini harus sejajar dan seimbang dengan bangsa lainnya. Sama seperti endatu (nenek moyang) kita dulu. Bangsa ini harus menempati posisi dimata dunia. Bangsa ini harus A, B, dan seterusnya. Bahkan, waktu itu aku tak faham apa yang dia sampaikan. Bagiku, hanya ikut apa kata panglima besar. Kalimatnya sama dengan maklumat penting. Tak bisa kubantah. Dan, tak mampu otakku menghasilkan pikiran untuk membantah kalimatnya itu. Bagiku, kala itu, dia sangat luar biasa.
Kini, kabarnya dia kembali. Ini bukan kepulangan pertama. Ini untuk ketiga kalinya. Dua kali terakhir, aku tak bisa menemuinya. Dia terlalu sibuk. Bahkan,mungkin dia lupa pada sosok anak kecil yang setia mendengarkan ceramahnya dulu. Mungkini pula, dia ingat. Kabarnya, panglima besar memiliki ingatan yang luar biasa. Kabarnya lagi, dia selalu hafal wajah-wajah orang yang pernah dilihatnya.

Kali ini, ajudan pribadinya yang menelponku. Aku tak tahu apa artinya aku dimata panglima besar. Aku juga tak yakin, baginya aku ini penting. Aku juga tak faham, mengapa ajudan pribadi langsung menelponku. Darimana dia mendapatkan nomor handphoneku.
Teman-teman seangkatan mengatakan bahwa panglima besar ingin mengenang semua kisah dengan generasi pertama gerakan ini. Panglima besar, ingin menemuiku. Menyediakan waktu 15 menit untuk aku. Sontak diantara mimpi dan sadar, aku mendengar permintaan itu. Rasanya, jika panglima sudah di sini, aku ingin memeluknya. Menceritakan susah sekali hidup di hutan. Di gigit ular dua kali. Ditembak aparat Negara lima kali. Dan, tak makan satu bulan penuh. Aku ingin, beliau mengerti pengorbananku.

Ketika kuceritakan ini pada teman-teman,mereka hanya tertawa. “Kamu ini hanya orang kecil. Dulu, waktu kita berperang, kamu tidak memiliki senjata sendiri kan. Kamu sering pinjam senjataku. Mana mungkin, panglima memanggilmu. Menyediakan waktu pula. Ah, kamu pasti tidak baca do’a tidur semalam,” kata Jamin, seangkatan denganku ketika di hutan dulu.

Kucoba kembali mengingat-ingat apa yang kurasakan tadi pagi. Kuperiksa handphone, jelas, ada panggilan masuk dari nomor luar negeri. Meski hanya menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) aku rajin mengikuti perkembangan dunia. Aku yakin itu memang nomor luar negeri.

Kuhilangkan pikiran itu. Aku tidak bersiap menjemput panglima besar. Kemarin, aku lihat, teman-teman sibuk menyiapkan kendaraan. Mau ke Kutaraja. Menjemput panglima di bandara. Di daerah ini, tak ada yang mengajakku. Aku sadar benar, posisiku hanya pasukan bawah. Pasukan yang hanya digunakan sebagai pengintai lawan. Menyiapkan seluruh sandi operasi. Dan, jika mungkin, sesekali menyerang lawan. Itu pun dengan senjata pinjaman dari pasukan lainnya. Aku juga tak mau pusing. Saat ini, kusibukkan diriku ke kebun dan ladang. Satu istri dan dua anak, menemaniku saban waktu. Menyiapkan sarapan jika pagi tiba. Bagiku itu sudah cukup. Aku bukan tamak, seperti teman-teman yang selalu mengatakan bahwa dialah pejuang. Seakan tak ada orang lain yang berjuang. Hanya dia yang memanggul senjata.

Ada pula yang tak pernah memanggul senjata. Tapi, mengaku pejuang. Ini kata teman-teman gerilyawan tanggal 16 Agustus. Karena, pasukan resmi berdamai dengan pemerintah negeri ini, pada 15 Agustus. Jumlah gerilyawan 16 Agustus ini malah lebih banyak ketimbang jumlah pasukan kami dulu. Ah, mereka ini ingin menikmati rezeki diatas darah masyarakat Aceh. Menikmati lezatnya kue perdamaian. Sebagian teman, sangat marah dengan mereka. Bagiku, itulah demokrasi. Siapa saja,bisa berekspresi. Tergantung dia menggunakan etika dan naluri. Aku juga tak mempersalahkan itu.
Satu cerita yang kuingat, ketika mereka membentakku. Mereka tidak tau aku bekas pasukan pengintai. Mereka memaki, memarahi dengan kasar. Padahal, aku hanya menyelip kendaraannya. Arogan sekali. Tidak segan pula mereka mengatakan bahwa dialah yang berkuasa sekarang. Aku hanya diam. Kutunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) ku pada mereka. Mereka terkejut. Mereka tau namaku, tapi tak mengenal orangnya. Cepat-cepat dia memberi hormat, meminta maaf. Inilah demokrasi.
***
Pagi kembali tiba. Matahari masih tersenyum malu-malu. Sama seperti kemarin. Aku bagun. Kubaca sms yang masuk di inbox hanphoneku. Kubaca pesan, masih dari nomor kemarin. Ajudan pribadi panglima besar. Isinya, panglima sudah berada di Malaysia. Pagi ini bertolak ke Aceh. Aku diminta berangkat ke Kutaraja.


Kuntunjukkan pesan itu pada istriku. Dia bukan asli Aceh. Ayahnya Minang, Ibunya Aceh. Istriku menyarankan agar menghubungi panglima wilayah. Memastikan apakah pesan itu benar atau tidak. Karena, untuk ke Kutaraja, butuh uang ratusan ribu. Bagi Istriku, ratusan ribu itu lebih bermanfaat bila digunakan untuk membeli kebutuhan dapur. Pendapatan kami memang dari kebun dan sawah saja. Tak lebih dari itu.
Kucoba menghubungi panglima wilayah. Tak ada jawaban. Ajudannya bilang, kalau dia sudah ke Malaysia. Menemui panglima besar di sana. Harapanku pupus. Tak lagi kuperdulikan sms dan handphone itu.


Lebih baik aku mengurusi tanaman kacang panjang yang hampir panen dibanding memikirkan sms itu. Mungkin, ada teman di luar negeri yang mengerjaiku. Esok paginya, kulihat wajah panglima besar menjadi headline surat kabar lokal. Aku percaya itu dia. Aku jadi memikirkan kembali sms dan telepon dari nomor luar negeri itu.
Ingin rasanya aku ke Kutaraja, menemuinya. Namun, kubaca di surat kabar, tak sembarang orang bisa menemuinya. Bahkan, wartawan pun sulit menemuinya. Kubatalkan kembali niatku. Istriku berulang kali menyakinkan, agar jangan terlalu memikirkan berita panglima besar itu. Dia tahu, di kepalaku masih bersarang peluru. Jika aku berpikir keras, maka alamat pusing begitu menggigit. Sangat sakit. Nyeri sekali.
Pagi datang lagi, matahari kemarin masih seperti kemarin. Tersenyum malu-malu. Kali ini aku dibangunkan bukan dengan dering handphone. Namun, dengan ketukan pintu rumah yang tak beraturan.


“Tengku…maaf, menganggu pagi-pagi begini,” kata Maun setelah mengucapkan salam.
“Ada apa?”
“Kami diperintahkan panglima besar untuk menjemput Tengku. Beliau ingin bertemu. Ingin memberi perintah besar,”.
Istriku mengeryitkan kening. Dia tidak percaya. Si Maun ini sangat usil. Dia berkali-kali membohongiku. Antara yakin dan tidak, kuminta uang dari istriku. Dia memberikan uang Rp 300.000. Katanya, untuk ongkos ke Kutaraja.


Maun mengatakan seluruh biaya sudah ada. Jangan dirisaukan. Namun, istriku tetap risau. Dia pesan, uang itu untuk makan dan beli sebungkus kretek.
Enam jam perjalanan menyiksa dari Lhokseumawe ke Kutaraja. Aku penuh tanya. Si Maun tancap gas sekenanya. Sesekali kuingatkan dia. Bahwa, jalan itu bukan punya orantuanya. Jalan umum, ada aturan lalu lintas yang penting dipatuhi.


Sampai di Kutaraja, kulihat rumah mewah penuh dengan pengawalan ketat. Mereka mengenakan pakaian hitam berles merah. Sebagian anak buahku dulu. Mereka memberi hormat. Aku pikir, mereka juga sudah lupa padaku.
Pasukan pengamanan, datang memelukku. Lalu, mengapit. Membawa ke depan panglima besar. Aku baru sadar, ternyata aku pantas juga untuk dikawal. Panglima duduk alakadar. Tatapan matanya tajam. Kiri dan kanannya, penuh buku. Ada pula berbagai Koran nasional dan lokal. Para mantan menteri gerakan dulu juga ada di situ.


“Satu pesan untukmu Rasyid. Kamu kuamanahkan untuk mengawal seluruh teman-temanmu yang menjadi anggota parlemen. Kuamanahkan kau mengontrol mereka. Aku sudah tua. Kamulah penerusnya. Ingat tak ada perang, tak ada lainnya. Hanya ada kesejahteraan rakyat Aceh,” kata panglima, akrab kami di sapa wali Negara.


Aku hanya menunduk. Mengaturkan kesiapan. Tanpa membusungkan data karena mendapat kepercayaan dari wali. Panglima lalu mengatakan, jika para parlemen itu melanggar, maka jasadku dalam kubur akan tersiksa. Mereka harus mensejahterakan rakyat.


Semua kami menangis mendengar ucapan terakhir itu. Kami ingin dia hidup seribu tahun lalu. Meski usia telah senja. Kami ingin dia tetap ada. Ya, panglima besar yang sangat berwibawa. [Cerpen > Masriadi Sambo]

02.26 | Posted in , | Read More »

M u n a f i k


Cerpen Masriadi Sambo

SETAHUN lalu kantor ini begitu ricuh dengan gelak-tawa. Saban sore, ruang kantor selalu padat. Ada yang sibuk dengan kamera SLR (Single Lens Refleks), ada pula yang sibuk membuat naskah. Untuk dicetak esok pagi. Menyebarkan informasi kepada rakyat negeri. Agar rakyat tak ditipu, agar keadilan ditegakkan. Agar para pejabat tak korup. Dan, dari ruang kecil ini, semua bermula.

Deadline tak lagi menjadi momok yang menakutkan. Bahkan sambil tertawa dengan iringan suara tuts komputer, deadline itu terlewatkan saban hari. Ya, dari situlah semua berkembang. Perlahan dan pasti, media ini semakin besar. Semua masyarakat sudah mengenalinya. Semua pejabat mulai menakutinya. Pejabat korup, selalu menghindar dari para pekerja media ini. Dibangun dari idealisme kru yang luar biasa. Sangat solid dan tangguh.

Tapi, semua itu entah mengapa sirna. Aku tak merasakan gelak-tawa semua kru. Kami menyebutkan diri buruh. Ya, pekerja media juga buruh. Para buruh ini masuk kantor dengan wajah pucat. Ada pula dengan wajah cemberut. Wajah lainnya tak kalah kecut.
Semua berubah. Entah mengapa ini terjadi.

”Ah, sepertinya kita sudah bisa bungkus baju dari kantor. Sudah tak nyaman lagi aku bang,” kata Dede, mengawali perbincangan di warung kopi tempat kami nongkrong saban pagi.

”Ah, yakin kamu. Jangan asal mengeluh. Kalau aku masih lajang. Tak masalah. Siap dengan segala resiko. Aku nggak punya istri sepertimu De,” aku menimpali. Aku ragu benar omongan Dede, temanku itu.

”Ya. Sekarang kalau kamu sudah tak betah di kantor. Ya, kamu keluar. Jangan mengeluh, kalau memang mau bertahan. Sepakat sajalah bagaimana baiknya,” kata Opa sambil minum kopi pahit kesukaannya. Opa orang paling senior diantara kami. Usianya diatas 50 Tahun.

”Aku ikut apa kata teman-teman saja. Kalau sepakat nggak betah di kantor, ya barengan. Kalau sepakat betah, ya senasib lah kita di kantor,” kata Siraj.
”Ah, begini sajalah. Kita bungkus saja semua barang-barang kita. Jadi, sudah tak tahan lagi aku,” kata Dede lagi.

”Setuju,” serempak keempat karyawan kantor itu menjawab. Mereka pun mengajukan pengunduran diri. Pengunduran diri sangat santun, dan lazim dilakukan oleh para karyawan.

Semua teman-teman sibuk mencari tempat bekerja lain. Ada yang bekerja di media regional. Ada pula yang bekerja di media nasional. Ada pula yang memilih konsen jadi politisi. Semua berpencar. Meski begitu, semua masih silaturahmi. Saban pagi, masih minum kopi di tempat biasa. Mengingat kembali kenangan yang setahun lebih telah berjalan.

***
Waktu terus berpacu. Aku sibuk menyelesaikan kuliahku. Selama bekerja, aku kurang perhatian terhadap pendidikan. Kini, kupikir, saatnya serius. Mengakhiri masa panjang studi, dan mempersembahkan gelar sarjana pada ibuku di kampung. Ya, itu yang dia minta. Dia ingin agar putra bungsunya ini menjadi orang kantoran. Memiliki pekerjaan tetap. Keinginan yang mulia.

Kuliahku pun berakhir. Siang ini, aku baru saja mendaftarkan diri sebagai peserta wisuda. Ya, sebentar lagi, aku resmi menyandang gelar sarjana sosial. Dalam perjalanan pulang dari kampus, handphoneku berdering.
“Dimana? Ada baca koran hari ini?” tanya Opa.
“Ah, tidak. Udah lama aku tak baca koran. Paling situs online. Ada apa dengan koran hari ini?” tanyaku heran.
”Dede masuk lagi. Padahal dia yang bilang kalau harus bungkus baju dari kantor. Entah bagaimana anak itu. Cobalah kau tanya?” kata Opa. Dan pembicaraan pun terputus.

Akal sehatku susah menerima itu. Aku heran, temanku yang satu itu. Dia yang paling semangat untuk meninggalkan kantor. Dia pula yang setiap pagi mengatakan kalau sudah tak sanggup dengan iklim di kantor. Mengapa dia pula yang mengawali kembali ke kantor. Aku urungkan niat untuk menelponnya. Kupikir, hidup adalah pilihan. Mungkin dia memilih lain.

Hanphoneku kembali berdering. ”Udah tau informasi yang beredar? Aku dikatakan sebagai biang keluarnya kita dari kantor?” kali ini Siraj yang menelpon.

”Wah, aku belum tahu. Aku pikir, masalahnya sudah berakhir. Aku sibuk menyelesaikan kuliahku. Dan, kamu sebagai calon anggota legislatif (caleg). Jadi, kok bisa begitu,” tanyaku heran.

”Entahlah. Padahal Dede yang semangat waktu itu. Kok malah kita yang kena hal yang tak enak. Biarkanlah dia. Pusing aku,” ujar Siraj lagi.

”Ah, sudahlah. Tak usah ngomong sana-sini. Diam saja. Apa pun kejadiannya, kita pernah bekerja di kantor itu. Tak usah memburukkan. Hidup pilihan Bos. Jadi, tak usah saling menjelek-jelekkan. Saling mengganteng-gantengkan diri saja,” kataku sambil terbahak.

Aku kembali berpikir. Mengapa masalah ini tak ada habisnya. Ah, sudahlah. Semua manusia memiliki jalan hidup yang telah ditakdirkan. Jika suatu waktu aku juga kembali ke kantor itu. Aku pikir itu juga takdir. Aku pikir Dede sudah puas dengan pilihannya. Dan, menggelabui semua kami. Munafik. Ya, itulah karakter manusia. Jika sama, maka tak akan ada perang di negeri ini. Tak akan ada pula koruptor. Tak akan ada pula ulama sebagai penceramah. Tak akan ada pula sosok munafik. Hidup memang aneh. Dan, keanehan itu harus dijalani.

”Siraj, Opa. Kalau semua pikiran manusia sama. Maka tak akan perang Aceh ini. Aman selalu. Dan, tak diperlakukan aparat penjaga keamanan. Karena semua orang baik. Karena semua manusia tak perlu diawasi. Semuanya alim. Patuh pada norma. Jika Dede, sudah memfitnah kalian. Tenanglah. Itulah karakter manusia yang berbeda,” tulisku dalam layar sms. Agar Siraj dan Opa tenang. Tak emosi. Dan Tak menaruh dendam.

Markas Biru, 7 April 2009

04.05 | Posted in | Read More »

15 Desember

DULU, kita jauh. Tak sama, dan tak dekat sama sekali. Dulu, waktu menjadi penghalang. Kutabung uang ribuan, untuk meneleponmu. Butuh waktu satu minggu menabung, baru bisa mendengar suaramu. Katamu, tak apa, toh kamu mencintaiku. Tapi, ketika aku hadir di depan mu. Kamu berpaling. Seolah tak kenal sama sekali. Membuang wajah, Seakan aku najis yang bau. Jijik untuk mendekat. Ya, aku bukan siapa-siapa. Hanya mahasiswa pengangguran, semester awal. Aku anak kampung, yang mencoba keberuntungan di kota.


Waktu berputar empat tahun kemudian. Aku sudah melupakanmu. Aku membuang muka bila melihat kamu. Ngilu menusuk jantung, bila melihat senyum sumringahmu. Kuhentikan mencari informasi tentangmu. Kuhentikan semua kenangan. Membungkusnya dan meletakkan di langit, bila bulan terang, aku hanya mengenangmu. Tak ingin berpikir, mencari, lebih-lebih memilikimu.


Sontak nafasku ingin berhenti, ketika satu siang, di awal September membaca pesan singkat. ”Ini Iros. Cuman mau minta maaf. Karena tau, Iros banyak salah sama kamu,” kalimatku tertera jelas di layar hanphone. Tak percaya aku pada mataku yang minus ini. Aku pastikan lagi, benarkah itu kamu.


”Ya, ini Iros. Emang, banyaknya Iros yang dikenal,” jawabmu.

Wah, aku mengenal beberapa perempuan bernama sama. Jujur, awalnya, aku berpikir itu bukan kamu. Tapi, aku merasa tak ada yang salah. Hanya, waktu yang salah. Mempertemukanku denganmu ketika aku tak memiliki apa-apa. Tak punya pekerjaan, lebih-lebih uang yang berjubel.


Hatiku goyah. Ditengah seluruh kesibukanku, aku masih menerima layanan sms-mu. Menemuimu sekali waktu. Katamu, kamu suka pantai itu. Ya, pantai dimana kita kenal, sepuluh tahun lalu. Pantai yang membuatku suka dan amat tergila padamu. Pantai itu pula menjadi tempat favoritmu. Katamu, sekadar membuang suntuk dan penat dengan rumus-rumus teknik sipil.


”Baru aja duduk, udah ada yang telepon. Sibuk sekali ya Pak,” katamu, ketika kita duduk kembali di pantai itu.
”Kalau aku sibuk, mana mungkin aku duduk dengan kamu. Mana mungkin pula, aku bisa ada waktu bersamamu,” jawabku sekenanya.


Waktu berputar begitu cepat. Aku pikir, hatiku harus jujur. Aku tak mungkin menipu diri. ”Aku sayang kamu,” kataku.
”Aku udah punya pacar. Masalahnya tak sesederhana itu. Aku mencintai pacarku. Kami pacaran sudah lama. Aku sangat mengasihinya. Semua waktu dan pengorbananku sudah banyak,” jawabmu.


”Ya, jika kamu berubah pikiran. Kamu bisa hubungi aku. Ulang tahunku, aku tunggu kamu,” kataku. Berlalu meninggalkan mu. Ya, membiarkanmu menikmati pantai. Entah memikirkanku, atau memikirkan pacarmu.
Tapi jujur, perasaan tak pernah bohong. Aku merasa kamu tak akan kembali. Aku punya firasat itu. Dan, aku bersyukur pada Tuhan, firasatku tak pernah salah. Kalau salah pun hanya dua puluh persen.


”Ah, kamu ini seperti paranormal,” jawabmu.
Aku tau kamu galau untuk memilih. Kamu ingin segera menikah. Sedangkan aku, berpikir sebaliknya. Menikah bukan soal hati saja. Tapi, juga soal mempersatukan dua keluarga, yang berbeda adat dan budaya.


”Kalau tak ada kepastian, Iros tak mau,” ujarmu, di satu sore, ketika senja mulai temaram. Teh dan pisang goreng hangat di atas meja, menjadi santapan yang seharusnya lezat menjadi hambar. Aku tak bisa nikmati sore itu dengan nyaman. Sodoran pertanyaan menikah tak mudah dijawab, hanya dalam hitungan menit. Bahkan, tak akan bisa kujawab dalam delapan bulan sekali pun. Ini soal dua keluarga. Bukan hanya soal cinta seperti cintanya para anak baru gede (ABG).


***
”Dim, kamu jangan beri waktu gitu sama dia. Dia tak bisa memilih. Dia butuh waktu,” kata Tri temanmu.
”Ya, aku juga tak bisa memberi waktu banyak. Hidup adalah pilihan Tri. Kalaulah dia memilihku, syukur. Kalau tidak, ya artinya aku bukan orang yang dicintai. Dan, aku siap untuk itu. Cinta sejati itu cuman untuk satu orang Tri. Mungkin, aku tak masuk kategori itu dari dia,” jawabku.


Keesokannya, matahari memuncratkan cahaya surga. Indah sekali. Penatku pagi ini seakan hilang. Umurku sudah bertambah. Kata orang-orang memang sudah layak menikah. Sudah 24 tahun. Tapi, ya, butuh waktu untuk memikirkan persoalan sakral, menikah.
Kuhubungi beberapa teman dekat untuk menghadiri syukuran ulang tahunku. Ya, hanya teman yang kuanggap dekat. Teman yang memberi kontribusi berbagai bidang. Di pantai itu, pantai tempat aku bertemu kamu, di situ aku ingin mengakhiri semua masa keraguanku. Masa pembuktian, apakah kamu memang milikku. Aku undang kamu, dua hari sebelum ulang tahunku.


”Insya Allah, aku hadir,” katamu. Jawaban ini kupikir akan mematahkan firasatku. Namun, ketika jarum jam berdentang dua belas kali, siang itu, aku tak melihat batang hidungmu, senyummu, dan kamu. Yang ada, hanya teman-temanku. Aku berusaha tersenyum. Seakan bahagia. Dan, saat itu aku pikir, bahwa kamu telah tiada. Aku tak akan berharap lagi.


Ya, 15 Desember ulang tahunku. Kamu tak hadir, dan aku tak bisa berkata apa-apa.
Sebulan sudah waktu itu berlalu. Aku bahkan sudah tak ingat kamu lagi. Namun, malam ini, entah mengapa kamu menghubungiku. Merasa terganggu, ya. Tapi, dilain sisi, aku juga kangen kamu. Ya, perdebatan batin dan prinsip. Kamu katakan, hubunganmu dengan pacarmu telah berakhir. ”Dim, aku tak bisa menahan semua ini. Baru-baru ini hubunganku berakhir. Aku sedih,” katamu.


Ah, ada apa ini. Malam ini, aku tak bisa tidur. Aku memikirkanmu. Bajingan benar lelaki yang menyakitimu. Tapi, itu pilihanmu. Hidup adalah pilihan. Dan, aku bukan siapa-siapa, tak memiliki apa-apa. Kegalauan membekapku. Inikah cinta? Entahlah. [Masriadi Sambo]


Markas Biru, 18 Januari 2009

00.40 | Posted in | Read More »

ROSE


Cerpen. Masriadi Sambo
Ketua Komunitas Markas Biru di Lhokseumawe

”Aneh, mengapa dia seperti itu. Seakan tak mengenal aku sama sekali. Apa karena aku ini kere?” aku berujar. Aku tak habis pikir mengapa wanita selembut dia bisa berbuat seperti itu. Siang itu, awal masuk kuliah.

Hari pertama aku mengenal kampus Universitas Malikussaleh ini, aku ingin semua hal serba baru. Ya, mengenal teman-teman yang baru. Terpenting, mengenal orang yang selama ini, aku cintai. Selama ini, selalu kubanggakan. Selama ini pula, aku selalu membayangkan wajahnya. Aku ingat benar senyumnya. Ya, dengan rambut terburai. Dengan latar biru muda. Dengan senyum merekah dan tatapan mata yang mempesona. Aku pikir, semua pria juga setuju dengan rangkumanku tentang dia.

Masih jelas, betapa wajahnya kusam saat melihat wajahku. Ya, aku yang kurus. Aku yang tak memiliki apa-apa. Aku yang mengenakan pakaian super besar, celana bekas peninggalan orang tuaku. Ya, semua itu, mungkin membuatnya gengsi bertemu dan berkenalan dengan pria yang miskin.

”Ya, nasib Mas. Terima sajalah,” ujar Albert, teman kosku. Aku baru kenal dia, dua hari lalu. Dia berkulit putih. Mirip bulek jika dari jarak jauh. Jika dekat, ya dia mengidap penyakit albino. Namanya Okti, kami lebih akrab memanggilnya Albert, karena putihnya itu.

Jam berdentang tiga kali. Dini hari. Aku belum bisa memejamkan mata. Aku tak habis pikir mengapa dia sekejam itu. Dulu, ketika aku masih menetap di Kutacane, Aceh Tenggara, dia selalu menghubungiku. Bercerita tentang kotanya yang kaya minyak bumi dan gas. Bercerita tentang laut dan air terjun. Bercerita tentang keindahan dan kemegahan kotanya.

Masih jelas diingatanku, ketika aku menelponnya dari wartel terdekat dari Kutacane. ”Kapan kemari? Aku kangen kamu. Segeralah pindah dan melanjutkan kuliah di sini. Aku juga mungkin kuliah di sini,” ujar Rose. Tawanya renyah. Aku dengar kalimat lamat-lamat, merdu dan indah itu.

Kalimat itu membuatku memacu studiku. Harapanku cuman satu, menyelesaikan SMA dan segera pindah ke kotanya. Melanjutkan kuliah di sana.

”Sayang, di sini aku baik. Kamu bagaimana di sana? Aku harap, kamu baik saja. Aku ingin katakan, aku sayang kamu. Aku tunggu kamu di kota ini,” kalimat dalam surat itu semakin membuatku memacu semangat. Membuyarkan rasa sakit di lengan kananku.

Rasanya pusing dan ngilu di sekujur tubuhku hilang seketika. Dua hari lalu, aku mengalami kecelakaan. Motorku ditabrak mobil yang pengendaranya ternyata seorang polisi dalam keadaan mabuk.

Kupaksakan diri mengambil kertas. Tapi tak bisa. Kakakku kusuruh menuliskan kalimatku. Tanganku masih diperban. Wajah, kaki dan leherku juga masih diperban. Aku tak bisa bergerak. Jika terlalu banyak bergerak, efeknya aku harus mengerang kesakitan. Urat leherku tegang. Seakan ditarik ke atas, seperti orang yang mahu meninggal dunia. Lalu, dokter pasti lari tergopoh-gopoh memberikan obat penenang. Sudah tiga kali aku mengalami itu. Sakitnya luar biasa. Benturan keras dikepalaku membuatku tak bisa banyak bicara. Dokter mengatakan, tulang kepalaku retak. Itu yang membuat aku tak bisa berpikir.

Dalam suratku, kukaakan bahwa aku baik saja. Aku sehat, tak kurang apa pun. Masih seperti dulu, kurus dan hitam. Lalu, aku sebutkan juga, aku sangat kangen. Ingin bertemu secepat mungkin. Tak satu pun, kata yang menceritakan aku sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Kutacane. Aku tak mau dia khawatir.

***
Waktu bergulir begitu cepat. Aku melanjutkan studi di Kota Lhokseumawe. Kota yang selama ini kuimpikan. Ya, mimpi bertemu gadis tercantik itu. Menjalin hubungan, memasang target hidup, dengan tawa kecil si mungil.

Kulalui begitu saja. Aku kehilangan kontak dengan gadisku. Aku mencoba mencari dimana alamatnya. Ah, aku tak bertemu. Waktu terus melaju. Didepan kampus biru, aku bertemu dengannya. Apakah aku tidak salah? Benarkah dia Iros? Mengapa terlalu dingin?.
”Rose. Kamu benar Iros kan?”
”Iya.”
”Kamu masih ingat aku?”
”Ingat.”

Dingin sekali. Kalimat itu menggodam jantungku. Kuhentikan langkah dan membiarkannya berlalu. Beralalu dari hidupku. Berlalu dari semua ingatan. Hanya sepenggal kenangan yang menyayat luka. Menoreh dunia ini dengan tinta tiada makna. Hilang semua hayalan tentang masa depan, dan tawa simungil. Aku menguburkanmu dalam sudut hati. Untuk sebuah kenangan. Ini yang membuatku terluka. Alpa pada wanita disekelilingku. Hingga kini.
***
Anehnya, empat tahun telah berlalu. Kamu datang untuk mengusikku. Mengusik tentang cinta dan kesetiaan. Mengubah kata maaf melalui ponselmu.

”Dim, maafkan semua kesalahanku ya. Masih ingat sama aku?” itu kalimat pesan singkat yang masuk ke handphoneku. Aku pikir, ini wanita gila mana, yang tiba-tiba minta maaf, di siang hari. Ditengah kesibukan menyergapku.
”Ah, biasa saja. Kamu siapa. Maaf aku lupa. Perasaan tak ada yang perlu dimaafkan. Itu semua permainan bumi,” kujawab sekenanya.

”Aku Iros. Wajarlah, kalau Dim lupakan aku. Aku sudah banyak berbuat salah?” Wah semakin menggila wanita ini. Aku memiliki banyak teman wanita bernama Iros.
Namun, pesanku tak dibalas. Aku menghubunginya. Ah, ternyata dia Iros. Wanita yang pernah menoreh luka. Jujur, aku belum bisa melupakan duka itu. Namun, hatiku berontak tuk tidak mengatakan aku masih ingat dia. Aku masih sayang padanya.

Kini dia tak sendiri, dia memiliki tambatan hati. Aku merasa, ini sebuah kenangan buruk. Dulu, dia pergi tanpa pesan. Kini kembali, membawa sebuah kabar duka. Dia memiliki tambatan hati. Apakah aku harus menyalahkan waktu, mempertemukanmu diwaktu yang tidak pernah tepat? Haruskan aku menyalahkan takdir? Tidak. Aku harus mengubur diri, dalam relung duka, dalam relung harapan untuk sebuah kehidupan. Ada atau tidak adanya kamu. Selamat jalan Iros.

01.20 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added