MOST RECENT

Asma, Obsesi Motivator


SORE itu, Asmaul Husna baru saja selesai mengikuti les bahasa Inggris di Arizona Institute, Lhokseumawe. Dia salah satu mahasiswi berprestasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Mahasisiwi semester V jurusan Ilmu Komunikasi itu kini tengah mendalami pengetahuan bahasa Inggrisnya.

Anak kelima dari pasangan Ibrahim Yunus-Siti Nurmansyah ini gemar menulis artikel. Pada 2010 dia meraih II Pena Award. Pena Award adalah penghargaan untuk penulis berasal dari kalangan mahasiswa se-Aceh yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Unimal sejak 2004.

Pada tahun yang sama, Asma-panggilan akrab Asmaul Husna-didaulat menjadi salah satu penulis muda dalam buku memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh.

“Saya terus belajar menulis. Selain itu, saya ingin menjadi motivator. Ada kebahagiaan sendiri jika bisa memberikan semangat pada orang lain. Menyampaikan kalimat bijak, menenteramkan hati orang lain agar orang lain selalu berbuat baik dan tidak buruk sangka,” ujar penggemar Mario Teguh ini, ketika bincang-bincang dengan Serambi, Minggu kemarin.

Di sela-sela waktu kuliah, Asma gemar membaca buku. Berbagai buku psikologi, sosial, dan politik dilahapnya. Dia harus membagi waktu, antara belajar, les, dan mengaji pada malam hari. Selain itu, gadis murah senyum ini aktif di sejumlah organisasi mahasiswa (Ormawa) di kampus. “Saya berharap ke depan bisa menjadi motivator dan meneruskan hobi menulis. Saat ini saya juga menulis cerita pendek (cerpen), puisi dan artikel. Satu hari, saya harap bisa menerbitkan karya,” pungkas Asma.(masriadi sambo)

23.20 | Posted in , , | Read More »

Melatih Diri Lewat BEM dan Komunitas


SEPERTI halnya di lembaga pendidikan tinggi lainnya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh Lhokseumawe juga memiliki sejumlah organisasi kemahasiswaan. Tidak hanya sebatas badan eksekutif dan dewan perwakilan, para mahasiswa FISIP Unimal juga melatih diri melalui perkumpulan (komunitas) yang sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Sebagai lembaga kemahasiswaan tertinggi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP tentunya menarik minat besar dari para mahasiswa. Apalagi, BEM FISIP Unimal memang cukup padat dengan aktivitas, baik itu berupa bakti sosial, seni tari, dan sejumlah seminar dan pelatihan. Selain BEM fakultas, ada pula Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), serta himpunan di masing-masing jurusan. Namun, khusus di jurusan Ilmu Komunikasi, para mahasiswa mendirikan sejumlah komunitas, seperti Komunitas Fotografi, Jurnalistik, dan Komunitas Perfilman. “Ini memperdalam kemampuan mereka di tiga bidang itu. Karena, belajar di kampus jam kuliah terbatas, jadi kita sangat mendukung lahirnya komunitas tersebut,” ujar Dekan FISIP Unimal Fauzi MA kepada Serambi, Selasa (22/11). Fauzi mengatakan, seluruh kegiatan ekstrakurikuler dilakukan oleh sejumlah organisasi mahasiswa tersebut. “Fakultas tidak akan membatasi jenis kegiatan yang dilakukan mahasiswa. Sejauh kegiatan itu positif, kita tetap mendukung,” terang Fauzi. Ia menyebutkan, kini mahasiswa semakin kreatif menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan. “Bahkan kegiatan seni tari, puisi dan lain sebagainya pun kerap dilakukan mahasiswa. Tidak hanya melakukan seminar dan pelatihan yang sifatnya ilmiah. Mahasiswa juga sering buat acara yang berbau sastra, seni dan budaya,” pungkas Fauzi.(masriadi sambo)

23.17 | Posted in , | Read More »

Lahirkan Lulusan Berjiwa Mengabdi


LOKASI Jalan Sumatera, Kompleks Bukit Indah, Desa Blang Payang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, tampak selalu ramai dengan aktivitas muda-mudi terpelajar. Mereka adalah para mahasiswa yang sedang mengenyam ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh Lhokseumawe. FISIP Unimal didirikan tahun 1969 silam dengan nama awal Akademi Ilmu Agama. Pada tahun 1972 lembaga pendidikan ini berganti nama menjadi Yayasan Universitas Malikussaleh, di dalamnya dibuka tiga fakultas yaitu FISIP, Fakultas Syariah, dan Fakultas Hukura dan Pengetahuan Masyarakat. Seiring perkembangan, FISIP tumbuh semakin eksis dengan satu jurusan yaitu Ilmu Administrasi Negara. Baru pada tahun 2003, FISIP membuka empat jurusan baru yaitu jurusan Ilmu Komunikasi, Sosiologi, Antropoligi dan Ilmu Politik. Kini, jurusan Ilmu Administrasi Negara (IAN), Ilmu Komunikasi, dan Ilmu Politik telah terakreditasi dengan nilai B, sedangkan Sosiologi dan Antropoligi terakreditasi dengan nilai C. “Sebagai fakultas sosial, kita lebih banyak fokus pada persoalan sosial di sekitar masyarakat. Untuk itu, kita targetkan lulusan FISIP harus memiliki jiwa pengabdian sesuai bidang ilmunya masing-masing,” terang Dekan FISIP Unimal Fauzi MA kepada Serambi Senin (21/11). Kini fakultas itu memiliki 1.604 mahasiswa dan 945 alumni tersebar dari lima jurusan. Sementara dosen berjumlah 67 orang PNS, 4 honorer, dan 11 dosen luar biasa. Tiga dari 67 dosen PNS bergelar doktor, selebihnya sedang menimba ilmu magister di sejumlah kampus dalam dan luar negeri. Untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, fakultas itu memiliki perpustakaan dengan 3.000 judul buku. “Untuk laboratorium ada di masing-masing jurusan. Khusus untuk Ilmu Komunikasi, peralatan di laboratorium itu belum memadai. Mereka belum memiliki studio siaran. Kita terus upayakan, agar jurusan itu memiliki studio siaran,” sebut Fauzi. Ditambahkan, kini pihaknya telah bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Andalas Padang, Universitas Sumatera Utara, Medan, dan Universitas Teuku Umar, Meulaboh.(masriadi sambo)

23.13 | Posted in , | Read More »

Menuju Sekolah Berstandar Internasional


MATAHARI membakar bumi. Sejumlah murid SDN 2 Lhoksukon, Aceh Utara terlihat mulai ke luar dari ruang kelas seiring berakhirnya waktu belajar mengajar. Senyum gembira bocah terlihat jelas saat tahu orang tuanya sudah menunggu di gerbang sekolah.

SD yang dibangun tahun 1955 merupakan sekolah favorit di kecamatan itu. Saat dibangun, sekolah itu hanya memiliki tiga ruangan dengan fasilitas seadanya. Seiring perjalanan waktu, sekolah itu pun mulai berbenah. Kini, sekolah yang berlokasi di Desa Keude Lhoksukon itu memiliki 18 guru yang telah menerapkan pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan (pakem).

Saat ini, SD itu memiliki 511 murid. Tiap tahun, animo masyarakat mendaftarkan anaknya ke sekolah itu cukup banyak. Tapi, karena ruangan terbatas, terpaksa ditolak. SD tersebut kini memiliki 17 ruang belajar, perpustakaan dengan koleksi buku pelajaran 3.000 buku, dan semua pelajaran dilengkapi alat peraga.

“Kalau pelajaran yang membutuhkan proyektor agar mudah dipahami siswa, kami gunakan proyektor. Misalnya, pelajaran IPS untuk memperlihatkan bentuk detail peta pulau-pula di Indonesia, kami gunakan proyektor,” jelas Kepala SDN 2 Lhoksukon, Dra Azizah didampingi bendaharanya, Mawarni.

Dengan fasilitas yang ada, lanjutnya, sejak tahun 2008 sekolah itu berstatus sekolah standar nasional. Ditambahkan, sejak awal tahun 2011 pihaknya telah mengusulkan agar sekolah itu menjadi Rintisan Sekolah Berstandard Internasional (RSBI). “Kami harap, ke depan sekolah ini bisa jadi RSBI. Sehingga, ada satu sekolah di ujung timur Aceh Utara yang bagus dan berstandard internasional,” pungkas Azizah. Semoga! * masriadi sambo

21.56 | Posted in , | Read More »

Juara Olimpiade yang Ingin Jadi Dokter

CARA bicaranya lugas dan tegas. Matanya tajam menatap lawan bicara. Terlihat jelas, bocah ini memiliki kemampuan di atas rata-rata murid di SDN 2 Lhoksukon, Aceh Utara. Itulah Rahmalia. Dia salah seorang murid berprestasi di sekolah tersebut. Sejak kecil, putri bungsu pasangan Abdul Hamid dan Nurbaidah itu menunjukkan minat terhadap mata pelajaran matematika.

Dia pun sejak kecil belajar menghitung dari orangtuanya. Tak heran, saat duduk di kelas satu SD, dia sudah pandai berhitung. Bahkan, dia terlihat lebih menonjol dibanding teman sebaya. Ketekunan itu membuahkan hasil bagi Rahmalia yaitu menjuarai olimpiade matematika tingkat Kecamatan Lhoksukon, tiga bulan lalu. “Setelah menang di Lhoksukon, saya mengikuti lomba sejenis tingkat Kabupaten Aceh Utara. Saya belum beruntung, hanya mendapatkan juara tiga,” ujar Rahmalia.

Meski begitu, dia tetap semangat belajar. “Satu waktu, saya pasti bisa dapat juara lagi. Saya terus belajar. Orang tua saya bilang, terpenting rajin belajar, pasti bisa menang ikut lomba,” sebut Rahmalia. Lalu, dia mengikuti lomba lain yaitu cerdas cermat mata pelajaran PPKN. Hasilnya, dia meraih juara satu tingkat Kecamatan Lhoksukon. Prestasi lain, ketika duduk di kelas lima, Rahmalia menjadi juara satu lomba pidato bahasa Arab yang diselenggarakan pihak sekolah.

Meski telah menoreh prestasi, Rahmalia belum puas. Dia ingin terus berkarya dan meraih prestasi sebanyak-banyaknya. Untuk meraih prestasi itu, Rahmalia pun rajin belajar. Sepulang sekolah, dia mengaji di balai pengajian di desanya. Malam hari, dia belajar. “Rata-rata sejam atau dua jam saya belajar setiap hari,” sebut Rahmalia. Cita-citanya terus melambung. Dia ingin menjadi dokter umum. “Kalau dokter itu kan bisa menolong banyak orang. Saya senang kalau bisa menolong orang, apalagi orang yang sakit,” pungkasnya sambil tersenyum malu. * masriadi sambo

21.54 | Posted in , | Read More »

Drumband Jadi Primadona


DUA siswa MTsN 1 Nibong di Desa Dayah Nibong, Kecamatan Nibong, Aceh Utara terlihat sibuk membersihkan peralatan drumband di sebuah ruang di madrasah itu. Sesekali tawa mereka pecah dan mereka terlihat sangat menikmati kegiatan itu. Kelompok drumband memang menjadi primadona di madrasah tersebut.

Bagi siswa, jika menjadi anggota drumband memiliki kebanggan tersendiri. Karena tak mudah menjadi anggota grup itu. “Harus mengikuti seleksi minat dan bakat. Kalau lulus itu, baru bisa bergabung dengan kelompok drumband. Hanya anak-anak yang suka seni dan alat musik yang bisa masuk ke kelompok itu,” ujar Kabid Pengajaran MTsN 1 Nibong, Jafaruddin SPd.

Selain itu, siswa lain bergabung ke kelompok bolavoli, badminton, dan kelompok lompat tinggi. “Semua bidang ekstrakurikuler (eskul) dibina oleh guru khusus. Khusus drumband didatangkan pelatih khusus yaitu Ilyas dari Lhoksukon,” ujarnya.

Ditambahkan, selama ini kelompok drumband madrasah itu hanya tampil di sejumlah acara di Kecamatan Nibong dan Kabupaten Aceh Utara. Kelompok itu tidak bisa mengikuti lomba drumband tingkat Provinsi Aceh atau nasional. Pasalnya, dana yang dibutuhkan untuk sekali pementasan sangat besar. “Sementara dana kami terbatas,” ungkap Jafaruddin.

Namun, tambahnya, untuk Kecamatan Nibong, kelompok drumband itu patut diperhitungkan. Pasalnya, tiap kali tampil selalu mendapat acungan jempol dari warga. “Kami berharap ke depan akan lahir lagi kelompok pengembangan minat dan bakat seperti kelompok tari. Kita lihat dulu apa yang paling digemari siswa, baru kita buat kelompok baru,” pungkasnya. * masriadi sambo

21.50 | Posted in , | Read More »

Kisah Multitalenta Mona


SENYUM gadis berkulit putih itu sumringah. Dia memberi salam sambil membungkukkan badan pada guru di kantor dewan guru MTsN 1 Nibong di Desa Dayah Nibong, Kecamatan Nibong, Aceh Utara, kemarin. Itulah Mona Santi (14). Dia salah satu pelajar yang berprestasi di sekolah itu. Sejak kecil, dara yang lahir di Desa Paya Terbang, Kecamatan Nibong, Aceh Utara itu gemar mempelajari ilmu agama Islam. Setelah menamatkan SD di kampungnya, anak keempat pasangan Kamaruzzaman dan Juwairiah itu memilih madrasah tsanawiyah sebagai tempat menimba ilmu.

“Kalau di sekolah umum, lebih banyak pendidikan umum. Makanya, saya lebih memilih madrasah tsanawiyah. Di sini, pendidikan agama lebih banyak ketimbang pendidikan umum,” ujar Mona. Sejak duduk di kelas satu, prestasi Mona terlihat menonjol. Dia gemar mencoba banyak bidang, baik seni dan olahraga. Buktinya, tahun 2009 Mona terpilih menjadi ketua tim bolavoli sekolah itu. Di tahun yang sama, Mona meraih juara satu lomba praktik shalat tingkat Aceh Utara.

Setahun kemudian, prestasinya pun menonjol, dia meraih juara satu lomba membaca surat pendek se-Aceh Utara. Mona juga meraih juara satu lomba membaca asmaul husna yang diselenggarakan Pemkab Aceh Utara tahun 2010. “Tahun 2010 saya bersama tim rebana sekolah juga meraih juara satu lomba rebana tingkat Aceh Utara,” rinci Mona Santi.

Di bidang akademik, Mona juga rutin meraih rangking satu di kelas. “Paling jelek rangking dua. Itu pun waktu di kelas satu,” terang Mona. Prestasi dara cilik ini terlihat beragam dari berbagai bidang. Prestasi itu menandakan Mona Santi adalah sosok dara multitalenta.

Lalu, apa cita-cita Mona? “Saya ingin menjadi guru mata pelajaran Agama Islam. Orang tua juga sangat mendukung. Setelah tamat dari tsanawiyah, saya mau lanjut ke aliyah. Lalu ke sekolah tinggi agama Islam,” terang Mona sambil tersenyum. Usai sekolah, Mona mengaji di Balai Pengajian Babul Ula di kampungnya. Dia juga membantu orang tua bertani dan menjaga adik-adiknya. Cita-cita gadis ini terus melambung. Niatnya mulia yaitu ingin menjadi guru dan mengajarkan pengetahuan agama Islam pada generasi mendatang. Semoga! * masriadi sambo

21.48 | Posted in , | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added