MOST RECENT

Bangkrutnya Bank Pemerintah Aceh Utara



Masriadi Sambo - KONTRAS
BANK Perkreditan Rakyat (BPR) Sabe Meusampe milik Pemerintah Aceh Utara nyaris bangkrut. Bank itu tidak memiliki kecukupan modal yang memadai. Benarkah karena manajemennya yang amburadul?

Gedung berbentuk rumah dan toko (Ruko) di Jalan Merdeka, Kota Lhokseumawe, siang itu terlihat sepi. Sekitar sepuluh unit kendaraan roda dua tampak terparkir rapi. Itulah gedung Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sabe Meusampe. Bank yang sahamnya dikuasai oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

Memasuki dalam gedung, tidak terlihat antrian nasabah. Bank itu terlihat sepi. Dua orang teller duduk santai di balik meja. Satu orang satuan pengamanan (Satpam) duduk santai di mejanya, tepat di samping pintu masuk gedung. Sesekali datang satu orang nasabah. Membayar kredit. Lalu berlalu. Tidak ada kesibukan luar biasa di gedung berlantai dua itu. Itu rekam kegiatan di gedung BPR Sabe Meusampe.

Suasana gedung terasa sunyi-senyap. Bank ini lah yang dinyatakan Bank Indonesia Lhokseumawe dalam status pengawasan khusus. Bank ini tidak memiliki kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR). Semua perbankan di Indonesia, diwajibkan memiliki CAR sebesar delapan persen. Namun, BPR hanya memiliki CAR empat persen.

Informasi yang dihimpun Kontras, kekurangan modal PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sabee Meusampe Aceh Utara akibat terjadinya kredit macet yang mencapai sekitar Rp 23 miliar. Hal ini dikarenakan proses penyaluran dana Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (PER) pada tahun 2008 tidak sesuai ketentuan Bank Indonesia.

Hal itu diakui Direktur PT BPR Sabe Meusampe Aceh Utara, Zakaria SE kepada Kontras, di Lhokseumawe, Selasa (16/3). Pria berkumis ini mengatakan, BPR memperoleh dana dari APBK Aceh Utara tahun 2007 senilai Rp 23 miliar. Perinciannya, Rp 20 miliar untuk dana PER dan Rp 3 miliar sebagai modal BPR. Tapi, kata dia, manajemen BPR pada saat itu menggabungkan modal Rp 3 miliar ke dalam dana PER.

“Jadi, penyebab kekurangan modal BPR ini akibat terjadinya kredit bermasalah dalam penyaluran dana PER pada tahun 2008. Munculnya kredit bermasalah itu karena proses penyaluran dana PER yang bersumber dari APBK Aceh Utara tahun 2007 yang disalurkan tahun 2008, tidak sesuai format ketentuan BI. Sehingga kredit tersebut telah dinyatakan macet,” kata Zakaria yang mengaku baru menjabat direktur bank itu sekitar lima bulan.

Untuk memperbaiki permasalahan tersebut supaya BPR Sabe Meusampe kembali sehat, kata Zakaria, pihaknya sudah menyusun action plan. Langkah yang akan diambil, pertama; mengeluarkan dana PER senilai Rp 23 miliar itu dari aktiva untuk ditempatkan dalam rekening administratif yaitu di luar pos neraca, tapi tidak menghilangkan kewajiban penagihan. Hal ini dilakukan dengan persetujuan DPRK atas permintaan bupati. Kemudian, setiap perkembangan yang terjadi akan dilaporkan kepada BI Lhokseumawe.

Langkah kedua, kata Zakaria, manajemen BPR Sabe Meusampe meminta pemegang saham mayoritas yakni Pemkab Aceh Utara untuk menyuntik dana senilai Rp 2 miliar dalam rangka menutupi kekurangan modal. Hal ini untuk mengantisipasi Kemampuan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang negatif atau untuk perbaikan CAR PT BPR yang saat ini, menurut penilaian BI, tidak sehat.

Sedangkah langkah ketiga, lanjut Zakaria, meningkatkan kinerja BPR terkait penagihan kredit macet. Karena, kata dia, inti dari ditetapkan pengawasan khusus oleh BI terhadap BPR ini akibat kekurangan modal, dimana telah membengkaknya kredit bermasalah. “Strategi untuk menarik kembali kredit bermasalah itu, kita yakinkan nasabah bahwa dana PER tersebut pinjaman, bukan dana hibah. Kalau mereka kooperatif maka ke depan BPR akan membantu lagi, sehingga dana ini terus bergulir dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Menurut dia, saat ini pihaknya tengah gencar menagih kembali kredit macet dengan mendatangi rumah nasabah. Upaya tersebut, katanya, melibatkan dua tim khusus, yang satu bergerak ke wilayah barat, satu lagi ke wilayah timur Aceh Utara. “Sejauh ini, dana yang sudah kembali hampir Rp 2 miliar. Ini akan terus kita fokuskan secara maksimal,” kata Zakaria.

Namun, rencana tahap dua yang disusun Zakaria tampaknya tak terealisasi dengan baik. Pasalnya, suntikan modal tambahan yang diminta oleh BPR tidak disetujui oleh DPRK Aceh Utara. Tidak ada penambahan modal apa pun dari DPRK untuk bank tersebut. “Perlu diingat, membangun satu BPR itu butuh dana puluhan miliar. Untuk menyelamatkannya, kami hanya meminta suntikan Rp 2 miliar. Tidak lebih. Kita obyektif saja. Kami tidak minta yang muluk-muluk,” terang Zakaria.

Zakaria yakin, bila disuntik Rp 2 miliar, maka kecukupan modal BPR sudah sampai pada angka positif, yaitu delapan persen. Dia menyebutkan, dalam pembahasan anggaran baru-baru ini di gedung DPRK Aceh Utara, dirinya sudah menjelaskan sebab-sebab kebangkrutan BPR. Dia juga sudah mempresentasikan rencana aksi penyelamatan bank milik pemerintah itu.

Dalam rapat itu, kata Zakaria, juga hadir Sekda Aceh Utara, Syahbuddin Usman dan Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Aceh Utara, Azhari SE. “Saya sudah presentasikan semuanya. Mungkin dewan berpikiran lain, sehingga tidak memberikan suntikan dana. Saya juga sudah sampaikan ke panitia anggaran, ketua dan wakil ketua DPRK Aceh Utara. Sekarang pun, kalau dipanggil saya siap presentasikan rencana aksi penyelamatan,” kata Zakaria.

Saat ini, bank ini memiliki nasabah sebanyak 5.000 orang. Jumlah itu terbagi dalam dua kategori yaitu nasabah biasa, dan nasabah yang menerima kredit program PER. “Kami akan tagih semua yang macet itu. Kita tagih dengan cara yang baik dulu. Jika terpaksa, ya kita tagih dengan aparat hukum,” terang Zakaria.

Sementara itu, sebelumnya, Kepala Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe, Zulfan Nukman, didampingi Deputi Pimpinan Bank Indonesia (BI) Rusly Albas, membenarkan pihaknya melakukan pengawasan khusus terhadap BPR Sabe Meusampe. Selain itu, bank itu juga dilarang menghimpun dan mengeluarkan dana selama enam bulan sejak 11 Januari 2010.

Kepala Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe Zulfan didampingi Deputi Pimpinan BI itu, Rusly Ali Basyah, mengatakan, langkah yang diambil BI terkait hal itu, kata dia, sesuai UU yang berlaku. Yakni, UU No.3 tahun 2004 tentang BI, UU No.10/1998 tentang perbankkan, Peraturan BI No.11/20/PBI/2009 dan Surat Edaran BI No.11/19/DKBU tentang tindak lanjut pengawasan terhadap BPR dalam status pengawasan khusus.

“Pertimbangan yang dilakukan BI untuk kelangsungan usaha BPR Sabe Meusampe itu sendiri. Jadi, setelah kita melakukan pemeriksaan, kita lihat ada kriteria yang kita anggap BPR itu sudah memenuhi ketentuan ini. Yaitu, kecukupan modalnya di bawah empat persen. Berdasarkan kriteria itu, kita panggil pemegang sahamnya, pengurusnya, kita paparkan hasil temuan kita sehingga kita tetapkan BPR itu dalam pengawasan khusus,” kata Zulfan.

Sesuai ketentuan, lanjut Zulfan, BI memberikan waktu selama lebih kurang enam bulan kepada pemegang saham BPR itu untuk mengambil langkah perbaikan. “Dia harus membuat action plant dalam rangka melakukan perbaikan-perbaikan. Selama enam bulan itu terhitung 11 Januari 2010, nantinya harus disampaikan ke BI. Pada akhirnya nanti akan kita lihat, kita evaluasi terhadap action plant yang sudah dibuat, sampai KPMM-nya itu akan kembali positif. KPMM itu kita minta sesuai ketentuan tadi, idealnya minimal delapan persen,” katanya.

--
Tabloid KONTRAS Nomor : 533 | Tahun XI 18 - 24 Maret 2010

20.34 | Posted in , | Read More »

Ini Dia, Daftar “Foya-Foya”



KONTRAS
GUBERNUR Aceh melalui timnya telah melakukan evaluasi terhadap penjabaran APBK Aceh Utara tahun 2010. Banyak yang menilai sejumlah program yang diusulkan itu terkesan menghambur-hamburkan uang, padahal di sisi lain Aceh Utara disebut-sebut telah ‘bangkrut.” Soalnya, deposito mereka senilai Rp 220 M tak bisa ditarik dan kini dijadikan barang bukti di Pengadilan. Kecuali soal ‘deposito-gate’ Aceh Utara kini juga semakin kecil memperoleh dana bagi hasil minyak dan gas. Berikut hasil evaluasi tim Gubernur Aceh terhadap rencana anggaran belanja tahun 2010 Kabupaten Aceh Utara:


1. Pemberian Tambahan Penghasilan Berdasarkan Prestasi Kerja dan Honorarium untuk tenaga honorer dan tenaga kontrak pada semua SKPK disediakan alokasi anggaran hanya untuk 6 bulan, kecuali untuk tenaga honorer pada SKPK Bappeda disediakan untuk 12 bulan, untuk itu supaya dirasionalkan kembali. Pemberian Tambahan Penghasilan dan honor kepada tenaga honorer daerah tidak boleh menimbulkan diskriminasi. Jika kemampuan keuangan daerah Kabupaten Aceh Utara saat ini tidak memungkinkan, maka dapat dilakukan dengan memperkecil nominalnya dan alokasi anggaran tetap untuk kebutuhan 12 bulan. Dalam menentukan besaran Tambahan Penghasilan maupun belanja honor kepada pegawai honorer atau honorarium lainnya seperti jerih payah kepala desa/geuchik dan lain-lain, yang merupakan penghasilan tetap bulanan, supaya dilakukan dengan teliti dan cermat serta menyesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Kebijakan pemberian peningkatan maupun penurunan Tambahan Penghasilan dan Honorarium yang sifatnya menjadi penghasilan tetap, supaya dilakukan dengan cermat dan hati-hati, hal ini untuk mencegah pengaruh menurunnya produktifitas dan kinerja pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan timbulnya permasalahan-permasalahan yang tidak diinginkan. Dalam merencanakan anggaran belanja untuk kebutuhan Tunjangan Prestasi Kerja dan Honorarium tenaga honorer dan tenaga kontrak, eksekutif dan legislatifsupaya dapat mengambiI kebijakan yang Iebih rasional.

2. Penyediaan alokasi anggaran belanja pada Program dan Kegiatan pada SKPK Sekretariat daerah dan beberapa SKPK Iainnya agar disesuaikan dengan kondisi kemampuan keuangan saat ini. Hal tersebut sesuai dengan Azas Umum Pelaksanaan APBK, sebagaimana ketentuan Pasal 122 ayat (10) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, yang menyatakan bahwa pengeluaran belanja daerah menggunakan prinsip hemat, tidak mewah, efektif, efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Program dan Kegiatan dimaksud antara lain sebagai berikut:

a. Belanja jasa publikasi/iklan di media massa sebesar Rp. 500.000.000 pada kegiatan Pembinaan Kehumasan Daerah dan Pembinaan Pers, nilainya supaya dirasionalkan kembali.

b. Honorarium pendukung acara protokoler kunjungan kerja Bupati/Wakil Bupati ke kecamatan/gampong sebesar Rp 800.000.000 dan biaya liputan kunjungan Bupati dan Wakil Bupati sebesar Rp 125.000.000 serta biaya tim kesenian pendukung acara sebesar Rp 1OO.OOO.000 melalui kegiatan Pembinaan Kehumasan Daerah/Protokoler. Nilai besarannya supaya dirasionalkan kembali.

c. Kegiatan Pembangunan jaringan Internet Setdakab Aceh Utara sebesar Rp 691.754.740 disarankan supaya ditinjau kembali dan disesuaikan dengan skala prioritas.

d. Penyediaan anggaran belanja sewa meja sebesar Rp 90.000.000 dan sewa tenda sebesar Rp 250.000.000 pada kegiatan Pendukung Kegiatan Kepala Daerah, supaya ditinjau kembali, dengan mempertimbangkan bahwa peralatan tersebut dilakukan penyewaan setiap tahun anggaran, disarankan untuk dilakukan pengadaan atau pembelian, sehingga tidak terjadi pemborosan keuangan daerah.

e. Penyediaan biaya sewa kendaraan bermotor sebanyak 43 unit dengan jumlah sebesar Rp 3.098.000.000 melalui Kegiatan Jasa Pemeliharaan dan Perizinan Kenderaan Dinas/Operasional, supaya ditinjau kembali, Penyewaan kenderaan dinas dengan anggaran sejumlah tersebut merupakan pemborosan terhadap keuangan daerah.

Jika kemampuan keuangan daerah memungkinkan, disarankan agar alokasi anggaran tersebut supaya dialihkan menjadi biaya pengadaan/pembelian kendaraan dinas.

f. Kegiatan Pemeliharaan rutin/berkala peralatan rumah jabatan/dinas sebesar Rp 221.000.000 supaya dirasionalkan kembali.

g. Kegiatan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Fasilitas Kantor sebesar Rp. 496.000.000,-, supaya dirasionalkan kembali.

h. Penyediaan anggaran pada Program Hari-Hari Besar sebesar Rp. 1.283.000.000,-, supaya dirasionalkan kembali.

i. Kegiatan Pengadaan Tanah untuk Tahun Anggaran 2010 dialokasikan anggaran sebesar Rp. 11.737.275.000,- disarankan untuk dapat dirasionalkan kembali. Menurut penelitian kami, hampir setiap tahun anggaran dilakukan pengadaan tanah dengan alokasi anggaran yang relatif besar. Mengingat kondisi keuangan saat ini belum stabil dan terjadi penurunan pandapatan yang signifikan, maka kebijakan pengadaan tanah Pemerintah Kabupaten Aceh Utara Tahun Anggaran 2010 sebaiknya ditinjau kembali.

j. Terdapat alokasi anggaran untuk honorarium panitia/tim pelaksana kegiatan pada SKPK Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah sebesar Rp. 554.700.000,-, melalui Kegiatan Penyusunan Rancangan Perda tentang Perubahan APBD, disarankan supaya dirasionalkan kembali dan mempertimbangkan sesuai dengan kemampuan keuangan daerah saat ini.

k. Penganggaran honorarium pada SKPK Dinas Pertanian Peternakan, melalui Kegiatan Pemberdayaan Balai Benih Lhoksukon untuk Manajer Balai Benih sebesar Rp. 300.000,- sementara untuk petugas jaga malam sebesar Rp. 1.000.000 supaya disesuaikan kemba1i dengan nominal dan standar yang wajar.

Ditemukan alokasi anggaran untuk Biaya perjalanan dinas sebesar Rp. 15.000.000,- pada SKPK Dinas Ketahanan Pangan dan Penyuluhan yang tidak ada kaitan dengan kegiatan Penyediaan Jasa Tenaga Teknis Administrasi Perkantoran, supaya dirasionalkan kembali.

Rasionalisasi dan penyesuaian terhadap kegiatan-kegiatan tersebut perlu dilakukan sehingga tidak bertentangan dengan salah satu azas umum APBK sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasa1 16 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dan ketentuan Pasal 16 ayat (5) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, antara lain, menyatakan bahwa APBD mempunyai fungsi distribusi, yang mengandung arti bahwa kebijakan anggaran daerah harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

3. Uang representasi, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, dan tunjangan PPh untuk Pimpinan dan Anggota DPRK pada pos anggaran DPRK yang dianggarkan 13 bulan, supaya diubah menjadi 12 bulan. Pembayaran gaji untuk pemberian gaji/pensiun/tunjangan bulan ke tiga belas hanya dapat dibayarkan kepada Pegawai Negeri, Pejabat Negara dan Penerima Pensiun/ Tunjangan, sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2009.

4. Penyediaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRK sebesar Rp. 141.120.000,- pada SKPK Sekretariat DPRK, penggunaannya supaya mempedomani ketentuan Pasal 24A, 24B, 24C, 24D dan 24E Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD.

5. Penyediaan belanja pakaian dinas untuk Pimpinan dan Anggota DPRK, melalui kegiatan pengadaan pakaian dinas berserta perlengkapannya pada SKPK Sekretariat DPRK, penganggaran clan pelaksanaanya agar mempedomani ketentuan nomor urut 4 Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 188.31/006/BAKD tanggal 4 Januari .2006 tentang Tambahan Penjelasan Terhadap Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD.

6. Penyediaan anggaran Subsidi Kepada Perusahaan Daerah, direncanakan sebesar Rp. 7.000.000.000,- pada SKPK Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah, supaya dirasionalkan kembali dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan mempedomani ketentuan Pasal 41 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

7. Penyediaan belanja bantuan partai politik sebesar Rp. 1.016.565.000,- pada SKPK Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah, pelaksanaannya agar mempedomani ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik.

8. Kebijakan penyediaan anggaran untuk asuransi kenderaan bermotor dan asuransi terhadap gedung/bangunan yang terdapat pada SKPK Sekretariat Daerah, SKPK Sekretariat DPRK clan SKPK lainnya, supaya dapat ditinjau kembali, karena dinilai tidak tepat dilakukan daIam kondisi keuangan daerah saat ini.

9. Penyediaan Belanja Hibah sebesar Rp. 46.863.795.000 dan Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp. 5.601.565.000 pada SKPK Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah, pelaksanaannya agar mempedomani ketentuan Pokok-Pokok Kebijakan Penyusunan APBD nomor urut 2 huruf a ayat (7) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010. Kebijakan pemberian bantuan belanja hibah secara terus menerus setiap tahun anggaran supaya ditinjau kembali, antara lain:

a. Belanja Bantuan Operasional PKK sebesar Rp. 200.000.000,-
b. Belanja Bantuan Operasional Dharma Wanita sebesar Rp. 200.000.000,-
c. Belanja Bantuan Operasional Dekranas sebesar Rp. 200.000.000,-
d. Belanja Bantuan Operasional PMI sebesar Rp.700.000.000.
Jika dipandang perlu, supaya disimulasikan dalam bentuk program dan kegiatan pada SKPK berkenaan dan besarannya disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Khusus bantuan belanja hibah yang dialokasikan untuk bantuan pelaksanaan/mengikuti Kejuaraan Olahraga (Popda) sebesar Rp. 4.023.625.000 supaya dialihkan dalam bentuk program dan kegiatan pada

SKPK yang berkenaan.
10. Ditemukan alokasi anggaran pada beberapa SKPK yang tidak rasional, tidak jelas fungsinya, dan cenderung tidak efisien, di antaranya sebagai berikut:

a. Pada SKPK Inspektorat, setelah dilakukan penelitian tidak ditemukan adanya alokasi anggaran belanja yang pelaksanaannya membutuhkan suatu panitia pengadaan, namun disediakan anggaran sebesar Rp. 3.000.000. Hal yang sama ditemukan juga pada SKPK Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, disediakan Honor. Tim pengadaan barang dan jasa sebesar Rp. 15.000.000, tetapi tidak ditemukan adanya alokasi anggaran yang membutuhkan kepanitiaan. Penyediaan anggaran untuk honorarium panitia pengadaan pada kedua SKPK tersebut tidak rasional, supaya disempumakan kembali.

b. SKPK Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk, dialokasikan total anggaran belanja sebesar Rp. 3.719.865.725,- yang terdiri dari belanja tidak langsung sebesar Rp. 3.137.766.400,- dan belanja langsung sebesar Rp. 582.099.325,- namun output nya hanya melaksanakan rehap lantai jembatan kayu eks.UPT.1II Pirsus Krueng Page dengan jumlah anggaran sebesar Rp.72.000.000,-. Hal tersebut menggambarkan bahwa penganggarannya tidak efisien, fungsi SKPK tidak jelas dan terjadi pemborosan terhadap keuangan daerah. Untuk itu keberadaan SKPK ini supaya dipertimbangkan kembali.

c. Penganggaran Belanja Premi Asuransi pada Sekretariat Kabupaten yang terdiri dari asuransi kesehatan Kepala Daerah sebesar Rp. 60.000.000,-, asuransi kesehatan Wakil Kepala Daerah sebesar Rp. 50.000.000,-, dan asuransi kendaraan sebesar Rp. 350.000.000,- dan juga belanja premi asuransi pada Sekretariat Dewan yang terdiri dari asuransi kesehatan DPRK (45 org x 20 Juta) dengan nilai total Rp. 900.000.000,-, asuransi gedung Rp. 8.000.000,-, asuransi mess Rp. 8.000.000,- dan asuransi kendaraan sebesar Rp. 113.200.000,-, supaya dirasionalkan kembali, sehingga tidak terjadi pemborosan keuangan daerah.

d. SKPK Sekretariat Majelis Adat Aceh, hanya disediakan belanja langsung sebesar Rp. 50.000.000,-, supaya disempurnakan kembali.

e. SKPK Sekretariat Badan Baitul Mal, hanya disediakan anggaran belanja langsung sebesar Rp. 256.564.000,-, sementara melalui Dinas Syariat Islam, ditemukan kegiatan Pelatihan pengurus baitul mal Rp. 45.070.000,- agar dirasionalkan kembali dengan memperhatikan kedudukan Sekretariat Badan Baitul Mal sebagai suatu SKPK.

f. SKPK Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah, hanya disediakan belanja langsung sebesar Rp. 200.000.000 supaya disempurnakan kembali.

g. SKPK Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama, hanya disediakan belanja langsung sebesar Rp. 1.109.919.000, supaya disempurnakan kembali.

h. SKPK Akademi Kesehatan, hanya disediakan belanja langsung sebesar Rp 602.506.000, sementara penerimaan dari uang sekolah/pendidikan dan pelatihan yang berasal dari uang SPP dari AKKES, dicantumkan pada SKPK Dinas Kesehatan, supaya disempurnakan kembali.

11. Terhadap beberapa kegiatan, pelaksanaannya supaya benar-benar memperhatikan ketentuan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketujuh Atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Kegiatan-kegiatan dimaksud an tara lain sebagai berikut:

a. Kegiatan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Kecamatan dan Penyusunan LKH dan Tugas Pembantuan, antara lain Bantuan Peningkatan Pelayanan BPN sebesar Rp. 100.000.000 pada SKPK Sekretariat Daerah.

b. Kegiatan Pengembangan Usaha Koperasi dan UKM sebesar Rp. 1.632.000.000,- pada SKPK Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

c. SKPK Dinas Syariat Islam, melalui kegiatan Peningkatan Fasilitas Sarana Peribadatan, disediakan alokasi anggaran sebesar Rp. 1.818.000.000,- untuk pengadaan Sound Sistem dan Pembangunan Sarana lbadah atau Mesjid. Selanjutnya melalui kegiatan Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendidikan Agama dialokasikan anggaran sebesar Rp 925.000.000 untuk Pembangunan Balai Pengajian dan MCK.

d. Penyediaan Jasa Kebersihan kantor SKPK S ekretari at Daerah sebesar Rp. 495.000.000,- an tara lain belan.ia jasa cleaning service Setdakab se.besar

Rp. 250.000.000,- dan Pendopo/rumah jabatat1 KDH dan Wakil KDH sebesar Rp. 200.000.000,-

e. Penyediaan biaya Sharing PNPM Pedesaan sejumlah 27 Kecamatan sebesar Rp. 11.350.000.000,- melalui Kegiatan Pembinaan Kelompok Masyarakat Pembangunan Desa pada SKPK Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Sejahtera, yang ditempatkan pada kode rekening Belanja Modal Pengadaan Konstruksi Jalan.

12. Pengadaan alat-alat Drum Band untuk SMA Negeri Kuta Makmur dan SMA Negeri Syamtalira Aron sebesar Rp. 80.000.000,- melalui kegiatan Peningkatan Sarana dan Prasarana Fasilitas Kantor SKPK Sekretariat Daerah, tidak tepat sasaran. Peralatan Drum Band bukan merupakan fasilitas kantor, dan penempatannya supaya dialihkan pada SKPK Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

13. Penyediaan belanja makanan dan minuman sebesar Rp. 101.000.000,- melalui kegiatan Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah pada SKPK Dinas Kesehatan dan pada beberapa SKPK lainnya, supaya dipindahkan pada kegiatan yang sesuai.

14. Kebijakan Pembangunan Sarana dan Prasarana untuk keperluan lnstansi Vertikal, seperti lanjutan Pembangunan Mapolres Aceh Utara sebesar Rp. 800.000.000,- Lanjutan Pembangunan Mapolres Lhokseumawe sebesar Rp. 600.000.000 dan Rehab Mushola AR-Rahim Makodim 0103/AUT sebesar Rp. 100.000.000,- pada SKPK Dinas Cipta Kerya, supaya dapat ditinjau kembali dengan beberapa alasan antara lain:

-Kebutuhan lnstansi Vertikal merupakan beban APBN, namun hampir setiap tahun anggaran dibantu pembangunannya dengan menggunakan beban APBK.

-Dalam rangka Pemindahan Pusat Pemerintahan atau lbukota Kabupaten Aceh Utara dari Kota Lhokseumawe, sampai saat ini belum jelas pelaksanaannya.

-Sejalan dengan kecenderungan menurunnya kemampuan keuangan daerah, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara supaya mengambil kebijakan yang lebih bertanggung jawab terhadap penggunaan sumber daya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan riil masyarakat Aceh Utara. Hal ini sejalan dengan hakekat bahwa pendapatan daerah diperoleh melalui mekanisme pajak daerah dan retribusi daerah atau pungutan lain yang dibebankan pada seluruh masyarakat.

15. Kegiatan Penyiapan Anggota Satlinmas untuk Penanggulangan Bencana sebesar Rp. 115.330.000 dan Kegiatan Operasional Sekretariat Satlak PB dan Penanggulangan Korban Bencana sebesar Rp 67.068.800- pada SKPK Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat, disarankan untuk dipindahkan ke SKPK Badan Penanggulangan Bencana Daerah, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

16. Kegiatan Pendamping Dana DAK sebesar Rp. 739.394.000,- pada SKPK Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, di antaranya terdapat Belanja Jasa Pihak Ketiga pada kode rekening rincian objek belanja jasa pengawasan sebesar Rp. 251.637.000,- sebagai pengawasan/pendampingan Dana DAK di DPKKD, tidak tepat sasaran. Penyediaan alokasi anggaran untuk pendampingan, supaya mempedomani Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2010, yang menyangkut Hal-Hal Khusus nomor urut 8.

17. Penyediaan belanja penunjang kegiatan camat sebesar Rp. 999.000.000,-yaitu Rp. 37.000.000,- x 37 orang melalui kegiatan Fasilitas Penunjang Kegiatan Kecamatan pada SKPK Sekretariat Daerah, supaya dialihkan dalam bentuk tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja pada SKPK Kecamatan masing-masing, dengan catatan dalam kolom penjelasan disebutkan untuk belanja penunjang kegiatan kecamatan.

18. Ditemukan tidak adanya penganggaran untuk luran Asuransi Kesehatan pada SKPKD Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah. Iuaran Asuransi kesehatan bagi PNSD supaya dianggarkan dengan mempedomani ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2003 tentang Subsidi dan luran Pemerintah Dalam Penyelenggaraan Asuransi Kesehatan bagi pegawai Negeri Sipil dan Penerima Pensiun serta Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 138/MENKES/PB/II/2009 Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pedoman Tarif Pelayanan Kesehatan bagi Peserta PT.Askes (Persero) dan Anggota Keluarganya di Puskesmas, Balai Kesehatan Masyarakat, dan Rumah Sakit Daerah.

--
Tabloid KONTRAS Nomor : 532 | Tahun XI 11 - 17 Maret 2010

02.07 | Posted in , | Read More »

Berfoya-Foya di APBK Aceh Utara?



Masriadi Sambo - KONTRAS

Banyak hal aneh dalam APBK Aceh Utara tahun 2010. Latah atau memang karena ketidaktahuan eksekutif dan legislatif di daerah yang dulu dijuluki Petro Dolar itu?

SETELAH dibahas selama berbulan-bulan, dikaji secara mendalam, dianalisis oleh DPRK Aceh Utara dan pemerintah setempat, ternyata tidak juga menghasilkan program yang luar biasa indah. Alih-alih berpihak kepada rakyat, bahkan draf APBK yang kini dianalisis oleh Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Provinsi Aceh itu terlihat rancu dan amburadul.

Lihatlah misalnya, angka untuk advokasi hukum Pemerintah Aceh Utara sebesar Rp 3 miliar. Tidak disebutkan secara rinci untuk kasus apa saja uang sebesar itu digunakan. Sementara itu, di Aceh Utara banyak kalangan menilai bahwa uang itu akan digunakan untuk melakukan advokasi menuntut balik Bank Mandiri Jelambar terkait kasus bobol kas Aceh Utara sebesar Rp 220 miliar.

“Dulu bupati selalu bilang kalau Bank Mandiri yang bermasalah. Sekarang mengapa mesti mengalokasikan dana sebesar itu untuk melakukan advokasi. Artinya, ini pemborosan yang tidak perlu sebenarnya,” kata Dewan Pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bytra, Basri A Gani kepada Kontras, kemarin.

Basri menilai, APBK Aceh Utara mencederai rasa keadilan bagi masyarakat. Lihatlah betapa repotnya mahasiswa di Aceh Utara yang tidak mendapatkan alokasi dana beasiswa tahun ini. Beasiswa yang dialokasikan tahun ini hanya untuk membayarkan beasiswa yang belum disalurkan tahun 2009 lalu. Kejadian ini baru kali pertama sepanjang sejarah Aceh Utara. Sebelumnya, setiap tahun pemerintah setempat selalu mengalokasikan anggaran yang memadai untuk mahasiswa yang menimba ilmu di Aceh Utara maupun di luar daerah. Bahkan ada pula alokasi dana untuk mahasiswa pascasarjana.

“Kasus ini membuktikan bahwa APBK memang tidak pro-rakyat. Banyak sekali uang yang diperlukan untuk membangun Aceh Utara, kok malah bisa program penting dilupakan. Yang tak penting malah dianggarkan. Ini namanya program latah,” kata Basri.

Persoalan dana beasiswa ini memicu amarah mahasiswa yang menimba ilmu di luar Kabupaten Aceh Utara. Kepala Bidang Humas, Ikatan Mahasiswa Aceh Utara (IMAU) di Kabupaten Bireuen, M Yanis, menyebutkan, pihaknya kini sedang berkoordinasi dengan seluruh elemen mahasiswa asal Aceh Utara untuk melakukan aksi demonstrasi akbar.

IMAU adalah organisasi yang membawahi mahasiswa asal Aceh Utara yang kuliah di tiga perguruan tinggi di Bireuen. Jumlah anggota organisasi ini mencapai 2.000 mahasiswa. M Yanis menyesalkan sikap Pemda Aceh Utara yang tidak mengalokasikan anggaran beasiswa untuk tahun ini. “Baru kali ini dalam sejarah tidak ada anggaran beasiswa untuk mahasiswa yang menimba ilmu. Ini sangat memprihatinkan, sangat menyedihkan,” kata Yanis.

Itu baru soal beasiswa, lihatlah keluhan 852 kepala desa di Aceh Utara. Ratusan kepala desa mengaku terlilit utang. Pasalnya, alokasi dana gampoeng (ADG) tahap dua tahun 2009 hingga kini belum dicairkan. Berkali-kali kelompok keuchik yang dikoordinir Asosiasi Keuchik Aceh Utara (Asgara) beraudiensi ke gedung DPRK setempat. Mereka meminta dukungan agar dana itu dianggarkan dalam tahun 2010 secara utuh. Jika tidak, maka, keuchik di semua desa ketiban masalah besar.

“Keuchik sudah banyak berutang dulu untuk membangun. Padahal uang tahap dua belum turun. Sekarang banyak keuchik yang didatangi kontraktor, meminta uang mereka dibayarkan. Ini yang sangat menyulitkan keuchik,” kata Ketua Asgara, Muksalmina.

Anehnya lagi, DPRK Aceh Utara hanya berani menjanjikan anggaran sebesar 25 persen atau sebesar Rp 25 juta per desa. Idealnya, Rp 50 juta per desa. Ini terungkap dalam demonstrasi akbar para keuchik bulan lalu di gedung DPRK setempat.

Informasi yang dihimpun di kalangan panitia anggaran DPRK Aceh Utara, uang untuk pos bantuan hukum yang diusulkan oleh eksekutif mencapai Rp 5 miliar. Namun, dewan setempat memangkasnya menjadi Rp 3 miliar. Pengesahan APBK Aceh Utara sendiri dilakukan Kamis, 18 Februari 2010 lalu. Pada Jumat 19 Februari tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) membawa draf qanun APBK itu untuk dievaluasi oleh Pemerintah Provinsi Aceh. Ikut hadir dalam tim itu adalah Sekda Aceh Utara, Syahbuddin Usman, dan Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Aceh Utara. Plus didampingi oleh lima anggota dewan, yaitu Abdul Muthaleb, Tgk Junaidi, Ridwan Yunus, Khaidir Abdurahman, dan Ridwan M Yunus (PAN).

Muncullah persoalan. Tim evaluasi pada DPKKD Provinsi Aceh mempertanyakan mengapa dana bantuan hukum mencapai Rp 3 miliar. Selain itu, ada juga dana bantuan untuk instansi vertikal seperti TNI. Sementara itu, Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Aceh Utara, Azhari SE, membenarkan bahwa sampai saat ini APBK Aceh Utara masih dievaluasi oleh Pemerintah Provinsi Aceh.

“Sampai sekarang masih dievaluasi. Belum diserahkan ke Aceh Utara, itu setahu saya,” kata Azhari, Selasa (9/3). Azhari salah seorang tim TAPD yang hadir dalam pembahasan dengan tim evaluasi anggaran pada DPKKA Provinsi Aceh.

“Prinsipnya diberikan masukan. Bukan mengubah. Misalnya, ada yang tidak sesuai aturan hukum. Ya, kalau tidak sesuai aturan hukum artinya harus dirubah,” kata Azhari. Dia mengaku ada beberapa bagian yang dikritisi oleh DPKKA Provinsi Aceh, termasuk pos dana bantuan hukum tersebut.

“Prinsipnya bisa saja dana bantuan hukum itu. Kita sudah jelaskan, bahwa dana itu untuk kasus-kasus perdata yang dialami oleh Pemerintah Aceh Utara. Misalnya, kasus gugatan sengeta pertanahan. Lalu, kasus bantuan hukum untuk masyarakat Aceh Ut ara,”ungkap Azhari.

Azhari juga menyebutkan, pihaknya telah melengkapi detail rencana bantuan hukum dan seluruh mata anggaran yang telah diajukan. “Bantuan untuk instansi vertikal seperti TNI juga dibolehkan. Nam un, anggarannya disarankan untuk dirasionalkan kembali. Prinsipnya, provinsi hanya menyarankan saja,” terang Azhari sembari menambahkan dalam waktu dekat ini akan ada rapat lagi antara TAPD Aceh Utara dengan DPRK Aceh Utara untuk merasionalkan anggaran dalam APBK tersebut.

Azhari menggaransi bahwa pos dana bantuan hukum itu akan digunakan untuk perdata. “Kalau digunakan untuk pidana itu yang tidak boleh. Dan digunakan untuk Pemkab Aceh Utara, bukan orang pribadi,” pungkas Azhari.

Azhari boleh saja mengatakan bahwa hasil evaluasi gubernur hanya masukan. Artinya, boleh diikuti boleh juga tidak. Akan tetapi, dalam surat hasil evaluasi Gubernur ada kalimat yang menegaskan, “Dalam hal bupati dan DPRK tidak menindaklanjuti hasil evaluasi dan tetap menetapkan rancangan qanun tersebut, akan dilakukan pembatalan oleh Gubernur Aceh sekaligus menyatakan berlaku pagu APBK tahun sebelumnya.”

Sementara itu, Sekda Aceh Utara, Syahbuddin Usman tidak berhasil dikonfirmasi terkait rincian mata anggaran yang mendapat perubahan setelah dievaluasi oleh DPKKA Provinsi Aceh. Handphone Syahbuddin Usman diblokir dan hanya meninggalkan pesan masuk dengan nada terima kasih telah menghubungi kami. Lalu, handphone itu secara otomatis mati sendiri. Pesan singkat yang dikirim pun belum dibalas hingga berita ini diturunkan. Hal yang sama juga terjadi pada Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid. Kabar yang diperoleh Kontras, Bupati Aceh Utara sedang berada di Jakarta untuk mengurus pengembalian uang barang bukti sebesar Rp 177 miliar di Polda Metro Jaya.

--
Tabloid KONTRAS Nomor : 532 | Tahun XI 11 - 17 Maret 2010

02.05 | Posted in , | Read More »

Aceh Utara Terlilit Masalah Kas Terbobol, Uang Dipinjam




Masriadi - KONTRAS
Pascabobolnya kas Aceh Utara sebesar Rp 220 miliar di Bank Mandiri Jelambar, kini Aceh Utara sulit mendanai pembangunannya. Daerah itu pun berencana mengutang ke perbankan. Elemen sipil dan mahasiswa mulai mengancam menurunkan massa untuk menolak utang.


Jika melihat dari luar, seolah Aceh Utara masih memiliki kemampuan yang cukup kuat membangun daerah yang pernah dijuluki kabupaten kedua terkaya di Indonesia, setelah Kutai Kertanegara itu. Namun, lihatlah alokasi anggaran daerah tersebut. Kini, Aceh Utara tinggal tong kosong. Pondasi dana yang dulu diagung-agungkan telah sirna. Berharap pada pendapatan asli daerah (PAD) suatu hal yang mustahil. Pasalnya, daerah yang memiliki 27 kecamatan itu hanya mampu menargetkan PAD sebesar Rp 38,2 miliar untuk tahun ini. Sedangkan tahun sebelumnya, PAD Aceh Utara hanya sebesar Rp 78 miliar.

Angka itu tentu tidak cukup untuk menutupi pembangunan satu kecamatan pun. Sedangkan sumber dari dana perimbangan sebesar Rp 618, 8 miliar serta pendapaan lainnya yang sah sebesar Rp 13,7 miliar. APBK Aceh Utara tahun ini diperkirakan sebesar Rp 763, 8 miliar. Hal itu terlihat dari kebijakan umum anggaran (KUA) dan plafon prioritas anggaran sementara (PPAS) tahun 2010 yang kini sedang dibahas di DPRK setempat. Untuk menutupi kekurangan belanja pembangunan itu, Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, meminta izin pada DPRK agar meminjam uang sebesar Rp 126 M pada perbankan. Tujuannya untuk menjalankan roda pembangunan. Usulan ini telah dimasukkan eksekutif ke legislatif, 6 Januari lalu. Dewan belum mengamini usulan bupati tersebut.

Untuk melakukan penghematan, sejumlah DPRK dan Bupati pun mulai memikirkan cara lain. Solusi yang diambil adalah merampingkan dinas, kantor dan badan di Aceh Utara. Sebelumnya, tercatat sebanyak 34 dinas, kantor dan badan di pemerintahan itu. Usulan itu disetujui oleh DPRK Aceh Utara. Pada 2 Februari lalu, DPRK setempat mengesahkan qanun satuan kerja perangkat kabupaten (SKPK). Kini, hanya ada 29 SKPK, dengan rincian 16 dinas, dan 13 kantor dan badan yang dimiliki Aceh Utara.

Adapun ke 16 dinas itu yaitu dinas syariat Islam, dinas pendidikan, pemuda dan olahraga, dinas pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah, dinas kependudukan dan catatan sipil, dinas kesehatan, dinas binamarga, dinas cipta karya, dinas perindustrian dan perdagangan, dinas koperasi dan usaha kecil dan menengah, dinas pertanian dan peternakan, dinas perikanan dan kelautan, dinas pasar, kebersihan dan pertamanan, dinas sosial tenaga kerja dan mobilitas penduduk, dinas kehutanan dan perkebunan, dan dinas perhubungan, pariwisata dan kebudayaan.

Sedangkan 13 kantor dan badan, yaitu badan perencanaan daerah (Bapeda), badan pemberdayaan masyarakat, badan kesatuan bangsa, politik dan perlindungan masyarakat, badan penanggulangan bencana daerah, badan ketahanan pangan dan penyuluhan, Inspektorat, rumah sakit umum daerah, kantor pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan keluarga sejahtera, kantor perpustakaan daerah, kantor wilayatul hisbah dan satuan pamong praja, kantor lingkungan hidup, kantor pelayanan perizinan terpadu satu pintu.

Sejumlah SKPK digabungkan ke dalam SKPK lainnya seperti Dinas Sumber Daya Mineral digabungkan ke dinas pengairan sehingga namanya menjadi Dinas Pengairan dan ESM. Sedangkan dinas pemuda, olahraga, kebudayaan dan pariwisata dipecahkan ke dalam dua dinas, yaitu bagian pemuda dan olahraga digabungkan ke dalam dinas pendidikan sehingga berganti nama menjadi dinas pendidikan, pemuda dan olahraga. Sedangkan bagian pariwisata dan kebudayaan digabungkan ke dalam dinas perhubungan, sehingga berganti nama menjadi dinas perhubungan, kebudayaan dan pariwisata.

Dinas pertanian, tanaman pangan serta dinas peternakan dan kesehatan hewan digabungkan menjadi satu dinas, yaitu dinas pertanian dan peternakan. Sedangkan badan pendidikan, pelatihan dan pengembangan aparatur dilebur ke dalam badan kepegawaian daerah (BKD), sehingga namanya berubah menjadi badan kepegawaian, pelatihan dan pengembangan aparatur. Selain itu, badan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diturunkan statusnya menjadi kantor pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Selain itu, seksi pemberdayaan perempuan, pemuda dan olahraga yang ada di kantor camat juga dihapuskan. Perampingan yang dilakukan ini dinilai banyak kalangan tidak mampu menghemat anggaran. Pasalnya, sangat sedikit kantor dan dinas yang dirampingkan, hanya sekitar lima kantor dan dinas saja. Diperkirakan, jika penciutan begitu, hanya bisa menghemat anggaran sebesar Rp 5 miliar.

“Saya pikir, kalau begitu diciutkan paling hemat Rp 5 miliar saja,” kata Ketua Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian, kepada Kontras, baru-baru ini. Lajang aktivis antikorupsi ini menilai, seharusnya bisa ditinggalkan menjadi 25 dinas dan kantor saja, mengingat kemampuan Pemkab kini yang sangat terbatas. Solusi yang paling mumpuni adalah mengambil dana yang dijadikan barang bukti bobol kas Aceh Utara sebesar Rp 177 miliar di Polda Metro Jaya. Namun, tampaknya ini bukan menjadi pilihan Bupati Ilyas A Hamid.

Bupati Aceh Utara menyebutkan dirinya tidak akan mengambil dana barang bukti itu. “Berapa kali saya bilang, saya tidak akan mengambil uang itu. Karena, itu kesalahan perbankan. Uang itu harus dikembalikan utuh. Saya tidak akan ambil uang itu,” ujarnya kepada sejumlah wartawan di Gedung DPRK Aceh Utara, baru-baru ini.

Dia menyebutkan jika tidak meminjam uang ke perbankan, maka tidak bisa membangun Aceh Utara secara maksimal. Namun, saat ditanya ke bank mana akan dipinjam, Ilyas tidak menjawab. “Banknya belum kita tentukan. Baru pada taraf angka. Ini kan baru kita ajukan ke legislatif. Kalau tidak kita pinjam, maka kita tidak bisa bangun Aceh Utara ini,” terang bupati.

Ilyas tetap optimis, kasus bobol kas Aceh Utara itu merupakan kejahatan perbankan. Dia yakin, uang Aceh Utara akan kembali utuh sebesar Rp 220 miliar seperti ketika uang itu didepositokan. Di tubuh DPRK Aceh Utara sendiri tidak satu suara terkait rencana peminjaman itu. Anggota panitia anggaran, Zulfadli A Thaleb, terang-terangan menolak rencana peminjaman uang itu. Dia menyebutkan, dirinya akan menolak rencana peminjaman itu karena Aceh Utara akan dipusingkan dengan beban bunga yang dihasilkan dari pinjaman tersebut.

“Aneh sekali, kita masih punya uang di Jakarta. Mengapa mesti pinjam? Saya jelas akan menolak rencana itu. Kita akan dibebani dengan bunga lagi. Sudah tidak ada uang, ditambah beban bunga, akan pening nanti semua kita di Aceh Utara ini,” kata politisi muda itu. Informasi yang dihimpun, besaran bunga bank bervariasi antara 12-14 persen per tahun. Angka ini tentu sangat besar yang harus dibayarkan.

Sementara itu, dihubungi per telepon, Ketua DPRK Aceh Utara, Jamaluddil Jalil, yang akrab disapa Mualim Jamal, menyebutkan, pihaknya akan mempertimbangkan rencana peminjaman itu. Dia membantah kabar bahwa DPRK telah menyetujui rencana peminjaman itu. “Belum setuju. Kita analisis dulu. Bila memang sangat memerlukan, maka kita akan setuju. Angkanya pun belum kita setujui, berapa besar yang akan dipinjam,” kata Mualim Jamal. Dia menyebutkan, pihaknya akan menganalisis sejauhmana urgensi rencana peminjaman tersebut. “Kita lihat nanti. Pokoknya kita analisis dulu secara detail,” pungkas Mualim Jamal.

Ancaman elemen sipil
DPRK Aceh Utara berencana mengesahkan anggaran APBK 2010 akhir Februari 2010 ini. Salah satu poin yang ditunggu rakyat Aceh Utara, apakah DPRK akan mengamini rencana peminjaman uang sebesar Rp 126 miliar untuk mendanai pembangunan tahun ini? Saatnya menunggu aksi wakil rakyat, dan elemen sipil sudah siap dengan kuda-kuda.

Kalangan elemen sipil Aceh Utara kini sedang bersiap-siap untuk menentang rencana peminjaman itu. Pintu terakhir adalah DPRK Aceh Utara. Bila DPRK setuju, maka muluslah peminjaman uang tersebut. Koordinator MaTA Aceh, Alfian menyebutkan, kini kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Lhokseumawe dan Aceh Utara sedang menyusun kekuatan untuk melakukan demonstrasi akbar. Isunya, khusus menolak rencana peminjaman itu.

Kalangan LSM, sebut Alfian, tetap mendesak agar Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, menarik barang bukti yang kini berada di Polda Metro Jaya. Syarat untuk peminjaman barang bukti itu pun terbilang mudah. Cukup dengan surat bupati dan DPRK. Plus, sisakan sedikit sebagai barang bukti. Jadi, dana sebesar Rp 177 miliar itu bisa disisakan Rp 1 juta saja sebagai barang bukti. Sisanya bisa digunakan untuk pembangunan Aceh Utara. “Kita sedang menyusun kekuatan. Teman-teman LSM akan menggelar demonstrasi bila DPRK menyetujui peminjaman itu,” kata Alfian. Sementara itu, kalangan mahasiswa di Aceh Utara kembali menyuarakan teriakan lantang. Sudah lama memang tidak terdengar aksi yang menyentak dari aktivis kampus di daerah itu. Jika pun ada demonstrasi, hanya segelintir mahasiswa dengan variasi isu yang sangat beragam.

Kini, mereka mulai merencanakan aksi bersama. Hal itu diungkapkan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Zulfikar. Dia menyebutkan, mereka kini sedang mensinergikan kekuatan berbagai kampus di daerah itu. Saat ini, ada tujuh kampus swasta, dan tiga kampus negeri yang sedang bersinergi terkait isu tersebut.

“Kita sedang satukan pandangan, satu kan niat khusus untuk menolak rencana peminjaman uang itu. Terpenting, uang barang bukti mau diambil balik oleh bupati Aceh Utara. Uang itu harus bisa digunakan untuk pembangunan daerah ini, bukan terpajang sebagai barang bukti,” kata Zulfikar. Dia menilai, sikap diam bupati untuk tidak mengambil uang itu akan merugikan Aceh Utara. Zulfikar menyebutkan, mahasiswa akan mengepung Lhokseumawe dalam waktu dekat ini. Saat disinggung kapan pastinya demonstrasi itu digelar, Zulfikar enggan menyebutkan.

Dia mengatakan, mereka akan menurunkan masa sekitar 2.000 orang. Dengan masa sebegitu besar, maka dipastikan akan memenuhi seluruh jalan protokol di Lhokseumawe. Dalam sejarah gerakan mahasiswa di Lhokseumawe, gerakan yang begitu besar menghadirkan massa terjadi dua tahun lalu, ketika mahasiswa menolak rencana DPRK Aceh Utara untuk memiliki tanah Reklamasi Pusong, Lhokseumawe. Demonstrasi itu pula yang menyurutkan niat dewan untuk menguasai tanah itu. Kini, di atas tanah itu dibangun sekolah dasar. Akankah gerakan serupa membuat dewan kali ini tidak menyetujui rencana peminjaman uang ke perbankan? Entahlah!

00.08 | Posted in | Read More »

Banyak Rintangan Menghadang Ekspor




Masriadi - KONTRAS
Tak mudah menggeliatkan pelabuhan-pelabuhan di Aceh untuk mengekspor aneka barang. Belum apa-apa, pengusaha di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, sudah pasang kuda-kuda: Membeli hasil kebun Aceh dengan harga tinggi, sehingga petani lebih tertarik menjualnya ke Belawan ketimbang diekspor melalui Krueng Geukuh. Taktik sementara pengusaha Belawan?


MATAHARI menyengat kulit bumi Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara. Beberapa tenaga kerja, aparat bea cukai dan lain sebagainya tampak duduk di arena bibir Pelabuhan Krueng Geukuh, Kabupaten Aceh Utara. Pelabuhan itu kini berstatus internasional. Masyarakat Aceh berharap, pelabuhan ini bisa difungsikan untuk pelabuhan barang dan pelabuhan umum. Sehingga, ekonomi Aceh bisa terbuka. Pasalnya, selama ini, pengusaha Aceh membeli barang-barang dari Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara. Akibatnya, harga barang di Aceh terlalu tinggi. Masyarakat pun mengeluh.

Sebelumnya, frekuensi bongkar-muat yang dilansir PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Krueng Geukuh, di Pelabuhan Krueng Geukuh sangat minim. Tahun 2006, aktivitas bongkar di pelabuhan hanya sebanyak 252.362 ton, sedangkan untuk muat hanya sebesar 152.326 ton. Sedangkan untuk kapal penumpang nol persen dalam kurun waktu 2003-2006. Ketika konflik, pelabuhan ini sering digunakan oleh pasukan kemananan. Bahkan distribusi personel dan logistik tempur juga dilakukan dari pelabuhan ini.

Pascaperang dan tsunami, Pemerintah Aceh Utara, tahun lalu membentuk tim pemberdayaan ekspor komuditi Aceh (PEKA). Surat keputusan pembentukan tim ini dikeluarkan Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, tahun lalu. Tugas tim ini bekerja mendatangkan kapal dan para importir ke Aceh Utara, sehingga geliat pelabuhan semakin terasa

“Komoditi kita cukup untuk kita jual ke luar Aceh langsung dari Krueng Geukuh. Saya contohkan, misalnya pinang. Rata-rata dua hari sekali, 700 ton pinang per dua hari. Meski ini pada kondisi musim panen. Kalau kondisi tidak musim panen, 200 ton per dua hari ada barang,” kata Ketua PEKA, Syahruddin Hamzah, baru-baru ini.

Dia menyebutkan, tahun 2007 pihaknya telah berusaha untuk mendatangkan kapal-kapal agar masuk ke pelabuhan. Namun, hasilnya nihil. Meski begitu, mereka terus berupaya untuk menggerakkan pelabuhan. Mendatangkan importir, dan menghimpun kekeuatan eksportir di Aceh Utara. Informasi yang dihimpun Kontras, gerakan rencana ekspor dari Aceh ini mendapat “perlawanan” dari sejumlah pengusaha di Medan, Sumatera Utara. Pasalnya, jika pelabuhan di Aceh melakukan aktivitas ekspor, maka komuditas yang diekspor dari Medan akan menurun drastis. Strategi yang dimainkan adalah dengan menaikkan harga beli di Medan, sehingga pedagang Aceh menjual barang ke Medan melalui jalur darat.

Persoalan lainnya adalah minimnya dukungan perbankan pada kalangan pengusaha ekspor di Aceh. Syahruddin Hamzah menyebutkan, dirinya sudah berkali-kali mendatangi seluruh bank di Lhokseumawe untuk meminta agar diberi kredit pada pengusaha ekspor. Tentu dengan jaminan yang memadai. Namun, perbankan meminta agar pengusaha harus berpengalaman di bidangnya (ekspor-impor) minimal dua tahun. Jika tidak, tidak akan mendapatkan dana segar dari perbankan.

Anehnya lagi, Bank BPD Aceh yang notabene sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota juga tidak mau memberikan kredit. Untuk itu, Syahruddin Hamzah meminta agar Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, mengintervensi Bank BPD Aceh. “Jika tidak, maka rencana ekspor hanya sebatas wacana,” kata pria berkacamata itu.

Jika mendengar kabar bahwa pelabuhan di Aceh akan memulai ekspor, maka harga komoditas di Medan, Sumatera Utara, langsung meroket. Ini pula yang membuat pedagang pengumpul komoditas tak sanggup menahan godaan harga mahal itu. Solusi mengatasi persoalan ini adalah komitmen Pemerintah Aceh untuk menggerakkan ekspor dan membuka jaringan sekuat mungkin dengan negara tetangga. Sehingga, persaingan antara Medan dan Aceh ini bisa diakhiri.

Dari persaingan harga antara Medan dan Aceh ini menunjukkan kondisi iklim bisnis yang kurang sehat. Semakin memilukan, Keputusan Menteri Perdagangan No 56/2008 tentang lima jenis barang impor tidak memasukkan pelabuhan Aceh di dalamnya. Lima jenis barang impor itu adalah tekstil, makanan, mainan anak-anak, alas kaki, dan elektronik. Tidak satu pun pelabuhan di Aceh yang boleh melakukan impor lima jenis barang itu. Artinya, untuk Aceh, harus melalui Medan.

Persoalan ini tentu membutuhkan energi ekstra dari Gubernur Aceh. Gubernur harus meminta kekhususan Aceh di bidang perdagangan. Misalnya, dengan meminta Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, memasukkan salah satu pelabuhan Aceh dalam daftar pelabuhan yang bisa menerima lima jenis barang impor tersebut.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh Utara, Teuku Moni Alwi, menyebutkan, jumlah eksportir di Aceh Utara terbilang kecil. “Hanya dua puluhan orang. Namun, ini karena pelabuhan tidak dibuka. Makanya, tidak banyak pengusaha yang bekerja di bidang ekspor. Selain itu, faktor konflik panjang juga mempengaruhi iklim bisnis ekspor ini,” terang Moni.

Dia menyebutkan, Kadin komit mendorong pelaku usaha untuk melakukan ekspor melalui Pelabuhan Krueng Geukuh. “Saya sudah menyebutkan ke semua asosiasi pengusaha, maupun personal, agar melakukan ekspor melalui Pelabuhan Krueng Geukuh. Saya pikir, dalam waktu dekat ini, akan semakin baik iklim bisnis di Aceh,” kata Moni.

Dia berharap, pihak pelabuhan mempermudah para eksportir dari segi administrasi. Sehingga, para eksportir ini bersemangat melakukan kegiatan bisnis. “Jangan sampai nanti, pelabuhan dibuka. Namun, pengusaha dipersulit dengan hal-hal administrasi yang berbelit-belit. Ini tidak bagus. Saya minta, agar Pelindo mempermudah nantinya, ya tentu dalam koridor hukum,” terang Moni.

Lebih jauh dia menyebutkan, pihaknya telah sepakat dengan Pelindo untuk mempermudah pengusaha ekspor di Aceh Utara. Di tempat terpisah, Kepala Bagian Humas, PT Pelindo, Krueng Geukuh, Sempat Manik, menyebutkan fasilitas pelabuhan sudah sangat memadai untuk masuknya kapal. Secara administrasi Pelindo dan instansi pelabuhan seperti bea cukai, adpel dan lain sebagainya sudah sepakat untuk menggerakkan pelabuhan. Caranya, mempermudah para pengusaha, namun sebatas itu tidak melanggar hukum dan ketentuan yang berlaku.

“Kalau fasilitas kita sudah cukup. Sudah sangat memadai. Crain, gudang, dan lain sebagainya sudah sangat memadai. Tinggal lagi, komitmen bersama untuk menggerakkan pelabuhan ini. Kita sudah siap, gudang sudah siap dan lain sebagainya,” kata Sempat Manik. Dia berharap, komitmen bersama semua pihak bisa membuat pelabuhan bergerak, dan para pelaku usaha bisa mudah mengimpor atau mengekspor barang ke luar negeri.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Djakarta Lloyd bidang transportasi laut menyebutkan pihaknya komit membuka rute ke Aceh. Namun, pihaknya juga sangat berhati-hati. Karena khawatir ketiadaan barang dari Jakarta untuk diangkut ke Aceh. Kapasitas kapal yang dimiliki oleh perusahaan negara itu mencapai 200 kontainer untuk sekali jalan.

Untuk tahap awal, akan dibuka jalur transportasi pengangkutan barang Jakarta-Batam-Medan-Krueng Geukuh-Banda Aceh. Jalur ini merupakan jalur terbaru yang dibuka perusahaan milik negara itu. Bahkan, enam kontainer barang telah disiagakan di Krueng Geukuh dan 30 kontainer lainnya telah disiagakan di Pelabuhan Malahayati, Banda Aceh. Pelabuhan sudah siap, tinggal lagi, bagaimana komitmen perbankan dan semua pihak untuk memotong harga di Medan, Sumatera Utara, sehingga pelabuhan Aceh bisa berjasa, seperti masa Iskandar Muda tempo dulu.

--
Tabloid KONTRAS Nomor : 525 | Tahun XI 21 - 27 Januari 2010

02.31 | Posted in | Read More »

Orang-Orang Gila di Aceh



Masriadi - KONTRAS

Pascaperang dan tsunami di Aceh, pengidap gangguan jiwa mencapai ribuan orang. Inilah layanan kesehatan yang tidak memadai di provinsi kaya uang. Kontras menelusuri apa yang dialami warga yang kurang beruntung itu.

Ramli Yusuf (45 Tahun), tak pernah bermimpi dalam sejarah hidupnya mengidap gangguan jiwa. Ketika usianya meranjak dewasa, pria ini adalah striker sepak bola. Tatapan matanya tajam. Bola mata itu berputar ke kiri-kanan. Layaknya ingin membagi bola pada teman, dan membidik kelemahan penjaga gawang lawan dan mencetak gol. Dia bermain untuk klub Kijang Putra Kecamatan Paya Bakong. Klub itu satu di antara sekian banyak klub kecamatan yang “sangar” dan kerap memboyong piala.

Bahkan karena kelihaiannya dalam memainkan si kulit bundar tak jarang ia menjadi pemain bayaran dalam berbagai even turnamen bola kaki. Namun, itu semua hanya tinggal kenangan manis yang takkan mungkin kembali. Semua cita-cita anak kedua dari empat bersaudara untuk menjadi pemain tim nasional Indonesia pupus sudah.

Itulah nasib pria warga Desa Tanjong Beurunyong, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Dia tak pernah bermain bola lagi. Saban hari hanya bisa mengembuskan gumpalan asap kretek sembari meratapi nasibnya. Pria tampan ini telah dipasung oleh keluarganya 21 tahun silam. Menurut Erni, adik kandung Ramli, menceritakan kepada Kontras meski mengalami gangguan jiwa, naluri lelaki abang kandungnya itu berjalan normal.

“Suatu hari beberapa teman saya datang berkunjung ke rumah. Saat itu abang saya hanya memandangi dari balik jendela tempatnya di pasung. Matanya tertarik pada teman-teman saya yang menurut Bang Ramli sangat cantik,” kisah Erni. Lalu, ketika teman-temannya pulang, Ramli langsung memanggil Erni dan menanyakan pertanyaan konyol dan menggelikan.

“Dek, ngen kah item meucewek ngon lon han (Dek, teman kamu mau ngak pacaran sama abang?)” tutur Erni menirukan ucapan abangnya kala itu. Gubuk tempat Ramli dipasung hanya berukuran 3 x 4 meter. Udaranya pengab. Tidak ada udara yang mencukupi. Rambut pria itu mulai gondrong. Kumisnya tidak teratur.

Cerita lainnya diutarakan M Husen, abang kandung Ramli. Beberapa tahun lalu ia pernah dilepas dari pasungannya dan itu belangsung lebih dari empat tahun. Namun, terpaksa dipasung kembali karena selain merugikan keluarga, ia juga mengganggu ketentraman banyak orang.

“Saat bebas, kerjanya hanya nongkrong ngebon di warung kopi hingga tagihannya mencapai Rp 400 - 500 ribu per bulannya, belum lagi ulahnya yang suka mengusili warga,” ungkap M Husen pilu. Lanjut Husen, pernah ia menyuruh salah seorang pemuda yang melintas untuk berhenti hanya dengan maksud mengambil paksa jam tangan yang melingkar di tangannya. “Jelas pemuda itu tidak memberi, alhasil bogem mentah mendarat empuk di wajah lelaki tak berdosa itu. Akibatnya, keluarga terpaksa meminta maaf dan menempuh jalur damai,” kenangnya sambil menggelengkan kepalanya.

Sambil menerawang menatap ke atas langit-langit rumah orang tuanya, Husen mencoba berkisah, dulunya sekitar tahun 1980-an, Ramli adalah tipikal pemuda tampan dengan wajah rupawan yang digemari kaum hawa.

Bahkan tak jarang banyak wanita yang menyebut wajahnya menyerupai David Beckam, playmaker (pemain gelandang) asal Inggris. Dengan hanya menyandang ijazah SD, ia termasuk pekerja keras sebagai salah seorang buruh di PTP V Krueng Pase- sekitar 10 kilometer dari tempat tinggal Ramli. Namun, semuanya sirna pada 1989, karena dari situlah semua bencana itu bermula.

Menurut Husen, saat masih menjadi pemain bayaran, Ramli pernah mendapat honor sebesar Rp 10 ribu, namun uang itu hilang. Akhirnya, ia rela mencari uang hasil jerih payahnya itu berhari-hari hingga jatuh sakit. “Pihak kantor mengetahui bahwa Ramli merupakan salah seorang striker handal di Club Kijang Putra Paya Bakong, dan mereka (pihak PTP V) memberi angin surga dengan menawari adik saya untuk bergabung di club mereka. Tawaran itu membuat adik saya berangan tinggi terbang ke awan, namun pada kenyataannya impian tak seindah fakta yang ada. Pihak PTP V membatalkan tawaran itu secara sepihak, akibatnya adik saya menjadi uring - uringan dan ia mencoba menenangkan pikirannya dengan mengonsumsi narkoba jenis ganja,” ungkap Husen.

Kondisi itu terus berlangsung lama hingga Ramli berhenti bekerja dan menghabiskan waktunya hanya dengan melamun dan terjerumus untuk menghisap ganja. Tak lama berselang, ia mulai berbicara sendiri dan sesekali tertawa bahkan menangis. “Itulah awal mula kehancuran hidupnya dan itu terjadi sebelum ia sempat membina rumah tangga,” ujar Husen. Karena suka mengamuk dan mengambil harta benda milik orang lain, akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk memasungnya dan itu berlangsung dari 1989 hingga akhir 2002. Tepat tanggal 1 Januari 2003, Ramli dibawa ke RSJ Banda Aceh untuk menjalani perawatan intensif hingga 1 Juni 2004. “Pihak RSJ mengizinkan kami untuk membawanya pulang karena sesuai hasil pemeriksaan, kondisi kejiwaan adik saya lumayan stabil,” ungkap Husen.

Sepulang menjalani perawatan di RSJ, pihak keluarga memutuskan untuk melepaskan pasungannya dan ia pun bebas pergi seperti warga lainnya selama beberapa tahun. Namun, itu hanya berlangsung sekejab karena setelah itu ia kembali mengamuk dan mengganggu warga. Atas pertimbangan ketentraman warga desa, pihak keluarga memutuskan kembali memasungnya pada 1 Juni 2009 lalu.

Sehari-hari di gubung tempat pemasungan, Ramli ditemani ibu kandungnya, Hamidah (80 Tahun). Wanita renta inilah yang setia menemani Ramli berbicara. Mengajak Ramli berdiskusi tentang banyak hal. Hamidah berharap putranya pulih kembali. Sesekali kesadarannya pulih. Ramli meminta dibelikan tabloid olahraga. Maklum, dia mantan striker. Sebenarnya, ia sendiri tidak paham dengan isi yang tertera di koran, namun ia hanya suka melihat-lihat sambil mengoceh tak tentu.

Dalam gubuk itu, ia hanya duduk berdiam diri dengan sebelah kaki yang terpasung kayu sepanjang 60 centimeter, sehelai tikar kumal dan bantal lusuh menjadi teman setia. Saat ini pihak keluarga hanya bisa berpasrah karena telah kehabisan dana untuk membawa Ramli berobat. Keluarga tidak memiliki lagi uang untuk berobat. Bantuan pemerintah pun tak kunjung tiba. Padahal, UU 23/2002 tentang Pokok-pokok kesehatan mengamanahkan bahwa orang yang mengidap gangguan jiwa tidak boleh dipasung. Bahkan diharamkan. Pemasungan bukan solusi penyembuhan. Pemasungan hanya membuat penderita semakin menderita, tenggelam dan larut dalam pikirannya yang semakin kacau. Untuk Aceh Utara, informasi yang dihimpun Kontras, sebanyak 20 masyarakat yang di pasung di berbagai kecamatan dalam kabupaten itu. Penyebabnya pun variatif, ada yang mengidap gangguan jiwa karena kecanduan narkoba, ada pula karena himpitan ekonomi, putus cinta dan ditinggal mati keluarga ketika tsunami terjadi di Aceh, 2004 silam. Sebanyak 120 penderita gangguan jiwa di seluruh kabupaten/kota saat ini dipasung oleh keluarganya di Aceh. Angka yang sangat memprihatinkan.

Kalangan DPRK Aceh Utara, mendesak Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, untuk membuat program mendirikan rumah sakit jiwa. Jika melihat luar areal Aceh, idealnya Aceh membutuhkan dua rumah sakit jiwa lagi, yaitu di berada di Lhokseumawe untuk kawasan timur, dan barat-selatan idealnya berada di Meulaboh, Aceh Barat.

“Aneh sekali, Aceh hanya memiliki rumah sakit jiwa satu. Provinsi lain, rumah sakit jiwa sampai lima seperti di Jawa Tengah. Kita masih kurang memperhatikan soal kesehatan,” kata anggota DPRK Aceh Utara, Muhammad HR. Hal senada disebutkan oleh anggota DPRK Lhokseumawe, Amir Gani. Politisi Partai Demokrat Lhokseumawe ini menyebutkan, seharusnya rumah sakit jiwa memang diberdirikan di Aceh. Ini untuk menangani masyarakat yang mengalami gangguan jiwa. Sehingga cerita mirisnya dipasung tidak terdengar lagi di seluruh provinsi paling ujung Pulau Sumatera itu.

Penanganan masyarakat yang mengidap gangguan jiwa pun belum maksimal. Hanya ada rumah sakit umum ditambah satu atau dua orang dokter spesialis syaraf di semua daerah. Di RSUD Cut Mutia, hanya ada satu dokter spesialis syaraf. Tentu, tidak mungkin melayani ribuan orang yang mengidap gangguan jiwa.

Ditambah lagi angka gangguan jiwa di Aceh Utara mencapai 2.212 orang. Angka ini dihimpun Dinas Kesehatan Aceh Utara sejak akhir Desember 2009-Januari 2010. “Selain perlu RSJ. Kita harus menyediakan dokter spesialis syaraf di rumah sakit daerah. Ini untuk memberi pelayanan yang baik,” kata Muhammad.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Muhammad Hasan, membantah bahwa layanan untuk pasien gangguan jiwa tidak maksimal. Dia menyebutkan, pihaknya telah memberikan pendidikan khusus bagi satu orang dokter umum, dan dua tenaga medis di 27 Puskesmas di Aceh Utara. “Orang mengalami gangguan jiwa memang harus ditangani khusus. Makanya, kami didik dokter umum dan tenega medis, teknik dasar penanganan pasien gangguan jiwa,” kata Hasan.

Lebih jauh dia menyebutkan, pihaknya juga mengunjungi pasien yang dipasung. Memberikan obat per satu minggu sekali. Plus, melatih keluarga pasien cara meramu obat dan meminum obat yang tepat. Hasan mengakui, dinas yang dipimpinnya tidak memiliki psiater untuk melayani masyarakat gangguan jiwa. Namun, kata Hasan, pihaknya bekerjasama dengan ExxonMobil menyediakan psiater dari Medan, Sumatera Utara. Psiater itu datang ke Aceh Utara per bulan. Lalu, bagaimana biaya pengobatan? “Untuk pasien gangguan jiwa, semuanya gratis. Tapi, masalahnya, masyarakat kita tidak mau melaporkan ke dinas, kalau ada saudaranya yang mengidap gangguan jiwa. Alasannya malu. Ini sangat menyulitkan kami,” kata Hasan. Ini pula menjadi penyebab, sehingga data orang yang dipasung pada Dinkes Aceh Utara hanya sebanyak tiga orang. Padahal, sumber Kontras menyebutkan jumlahnya mencapai 20 orang.

Hasan menambahkan, pihaknya tidak mengirimkan ke RSJ Banda Aceh, karena kapasitas rumah sakit itu sudah tidak mampu menampung pasien baru. Sehingga, penanganan terpaksa dilakukan ditingkat kabupaten. Saat ini, RSJ Banda Aceh, berkapasitas maksimal 350 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat sudah melebihi kapasitas.

Selain itu, Hasan menyebutkan perlu keterlibatan lintas sektor untuk menekan angka gangguan jiwa di Aceh. “Misalnya, perlu turun Disperindagkop, setelah pasien sembuh. Harusnya diberikan modal usaha, sehingga mereka tidak lagi mengalami tekanan ekonomi,” pungkas Hasan. Untuk seluruh Aceh, data dari RSJ Banda Aceh, jumlah penderita mencapai 46.000 orang. Kontras, menghimpun data penderita gangguan jiwa dari berbagai kabupaten/kota di Aceh.

--
Tabloid KONTRAS Nomor : 527 | Tahun XI 4 - 10 Februari 2010

02.27 | Posted in | Read More »

Wartawan Serambi Indonesia Raih Anugerah Seni



15 Februari 2010, 08:52 | Lhokseumawe
LHOKSEUMAWE - Wartawan Serambi Indonesia Biro Lhokseumawe, Masriadi Sambo, meraih anugerah seni dan budaya untuk kategori penulis muda kreatif yang diselenggarakan Dewan Kesenian Aceh (DKA) Lhokseumawe, Sabtu (13/2) malam di Hotel Lido Graha, Lhokseumawe. DKA Lhokseumawe menilai, sejauh ini Masriadi sudah banyak menulis karya sastra seperti cerita pendek, cerita bersambung, dan puisi di sejumlah media. Dia juga dinilai berjasa untuk mengkritisi perkembangan seni dan budaya di Aceh melalui tulisan-tulisannya. Selain itu, selama ini Masriadi telah memenangkan sejumlah lomba penulisan cerpen dan essay budaya tingkat lokal dan nasional.

Ketua DKA Lhokseumawe, TM Zuhri menyebutkan penilaian dilakukan secara independen oleh panitia seleksi. “Kita menilai dari karya, atau penghargaan yang diterima sebelumnya. Ini penilaian sangat fair. Pemberian anugerah seni dan budaya ini baru pertama kali diberikan untuk seniman dan kritikus seni di Lhokseumawe. Ke depan, agenda akbar ini akan dibenahi lagi. Dijadwal per empat tahun, sehingga para seniman bisa mendapat perhatian khusus,” kata TM Zuhri.

Pemberian penganugerahan untuk semua kategori diberikan oleh Walikota Lhokseumawe, Munir Usman. Dalam sambutannya, Munir menyebutkan, perkembangan seni di Lhokseumawe harus dibenahi dari waktu ke waktu. Sehingga, Lhokseumawe menjadi salah satu tujuan wisatwan dunia. “Saya berharap, kehidupan berkesenian di Lhokseumawe bisa menjadi lebih baik. Orang dunia harus kenal Lhokseumawe, karena seni dan budaya yang sangat luar biasa. Ini yang akan kita lakukan ke depan,” kata Munir. Selain Masriadi, turut diberikan pula anugerah fotografer seni untuk Rahmat, sesepuh seniman Usmani Kandang, Ali Akbar, Ali Asyimi, dan sejumlah seniman lainnya.

Selain itu, diberikan pula anugerah untuk pembina seni yaitu Dandim 0103 Taufan Akridal, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Zulkifli, dan pemecah rekor Muri 2009, Muda Balia. Acara penganugerahan ini berlangsung hingga tengah malam dan diisi oleh berbagai tarian, musik etnik dan musik kontemporer.

SUMBER > http://www.serambinews.com/news/view/24170/wartawan-serambi-indonesia-raih-anugerah-seni

01.48 | Posted in , | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added