MOST RECENT

Satu Sore di Makam Putroe Neng


ANGIN berhembus pelan, Jumat, 1 Maret 2013. Langit bersih. Tak ada mendung menggulung di langit. Sore itu, Cut Asan, keluar dari rumahnya. Tubuh ringkihnya ditopang tongkat rotan. Berjalan perlahan, menyambutku, Ari, dan Zaki Mubarak. Sejurus kami bicara pelan. Meminta agar penjaga makam Putroe Neng di Desa Blang Pulo, Lhokseumawe itu membuka pintu makam. Lokasi itu persis di lintasan jalan Medan-Banda Aceh.

Lantai menuju makam rusak parah. Cat pagar dan gapura memudar. Sepertinya sudah lama tak dipugar. Sebanyak 11 pinang dan 12 pohon asam mengelilingi makam. Daunnya membuat makam menjadi teduh.

Cut Asan menuturkan, sisi kanan dipenuhi makam said. Salah seorang yang diketahui namanya yaitu Said Mukhtar Siddiq. Sebelah kiri dipenuhi makam para putroe. Bagian depan terdapat beberapa batu nisan biasa. Tanpa ukiran. Disisi kanan makam putroe, sebut Cut Asan terdapat dua makam ulama.

“Lihat nisan dua makam, ini nisan buatan Aceh. Batunya diambil dari gunung. Bandingkan dengan nisan di makam lain. Corak dan ukirannya beda. Khas nisan dari Persia,” sebut Cut Asan.

Sulit menemukan referensi lengkap tentang Putroe Neng. Awalnya, Putroe Neng bernama an Nio Lian Khi dari Cina. Hidup sekitar tahun 1180. Ulama kharismatik dan panglima perang tangguh dari Kerajaan Peureulak, Meurah Johan menaklukan pasukan Putroe Neng di Indra Purba-kini Sibreh, Aceh Besar. Setelah memeluk Islam, Nian Nio Lian Khi berganti nama menjadi Putroe Neng.

Lalu, Putroe menikah dengan Meurah Johan. Tubuh Meurah Johan membiru, menghembuskan nafas terakhir usai menuntaskan tugas sebagai suami di malam pertama. Kecantikan Putroe menyebar dari mulut ke mulut. Kulit putih, mata sipit dan suara merdu membuat para pria bangsawan kala itu berhasrat menikahinya. Ingin membuktikan diri sebagai pria tangguh yang mampu melewati malam pertama dan malam – malam berikutnya bersama sang bidadari cantik.

Sayangnya, seluruh pria yang menikahi Putroe tak mampu mengucapkan melewati malam pertama. Umumnya meninggal sebelum menuntaskan tugas sebagai pria dewasa memanjakan istri dan menuntaskan hasrat malam pengantin.

Menurut cerita, Putroe menikah dengan 100 pria. Pria terakhir Syeih Syiah Hudam yang mampu menuntaskan malam pertama dan malam-malam berikutnya. Syeih pula yang mampu mengeluarkan racun di rahim Putroe. Racun ini diduga sebagai penyebab kematian suami-suami sebelumnya.

Kini, makam Syeih terpaut sekitar 300 meter dari makam Putroe Neng. Berada di perbukitan Desa Blang Pulo. Namun, Cut Asan tidak membenarkan cerita tentang pernikahan Syeih dengan Putroe Neng.

“Tidak benar itu. Syeih itu ulama, gurunya Putroe. Saya belum tahu siapa nama-nama suami Putroe,” terangnya dalam bahasa Aceh fasih.

Menurut Cut Asan, dia mengetahui sejarah tentang Putroe Neng dari mimpi yang datang silih berganti. Misalnya, soal makam Said, Cut Asan menyebutkan itu diketahui dari mimpinya.

“Yang lain saya tak berani cerita. Karena saya tidak tahu,” sambungnya.

Lalu, siapa nama makam yang berada di kiri-kanan Putroe Neng? “Saya tidak tahu. Tidak diberitahu oleh Putroe. Hanya diberitahu bahwa deretan makam dekat Putroe itu semuanya wanita,” terang Cut Asan. Entahlah. Referensi sejarah Putroe Neng tak utuh. Ke depan, kita berharap, setiap tahun pemerintah menerbitkan buku-buku sejarah tentang pahlawan, bangsawan, atau ulama di seluruh kabupaten/kota. Sehingga, anak cucu-cucu nanti bisa mengetahui sejarah generasi sebelumnya.

Pemugaran
Catatan saya, pemugaran makam ini dilakukan dilakukan tahun 1978 oleh Pemkab Aceh Utara. Saat itu, Lhokseumawe masih berstatus kota administratif dan tunduk ke Pemkab Aceh Utara. Lalu, tahun 2004, Pemko Lhokseumawe memugar kembali makam itu, dan terakhir tahun 2007, Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh memugar kembali makam itu. Kini, kondisi makam memprihatinkan. Perlu dipugar segera, agar situs sejarah tak hanya tinggal nama.

Jam terus berputar. Dilangit senja mulai temaram. Memendarkan sinar keemasan. Mentari mengejar waktu menuju peraduan dan berganti bulan menyinari punggung bumi. Aku, Zaki dan Ari pun meninggalkan makam. Membawa pulang setumpuk kenangan tentang Putro. Zaki membawa seratusan file foto untuk ditampilkan pada rubrik menatap Aceh.  (masriadi sambo)

05.53 | Posted in , , , | Read More »

Dari Bangunan Kayu Hingga Kubah Biru


PEMBANGUNAN Masjid Baiturrahim Lhoksukon, Aceh Utara dimulai 1972 dan rampung tahun 1980. Pembangunan masjid ini dipimpin Tgk H Ibrahim Bin H Ya’qub dan didukung ulama setempat Abu Sulaiman (Abu di  Dayah), Tgk Abu Basyah, Tgk Ismail Aziz, Tgk Kasem Usman, Tgk Thaeb Usman, Tgk Ismail Bin Dayah. Lokasi pembangunan masjid merupakan tukar guling sekolah rakyat (kini SDN 3 Lhoksukon). Lokasi tersebut dipilih karena berada di pinggir jalan Medan-Banda Aceh dan terpaut 200 meter dari pasar Lhoksukon.

Awalnya, luas masjid ini hanya 8.900 meter persegi, bangunan masjid berkontruksi kayu, dengan satu kubah tunggal. Lalu, pada tahun 2004, paska pemindahan ibukota Aceh Utara dari Lhokseumawe ke Lhoksukon, pengurus masjid sepakat merenovasi masjid berkubah biru itu.

Dana renovasi masjid menggunakan APBK Aceh Utara dan sumbangan masyarakat. Arsitektur masjid meniru gaya masjid-masjid di Timur Tengah, dengan enam tiang raksasa yang menopang kubah induk dan dikelilingi empat buah kubah kecil plus empat menara yang  mengelilingi kubah induk.

Pada tahun 2007, Pemkab Aceh Utara meresmikan masjid tersebut menjadi Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon. Kini, bangunan masjid telah rampung. Bagian dalam masjid berkapasitas 4.000 jamah itu didominasi kaligrafi araf berwarna kuning keemasan. Sedangan bagian luar didominasi warna biru dipadupadan dengan warna mutih mencolok.

Bagian dalam masjid terdapat sejumlah kitab, buku agama dan Al Quran. “Kini, kami sedang berusaha melakukan perluasan halaman masjid. Karena halaman masjid saat ini sempit,” sebut Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim, Tgk Jamaluddin Is.
Suasana di dalam masjid terasa sangat senyuk dan nyaman. Dilengkapi dengan air conditioner (AC) dengan kipas angin di sejumlah sudut ruangan. Kini, masjid tersebut terlihat sangat indah dan megah, membuat nyaman jamaah untuk menunaikan ibadah di dalam masjid tersebut. (serambi/masriadi sambo)

04.00 | Posted in , , | Read More »

Pengajian Kaum Ibu dan Remaja Putri


SABAN Sabtu, di dalam Masjid Agung Baiturrahim berada di Desa Keude Lhoksukon, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara digelar pengajian khusus kaum ibu dan remaja putri. Pengajian dimulai pukul 14.30-13.45 WIB.

Pengajian itu membahas tauhid, fiqh dan tasawuf. Sebanyak 250 kaum ibu dan remaja putri khusuk mendengar pengajian yang dipimpin Imam Besar masjid setempat, Tgk Jamaluddin Is.

“Pengajian ini terbuka untuk semua kaum ibu dan remaja putri. 250 orang itu peserta tetap. Jika ada yang mau bergabung, kami persilahkan datang ke masjid,” sebut Tgk Jamaluddin.

Disebutkan, pengajian itu dimulai dengan kajian tauhid secara mendalam. “Setelah tauhid, baru kita beranjak ke fiqh, dan terakhir tasawuf. Namun, peserta boleh bertanya apa saja, baik itu fiqh atau tasawuf. Semua pertanyaan kita siap menjawabnya,” ujar Tgk Jamaluddin.

Ditambahkan, kegiatan reguler di masjid tersebut yaitu subuh Minggu digelar ceramah subuh, Senin digelar wirid yasin, sedangkan Selasa digelar pengajian usai shalat magrib yang dipimpin Abah Darkasyi.

Lalu, Rabu malam digelar zikir bersama, Kamis digelar zikir bersama, dan wirid yasin saat subuh yang dipimpin Tgk Samsul Bahri.  Sedangkan Jumat malam digelar pengajian yang dipimpin Tgk Azhari, serta pembacaan raja shalawat.

“Kita ingin meramaikan kegiatan pada subuh hari. Sehingga, lebih banyak kegiatan usai subuh. Misalnya, setiap tahun kita selenggarakan maulid usai subuh. Ini agar masyarakat giat beribadah subuh. Jika subuh saja sudah rutin, shalat zuhur, ashar dan lainnya pasti rutin juga,” pungkas Tgk Jamaluddin.

Dijaga Satpam
Sementara, untuk kenyamanan jamaah, panitia masjid menyediakan satuan pengamanan (Satpam) di sekitar kompleks masjid tersebut. Satpam itu berada di pintu utama masjid dan sesekali berkeliling. “Pengamanan dilakukan 24 jam oleh Satpam,” sebut Ketua Remaja Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Zahlul SHi.
(masriadi sambo/serambi)

03.58 | Posted in , , | Read More »

Setia di Makam Sultan



Sang 15 thon ka lon jaga makam nyo. Lebeuh baro jeut, kureng hanjet. (Sudah 15 tahun saya jaga makam ini. Bahkan lebih,” ujar Teungku Yakop Saleh (64). Dia adalah penjaga makam Sultan Malikussaleh di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Yakop meneruskan pekerjaannya. Sebuah sapu lidi ditangannya. Membersihkan daun angsana yang jatuh di sekitar pekarangan makam raja kerajaan Samudera Pasai itu. Tangannya cekatan mengumpulkan sampah dan membuangnya.

Sesekali dia berhenti. Menarik nafas kemudian melanjutkan lagi.Ketika saya datang, senyumnya mengulas. Mempersilahkan masuk dan istirahat. Sejak kecil, pria itu memang menggemari ilmu sejarah. Dia banyak mendengar cerita tentang kejayaan kerajaan islam pertama di Indonesia itu dari tetua dikampungnya. Itu pula yang membuatnya serius menjaga makam Sultan Malikussaleh, sejak 15 tahun lalu.

“Saya senang menjaga makam ini. Meskipun masih banyak yang belum saya ketahui. Misalnya, tentang ukiran kaligrafi yang ada di nisan itu,” ujarnya sambil menunjuk kearah ukiran kaligrafi di Makam Malikudahir, putra Sultan Malikussaleh yang kuburannya terletak tepat disamping makam ayahandanya.

Saya memperhatikan tulisan kaligrafi diatas nisan tersebut. Indah sekali. Lalu, kaligrafi di Makam Sultan Malikussaleh. Sangat indah, dengan marmer yang didatangkan dari Persia. Dibagian kaki nisan tersebut tertulis “Malikussaleh” dalam bahasa araf jawi. “Untuk tulisan ini saja. Saya baru tahu dari orang Cairo, Mesir yang berkunjung tahun 1965,” sebutnya dalam bahasa Aceh.

Selama belasan tahun menjaga makam tersebut, Yakop ditemani istrinya Umi Maimunah. Lima orang buah hatinya telah berkeluarga dan menetap didesa lain. “Saya tak digaji besar. Tapi, saya senang bekerja membersihkan makam. Saya bangga dengan pekerjaan membersihkan makam raja yang sangat tersohor,” sebutnya. Sejurus dia terdiam.

Memperhatikan ukiran-ukiran kaligrafi tersebut. Lalu, menarik sebungkus rokok dari kemeja putih lengan pendek yang dikenakannya. Dia hanya digaji sebesar Rp 450.000 perbulan. Itupun dibayar tiga bulan sekali oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Aceh Utara. Penambahan gaji yang tak seberapa itupun disyukuri oleh Yakop. “Dulu, 15 tahun lalu. Saya cuman digaji Rp 70.000 perbulan,” ujarnya. Gaji itulah yang digunakannya untuk membiayai kebutuhan rumah tangga. Merasa tak cukup, Yakop menanam padi. “Saya juga bertani, menanam padi. Jadi, agak lumanyan,” katanya.

Yakop tidak bisa fokus pada lahan sawah miliknya. Ketika, ada para penziarah yang hendak berkunjung ke Makam Sultan, dia berhenti. Melayani dan menjelaskan tentang sejarah kerajaan tersebut pada pengunjung. Paling sedikit setiap hari sekitar 20 orang datang berkunjung ke makam itu. Kata Yakop, dia ingin menjaga makam tersebut selama-lamanya. Selagi nafas berhembus. “Saya ingin menjaga makam ini selamanya. Selama saya hidup. Itupun jika aturan pemerintah mengijinkan,” ujarnya lirih. Daun angsana berjatuhan. Siang semakin terik dan membakar bumi. Yakop terus bertahan, membersihkan makam Sultan Malikussaleh. Sultan pertama yang menyebarkan islam di nusantara. [masriadi sambo]

23.53 | Posted in | Read More »

The Legend Of Dragon City



SIANG ITU, awal Desember lalu, langit di Tapaktuan begitu cerah. Tak ada mendung yang menggantung. Geliat aktivitas masyarakat seperti biasa. Semuanya berjalan normal. Tentunya, geliat ini tidak terlihat dua tahun lalu, sebelum MoU damai Aceh antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka ditandatangani. Ya, paskapenandatanganan di Helsinki itu, Tapaktuan kembali hidup.

Kota ini menyimpan legenda tentang asal muasal nama Tapaktuan. Kota Naga, sebutan untuk kota itu bukan tidak memiliki sejarah. Legenda inilah yang diburu banyak ahli sejarah ke kota yang berkelok-kelok dikaki bukit dan didepan pantai Samudera India ini. Jam menunjukkan pukul 10.00 Wib saat kami mengunjungi rumah Nasiruddin Gani, salah seorang ahli sejarah kota tersebut, 30 Nopember 2007 lalu. Usianya 60 tahun. Namun, gaya bahasa Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Selatan ini lugas dan jelas. Senyumnya menyambut kedatangan kami dirumahnya yang sederhana tepat dibelakang Kota Tapaktuan.

Nasiruddinpun mulai bercerita. Alkisah, dizaman dahulu kala, ribuan tahun lalu, di Aceh Selatan hidup dua ekor naga yang sangat perkasa dan memiliki ilmu sakti mandraguna. Sepasang naga ini, memiliki anak yang bernama Putri Naga. Putri ini cantik jelita. “Saya mendengar cerita ini ketika waktu remaja, dari Teungku Imam Ibrahim (Imam besar Mesjid Tapaktuan) kala itu dan Patih Muhammad Syam, orang yang mengerti sejarah kota ini,” sebutnya. Lelaki ini mengenakan kemeja lengan pendek warna coklat susu. Nasiruddin melanjutkan ceritanya.

Putri nan rupawan ini, katanya didapat dari perebutan sepasang Naga (Jantan dan Betina) dengan orangtua sang putri. Legenda klasik ini terus merakyat di Tapaktuan. Secara turun temurun, legenda itu terus berkembang. Bahkan remaja yang hidup di zaman modern ini, di Tapaktuan juga mengetahui cerita ini.

Konon ceritanya, suatu ketika – tidak ada masyarakat yang mengetahui tahun pasti, sepasang naga tengah berjalan-jalan menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu mendekat ke arah sang naga. Gelombang laut yang membawanya mendekat. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu.

Ketika titik hitam itu semakin mendekat, Sang Naga terjun alang kepalang. Titik hitam itu adalah tiga sosok manusia, berada lam perahu kecil yang diombang-ambingkan gelombang laut Aceh Selatan.

Ketiga manusia itu adalah sepasang suami-istri bersama bayinya. Bayi mungil ini berada dalam pangkuan ibunya. Mereka sengaja datang ke daerah itu bermaksud mencari rempah-rempah yang keberadaannya sudah cukup dikenal. Aceh Selatan sejak zaman Belanda menjajah daerah itu memang dikenal kaya akan hasil alam. Nilam, Cengkeh dan Pala merupakan tumbuhan yang dominan disana. Bahkan tumbuhan itu hingga kini menjadi komuditi unggulan daerah itu.
***
Seteguk teh manis hangat membasahi kerongan Nasiruddin. Lelaki murah senyum ini bertanya pada saya. ”Bagaimana, sampai disini, anak yakin tidak,” tanyanya pada saya. Saya tersenyum dan mengatakan cerita ini menarik.

”Kalau mau merokok, silahkan. Saya lanjutkan ceritanya nanti, ”sebutnya sambil meletakkan gelas teh diatas meja kaca diruang tamu rumahnya. Di dapur, cucu-cucu Nasiruddin terlihat sibuk bermain.

Lelaki yang telah ditumbuhi uban dikepalanya inipun bercerita, setelah melihat ketiga anak manusia itu, Sepasang Naga sakti yang bisa melakukan terhentak. Lalu, dia meniup perahu yang sudah sangat dekat itu. Sekali tiup saja, perahu kecil itu terombang-ambing dan tenggelam ditelan ombak deras. Kemudian Naga Betina, menjulurkan lidahnya menangkap putri kecil yang terhempas dari perahu itu.

Pasangan Naga ini sangat senang mendapatkan putri berbentuk manusia. Konon naga itu memang sudah lama mengidam-idamkan seorang putri. ”Setelah selamat dan menepi kedarat orangtua si Putri begitu sedih kehilangan buah hatinya dan tidak tahu ke mana putrinya menghilang. Mereka berpikir bahwa anak perempuan kesayangannya sudah hilang tenggelam dalam lautan dan badai atau hilang entah ke mana,” ujar Nasiruddin tersenyum.

Matahari mulai terik. Jam dinding berdentang 12 kali. Sudah dua jam Nasir bercerita. Lalu, pria ini menarik nafas dalam-dalam. Disandarkannya tubuhnya ke kursi model jepara itu. Dia melanjtkan ceritanya. Akhirnya sepasang naga membawa putri mungil hasil rampasan mereka ke sebuah pulau, pulau ini terletak di Batu Hitam, Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan.

Kedua Naga itu sangat menyanyangi putri pungut mereka. Bahkan, Naga betina selalu memeluk putri kecil dalam cengkeramnya agar tidak hilang. Sang Putri kecil, setelah sadar dari pingsannya, menangis sejadi-jadinya begitu melihat sosok Naga aneh dan menyeramkan. Si Putri kecil Ia takut. Diapun terus menangis sekuat-kuatnya. Naga betina pusing memikirkan tangisan putri itu. Terpaksa dia menggunakan kesaktiannya untuk menenangkan si Putri agar tak mengeluarkan air mata lagi.

Putri ini diberi nama Putri Bungsu. Mereka sangat mengasihi putri ini. Bahkan Naga Jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Semua buah-buahan dan minuman tersedia disana. Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka. ”Putri inilah yang kemudian disebut Putri Naga,” ungkap Nasiruddin.

Waktu terus bergulir. Putri Bungsu merangkak remaja. Dia menetap bersama naga disebuah gua yang dalam. Suatu hari, sang Putri Bungsu secara tak sengaja mendengar obrolan sepasang Naga. Dari luar gua dia terus menyimak percakapan itu. Dia tersentak. Sadar, bahwa dirinya bukan keturunan naga. Dia memiliki orang tua yang juga berasal dari bangsa manusia.
Niat untuk melarikan diripun muncul dalam benaknya. Putri Bungsu tidak gegabah. Dia bersabar untuk menemukan waktu yang tepat melarikan diri dari gunung itu. Dia takut akan kesaktian kedua naga tersebut.
***
Waktu yang dinantikanpun tiba. Dari atas gunung, Putri Bungsu melihat sebuah kapal berlayar dibawah kaki gunung itu. Gunung ini memang tepat berada di depan laut. Naga Jantan kala itu sedang tertidur dipinggir laut. Perlahan dia mengangkat kaki, sedikit menjinjing agar langkahnya tidak didengar Naga Jantan.

Perahu layar semakin dekat. Dia bimbang. Teringat akan kesaktian naga tersebut. Jarak Naga Jantan beristirahat dengan laut sangat dekat. Khawatir ketahuan, diapun mengurungkan niat untuk kabur dari gunung itu.

Siang-malam Putri nan cantik jelita itu mencari akal. Ide cemerlangpun muncul dikepalanya. Satu dia mengajak pasangan Naga berjalan-jalan menyusuri pantai di pulau itu. Naga kelelahan dan tertidur pulas. Putri Bungsu tak menyianyiakan kesempatan emas itu. Kakinya diseret ke atas sebuah bukit kecil yang dekat dengan laut. Agar dia bisa melihat perahu yang melintas.

Jarang sekali perahu yang mahu mendekat ke pulau itu. Namun hari itu keberuntungan Putri Naga. Sebuah perahu kecil merapat. Dia melambaikan tangan. Awak perahu ada yang menyapanya.

”Perahu inilah yang membawa putri bungsu pergi,” tegas Nasiruddin. Putri bungsu naik ke atas kapal dan ikut bersama awak kapal itu. Naga yang baru terbangun dari tidur, terkejut setengah mati. Putri kesanyangannya telah pergi. Dalam benaknya, Naga berujar, pasti perahu itu yang melarikan putriku. Dia mengejar perahu yang berjalan sangat pelan itu.
***
Lalu apa hubungan Putri Bungsu, Naga dan Tuan Tapa? Nasiruddin melanjutkan kisahnya. Sepasang Naga itu mengejar perahu tersebut. Sementara itu, di Gua Kalam, tidak jauh dari bukit itu, seorang manusia sedang bertapa. Dia tersentak dari pertapaanya. Seakan dia sadar akan ada bencana besar dibumi. Inilah Tuan Tapa.

Dia keluar dari gua tersebut. Lalu menatap ke laut lepas. Terlihat sepasang Naga dengan kemarahan puncak sedang mengejar sebuah perahu nelayan. Tuan Tapa terkenal dengan tongkat saktinya.

Dihadangnya Naga yang sedang mengejar perahu. Permuluhan hebatpun tak dapat dihindarkan. Dari mulut kedua Naga menyemburkan api. Tuan Tapa menghela tongkatnya hingga mengeluarkan air deras dan memadamkan api Naga. Tak mau kalah, sang Naga jantan pun mengeluarkan ribuan anak panah berapi yang diarahkan ke Tuan Tapa. Tuan Tapa bisa menghindari serangan itu. Tak ketinggalan, Naga betina juga mengeluarkan pisau-pisau beracun yang juga berhasil dielakkan Tuan Tapa.

Karena terus-menerus mengeluarkan kekuatannya, kesaktian kedua Naga mulai berkurang. Kesempatan itu dimanfaatkan Tuan Tapa untuk menyerang lebih dahsyat. Dengan tongkat sakti miliknya, Tuan Tapa mengayunkan benda panjang itu ke arah dua Naga. Naga betina, mencoba menghindar dengan cara melarikan diri menjauhi Tuan Tapa. Saat lari kencang tak tahu arah itulah sang Naga betina menabrak sebuah pulau hingga terbelah pulau. Pulau terbelah ini kemudian oleh masyarakat Aceh Selatan disebut sebagai Pulau Dua, di Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan

Sementara Tuan Tapa mengejar sang Naga jantan yang sudah terluka akibat serangan ‘tongkat sakti’. Tuan Tapa memukul tongkat saktinya bertubi-tubi ke tubuh Naga jantan hingga hancur berkeping-keping dan jatuh terjerembab ke tanah. Tubuh Naga jantan hancur berserakan dan darah berceceran yang menyebar memerahkan tanah, bebatuan dan lautan.

Lanjut Nasiruddin, bekas tempat ceceran darah Naga itu kini masih terlihat berupa tanah dan batu yang memerah. Kini disebut dengan Tanah Merah. Sedangkan hati sang Naga, yang pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian akibat pukulan tongkat sakti Tuan Tapa, peninggalannya hingga sekarang masih terlihat berupa batu-batu berwarna hitam berbentuk hati. Daerah ini kemudian diberi nama Desa Batu Hitam, masih dikecamatan yang sama.

Di tempat pertempuran Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Tongkat mirip baru itu, dipercayai sebagai tongkat Tuan Tapa.
Bagaimana nasib sang Putri? Beberapa tokoh masyarakat di daerah itu menceritakan, dalam legenda tersebut dikisahkan sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Putri Bungsu kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’.

Karena kisah ini pula, orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, jika memasuki kota Tapaktuan pemerintah Daerah Aceh Selatan mengukir gambar naga tepat di dinding pinggir jalan. Sekitar seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan.

”Anak boleh percaya boleh tidak. Mungkin kalau ditanya ke masyarakat lain, cara penyampaiannya yang berbeda,” sebut Nasiruddin. Lalu, saya memastikan ucapan Nasiruddin Gani. Saya temui Zamzami Surya mantan Kabag Kebudayaan Dinas Pariwisata Aceh Selatan. Pria berbadan kecil ini, mengakui kebenaran cerita Nasiruddin. Zamzamy yang kini menjabat Kepala Dinas Bapedalda Aceh Selatan tersenyum saat saya menanyakan kisah Kota Naga.

”Sebenarnya, ceritanya sama. Cara penyampaiannya yang berbeda. Yang pasti dalam semua cerita yang disampaikan tokoh adat atau masyarakat biasa tentang legenda ini tak terlepas tiga hal, yaitu ada dua ekor naga, perahu, tuan tapa. Putri Bungsu. Lalu, ada pertempuran,” sebutnya sambil tersenyum.

Satu lagi, lanjut Zamzamy, lihatlah bukit itu. Tangannya menunjuk kesebalah timur kota Tapaktuan. Sebuah gunung menjulang. ”Perhatikan bukit itu. Disitulah putri dan naga itu tidur,” sebutnya. Bukit itu mirip Putri yang sedang tidur. Tampak rambut terurai dengan buah dada yang terlihat jelas. Ini juga disebutkan oleh Nasiruddin Gani.

Bila cuaca cerah, gambaran bukit seperti putri tidur itu terlihat jelas. ”Apalagi jika bulan purnama, semakin jelas,” sebut Zamzamy Surya. Nama Putri Bungsu menjadi ikon wisata tersendiri di Tapaktuan. Bahkan, sebuah hotel yang berada di pusat kota ini diberi nama Putro Bungsu (Putri Bungsu) oleh pemiliknya. [Masriadi Sambo]

22.34 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added