MOST RECENT

|

Syamsudduha


PENGANTAR REDAKSI
Pesantren Al Madinatuddiniyah Syamsuddhuha, Desa Gelumpang Sulu Barat, Kemukiman Cot Murong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, telah berdiri sejak 1985 silam. Masyarakat sekitar menyebut pesantren ini dengan nama Dayah Syamsuddhuha. Pesantren itu telah banyak menghasilkan segudang prestasi. Akhir pekan lalu, jurnalis Independen, Masriadi Sambo mengunjungi pesantren tersebut. Berikut liputannya.

Tiga Kurikulumdi Syamsudduha

SORE itu Jum’at (13/6) Dayah Al Madinatuddiniyah Syamsuddhuha, Desa Gelumpang Sulu Barat, Kemukiman Cot Murong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara terlihat sepi. Di samping kiri gerbang utama, terpampang tulisan “kawasan wajib berbusana muslim dan musimah, pakai sopan dan tidak ketat”.

Tulisan itu ditujukan untuk para pengunjung dan orang tua santri yang datang ke dayah itu. tak ada tolerir bagi kaum hawa yang mengenakan pakaian ketat berkunjung ke dayah itu. Di samping kanan gerbang, dua orang santri putra duduk santai. Mengobrol. Mereka piket di lokasi itu.

Setiap santri dikenakan jadwa piket secara bergantian. Tugasnya melayani para pengunjung yang datang ke dayah itu. Seorang santri tersenyum dan menanyakan saya mau bertemu dengan siapa. Lalu, dia mengajak saya keliling kompleks dayah seluas empat hektar itu. Saya juga ditemani seorang guru di dayah itu, Safrizal. Safrizal menyebutkan, santri sudah banyak yang pulang kampung karena liburan.

Sepanjang jalan pintu utama, tampak enam orang santri menyapu halaman. “Mereka gotong royong. Itu santri yang tidak pulang kampung,” sebutnya. Melihat kedatangan saya, sontak santri itu melemparkan senyum. Menunduk, memberi hormat.

Tradisi memberi hormat pada tamu, sudah berlangsung lama di dayah itu. Dayah yang didirikan tahun 1985 silam itu menerapkan tiga kurikulum sekaligus dalam proses belajar mengajarnya. Maklum, dayah itu terpadu. Kurikulum Departemen Agama murni diberlakukan untuk santri yang menimba ilmu di sekolah formal, madrasah aliyah dan madrasah tsanawiyah. Gedung dua sekolah formal itu terletak di sebelah timur dayah. Untuk dayah, diterapkan kukrikulum dayah salafi, khusus membaca dan mengkaji kitab kuning. Lalu, kurikulum terakhir, life skill. Memberikan ketrampilan pada santri untuk modal hidup setelah menamatkan pendidikan di dayah yang didirikan Ghazali Mohd Syam bersama tokoh masyarakat Kecamatan Dewantara itu.

Kurikulum terakhir itu memang menjadi tujuan utama sejak pendirian dayah tersebut. Dayah itu didirikan ketika PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Asean Aceh Fertilizer mulai beroperasi di Krueng Geukuh, Aceh Utara. Dayah ini dijadikan sebagai penyeimbang perubahan sosial yang terjadi kala itu. Hadirnya perusahaan raksasa itu, dikhawatirkan berdampak pada perubahan gaya hidup masyarakat. “Sehingga masyarakat lebih rajin mencari uang dan melupakan ilmu agama. Ini yang dikhawatirkan pendiri dayah ini,” sebut Pimpinan Dayah itu, Tengku Marwan Kamaruddin.

Awalnya dayah itu hanya berupa balai pengajian berukuran 8 x 10 meter. Santripun hanya datang dari Kecamatan Dewantara dan tidak ada pemondokan. Namun, kegigihan pada pendiri membuat dayah itu semakin berkembang. Tahun 1989, dayah itu berubah status menjadi Yayasan dan mendirikan Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Tiga tahun kemudian, perbedaan terjadi di tubuh pengelola yayasan.

Pengelola Yayasan lalu menyerahkan persoalan yayasan itu pada Pemerintah Aceh Utara. Saat itu, Bupati Aceh Utara, Karimuddin Hasybullah mencari solusi dan mengajak ulama kharismatik Aceh, Teungku H Muhammad Amin Mahmud (Abu Tumin) dari Blang Bladeh, Kabupaten Bireun untuk memimpin dayah itu. Acara pesijuk pun dilakukan. Banyak sumbangsih kemajuan pembangunan ketika Abu Tumin, ulama kharismatik Aceh pendiri dan pemimpin Dayah Blang Bladeh memimpin dayah itu. Abu Tumin, memimpin dayah itu sampai 1995. Lalu menyerahkan ke pemimpinan pada Tengku M Dauh Hasbi.

Hingga saat ini, Abu Tumin masih melekat di kalangan santri yang sempat menimba ilmu dengan Abu Tumin. Ini pula yang menjadi nilai lebih dayah tersebut. “Saya tau benar kualitas dayah ini. Ayah saya sempat mengaji di sini. Saat itu, pemimpinnya Abu Tumin. Makanya saya mendaftarkan anak saya ke pesantren ini,” ujar, Ishak Haji, masyarakat asal Desa Ulee Rubek, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara ketika mendaftarkan anaknya di dayah itu.

Saat ini, 30 persen santri di dayah itu berasal dari luar Kabupaten Aceh Utara. Mereka berasal dari Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Bireuen dan Simeulu. Sisanya, 70 persen lagi berasal dari kecamatan dalam wilayah Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara. Perpaduan tiga kurikulum itu ditentukan khusus dengan pembagian jadwal yang jelas. Ini yang menjadi nilai lebih dayah terpadu itu. [masriadi sambo]

Mengembangkan Ekonomi Pesantren
PONDASI keuangan sering menjadi kendala bagi dayah. Bahkan, permasalahan pondasi dana yang sangat minim dialami hampir seluruh dayah di Aceh. Ini juga menjadi perhatian utama Dayah Syamsuddhuha. Dayah ini mendirikan Koperasi Pesantren (Kopentren). Koperasi ini membawahi dua unit usaha, yaitu usaha perbengkelan dengan penghasilan bersih sebesar Rp 500.000 per hari. Selain itu, Kopentren juga membuka unit usaha air isi ulang. Letak kedua unit usaha tepat berada di depan bangunan pesantren, di lintas Jalan Medan-Banda Aceh. Letak ini memang strategis dan memudahkan konsumen untuk mengunjungi dua unit usaha itu.

Bahkan, direncanakan bagian depan pesantren itu dibangun 15 unit rumah dan toko. “Bayangkan saja, satu unit toko bisa disewakan sebesar Rp 10 juta per tahun. Hasilnya bisa menopang keuangan pondok pesantren dan pengembangan pesantren ini ke arah lebih maju,” sebut Pimpinan Dayah itu, Tengku Marwan Kamaruddin.

Pengurus dayah sudah menganalisis peluang pasar untuk membuka unit usaha lainnya. Pemindahan kampus Universitas Malikussaleh, dari Lhokseumawe ke Desa Reuleut, sekitar dua kilometer dari dayah itu juga menjadi peluang besar untuk meraup untung dayah tersebut. Salah satu peluang usaha yang telah direncakan yaitu membuka Sentral Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan toko fotocopy plus menjual Alat Tulis Kantor (ATK) di depan pesantren. “Kita sedang menyakinkan masyarakat sekitar. Karena, lahan didepan itu lahan wakaf. Kita usahakan mulai dari sekarang membuka pondasi-pondasi dana pesantren,” sebut Marwan.

Unit usaha lainnya di dayah itu adalah warung serba ada. Warung ini khusus dibuka untuk kalangan pesantren, seperti untuk santri dan dewan guru yang menetap di kompleks pesantren tersebut. Warung ini menjual berbagai keperluan, dari peralatan kosmetik hingga alat tulis. Bahkan, warung ini juga memanjakan para santri yang gemar mengkonsumsi kopi dan teh. Semuanya tersedia di warung yang terletak di depan mesjid utama pesantren itu. Soal harga, sama dengan harga pasaran.

Dayah ini berharap, banyak donatur yang memberi modal usaha untuk pengembangan ekonomi pesantren. Meskipun dengan sistem kredit. [masriadi sambo]


Wilda Khairunnisa
Berharap jadi Ustadzah

WILDA Khairunnisa (17 tahun) baru saja menyelesaikan shalat ashar berjamaah bersama puluhan santriwati lainnya. Dara hitam manis ini terlihat malu-malu. Matanya tertunduk ke bawah lantai balai pengajian di kompleks putri Dayah Syamsuddhuha. Dia satu dari sekian banyak santri yang mengukir prestasi di balik pondok pesantren itu. Sekilas, anak dari pasangan Burhanuddin dan Sukmaniar ini tidak pernah terpikir menjadi santriwarti. Ketika kecil, dia berharap bisa masuk ke sekolah umum.

Namun, setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Cot Murong, Aceh Utara dia tertarik pada dunia dayah. Banyak teman-temannya bercerita menimba ilmu di dayah itu bagus dan bisa hidup teratur. Seluruhnya telah diatur dengan jadwal kegiatan dalam kompleks pesantren. Kenapa memilih pesantren ini? “Saya senang dengan pelajaran bahasa arab dan mengaji. Di sini lebih ditekankan pada pendalaman kajian agama, Qur’an dan kitab kuning,” ujarnya memaparkan niat awal dia masuk dayah itu.

Kini, sudah lima tahun dia mondok di pesantren itu. “Saya senang dan betah di sini (pesantren). Bisa berteman dengan banyak orang dari berbagai daerah Aceh lainnya,” sebutnya tersenyum. Soal prestasi wanita ini jagoannya. Setiap hari-hari besar dayah itu melaksanakan lomba untuk santri dan santriwati. Nah, Wilda, panggilan akrab Wilda Khairunnisa menjadi langganan juara.

Bahkan, untuk Aceh Utara dan Propinsi Aceh, wanita ini sudah beberapa kali mempersembahkan piala dan medali untuk dayah tersebut. Bahkan, dia lupa berapa banyak koleksi piala dan medali juara yang disumbangkannya untuk dayah tersebut. “Saya beberapa kali ikut lomba. Tidak semua menang. Tapi, tingkat juara tiga pasti ada, alhamdulillah,” ungkapnya.

Tahun 2004 silam dia menjuarai cerdas cermat tingkat Madrasah Tsnawiyah se-Aceh Utara. Memperoleh juara satu dalam perlombaan tahunan yang diselenggarakan Departemen Agama Aceh Utara itu tidak membuatnya puas. Dia makin gigih belajar. Khusus bahasa arab, inggris dan tahfidzul qur’an menjadi mata pelajaran favoritnya. Dia juga yang kini dijadikan ujong tombak perebut kata juara dalam setiap perlombaan yang diselenggarakan baik di Aceh Utara, Propinsi Aceh maupun perlombaan nasional. Gadis ini terbilang serba bisa, tahun 2007 lalu, dia menjurai lomba permainan piramida dan kaligrafi di se-Aceh.

Saat ini, dia duduk di bangku kelas dua Madrasah Aliyah dayah tersebut. Dikalangan teman-temannya, dia dikenal ramah dan senang berbagi. Wilda selalu haus akan ilmu pengetahuan, dia merasa tidak ada kata cukup untuk menimba ilmu. Bahkan, saat ini, tekadnya bulat. Dia ingin melanjutkan perjuangan ustadzahnya di dayah itu. “Saya ingin belajar lagi. Target saya menjadi ustadzah. Semoga saja, rencananya saya masuk pesantren lagi setelah ini. Mungkin, di luar Aceh Utara,” ungkapnya.

Ketika santri dan santriwati lainnya sibuk memberesi barang-barang untuk pulang kampung, Wilda lebih ingin berlama-lama di dayah itu. Keakraban yang dibangun pengelola dayah membuatnya betah di dalam kompleks tersebut. Bahkan, ketika libur sekolah dan dayah pun gadis ini jarang pulang ke kampung halamannya. Ketika di kampung, dia ingin segera kembali ke dayah dan membuka kitab-kitabnya. Ustadzahnya juga mengajarkan ilmu psikologi dan sosiologi secara mendalam. “Psikologi dan sosiologi di ajarkan mendalam. Padahal, kalau di tempat lain harus belajar di kuliah kan dua ilmu itu,” ujarnya bangga.

Wilda satu dari sekian banyak santriwati yang berprestasi di dayah itu. Beberapa santri lainnya seperti Darul Qutni, juara satu dalam seleksi Olimpiade bidang Ekonomi Aceh Utara dan peraih medali emas dalam lomba khatil kontemporer di Pekan Olah Raga dan Seni Pesantren se-Indonesia di Kalimantan Timur, tahun lalu tidak berada did ayah. Darul Qutni, pulang ke kampungnya di Sawang, Aceh Utara karena liburan pesantren selama sebulan penuh. [masriadi sambo]

Menyeimbangkan Iptek dan Imtaq
PIMPINAN Dayah Al Madinatuddiniyah Syamsuddhuha, Marwan Kamaruddin, duduk santai di rumah sederhana miliknya. Alumni Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh, jurusan Ekonomi Islam itu terlihat santai. Dia baru saja datang dari Kabupaten Bireuen. Menghadiri pelantikan Kelapa Kantor Departemen Agama di kabupaten itu. Masriadi Sambo, jurnalis Independen, melakukan wawancara seputar pengembangan dayah yang dipimpinnya. Berikut petikannya;

Paskatsunami banyak sekali dayah bermunculan di Aceh. Apa yang paling khas dari Dayah Syamsuddhuha?
Ya, itu bertanda bagus untuk perkembangan ilmu agama di Aceh. Saya setuju itu. Untuk dayah ini, khasnya itu terletak pada kajian kitab kuning dan penerapan dua bahasa. Disini, haram menggunakan bahasa daerah. Wajib menggunakan bahasa arab dan inggris. Ini yang kita utamakan. Selain itu, kita berikan pelatihan ketrampilan untuk para santri, misalnya menjahit, merajut dan lain sebagainya.

Ada tidak santri asal luar Aceh yang belajar di dayah ini?
Tahun 1995 itu ada santri asal luar Aceh, misalnya Padang. Namun, karena kondisi keamanan yang tidak kondusif, masyarakat luar khawatir menimba ilmu di seluruh dayah Aceh. Termasuk dayah ini. Sekarang, umumnya santri berasal dari Aceh Utara dan Lhokseumawe. Hanya 30 persen dari kabupaten lainnya di Aceh, ada juga yang dari Pulau Simeulu.

Pola keterpaduan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum dayah ini bagaimana?
Saya pikir pengetahuan agama itu penting. Namun, kita juga tau tuntutan global. Makanya, pengetahuan teknologi juga kita upayakan. Di Madrasah Aliyah, pengetahuan internet dan computer juga diajarkan. Meskipun hanya 12 unit computer yang tersedia. Selain itu, santri juga bisa membaca 2000 judul buku di perpustakaan. Ilmu agama dan ilmu pengetahuan itu harus sama porsinya kita berikan. Jadi, ketika keluar dari dayah, mereka memiliki bekal agama, pengetahuan dan ketrampilan. Ini bisa mengurangi angka pengangguran.

Bagaimana target pengembangan kedepan?
Kedepan, mungkin lima tahun lagi. Kita berharap bisa mendirikan kampus atau perguruan tinggi islam di kompleks dayah ini. Ini juga untuk menyeimbangkan perkembangan zaman. Sehingga, santri bisa melanjutkan studi di dayah ini. Atau orang luar yang belajar di perguruan tinggi islam kita itu bisa merasakan nikmatnya pendidikan islam di dayah ini nantinya. Kita mulai mengarah ke sana (perguruan tinggi islam).

Untuk penguatan ekonomi pesantren bagaimana?
Sekarang ada Koperasi Pondok Pesantren (Kopentren). Di Kopentren ada tiga unit usaha, perbengkelan, pengisian air isi ulang dan warung serba ada. Sekarang kita sedang rintis untuk bangun rumah dan toko. Serta SPBU.

Harapan Anda dari Pemerintah Aceh Utara

Ya, satu hal saja, saya berharap pada semua pihak, kalau ingin membantu dayah ini, saya harap bisa di bantu lahannya saja. Kita ingin kembangkan perkebunan sawit untuk menopang ekonomi pesantren. Kalau Pemerintah Aceh atau Pemerintah Aceh Utara, kalau bisa dibantu dari sisi tenaga pengajar saja, misalnya guru bahasa inggris. Kita agak kurang guru bahasa inggris.

DATA DAYAH SYAMSUDDHUHA
Nama Dayah : Al Madinatuddiniyah Syamsuddhuha
Pendiri : H Gazali Mohd Syam, H A Gani, H T Abubakar Sulaiman, H Ramli Ibrahim, H M Nursyah dan H T M Ali Basyah
Tahun Berdiri : 1985
Alamat : Jalan Medan-Banda Aceh KM 255 Kemukiman Cot Murong
Dewantara, Aceh Utara. Telp 0645 - 56731
Ciri Khas : Fiqh, Tauhid dan Bahasa Arab
Jumlah Santri : 500 orang (satri 200, santriwati 300)
Tenaga Pengajar : 40 orang dewan guru, 15 orang ustadz dan 25 orang ustadzah

Publis Oleh Dimas Sambo on 22.27. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "Syamsudduha"

Poskan Komentar

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added