MOST RECENT

Satu Sore di Makam Putroe Neng


ANGIN berhembus pelan, Jumat, 1 Maret 2013. Langit bersih. Tak ada mendung menggulung di langit. Sore itu, Cut Asan, keluar dari rumahnya. Tubuh ringkihnya ditopang tongkat rotan. Berjalan perlahan, menyambutku, Ari, dan Zaki Mubarak. Sejurus kami bicara pelan. Meminta agar penjaga makam Putroe Neng di Desa Blang Pulo, Lhokseumawe itu membuka pintu makam. Lokasi itu persis di lintasan jalan Medan-Banda Aceh.

Lantai menuju makam rusak parah. Cat pagar dan gapura memudar. Sepertinya sudah lama tak dipugar. Sebanyak 11 pinang dan 12 pohon asam mengelilingi makam. Daunnya membuat makam menjadi teduh.

Cut Asan menuturkan, sisi kanan dipenuhi makam said. Salah seorang yang diketahui namanya yaitu Said Mukhtar Siddiq. Sebelah kiri dipenuhi makam para putroe. Bagian depan terdapat beberapa batu nisan biasa. Tanpa ukiran. Disisi kanan makam putroe, sebut Cut Asan terdapat dua makam ulama.

“Lihat nisan dua makam, ini nisan buatan Aceh. Batunya diambil dari gunung. Bandingkan dengan nisan di makam lain. Corak dan ukirannya beda. Khas nisan dari Persia,” sebut Cut Asan.

Sulit menemukan referensi lengkap tentang Putroe Neng. Awalnya, Putroe Neng bernama an Nio Lian Khi dari Cina. Hidup sekitar tahun 1180. Ulama kharismatik dan panglima perang tangguh dari Kerajaan Peureulak, Meurah Johan menaklukan pasukan Putroe Neng di Indra Purba-kini Sibreh, Aceh Besar. Setelah memeluk Islam, Nian Nio Lian Khi berganti nama menjadi Putroe Neng.

Lalu, Putroe menikah dengan Meurah Johan. Tubuh Meurah Johan membiru, menghembuskan nafas terakhir usai menuntaskan tugas sebagai suami di malam pertama. Kecantikan Putroe menyebar dari mulut ke mulut. Kulit putih, mata sipit dan suara merdu membuat para pria bangsawan kala itu berhasrat menikahinya. Ingin membuktikan diri sebagai pria tangguh yang mampu melewati malam pertama dan malam – malam berikutnya bersama sang bidadari cantik.

Sayangnya, seluruh pria yang menikahi Putroe tak mampu mengucapkan melewati malam pertama. Umumnya meninggal sebelum menuntaskan tugas sebagai pria dewasa memanjakan istri dan menuntaskan hasrat malam pengantin.

Menurut cerita, Putroe menikah dengan 100 pria. Pria terakhir Syeih Syiah Hudam yang mampu menuntaskan malam pertama dan malam-malam berikutnya. Syeih pula yang mampu mengeluarkan racun di rahim Putroe. Racun ini diduga sebagai penyebab kematian suami-suami sebelumnya.

Kini, makam Syeih terpaut sekitar 300 meter dari makam Putroe Neng. Berada di perbukitan Desa Blang Pulo. Namun, Cut Asan tidak membenarkan cerita tentang pernikahan Syeih dengan Putroe Neng.

“Tidak benar itu. Syeih itu ulama, gurunya Putroe. Saya belum tahu siapa nama-nama suami Putroe,” terangnya dalam bahasa Aceh fasih.

Menurut Cut Asan, dia mengetahui sejarah tentang Putroe Neng dari mimpi yang datang silih berganti. Misalnya, soal makam Said, Cut Asan menyebutkan itu diketahui dari mimpinya.

“Yang lain saya tak berani cerita. Karena saya tidak tahu,” sambungnya.

Lalu, siapa nama makam yang berada di kiri-kanan Putroe Neng? “Saya tidak tahu. Tidak diberitahu oleh Putroe. Hanya diberitahu bahwa deretan makam dekat Putroe itu semuanya wanita,” terang Cut Asan. Entahlah. Referensi sejarah Putroe Neng tak utuh. Ke depan, kita berharap, setiap tahun pemerintah menerbitkan buku-buku sejarah tentang pahlawan, bangsawan, atau ulama di seluruh kabupaten/kota. Sehingga, anak cucu-cucu nanti bisa mengetahui sejarah generasi sebelumnya.

Pemugaran
Catatan saya, pemugaran makam ini dilakukan dilakukan tahun 1978 oleh Pemkab Aceh Utara. Saat itu, Lhokseumawe masih berstatus kota administratif dan tunduk ke Pemkab Aceh Utara. Lalu, tahun 2004, Pemko Lhokseumawe memugar kembali makam itu, dan terakhir tahun 2007, Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh memugar kembali makam itu. Kini, kondisi makam memprihatinkan. Perlu dipugar segera, agar situs sejarah tak hanya tinggal nama.

Jam terus berputar. Dilangit senja mulai temaram. Memendarkan sinar keemasan. Mentari mengejar waktu menuju peraduan dan berganti bulan menyinari punggung bumi. Aku, Zaki dan Ari pun meninggalkan makam. Membawa pulang setumpuk kenangan tentang Putro. Zaki membawa seratusan file foto untuk ditampilkan pada rubrik menatap Aceh.  (masriadi sambo)

05.53 | Posted in , , , | Read More »

Rencana Dirikan TPA


MELIHAT antusias masyarakat untuk menyerahkan anaknya mengaji di Kompleks Masjid Agung Baiturrahim, Lhoksukon, Aceh Utara, kini pengurus masjid berencana mendirikan Taman Pendidikan Al Quran (TPA).

Saat ini, pengurus masjid sedang menyusun syarat administrasi pendirian TPA tersebut. “TPA itu khusus untuk anak taman kanak-kanan dan murid ibtidaiyah. Jadi, kita buka kelas khusus untuk anak usia dini. Kita ingin, semakin banyak anak yang pandai mengaji pada usia dini,” sebut Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim, Tgk Jamaluddin.

Ditambahkan, pihaknya berharap seluruh masyarakat mendukung pendirian TPA tersebut. Sehingga, ke depan, TPA itu bisa semakin maju dan berkembang di wilayah Lhoksukon dan sekitarnya. (masriadi sambo/serambi)

04.06 | Posted in , | Read More »

Memaknai Maulid Nabi

Oleh : Tgk Muzakkir M Ali

PERINGATAN maulid Nabi Muhammad SAW diperingati secara meriah di seluruh Aceh. Dari kampung, kota kecamatan, hingga ibukota provinsi. Namun,sebagai umat muslim kita perlu mengambil hikmah dari peringatan maulid. Bukan hanya sekadar menggelar khenduri, tapi juga memaknai maulid itu sendiri.

Ada tiga hal, hikmah memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Pertama, meneguhkan kembali kecintaan pada Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadist disebutkan, tidak beriman seseorang, jika cinta kamu kepada orang tua kamu dan kepada anak kamu melebihi cinta kepadaku. Maknanya, jika seseorang mencintai orangtuanya, anaknya dan keluarganya melebihi cintanya pada Rasul, maka orang tersebut belum dikategorikan orang-orang yang beriman.

Kedua, meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasullullah dalam setiap gerak kehidupan. Dalam surat Al Ahzab ayat 21 Allah berfirman “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suriteladan yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan banyak berzikir kepada Allah. Ayat itu menjelaskan bahwa Allah telah menjamin ketauladanan Rasulullah. Untuk itu, sudah seharusnya umat Islam mengikuti rekam jejak yang telah dilakukan Rasul. Berbuat baik, melaksanakan ibadah tepat waktu, menghormati sesama ummat manusia dan lain sebagianya.

Ketiga, melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah. Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rasul meninggalkan pesan pada umat yang dicintainya. Hadist itu diriwayatkan Bukhari dan Muslim berisi Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, apabila kau berpengah teguh pada dua perkara tersebut niscaya kau tidak akan sesat. Dua perkara itu yakni al quran dan hadist.

Peringatan maulid pertama dilakukan Sultan Salahuddin Yusuf Al Ayyubi, ulama besar dari Mesir pada tahun 570 Hijriah. Al Ayyubi mengajak seluruh umat memperingati maulid dengan membaca zikir, salawat secara massal dan mendengarkan ceramah. Tujuannya untuk meningkatkan kecintaan pada Rasulullah. Saat itu, peringatan maulid sebagai momentum membangkitkan semangat umat untuk melawat kaum kafir pada peristiwa Perang Salib. Sehingga, ketika peringatan maulid selesai, umat kala itu berubah ke arah positif. Perilaku yang sebelumnya tidak baik menjadi lebih baik. Terpenting umat bersatu padu melawan kafir pada Perang Salib itu.

Nah, fenomena di daerah kita saat ini sebaliknya. Peringatan maulid hanya dianggap sebagai tradisi adat. Cukup membawa dalong dan rantang besar-besar ke masjid dan meunasah. Namun, dalam benak masyarakat tidak ada yang berubah. Setelah maulid, masyarakat yang tidak shalat tetap tidak shalat, masyarakat yang mengenakan pakaian ketat tanpa jilbab juga tetap begitu.

Seharusnya, setelah maulid, perilaku manusia menjadi lebih baik. Perilaku itu harus merujuk pada perbuatan dan perkataan Rasulullah. Setelah maulid, mari meningkatkan amal ibadah, menjalankan shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Termasuk cara berpakaian, marilah kita mengajak anak-anak kita berpakaian yang muslim dan muslimah. (disarikan dari khutbah yang disampaikan, Jumat 22 Februari 2013)
 
profil khatib
  • Nama : Tgk Muzakkir M Ali
  • Lahir : Desa Reudeub / 10 Desember 1972
  • Alamat : Desa Reudeub, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara
Pekerjaan
  • Pimpinan Dayah Sirajul Huda Lhoksukon
  • Koordinator Dayah dan Balai Pengajian se-Lhoksukon, Aceh Utara
  • Ketua Bidang Dakwah, Tadzkiratul Ummah Lhoksukon

04.03 | Posted in , , | Read More »

Semalam Bersama Muslim Rohingnya


BERSAMA SYAIFUL 
HARI itu, Selasa, 26 Februari 2013 handphone saya menjerit keras. Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Warga yang menelpon itu mengabarkan bahwa sebanyak 127 warga Rohingnya terdampar di perairan Desa Cot Trueng, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara.

Aku, Zaki Mubarak dan Jafaruddin Yusuf masih duduk di kantor malam itu. Kami baru saja berencana pulang ke rumah masing-masing. Lalu, aku, Jafar dan Zaki menelpon beberapa warga dan polisi untuk memastikan bahwa informasi tentang warga Rohingnya itu benar.

Sejurus kemudian, kami berangkat ke lokasi, menggunakan mobil pick up milik Serambi Indonesia. Ismujohan duduk dibalik kemudikan. Mobil meluncur pelan. Kami tiba di lokasi 30 menit kemudian.

Ratusan warga berdesakan di sekitar tempat penampungan sementara warga Rohingnya. Berdesakan ingin melihat wajah-wajah letih, lesu dan kumal. Aku menerobos masuk. Bertemu dengan beberapa polisi, TNI, dan camat di lokasi itu. Satu dari 127 korban perang itu bisa berbahasa melayu dengan baik. Syaiful Alam (25) namanya.

Pria berkulit gelap, berbadan kurus ini pernah menetap enam tahun di Malaysia. Sehingga dia bisa berbahasa Melayu dengan baik. Syaiful menceritakan perahu berukuran 8 x 15 meter mereka tumpangi kehabisan bahan bakar dan terombang-ambing di laut lepas. Mereka berangkat dari Myanmar menuju Thailand 18 hari lalu. Tujuh hari terakhir perbekalan mereka habis. Mereka pun terpaksa menahan lapar, hanya minum air laut.

Penderitaan sebagai warga terbuang dan tak diakui negaranya belum berakhir. Setiba di perairan Thailand, angkatan laut negara tersebut menembaki kapal mereka. 12 orang tewas. Dua diantaranya hingga kini mengalami luka tembak pada bagian kaki dan mata. Praktis kini jumlah mereka hanya 113 orang.

“Empat abang kandung saya tewas di tembak tentara Myanmar,” sebut Syaiful. Matanya tak kuasa menahan bulingan bening menetes. Teman-teman Syaiful tak bisa bahasa Inggris, Melayu atau Cina. Mereka hanya bisa berbahasa. Setiap kali kutanya, hanya ditajawab “Rohingnya muslim.”

Saat berbincang dengan Syaiful. Zaki—fotografer senior—mengabadikan momen itu. Syaiful pun mengungkapkan kepiluannya. Tak mungkin bertahan di negeri yang dilanda perang berkepanjangan.

Sejak tahun 2011 lalu sampai kini sudah beberapa kali gelombang “manusia perahu” ini singgah ke Aceh. Mereka pernah terdampar di Sabang, Aceh Utara, dan Aceh Besar.

“Saya membawa tiga anak laki-laki. Saya ingin menetap di Malaysia. Di sana lebih aman, dan bisa mencari rezeki,” sebut Syaiful.

Tidak banyak yang bisa kutanyakan pada Syaiful. Mereka harus segera makan dan mendapatkan obat dari petugas medis. Pakaian kumal diganti dengan pakaian layak pakai sumbangan warga setempat.

Puluhan ibu-ibu sibuk memasak ikan, nasi dan sayuran seadanya. Semuanya dihidangkan buat tamu sesama muslim.

Sayang teuh takaleun awaknya. Haroh tabantu. Nyoe engkot sedekah lon. (Sayang melihat mereka. Harus kita bantu. Ini ikan sedekah saya),” sebut seorang warga sambil menurunkan ikan tongkol seberat 50 kilogram.

Bantuan warga lainnya pun berdatangan. Ada yang memberikan roti, kue basah, kopi, dan makanan lainnya. Malam merambat pelan menuju pagi. Sekitar pukul 23.00 WIB, kami pulang ke kantor. Menuliskan liputan itu untuk pembaca esok pagi.

Syaiful dan rekan-rekannya mungkin tertidur lelap. Melepas penat. Menjemput impian ke tanah harapan. Ingin hidup, melanjutkan keturunan di negeri beradab. Entah negeri mana yang akan menerima mereka. Entahlah? (masriadi sambo)


03.54 | Posted in , | Read More »

Belajar dari Buku Ainun & Habibie


“Terima kasih Allah, ENGKAU telah lahirkan Saya untuk Ainun dan Ainun untuk Saya. Terima kasih Allah, Engkau sudah mempertemukan Saya dengan Ainun dan Ainun dengan Saya....."

Kalimat itu ditulis Mantan Presiden RI, Habibie dalam bukunya Ainun & Habibie. Saya membaca buku itu sekitar enam bulan lalu. Awalnya, iseng saya membeli buku ini di salah satu toko buku di Lhokseumawe. Saya tidak pernah berpikir, bahwa Mantan Menteri Negera Riset dan Teknologi 1978-Maret 1998 itu mampu menulis sebagus itu dan seindah itu. Tentu editor berperan mempermak naskah itu menjadi sangat Indah.

Saya sempat berpikir, Habibie yang sepanjang hidupnya sibuk dibidang teknologi rekayasa pesawat terbang tidak bisa menulis sastra. Menulis kisah hidupnya secara mengalir. Lengkap dengan tanggal dan tahun kejadian rangkaian peristiwa itu. Jarang-jarang saya membaca buku lengkap dengan tanggal dan tahun kejadian. Umumnya, buku biografi hanya memuat tahun kejadian. Namun, dalam buku itu, Habibie lebih detail mengungkapkan tanggalnya.

Habibie juga jujur mengungkapkan bahwa dia pernah melewati masa-masa sulit selama berada Aahen, Jerman. Lalu, perlahan namun pasti, dia terus belajar, gigih berusaha dan membuka jaringan dengan perusahaan Jerman, maka Habibie pun menjadi tokoh penting dalam industri pesawat terbang di Jerman, Indonesia, dan dunia.

Pria yang lahir di Parepara, Sulawesi Selatan itu menunjukkan sisi manusiawi seorang ilmuan. Sisi romantis seorang mantan pejabat negara, pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Romantis, manusiawi. Habibie menunjukkan perhatian penuh terhadap istri dan anaknya. Sesibuk apa pun, Habibie tetap berkomunikasi dengan Almh Ainun melalui telepon atau handphone.

Setelah tiga tahun, Almh Ainun tidak berada disisinya, toh Habibie masih menjadi bapak bangsa. Mantan Wakil Presiden 4 Maret 1998-21 Mei 1998 ini kini menghabiskan waktunya dengan menulis. Bahkan, Habibie memilih menulis buku untuk mengatasi kerinduannya terhadap sang istri. Menghilangkan trauma kehilangan orang yang dicintainya lewat tulisan-tulisannya. Kini, kita sadar, menulis itu menyehatkan.

Selain itu, poin penting dari buku Habibie, bahwa cinta perlu dijaga, dipupuk, dan disiram. Bahwa cinta juga butuh perawatan. Seperti tanaman butuh perawatan, air, dan pupuk. Cinta, perlu dijaga. Agar utuh, awet dan bertahan hingga nafas tak berhembus. Kita beruntung memperlajari makna cinta dari seorang bapak bangsa dan ahli teknologi rekayasa pesawat terbang. 

04.42 | Posted in , , | Read More »

Juara Olimpiade yang Gemar Baca Komik


YUWAN Anmadet Oktario mengenakan kemeja lengan panjang ketika berbincang engan Serambi, Minggu (13/1). Dia termasuk pelajar berprestasi di SMPS Iskandar Muda yang beralokasi di Kompleks PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM), Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

Anak pertama dari pasangan Ruswandi dan Sri Wahyuni ini meraih juara dua olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang studi IPS tingkat Kabupaten Aceh Utara tahun 2012. Yuwan—panggilanakran—Yuwan Anmadet Oktario mengikuti lomba sejenis tingkat Provinsi Aceh. Namun, dia gagal meraih juara pada even tersebut.

Yuwan juga berhasil meraih juara pertama olimpiade global house tingkat SMPS Iskandar Muda tahun 2011. Di bidang agama, Yuwan meraih juara dua lomba hapal ayat pendek tingkat Kecamatan Dewantara, tahun 2009.

Pelajar kelas tiga SMP tersebut, kini mengikuti les tambahan untuk persiapan ujian nasional yang berlangsung April mendatang. Usai pulang sekolah, pelajar yang gemar membaca komik ini mengaji di Balai Pengajian Raudatul Raihan Krueng Geukueh, Aceh Utara. “Saat ini, saya fokus untuk belajar tambahan juga. Saya ingin melanjutkan pendidikan di SMA Modal Banda Aceh,” ujar Yuwan sambil tersenyum.

Yuwan juga mengikuti latihan rutin tim basket SMPS Iskandar Muda. Selain itu, dua kali dalam sepekan, Yuwan mengikuti kursus alat musik drum. “Saya hobi menggebuk drum,” ujar Yuwan.  Lalu, apa cita-cita Yuwan? “Saya ingin menjadi pengusaha sukses. Membuka lapangan kerja pada masyarakat. Semoga ke depan, cita-cita ini bisa tercapai,” pungkas Yuwan sambil tersenyum. 
* masriadi sambo

data diri?

-    Nama: Yuwan Anmadet Oktario
-    Lahir: Lhokseumawe, 1 0ktober 1998
-    Orang tua: Ruswandi dan Sri Wahyuni
-    Alamat: Simpang Empat, Krueng Geukueh, Aceh Utara
-    Prestasi: Juara II Olimpiade Sains Nasional (OSN) pelajaran IPS,Aceh Utara tahun 2012, juara I olimpiade global house SMPS Iskandar Muda (2011), dan Juara II hapal ayat pendek tingkat Kecamatan Dewantara (2009)

Editor : hasyim/serambi

01.50 | Posted in , | Read More »

Wajibkan Pelajar Hapal Kosa Kata Bahasa Inggris


AGUS Mila Susanti termasuk guru berprestasi di SMPS Iskandar Muda yang berada di Kompleks PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) di Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Istri dari Arroni Walecsha itu meraih juara tiga pembimbing story telling (bercerita dalam bahasa Inggris) tingkat Provinsi Aceh tahun 2011. Lalu, pada tahun 2010 dia meraih terbaik pertama pembimbing story telling tingkat Aceh Utara.

Sejak tahun lalu, lulusan Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh tahun 2008 ini juga menjabat kepala urusan kesiswaan di sekolah tersebut. Wanita yang sering mengenakan jilbab besar ini mulai mengajar di sekolah itu sejak tahun 2009 dan mengasuh pelajaran bahasa Inggris.

“Untuk memudahkan pelajar memehami bahasa Inggris saya memberikan game (permainan) yang sesuai dengan tema pelajaran. Sehingga, mereka menyukai bahasa Inggris dan faham materi pelajaran yang saya sampaikan,” ujar Santi--panggilan akrab Agus Mila Susanti--kepada Serambi, kemarin.

Selain itu, sebut Santi, dirinya juga mewajibkan pelajar untuk menghapal kosa kata dalam bahasa Inggris. “Sehingga dengan memiliki perbendaharaan kata bahasa Inggris yang banyak, mereka akan mudah memahami bahasa Inggris. Satu lagi catatan dalam belajar bahasa Inggris, jangan takut salah berkomunikasi,” ujarnya.

Santi berharap semua pelajar di sekolah itu bisa meraih prestasi tingkat kabupaten maupun Provinsi Aceh. “Jika pelajar berprestasi itu merupakan kebanggan bagi kami semua guru SMP ini. Saya bercita-cita melanjutkan pendidikan magister dalam waktu dekat. Semoga cita-cita itu terkabul,” harap Santi. 
 * masriadi sambo
 
siapa santi?

- Nama: Agus Mila Susanti SPd
- Lahir: Samalanga, 15 Agustus 1986
- Suami: Arroni Walecsha
- Alamat: Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara
- Prestasi: Juara III pembimbing story telling se-Aceh tahun 2011, juara I pembimbing stroy telling se-Aceh Utara (2010), Kepala Urusan Kesiswaan SMPS Iskandar Muda (2012)

Editor : hasyim/serambi

01.45 | Posted in , | Read More »

Belajar Tambahan untuk Tingkatkan Mutu Lulusan



SEJUMLAH pelajar terlihat serius membaca di ruang perpustakaan SMPS Iskandar Muda yang berada di Kompleks PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, kemarin. Sebagian membaca buku-buku pelajaran dan sebagian lagi terlihat membaca kliping surat kabar.

Sekolah itu didirikan tahun 1982 dikelola Yayasan Kesejahteraan Karyawan (YKK) PT PIM. Namun proses belajar mengajar baru dimulai tahun 1988. Sekarang, sekolah itu memiliki 210 pelajar dan 30 guru. Sejak tahun 2008, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meresmikan sekolah tersebut sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN) dengan akreditasi A.

Untuk mendung proses belajar mengajar, sekolah itu dilengkapi laboratorium IPA, multimedia, komputer, dan perpustakaan yang memiliki 600 judul buku. “Setiap Kamis pagi, kami menggelar senam jantung sehat. Sedangkan setiap Jumat pagi, di halaman sekolah kami menggelar zikir dan membaca Yaasin bersama,” sebut Kepala SMPS Iskandar Muda, Husaini Ali.

Meski berstatus sekolah milik perusahaan, menurutnya, pelajar di sekolah tersebut berasal dari Kecamatan Dewantara, Banda Baro dan Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Setiap semester, lanjut Husaini, pihaknya mengundang pakar dari berbagai perguruan tinggi di Aceh untuk melatih guru di sekolah tersebut. 

“Pakar yang diundang disesuaikan dengan mata pelajaran tertentu. Harapan kami, pelatihan buat guru ini bisa meningkatkan kualitas guru dan lulusan. Selama ini, pelajar kami lulus seratus persen saat ujian nasional,” ujar Husaini.

Disebutkan, khusus pelajar kelas tiga diwajibkan belajar tambahan pada sore hari di sekolah tersebut. “Harapan kami, mereka bisa lulus seratus persen saat ujian nasional April mendatang,” pungkas Husaini Ali. * masriadi sambo

Editor : bakri/serambi



01.42 | Posted in , | Read More »

Nominator Lomba


BARUSAN, seorang panitia lomba blog untuk menyambut Visit Aceh Years 2013 menelpon saya. Dia mengatakan, blog saya www.dimas-sambo.blogspot.com menjadi salah satu nominator dalam lomba itu. “Penyerahan hadiah malam ini di RRI Banda Aceh,” katanya

Syukur blog ini menjadi salah satu nominator lomba tersebut. Disebutkan, masuk dalam juara harapan. Seumur-umur baru kali ini masuk nominator lomba blog. Saya mulai membuat blog tahun 2005 lalu. Pernah membuat blog di multifly. Saya lupas password blog itu. Lalu buat blog di blogspot (www.dimassambo.blogspot.com). Dalam blog ini semua tulisan saya tersimpan, dari jenis berita, feature, sampai opini. Bahkan beberapa cerpen dan tulisan untuk orang-orang yang spesial saya tulis diblog itu.

Lalu, saya buat blog baru www.dimas-sambo.blogspot.com . Saya tak faham banyak cara mengedit blog agar indah dan lebih kreatif. Sebisanya saja. Tujuannya buat blog untuk menjadi arsip saya. Semua tulisan yang pernah dimuat di media atau pun belum di up load ke blog itu.

Kini, saya mengelola dua blog. Tidak terlalu up date. Hanya sekali dalam sepekan saya mengupdate kedua blog itu. Khusus untuk mengambil hadiah sebagai nominator kategori blog saya minta Arafat Nur mewakili. Saya tak bisa ke Banda Aceh. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Thanks Allah SWT. 

01.39 | Posted in , | Read More »

Kebiasan Buruk

SETIAP kali mau menulis sastra (cerpen,cerbung,dan novel) selalu dikerjakan sembari mengerjakan tulisan jenis. Ketika ide sedang mengalir deras di otak, tangan sedang gencar menggempur keyboard, terpaksa berhenti dan harus mengerjakan tulisan jenis lain.

Sangat susah mengembalikan ide yang hilang itu ke pakem awalnya. Saya harus mengingat-ingat kembali tadi ide awalnya bagaimana, konfliknya apa, lalu endingnya bagaimana. Ah, ini kebiasaan yang buruk.

Kondisi ini jauh lebih baik dibanding dua tahun lalu. Tahun 2010-2012 saya praktis tak menulis sastra. Waktu terlalu sempit. Terkesan sok sibuk sehingga tak punya waktu menulis. Kini, mulai menulis sastra lagi. Sesekali jika selesai mengirimkannya ke beberapa media. Jika dibuat syukur, jika tidak, perbaiki lagi, lalu kirim lagi.

Seorang teman bilang, jangan ada naskah yang sia-sia. Semuanya harus bisa dinikmati oleh pembaca. Aku sepakat dengan pendapat ini. Terlepas penilaian baik atau buruk naskah itu. Terpenting, pembaca bisa menikmati tulisan tersebut.

Apa pun komentar pembaca terhadap tulisanmu, itu hak mereka. Bisa jadi mereka tertawa bahagia, bisa pula mengutuk plus mengeluarkan sumpah serapah. Menganggap karyamu basi, kacangan dan tak professional. Itu hak mereka. Tak usah mengeluarkan air mata, lalu berkicau di jejaring sosial tentang kesedihan dan menumpahkan kata-kata galau di layar jejaring sosial. Nikmati saja proses kreatif ini.

Toh, orang yang mengutuk karyamu itu belum tentu bisa menulis seindah kamu.Sama seperti penonton sepak bola, selalu memaki pemain jika salah umpan dan lain sebagainya. Coba sipenonton itu main bola. Lima menit main, nafasnya tersengal-sengal. Syukur jika masih punya nafas.

Ya, sekarang saya coba memperbaiki kebiasaan buruk ini. Punya niat untuk menulis setelah pulang kerja di rumah. Namun, tayangan sejumlah film action (laga dan perang) selalu menggoda. Ketika sampai rumah, agenda hanya nonton film action.  Ya, satu waktu, semoga memiliki waktu yang tenang buat menulis sastra. Entah kapan waktu itu tiba?




03.46 | Posted in , | Read More »

Selamat Jalan Bang Basri

PAGI ini, saya menerima pesan singkat dari seorang teman. Isinya menceritakan bahwa seorang jurnalis senior, Basri Daham (67) telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya, Minggu, 11 November 2012 di Desa Blang Paseh, Pidie.

Bang Basri—begitu biasanya dia dipanggil—merupakan perintis lahirnya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Utara 1995 silam, dan lahirnya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhokseumawe, 1999 silam.

Beliau meninggal di rumahnya setelah sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Sigli. Selama lima bulan terakhir, kondisi kesehatannya memburuk. Beberapa kali sempat keluar-masuk rumah sakit.

Selama hidupnya, dia pernah bekerja di Harian Merdeka Jakarta, Sinar Indonesia Baru, Medan dan terakhir menghabiskan karir di Serambi Indonesia, Aceh. Dia guru sekaligus jurnalis handal yang pernah dimiliki Provinsi Aceh.

Secara pribadi, saya tidak begitu mengenal beliau. Saya hanya akrab dengan putranya, Zaki Mubarak yang kini menjadi fotografer Serambi Indonesia. Saya banyak mendengar soal ketugan prinsip Bang Basri dalam dunia jurnalistik. Suaranya keras, tegas, dan to the poin. Begitu kira-kira yang saya dengar dari beberapa teman jurnalis senior di kota ini.

Ketika AJI Lhokseumawe hendak mendirikan sekolah jurnalistik. Ada beberapa nama yang diusulkan untuk menjadi nama sekolah itu. Lalu, ada Acta Diurna, Basri Daham dan lain sebagainya. Salah salah seorang yang mendukung nama Bang Basri dijadikan nama sekolah tersebut. Ini untuk menghormati dan menghargai jasa Bang Basri yang mendirikan AJI di Lhokseumawe. Sekadar diketahui, AJI Lhokseumawe merupakan AJI pertama yang lahir di Aceh. Bang Basri pemegang mandat pertama untuk melahirkan AJI di Aceh.

AJI Lhokseumawe juga sempat memberikan penghargaan pada Bang Basri beberapa waktu lalu. Penghargaan itu diberikan sekaligus pertunjukan seni yang digelar di GOR Unimal, Lhokseumawe.

Kini, Bang Basri telah tiada. Semangatnya perlu ditiru. Semangat menjadi jurnalis yang handal dan professional. Selamat jalan Bang Basri, kami selalu merindukanmu.  (masriadi sambo)

03.47 | Posted in , | Read More »

Anak Petani Miskin Ini Menderita Bocor Jantung



LHOKSUKON - Di usianya yang baru 12 tahun, Zulkhairi (12) telah mendapatkan cobaan dari Allah. Anak petani miskin, wara Desa Alue Rimee, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara ini, mengalami bocor jantung dan ginjal. 


Saat dikunjungi Serambi, Sabtu (27/10), anak ketiga dari pasangan Ibrahim dan Maenah itu kini terbaring lemas di rumahnya. Perutnya terlihat membesar. Ibrahim mengatakan, semakin hari, perut anaknya semakin besar. Dia sulit bergerak. Jika ingin duduk harus dibantu oleh orang lain. Bahkan, dia sulit bernafas. 



“Sebulan lalu, kami sudah membawa ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara di Lhokseumawe. Namun, dokter menyatakan harus dirawat secara intensif di rumah sakit Medan atau Jakarta. Sehingga, kami putuskan untuk membawa Zulkhairi pulang ke rumah,” sebut Ibrahim.
Ditambahkan, pihaknya tak bisa membawa anaknya tersebut ke rumah sakit di Medan atau Jakarta karena mengalami kesulitan dana. Orangtua Zulkhairi hanya petani biasa, dan tak memiliki dana mencukupi membawa anaknya berobat. 


“Kalau pengobatan mungkin bisa menggunakan layanan Jamkesmas. Namun, untuk biaya transportasi dan biaya jaga selama rumah sakit serta obat-obat yang tidak ditanggung di Jamkesmas kami tak memiliki dana. Kami berharap ada dermawan yang membantu pengobatan anak saya,” pungkas Ibrahim.(c46)

Editor : bakri
SUMBER : SERAMBINEWS.COM

03.13 | Posted in , | Read More »

Sehari di Kutacane (2)

HARI ini, saya berada di depan halaman SDN 2 Bambel, Aceh Tenggara. Dulu, sekitar 22 tahun lalu, saya menimba ilmu di sekolah itu. Saya sempat menghabiskan waktu setahun di sana. Ketika naik kelas dua, saya pindah ke SDN Blang Siren, Aceh Utara. Mengikuti orang tua yang pindah tempat tinggal.

Sewaktu berada di SDN 2 Bambel, sekolah ini masih lusuh. Ada sepuluh ruangan. Namun, yang difungsikan hanya tujuh. Enam ruang kelas, plus satu ruang guru. Sedangkan tiga ruang dibelakang, tidak difungsikan. Karena, tak layak ditempati. Saya ingat betul, waktu itu ayah saya (Zainal Abidin Sambo) mendaftarkan saya ke sekolah itu, ya ruang penerimaan murid baru persis di ruang yang tak layak pakai itu. Dinding papan, cat putih kusam, dan atap bocor. Namun, saat itu, SDN 2 Bambel menjadi favorit banyak murid. Dikenal sebagai sekolah yang aktif, dan jarang tawuran. Zaman itu, tawuran bukan hanya tradisi pelajar dan siswa. Murid pun kerap tawuran. Teman-teman saya di SDN 2 Bambel waktu itu, Jhoni, Ahmad Mistiadi, Gunawan, dan beberapa teman yang saya tidak ingat namanya.

Hari ini, sekolah itu baru selesai dibangun. Masih tercium bau cat, dan bekas semen berserakan. Halaman sekolah gundul. Tak ada pohon waru, tempat kami berteduh dulu. Kini, sekolah itu gersang.

Saya tidak bisa menemui guru kelas saya dulu. Namanya Bu Nur. Menurut guru yang kini menempati mes di sekolah itu, Bu Nur sudah lama pensiun. Tak diketahui dimana dia menetap saat ini. Saya ingin berterima kasih, karena beliaulah orang yang pertama mengajarkan saya menghitung.

SMK
Saya juga mengunjungi SMKN 1 Kutacane. Dulu, saya menamatkan pendidikan menengah di SMK ini. Jurusan Akutansi 2. Pada zamannya, Akutansi 2 dikenal sebagai siswa bandel. Tapi, cerdas. Umumnya, ketua OSIS berasal dari kelas ini. Termasuk aku salah satunya.

Kini, sekolah itu semakin canggih. Ruang kelas sudah beton. Tak ada lagi ruang kelas dengan jendela dan pintu terbuka selebar-lebarnya, khas bangunan tahun 70-an. Kini, gedungnya minimalis. Gapura minimalis. Bahkan sekolah itu kini berstatus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Semoga, ke depan sekolah itu semakin maju. Melahirkan akuntan handal, ahli manajemen, dan sektretaris yang mumpuni. Kabarnya, jurusan sudah bertambah satu yaitu jurusan teknologi informasi komputer. Hebat. Teman saya di SMK ini banyak, beberapa saya masih ingat namanya, Viska Novita Jagia, Dedy Y Darmen Mentedak,Almarhum Chandar Gunawan, Riko Rau Andika, Sri Helena, Sri Kartika, Sri Wahyuni, Mardiana, Eka Pratiwi Marsyah, Pesta, Berta, Erlin, Maradona, Mulyani Mumul, Umi, Masriadi Selian, Ola Mutia, Hendrik, Mulyadi, Nasri, Roni, Taufik (ini teman di Akuntansi 2).

Teman lainnya di Akutansi 1, Novita, Amiruddin, Robi, Basri, Maruli, Minge, Hefni, dan lainnya. Beberapa diantaranya masih sering komunikasi sekarang. Umumnya, sulit mencari waktu untuk bertemu. Sebagian diantara mereka berada di luar kota Kutacane, sebagian lagi menetap di Kutacane. Ada yang menjadi pengusaha, guru, karyawan swasta, pegawai negeri, TNI, dan lain sebagainya.

Kutacane, 21 Oktober 2012
==masriadi sambo==

04.08 | Posted in , | Read More »

Sehari di Kutacane (1)

PERJALANAN menuju Kutacane, Aceh Tenggara, memang sangat melelahkan, Sabtu, 20 Oktober 2012. Perjalanan kali ini, saya mengemban misi membawa Ayah yang baru saja keluar dari Rumah Sakit Adam Malik, Medan, Sumatera Utara. Ayah saya, ditabrak oleh seorang remaja sebulan lalu. Dia harus menjalani dua operasi pada kaki dan tangan kiri. Perjalanan menuju Kutacane, saya ditemani oleh dua abang saya, Samsul Amar, dan Muhammad Hatta. Sangat melelahkan. Kami menempuh rute dari Medan menuju Sibolangit, Brastagi, Kabanjahe, Tiga Binaga, dan Kutacane.

Sepanjang jalan, petani bunga dan buah berada disisi kiri-kanan jalan. Bunga warna merah, kuning, putih ditata api. Sebagian petani sedang memanen bunga, dan sebagian lainnya sedang memanen buah jeruk. Di Kecamatan Munthe, Kabupaten Tanah Karo, saya singgah untuk merasakan sejuknya aroma kota itu. Sembari menikmati jeruk rasa asam-manis. Sebagian asam, dan sebagian manis.

Menyempatkan diri foto di kota yang didominasi penduduk beragama Kristen ini. Sembari menikmati jeruk, kami berfoto membelakangi gunung menjulang. Jalan berliku, berkelok-kelok dan rusak parah sangat sulit dilalu. Jalan berkelok bisa mengocok isi perut. Sebagian dari kami muntah, tak tahan dengan kocokan alam tersebut. Jalan itu dibangun oleh nenek moyang kita, dibawah tekanan Belanda. Sampai saat ini, belum ada jalan yang lebih bagus dibanding jalan yang dibuat pada masa Belanda tersebut.

Idealnya Medan-Kutacane ditempuh enam jam. Namun, karena kondisi jalan rusak parah, kami terpaksa menempuhnya delapan jam. Tiba di Kutacane sekitar pukul 16.00 WIB.

Ikan Mas
Kota ini dikenal sebagai penghasil ikan mas. Kami pun menikmati ikan mas, dari kepala, bodi, dan ekor ikan. Ada yang dilemak, ada pula yang digoreng. Rasanya gurih, dan nikmat sekali.

Jika dijual di warung makan,sepotong ikan mas goreng atau lemak dijual Rp 10.000. Harga yang terbilang mahal. Namun, mahal itu sebanding dengan gurihnya ikan tersebut. Tahun 2007, saya pernah mengunjungi kota itu. Kini, perlahan kota mulai berubah. Misalnya, jalan dua jalur, dari Biak Moli sampai pusat kota.

Jalan ini sepertinya untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas. Dulu, jalan dalam kota hanya satu jalur. Akibatnya, kecelakaan terjadi saban hari. Kini, mulai membaik.

Kuda
Saya sempat mengunjungi Sungai Alas. Sungai terpanjang yang dimiliki Provinsi Aceh. Sungai ini banyak digunakan sebagai ajang arung jeram. Aliran sungai sangat deras dan jernih. Sembari menikmati aliran sungai. Sekitar delapan remaja menunggangi kuda. Mereka bermain, dan tertawa ria. Luar biasa. Kota ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Sayangnya, kuda tersebut belum menjadi ikon tujuan wisata di kota itu.

Tak Ada Souvenir
Saya mencoba mencari souvenior khas kota tersebut. Be\berapa toko kami kunjungi. Sayangnya, tak ada toko yang menjual souvenir khas Aceh Tenggara. Souvenir yang ditawarkan umumnya berasal dari Aceh Utara, seperti tas Aceh, baju kaos dengan tulisan Aceh dan lain sebagainya. Sementara khas Kutacane nihil. Kota ini belum siap menjadi kota wisata.

Pemerintah Aceh Tenggara sudah sepatutnya memanfaatkan kekayaan alam menjadi tujuan wisata. Sehingga,PAD tak hanya berasal dari sektor pertanian, namun juga dari sektor wisata. Kita tunggu, gebrakan bupati baru kabupaten itu, Hasanuddin Beruh (Sanu).
masriadi sambo—

02.50 | Posted in , | Read More »

Sekolah Akreditasi B

SEJUMLAH siswa sedang berada di laboratorium komputer SMAN 1 Matangkuli, di Desa Blang, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, Sabtu (5/5). Mereka belajar aplikasi microsoft word. Siswa lainnya terlihat sibuk belajar di ruang kelas masing-masing.

Sekolah itu didirikan tahun 1985 silam. Saat itu masih berstatus swasta. Baru pada tahun 1989 sekolah itu dinegerikan. Secara perlahan, sekolah terus berbenah meningkatkan kuwalitas lulusan agar tidak kalah bersaing dengan sekolah di pusat kota seperti Lhokseumawe. Untuk meningkatkan kuwalitas,  sekolah itu pernah menjadi sekolah binaan Sampoerna Fondation Jakarta 2006 sampai April 2011. Sampoerna memberikan pelatihan untuk guru, kepala sekolah pustakawan dan siswa di sekolah tersebut. Bahkan, pada tahun 2010 lalu, sekolah tersebutr mendapatkan bantuan dari Kementrian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan RI untuk program rintisan sekolah mandiri. Hasilnya, sekolah itu kini mengantongi akreditasi dengan nilai B.
SUASANA belajar di laboratorium SMAN 1 Matangkuli


“Sampoerna mendampingi para guru agar menguasai metode pembelajaran yang menarik dan mudah difahami siswa. Begitu juga mengajarkan agar pustakawan sekolah mampu mengatur buku yang baik dan mudah dicari siswa,” sebut Kepala SMAN 1 Matangkuli, Hasbi SPd kepada Serambi.

Ditambahkan, sebagai fasilitas pendukung sekolah tersebut memiliki laboratorium fisika, kimia dan komputer. Sekolah itu menjadi favorit untuk Kecamatan Matangkuli, Pirak Timu, dan Kecamatan Paya Bakong. Saat ini, sekolah tersebut memiliki siswa sebanyak 710 orang dan guru PNS sebanyak 30 orang ditambah guru honorer 16 orang.

“Kami terus berusaha semampu kami agar kuwalitas lulusan SMA ini tidak kalah dengan kuwalitas lulusan sekolah di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Caranya, kami memberikan jam pelajaran tambahan khusus bagi anak yang lambat memahami pelajar selama tiga hari dalam sepekan. Ini komitmen kami untuk meningkatkan kuwalitas mereka,”ujar Hasbi. Dia berharap seluruh kalangan di kecamatan itu mendukung dan membantu manajemen sekolah untuk kemajuan dunia pendidikan di kawasan barat Aceh Utara itu. (masriadi sambo)

profile sekolah
Nama : SMAN 1 Matangkuli
Alamat : Desa Blang, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara
Berdiri : 1985
Guru : 30 orang PNS, 16 orang Honorer
Siswa : 710 orang
Akreditasi : B
Fasilitas : Laboratorium komputer, fisika,kimia dan perpustakaan
Kepala sekolah : Hasbi, SPd

01.23 | Posted in , | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added