MOST RECENT

|

Teungku dari Kokpit Dakota



ABDULLAH Hasan (56 Tahun) terlihat sibuk membersihkan perkarangan Dayah Nurul Iman, di Desa Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, Sabtu (24/1). Dia terlihat segar. Ramah menyambut kedatangan Independen.

Pria ini dikenal sederhana. Kecintaannya pada flora dan fauna mengantarkannya ke pedalaman Aceh Utara. Abu, panggilan akrab Abdullah Hasan, menetap di Aceh Utara sejak tahun 1989.

Sebelumnya, pria kelahiran 1 Januari 1953 di Kecamatan Bambi, Pidie, ini menghabiskan masa kecilnya di tanah kelahiran. Memasuki usia 12 tahun, dia pindah ke Jakarta. Menempuh pendidikan lanjutan dan menengah.

Suami dari Hajjah Rafiah, ini lama menimba ilmu di Jamaah As-Syafiiyah, pimpinan Ustad Syafi’i, ayah kandung ustadzah kondang Tuti Alawiyah. “Saya hanya disuruh mendengarkan saja. Karena Ustad Syafi’ie tahu saya dari Aceh. Beliau bilang, kalau orang Aceh pemahaman agamanya sangat bagus,” kenangnya ke puluhan tahun lalu.

Sebelum jadi pemimpin dayah di Cot Girek, Teungku Abdullah adalah orang yang sangat dekat dengtan dunia dirgantara. Bergelutnya Abdullah Hasan di dunia dirgantara berawal ketika ia diterima bekerja sebagai teknisi PT Garuda Indonesia di tahun 1960. “Saya tak banyak paham soal permesinan. Tapi, saya mengerti secara otodidak soal mesin pesawat. Jadi, saya diterima.”

“Senang sekali, menjadi orang Aceh yang bisa menerbangkan pesawat,” tutur Abdullah Hasan. Dari situlah ia belajar menerbangkan burung besi bernama Dakota. Rutenya Jakarta ke Medan, Jakarta ke Papua.

Bahkan, untuk kepentingan Indonesia, dia pernah menerbangkan pasukan TNI ke Papua dan daerah lainnya. ”Waktu itu, Garuda bekerja sama dengan TNI. Jadi, pesawat dirgantara juga ikut menyuplai pasukan TNI ke daerah-daerah,” ujarnya.

Abu, panggilan akrabnya, menghabiskan delapan tahun bekerja di penerbangan sebagai teknisi. Waktu itu, jumlah pilot Garuda Indonesia masih bisa dihitung jari. Terkadang teknisi juga diperbantukan menerbangkan pesawat.

Letih di Garuda, Abu kembali ke Aceh. Misinya tak lain, mengemban misi religi. Mendirikan dayah di pedalaman Aceh Utara. Tidak mudah mendirikan dayah di tahun 1989. Masyarakat di Cot Girek kala itu masih enggan dengan metode ceramah agama.

Abu pun menggunakan metode zikir. Dia mengajak masyarakat berzikir, setiap Minggu malam. ”Kalau berzikir mereka mau. Kalau metode ceramah agak bosan. Saya gunakan zikir. Ternyata, jumlah jamaah zikir, semakin banyak. Ini membuat saya semakin yakin mendirikan dayah,” kata Abu.

Bukan itu tantangan dihadapinya. Kala itu, teman-temannya sering kali membujuk Abu bekerja di pemerintahan. Namun, pria ini enggan. “Saya cukup di sini saja. Saya senang hutan dan alam. Ini membuat saya betah.” Begitulah alasan Abu menolak ajakan teman-temannya.

Bahkan, teman akrabnya Syamsuddin Mahmud, mantan Gubernur Daerah Istimewa Aceh era pertengahan 1990-an, pernah mengajaknya duduk mengomandoi salah satu dinas di Pemerintahan Aceh. Namun, Abu menolak ajakan itu dengan halus.

“Waktu itu, saya bilang, kalau mau bantu saya, sumbangkan saja gedung untuk dayah ini. Saya dengan Pak Syamsuddin Mahmud itu teman, sama-sama di Asrama Foba di Jakarta. Saya tamatan SMA. Pak Syamsuddin lanjut ke perguruan tinggi,” kenangnya.

Syamsuddin Mahmud pun berkunjung ke Dayah Nurul Iman yang dipimpinnya. Syamsuddin menyumbang satu gedung berukuran 10 kali 25 meter untuk mendukung pengembangan dayah.

Kesungguhan mantan pilot itu memimpin dayah patut diacungi jempol. Bersih. Tidak selembar kertas pun berserakan di halaman dayah. Hasilnya, dayah pimpinannya meraih juara satu dayah tebersih tahun 2007 dari Pemerintah Aceh.

Abu juga tak segan mencabut rumput bersama 236 santri. “Saya selalu bilang ke teman-teman, kalau mau bantu saya, ya sumbangkan buku, gedung atau hal lain untuk dayah ini. Tak usah saya diajak duduk di pemerintahan,” katanya.

Kini, Abu menghabiskan hari tuanya dengan mengajar. Walau sudah 20 tahun, baktinya untuk dayah belumlah cukup. Ia ingin menerbangkan Nurul Iman ke puncak kemasyhuran. Menghasilkan alumni berkualitas, mampu membangun Aceh.[masriadi sambo]

Publis Oleh Dimas Sambo on 00.18. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

1 komentar for "Teungku dari Kokpit Dakota"

Posting Komentar

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added