MOST RECENT

|

Mengais Rupiah dari Rumbia

LAKON hidup Basiyah dan Sawaliyah dalam belasan tahun terakhir tak pernah ruwet. Hanya tentang dua wanita tua penganyam atap rumbia, yang punya beban hidup dalam versi masing-masing.

Tapi, kisah mereka menjadi contoh, tentang orang-orang yang tak pernah menyerah.
Dari pagi hingga petang, Basiyah dan Sawaliyah menghabiskan lebih setengah waktu untuk menyulap daun-daun rumbia menjadi atap. Pekerjaan itu membuat mereka tetap bertahan terjepit antara dua sisi hidup; miskin dan terbelakang.

“Ini sudah kami kerjakan sejak lama,” ujar Basiyah, wanita berusia 60 tahun. Diiyakan pula Sawaliyah, sahabat yang tujuh tahun lebih muda darinya.

Dua perempuan tua Desa Alue Buloh, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur ini sudah mengenal pekerjaan membuat atap rumbia sejak kecil. Tangan-tangan cekatan mereka mewarisi keahlian serupa dari generasi sebelumnya, ayah dan mungkin juga diturunkan kakek nenek. “Sejak kecil kami sudah bisa menganyam rumbia,” kata Sawaliyah.

Ritme pekerjaan dua gaek ini sama persis setiap hari, pagi dan petang, berulang-ulang. Membuat atap itu dimulai dengan memilih daun, menatanya sejajar, lalu dijahit dengan rotan bersilang pada tulang bambu. Sentuhan akhir tangan-tangan keriput itu hanya menjemur dan membersihkan atap-atap yang sudah jadi.

Cuma omongan dan guyonan yang membuat sepasang perempuan ini tak bosan bada daun rumbia dan bilah-bilah bambu. “Kalau tak bercanda, cepat lelah,” ujar Sawaliyah lagi. Mereka biasanya bercerita tentang apapun; bentangan hijau sawah, hujan dan banjir, tentang anak-anak, obsesi hari tua dan sedikit nostalgia.

Bercanda dan tertawa ketika menganyam atap hanya kedok, kamuflase yang menutupi kegundahan mereka akan sulitnya hidup.

Basiyah memiliki segudang beban. Kadang terlalu berat untuk dipikulnya sendiri. Suaminya yang kini berusia 65 tahun, Ahmad, mengidap penyakit rematik akut sejak dua tahun silam. Ahmad tak bisa lagi mencari nafkah. Maka, peran ibu dari tiga anak pengangguran itu tak jauh berbeda dari kepala keluarga. Ia seorang ibu, sekaligus ayah.

“Suami saya, masih mencoba bekerja semampunya. Tapi, sering tak bisa. Tulangnya sakit kalau terlalu dipaksakan bekerja,” kata Basiyah.

Hidup versi Sawaliyah adalah kisah tentang wanita sepuluh tahun menjanda dengan tujuh anak; empat putra, tiga putri. Sebagian anaknya telah berkeluarga dan menetap di desa lain di Aceh Timur. Anak-anaknya juga miskin, tak bisa diharapkan untuk menjadi penopang keluarga.

Kemiskinan membuat Sawaliyah mengikuti jejak Basiyah, mengumpulkan receh-receh uang hasil menganyam atap rumbia. “Dalam sehari, kami bisa menganyam 40 lembar atap rumbia. Rumbia itu kami jual ke agen,mulai Rp8.000 sampai Rp10.000 per lembar. Hasilnya kami bagi dua,” ujarnya.

Ada pekerjaan lain untuk sepasang perempuan tua ini. Mereka rutin menjadi buruh tani, pekerjaan musiman yang hanya ada ketika sawah-sawah mulai digarap dan dipanen.

Basiyah dan Sawaliyah bukan tak ingin mencoba pekerjaan lain, yang mungkin lebih ringan; membuat kue-kue atau berjualan di warung kecil di kampung.

Tapi, mereka tidak punya modal. Bantuan pemberdayaan ekonomi, yang belakangan gencar mengalir dari pundi-pundi pemerintah, belum juga menyentuh mereka. [masriadi sambo]

Publis Oleh Dimas Sambo on 06.34. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "Mengais Rupiah dari Rumbia"

Posting Komentar

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added